LOGINRagil mengangguk cepat tanpa banyak tanya. "Siap, Mas. Biar Ragil yang beresin." Pemuda itu langsung gesit menuju kamar, membiarkan handuk basah yang tadi melilit lehernya tersampir begitu saja di bahu.Maura masih berdiri membatu di ambang pintu. Usapan lembut jemari suaminya di pinggang tak sepenuhnya mampu mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya.Baru beberapa jam lalu ia merasakan hangatnya tawa bersama keluarga yang baru ditemukannya, tapi kini ketakutan masa lalu kembali membayangi dengan begitu cepat dan dingin.Sang ibu pun masih diam di tempat. Besitatap dengan anak Gadisnya, yang begitu cantik.Seolah memberi ruang Bumi lalu meninggalkan mereka begitu saja, berniat mandi lebih dulu.Ruang tengah rumah itu mendadak menghening. Hawa dingin malam merayap masuk, menyapu kulit dan mempertebal rasa sesak yang menghimpit dada.Kini yag tersisa cuma Maura dan sang ibu. Berdiri berhadapan. Jarak beberapa langkah di antara mereka terasa begitu jauh.Maura membatu. Pandan
"Capek banget ya, Nyonya?" gumam Bumi halus. Tangan kokohnya terulur, menyelipkan beberapa helai rambut Maura yang lepek oleh keringat ke balik telinganya.Maura menyunggingkan senyum tipis, bergeser sedikit mendekat lalu menyandarkan kepalanya di dada tegap Bumi. Aroma parfum suaminya yang berpadu dengan keringat terasa begitu menenangkan, perlahan mengikis rasa lelah yang menggelayuti persendiannya."Lumayan... tapi seneng banget, Mas," bisik Maura pelan, jemarinya memutar-mutar kancing kemeja Bumi."Habis ini mandi. Nunggu anak-anak." katanya.Dia melingkarkan lengan kirinya di balik pundak Maura, tangan kanan pria itu bergerak lembut mengelus perut buncit istrinya yang terasa hangat. "Bagus kalau seneng. Niatnya kan memang bikin Bumil seneng, bukan bikin encok."Maura tertawa renyah, mendongak menatap rahang tegas suaminya yang terlihat makin menawan di bawah pendar lampu kamar."Mas..." panggil Maura lembut."Hmm?""Makasih ya..." cicit Maura lagi, dan lagi. "Makasih udah mau ter
"Nanti biaı Ragil tinggal di rumah kami saja. Semua biaya pendaftaran sama kebutuhan akademisnya, biar saya yang uruskan," tambah Bumi tenang, memungkas tuntas tawarannya tanpa sedikit pun nada pamer.Maura langsung mendongak menatap suaminya dengan mata berbinar kaget bercampur haru . Tangan hangatnya spontan meremas pelan jemari Bumi di bawah meja.Di satu sisi Ragil beku di tempatnya, memegang udang yang separuh terkupas dengan pandangan tak percaya.Bu Dewi tertegun sesat. Tatapannya berganti-ganti dari raut bersungguh-sungguh milik menantunya, melirik Maura yang tersenyum mengangguk penuh harap, hingga akhirnya bermuara pada putra sulungnya yang mematung.Senyum tulus dan sarat keharuan terukir lembut di bibir wanita paruh baya itu, matanya berkaca-kaca menahan air mata bahagia."Terima kasih banyak, Nak Bumi... tapi sungguh, semua itu tidak perlu," ucap Bu Dewi lirih, suaranya agak bergetar. Beliau lalu menoleh, menatap Ragil. "Keluarga kami akan usahakan yang terbaik untuk Ragi
Maura mendongak berbinar-binar.Ragil merapatkan handuknua, duduk mendampingi Bu Dewi yang masih sedikit canggung. Keduanya duduk di sebelah Maura yang duduk manis di tepian balai-balai, sementara Bumi siap memotret dari depan."Satu, dua, tiga...""Tungguuu! Arka belum ikutan!"Belum sempat tombol dipencet, Arka melesat dari tepi sungai dengan tubuh basah kuyup bak tikus terperosok. Tanpa aba-aba, bocah itu langsung merepet masuk di antara Ragil dan Bu Dewi, memperlihatkan senyum ompongnya yang paling lebar sambil mengacungkan dua jari."Arka! Baju kamu basah semua, nanti Mbakmu ikutan basah!" tegur Bu Dewi panik."Nggak apa-apa, Bu! Arka mau masuk foto paling ganteng!" seru bocah itu tanpa dosa.Bumi terkekeh pelan. "Oke, edisi komplet. Satu... dua... senyum semuanya!"Cklik!Di layar ponsel mahal itu, terabadikan Momen hangat yang sempurna. Maura yang tertawa lebar, Bu Dewi yang tersenyum lega, Arka dengan gaya konyolnya, dan Ragil yang tersenyum sambil menatap dati samping.Di bal
Bu Dewi beku mendadak. Tangannya yang sedang memegang botol minyak kayu putih terhenti, jemarinya bergetar pelan.Raut wajahnya berubah gugup, bingung mencari kata-kata yang pas untuk merangkai rahasia puluhan tahun yang selama ini dia terkunci rapat."Ragil udah gede, Bu," kata Ragil lagi, suaranya tenang tapi sarat ketegasan.Matanya menatap sang ibu tanpa henti, menuntut kejujuran yang utuh.Samoai akhirnya ibu menghela napas panjang, mencoba menguasai gemetar di dadanya. Beliau kembali duduk di samping Ragil di atas balai-balai kayu. Dengan gerakan penuh kasih sayang yang menyembunyikan cemas, tangan keriput Bu Dewi mengambil handuk tebal, lalu membeberkannya membalut bahu lebar anak sulungnya."Kamu jangan kaget ya," kata Ibu kemudian, suaranya nyaris tak terdengar bersaing dengan gemuruh air terjun. "Jangan bilang siapa-siapa."Suasana di sekitar balai-balai mendadak terasa begitu hening meski gemuruh air terjun menghantam bebatuan lembah tak jauh dari mereka.Dari tempat mereka
Pria itu menuntun langkah Maura menuruni balai-balai kayu menuju tepian sungai. Begitu telapak kaki mereka yang bertelanjang menyentuh dinginnya air yang jernih, Maura berjingkat kecil. sebelum tertawa kegirangan."Dingin banget, Mas!" pekik Maura heboh, sibuk menggerak-gerakkan jemari kakinya di antara bebatuan halus."Awas licin, Sayang. Pegangan," peringat Bumi posesif.Bukannya melepas, ia malah melingkarkan lengan kirinya di pinggang Maura dari belakang, menahan bobot tubuh istrinya agar tetap stabil."Mbak Maura! Mas Bumi! Sini!" seru Arka heboh dari tengah aliran sungai, langsung menyiramkan air dengan kedua tangan kecilnya ke arah mereka."Nggak boleh. Bahaya di tengah." dari satu sisi Ibu melarang."Nggak apa-apa, Bu, di sini dangkal kok," sahut Bumi dari pinggiran sungai, suaranya tetap tenang meski cipratan air dari Arka sukses mendarat tepat di kaos polo mewahnya. Dingin.Maura yang berada di dalam dekapan Bumi langsung tertawa terbahak melihat bercak basah di dada suaminy
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T







