LOGINKehadiran Mama dan Kiara di rumah benar-benar mengubah tatanan kehidupan serba praktis ala pasangan muda itu. Dapur rumah Bumi yang biasanya cuma dihiasi aroma kopi hitam dan masakan simpel, kini mengepulkan uap aneka masakan rumahan sejak jam lima pagi.Mama secara resmi memberlakukan jam malam dan larangan keras memasukkan makanan dari luar. Tidak ada lagi ceritanya memesan makanan lewat aplikasi online atau jajan gorengan di pinggir jalan.Ah! Maura sampai merasa tidak hidup di rumah suaminya."Ibu hamil itu makanannya harus terjamin kebersihannya! Nggak boleh makan sembarangan yang gizi dan penyedap rasanya nggak jelas!" omel Mama tegas tiap kali melihat Maura melirik aplikasi orange, berniat pesan makanan manis.Alhasil, Maura cuma bisa pasrah disuapi sup cakar ayam, sayur bening, dan olahan ikan segar buatan Mama. Untungnya, usai ujian semester terakhir selesai dan prosedur izin kuliahnya diurus tuntas oleh sang suami, Maura resmi berstatus 'mahasiswi meliburkan diri'. Praktis,
Bumi menghela napas halus, jari-jemarinya telaten memijat pelipis Maura dengan kelembutan yang amat kontras dibanding perawakannya yang tegap. "Tidur aja dulu, biar pusingnya berkurang.""Risti tadi hampir kena amuk Pak Jaka gara-gara ngeliatin aku terus!" adu Maura tiba-tiba, membuka matanya lagi walau sayu. "Dikira mau minta contekan, kali! Padahal dia cuma panik tiap kali aku geser duduk dikit. Ini semua gara-gara kamu, subuh-subuh WA nggak jelas!"Kekeh ringan lolos dari tenggorokan Bumi. Tawa baritonnya terdengar amat hangat di dalam ruangan yang hening itu. "Bagus dong. Berarti Risti menjalankan tugasnya dengan sangat bertanggung jawab.""Ih! Nggak gitu juga. Kalau entar nilainya jeblok, aku yang di salahin tau nggak..!" Maura mencubit lengan suaminya gemas, meski tenaganya yang tersisa cuma sekelas usapan halus."Iya, maaf. Entar Mas kasih nilai plus buat Risti di matakuliah Mas," bisik Bumi bercanda, mendaratkan kecupan hangat yang sedikit lama di dahi istrinya. Tangannya berp
Note : Maaf, ada alur yang gak pas kemarin karena othornya lupa alur. Makasih banyak yg sudah ngingetin.____"Ck. Biasa," decak Maura."Ponakan gue rewel lagi?!" potong Leon heboh, mendadak memasang raut drama sampai harus mencondongkan badannya."Nggqk usah lebay!" Maura malah mendorongnya mejauh.Dan seperti biasa juga Leon menanggapinya dengan penuh dramatis. Dia langsung mendekap dadanya dengan dua tangan. Melotot heboh."Gue nggak berani bales lo sekarang. Nyawa gue taruhannya." kata Leon."Lawannya Pak Bumi, coy!" tambah Leon. "Ntar nilai ujian Hukum Pajak gue mendadak berubah jadi huruf E cuma gara-gara ketahuan dorong bumil tercinta!"Maura melotot makin tajam. "Mulut lo bisa dikondisikan nggak sih?! Jangan keras-keras, gila! di tempat umum ini!" bisik Maura panik sambil melirik kanan-kiri, memastikan tidak ada mahasiswa lain yang mendengar ocehan teman ajaibnya itu.**Suasana ruang ujian lantai dua mendadak hening begitu lembar soal dibagikan. Hanya terdengar gesekan bolpoi
Di pangkuannya, sebungkus nasi kuning dengan lauk telur iris dan perkedel masih tertata rapi. Baru berkurang tiga sendok, itu pun hasil paksaan dan rayuan suaminya sedari keluar kompleks perumahan."Tiga sendok itu belum cukup buat ngisi perut kamu, belum lagi perut bayinya." omel Bumi, suaranya mengalun bak dosen penasihat akademik yang sedang menghakimi mahasiswa bimbingan bermasalah. "Kamu mau pingsan pas ngerjain soal? Mau bikin Mas masuk ke ruang ujian terus nggotong kamu kaya di drakor itu? Mau kamu status kita terekspos terang-terangan?""Ya tapi kan mual, Mas..!" Maura mengerucutkan bibirnya makin maju, menatap ngeri ke arah sambal goreng ati di atas nasi kuning. "Bau santannya bikin enek tau..!""Lho, tadi pas lewat depan warungnya siapa yang ngerengek minta dibeli in?" potong Bumi tak mau kalah. Pria tegap berkemeja rapi itu melirik sekali lagi arah pangkuan istrinya. "Mas sudah turun mobil, beliin, bukain bungkusan plastiknya, terus sekarang cuma diliatin doang? Rugi dong u
"Tapi aku udah belajar sampai jam sepuluh semalem!" rengek perempuan itu. "Nggak ada tapi-tapi, Sayang," potong Bumi makin ngotot. Pria itu mengelus perut buncit Maura. "Kasihan anak kita. Dari tadi perut kamu dikocok mual begini, mau ditambah stres mikirin soal? Mas nggak izinin." "Aku naik motor, berangkat sendiri." acam Maura. Bumi seketika melotot. Rasa kantuk yang tersisa di kepalanya menguap tanpa bekas. "Naik motor?!" ulang Bumi. "Kamu lagi hamil tiga bulan, mabuk darat tiap pagi, pusing melayang begitu, mau naik motor sendirian jam tujuh pagi ke kampus?! Kamu mau bikin Mas serangan jantung?!" "Biarin! Habisnya Mas Bumi otoriter amat!" balas Maura sengit, walau matanya masih sembap dan nafasnya tersengal pelan. Dia tetap garang meski tubuhnya masih bersandar lemas di tumpukan bantal. "Kalau Mas nggak mau antar dan nggak ngizinin aku ujian, aku nnaik motor sendiri aja. Nggak usah diaantar!" Bumi memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa berdenyut nyeri. Bayangan
Maura sengaja memalingkan wajahnya, menolak menatap langsung sepasang mata di balik kacamata minus yang selalu sukses melelehkan pertahanannya. Tapi sengatan hangat dari usapan jemari Bumi di dagunya membuat tenggorokannya mendadak kering."Siapa yang cemburu..." cicit Maura pelan, berusaha mempertahankan nada judesnya meski suaranya malah terdengar seperti cicitan anak ayam kehilangan induk. "Lagian Mbak-Mbak baju merah tadi ngapain coba pake senyum-senyum gaje? Mas Bumi juga, ngapain pake dianggukin segala?! Kan bisa cuek aja, pura-pura buta gitu!"Bumi menahan tawa yang sudah berada di ujung tenggorokan. Kalau sampai tawa itu pecah sekarang, taruhannya adalah rujak buah di pangkuan Maura bisa melayang ke wajahnya."Masa Mas harus pura-pura buta sama orang yang nyapa?" jemarinya naik mengelus pipi Maura yang kian mengembung lucu. ""Ya tapi kan tetep aja senyumnya mencurigakan!" balas Maura pantang kalah. Matanya menatap tajam bungkusan plastik rujak di pangkuannya, melampiaskan kek
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang







