Share

105.

Author: anfebizha
last update publish date: 2026-06-16 23:24:50

Kelas akhirnya berakhir. Tapi Bumi? Pria itu justru masih duduk tenang di kursinya, jemarinya lincah menari di atas keyboard laptop.

Maura, yang sejak tadi berusaha duduk sediam mungkin agar area sensitifnya tidak protes, merasa seperti sedang diawasi oleh predator yang sedang bersantai.

"Ra, ke kantin yuk? Perut gue udah kayak konser dangdut nih," ajak Risti sambil membereskan buku-bukunya. Leon di sebelahnya mengangguk semangat.

Maura melirik ke arah meja dosen. Bumi masih menunduk. 'Apa dia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
yeayyy double updatenya
goodnovel comment avatar
aFW_
aduh ka terimakasih sudah up.. mata udah lima wat ini nungguin dari tadi..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Pengganti Mas Dosen   252.

    Hari itu benar-benar berjalan seperti siksaan panjang bagi Maura. Perutnya seperti dikocok tak henti-henti, mual yang terus naik ke dada menyatu sempurna dengan kepala yang berdenyut-denyut. Di kelas, dia hanya bisa bersandar lunglai di bahu Risti sambil menahan rasa pahit di tenggorokan, meladeni godaan Leon yang tak ada habisnya dengan wajah yang sudah seperti kain pel kering.Begit kelas terakhir, fia langsung pergi lebih dulu memesan grab. Bukannya pulang ke rumah untuk selonjoran, ia menyeret kakinya yang terasa seperti lepet matang keluar dari gedung fakultas.Kabin mobil Grab yang tenang dan beraroma pandan sedikit menetralkan rasa mualnya. Baru saja taksi meluncur membelah kemacetan jalan raya, suaminya menelepon.Sejak siang, priaitu baru sadar kalau istrinya yag sedang hamil mengirim pesan."Ya, Mas...""Udah pulang sayang? Mas baru buka HP." suara Bumi menyambut dari seberang sana, terdengar luar biasa lelah. "Mas baru baca pesan kamu. Kamu beneran ke rumah sakit sendiri?!"

  • Istri Pengganti Mas Dosen   251.

    Sial bagi Maura, hukum alam kampus berlaku mutlak. 'Semakin kamu ingin sembunyi, semakin cepat kamu kepergok.'Tepat di belokan menuju tangga gedung utama, berdiri dua sosok yang sangat dia kenal. Risti sedang menyandarkan punggungnya di tembok sambil mengunyah cilok, sedangkan Leon sibuk mengorek saku jaketnya mencari kunci motor.Mata Risti yang tajam bak elang langsung menangkap sosok Maura yang datang terengah-engah panik."Waduh, waduh..." Risti menghentikan kunyahannya, menyipitkan mata penuh selidik. "Lihat nih, Yon! Ibu Dosen mulai berani diantar sampe parkiran."Leon yang tadinya sibuk merogoh saku jaket langsung mendongak. Memamerkan senyum jahilnya."Demi apa lo, Ris?!" pekik Leon heboh, langsung mengabaikan kunci motornya. "Tumben waras?"Risti maju dua langkah, memiringkan kepalanya mengamati bibir Maura yang sedikit merekah basah. "Anjir, Ra! Bibir lo kenapa agak jontor gitu? Kena sengat tawon apa baru habis disosor Pak Dosen?!""Mulut lo pada bisa diem nggak?!" Refleks,

  • Istri Pengganti Mas Dosen   250.

    Dengan helaan napas pasrah seberat beban hidup mahasiswa abadi, Bumi akhirnya mengalah.Tapi, jangan kira Pak Dosen protektif ini bakal mengizinkan istrinya turun santai di halte depan kampus seperti biasa."Mas! Turun di gerbang depan aja! Nanti ada yang lihat!" pekik Maura panik saat mobil hitam Bumi justru meluncur mulus melewati halte dan terus melaju masuk ke dalam area kampus."Nggak ada halte-haltean hari ini," balas Bumi santai tanpa beban, memutar kemudi dengan satu tangan menuju area khusus."AKKHH!! BUMI KAMPRET!" umpat Maura heboh, tangannya sudah memegang gagang pintu mobil."Coba aja buka pintunya kalau mau Mas gendong dari parkiram sampai lantai tiga," sahut Bumi tenang, tatapannya lurus ke depan."Dasar Dosen gila!!" rengek Maura ketus.Tanpa memedulikan tatapan heran puluhan mahasiswa yang sedang nongkrong di koridor, mobil mewah itu dengan tidak tahu dirinya meluncur mantap dan terparkir mulus di Parkiran Khusus Dosen, tepat di sebelah mobil Dekan."Turun aja," kata

  • Istri Pengganti Mas Dosen   249.

    Dia memasang raut wajah nomor satu paling datar dan tenang se-alam semesta, enggan menunjukkan sedikit pun kerapuhan di depan wanita di hadapannya.Maura menoleh perlahan ke arah Papanya, menunggu bantahan. Namun, Sang Papa hanya menunduk diam seribu bahasa. Bungkamnya pria paruh baya itu seolah menjadi stempel pengesahan atas segala tuduhan yang mulanya cuma awang-awang.Di tengah situasi emosional yang siap meledak itu, Bumi berdiri."Sepertinya sudah cukup, Pa," pangkas Bumi dingin, suara baritonnya bergetar menahan amarah yang sangat pekat. "Tujuan kami ke sini untuk mencari fakta medis dan kejelasan, bukan untuk mendengarkan hinaan tidak berdasar pada istri saya."Bumi berbalik, menunduk menatap Maura, dia merengkuh bahu istrinya, membantu Maura berdiri."Ayo kita pulang, Sayang," bisik Bumi tepat di telinga Maura. "Nggak ada lagi yang perlu kita dengarkan di sini."Maura mengangguk kaku. Sambil digandeng protektif oleh suaminya, Maura keluar meninggalkan rumah besar yang kini te

  • Istri Pengganti Mas Dosen   248.

    Tak butuh waktu lama, Bumi kembali ke ruang tengah membawa piring. Dia menarik kursi kecil untuk duduk tepat di hadapan Maura, menyodorkan suapan pertama dengan sangat sabar."Ayo, makan dulu," bujuk Bumi.Maura menerima suapan demi suapan dalam diam. Kunyahannya lambat, namun rasa hangat dari makanan dan perhatian suaminya perlahan mengembalikan sisa-sisa tenaganya yang sempat terkuras.Di sela-sela suapan kelima, Bumi merapikan helai rambut Maura yang menutupi dahi, lalu bertanya dengan suara rendah yang amat menenangkan."Jadi... kamu pengennya gimana? Tanya Papa dulu?" tanya Bumi lembut.Maura berhenti mengunyah sejenak. Ia menatap tumpukan berkas tua di atas meja kaca, lalu cuma mengangkat kedua bahunya ragu. Pikiran dan perasaannya masih terlalu kalut untuk menyusun rencana."Tanya Papa dulu nggak apa-apa, mumpung hari Minggu. Nanti malam Mas antar," kata Bumi memberi usulan tanpa sedikit pun nada memaksa. "Mau?"Maura menoleh, menatap iris mata suaminya.Setelah terdiam beberap

  • Istri Pengganti Mas Dosen   247.

    Papanya tersenyum lepas, merangkul mesra seorang wanita muda berwajah manis dengan rambut bergelombang yang sama sekali tak pernah Maura lihat sebelumnya. Wanita itu jelas bukan Mamanya, apalagi Dira.Rasa dingin mendadak merayapi tengkuk Maura. Jarinya yang gemetar kembali merogoh ke dalam amplop, mengeluarkan sekumpulan lembaran kertas tua yang tepinya sudah agak rapuh.Itu adalah salinan dokumen medis dan rekam medis dari sebuah rumah sakit bersalin di luar kota, bertanggal puluhan tahun lalu.Mata Maura membelalak lebar saat menyapu baris demi baris tulisan di sana. Nama Papanya tercantum jelas sebagai penanggung jawab pasien atas nama wanita yang namanya sangat asing.Dewi Tri."Dewi, Tri." gumam Maura sendirian.Di lembar paling akhir, surat sebuah salinan surat keterangan kelahiran yang kolom nama ibunya telah dikosongkan secara sengaja, namun stempel resmi rumah sakit itu menyatakan status bayi yang dilahirkan. Anak Kandung.Jantung Maura berdegup kencang tak beraturan. Tangan

  • Istri Pengganti Mas Dosen   2. Pesan Penentuan

    Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta

  • Istri Pengganti Mas Dosen   1. KULKAS DUA PINTU BERJALAN

    Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan

  • Istri Pengganti Mas Dosen   5. Harga Diri Yang Tergores

    Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s

  • Istri Pengganti Mas Dosen   4. Teori dari mana itu?

    “Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status