LOGINDua puluh menit kemudian, setelah Bumi tampak segar selesai mandi. Mereka sudah duduk berhadapan di meja makan.Aroma sabun mandi berbautr dengan aroma masakan Maura, mala itu."Harum banget istri Mas," goda Bumi langsung mengambil telapak tangan Maura lalu menciumnya gemas, padahal jelas-jelas aroma sabun mandi pria itu yang mendominasi ruangan."Apasih! Makanan tuh yang harum!" kata malu-malu, mengambilkam nasi hangat yang melimpah ke piring suaminya.Makan malam berlangsung riuh dan hangat. Di balik status dosenkiller yang ditakuti mahasiswa se-kampus, Bumi di meja makan adalah sosok pria lokal yang hobi mencuri potongan ayam dari piring istrinya hanya demi melihat Maura bersungut-sungut gemas.Gelak tawa kecil dan percakapan ringan mengalir begitu saja, mengikis sisa-sisa amarah Maura pada sang mama serta kepeningan Bumi atas urusan kantor.Begitu nasi di piring mereka tandas, Bumi menarik kotak dimsum mendekat. Ia menyumpit satu dimsum udang yang masih hangat, lalu mengarahkanny
Deru mesin mobil baru saja mati saat kendaraan itu terparkir sempurna di garasi rumah. Pria berwajah tampan itu keluar dari mobil, mengibaskan sedikit tas yang tersampir di lengannya, lalu merapikan tatanan rambutnya di kaca spion. Tangan kirinya menenteng kantong kresek kecil transparan berisi satu kotak dimsum ayam udang hangat yang sengaja ia belikan di jalan tadi. Dia takntahu apakah istrinya suka, tapi itu termasuk usaha dalam rangka menyogok sanh istri untuk proyek malam ini.Dengan senyum tipis yang sarat akan niat menggoda, Pak Dosen muda itu melangkah masuk menembus pintu depan. Namun, aroma uap cabai goreng yang menyengat langsung menyambut indra penciumannya dari arah dapur, diselingi suara denting ulekan batu yang dihantamkan ke cobek dengan tenaga ekstra."Sok-sokan minta maaf! Sok-sokan melas!" gerutu Maura heboh sendirian di depan meja dapur, mengulek sambal. "Akhirnya juga Dira lagi!"Bumi mendekat tanpa suara, menyandarkan tubuh tegapnya di sekat amtara ruang makan da
"Kamu yakin itu dia?" tanya Bumi dingin, memastikan tanpa ada sedikit pun riak ragu di intonasinya."Seratus persen yakin, Pak. Sudah di konfirmasi." sahut informan itu cepat. "Saat ini tim kami sedang membuntutinya dari area kedatangan menuju parkiran VIP. Sepertinya ada penjemputan khusus."Bumi bergeming. Pria itu bangkit dari kursinya, melangkah perlahan menuju jendela kaca raksasa yang menampakkan pemandangan lanskap kota yang mulai dihiasi lampu-lampu jalanan sore. Tatapannya meruncing, menembus kegelapan kota dengan kilat berbahaya.Pria itu adalah selingkuhan Dira, dan juga teman kuliah Bumi dulu.Bisa jadi adalah ayah dari janin yang dikandung Dira. Kenapa bisa jadi? Tentu karena bumi juga tak yakin, apakah Dira juga bermain dengan pria yang lain."Cari tahu semua informasi tentang dia. Di mana rumahnya," perintah Bumi dingin, memotong laporan informannya tanpa ragu. "Kalau bisa sih, dapetin rambutnya buat test dna, tapi kayanya susah.""Kamu usahakan Pak Bumi," sahut suara d
Napas sang mama tertahan di tenggorokan. Suara Maura tenang dari seberang telepon terasa bagai sembilu yang menggores harga dirinya.Dengan tangan tegang, dia menguatkan pegangannya di HP, berusaha menelan bulat-bulat gengsi dan amarah yang merintih di dalam dada."M-Maura, ini Mama," sapanya terbata, suaranya terdengar serak dan sangat jauh dari kesan angkuh yang biasanya dia perlihatkan.Di seberang sana, hening sejenak. Maura yang baru saja akan turun untuk memanasi lauk untuk makan malam, mendadak menghentikan langkahnya. Dia menjauhkan HP dari telinga sebentar untuk memastikan nama di layar, lalu menempelkannya lagi."Iya, Ma. Ada apa?" jawab Maura datar, tanpa embel-embel kehangatan, tapi tetap berusaha sopan.Di seberang hening. Sang mama tampak memijat pelipisnya sendiri, sesekali melirik ke samping, ke suaminya yang seakan menunggu dia memohon ke Maura. Gadis yang dia besarkan sejak bayi itu."Ma? Ada apa? Orang rumah sehat?" tanya Maura kemudian, memotong keheningan canggung
"Masih kesal, hm?" bisik Bumi dengan suara beratnya yang mendadak melembut. Jemari panjangnya terulur menyelipkan helai rambut Maura ke belakang telinga, menyapu permukaan leher istrinya yang bersemu merah. "Kan tadi di kelas cuma penyampaian materi secara. Cuma dikit-dikit inget yang semalem aja, jadi keceplosan." lanjutnya tnpa merasa berdosa."Keceplosan gundulmu!" semprot Maura mendelik tajam, walau akhirnya pertahanannya runtuh juga saat melihat tatapan Bumi yang berbinar dan penuh pemujaan. "Bikin deg-degan tahu nggak! Nanti kalau anak-anak pada curiga gimana?""Enggak akan ada yang curiga, Sayang. Mereka cuma mikir kamu mahasiswa apes yang kena panggil dosen," kekeh Bumi renyah.Pria itu menundukkan kepala, memangkas jarak di antara wajah mereka. Belum sempat Maura memprotes lagi, bibir hangat Bumi sudah lebih dulu mendarat di bibirnya, mencecapnya dengan kecupan lembut, lama, dan sarat akan kerinduan yang seolah tak pernah usai.Maura yang tadinya berniat mogok, perlahan tanga
"Saya ambil contoh kasus nyata," ujar Bumi lagi, nadanya datar tapi sarat akan sindiran halus. "Ada seorang mitra yang awalnya menolak tegas. Tapi begitu 'eksekusi' dimulai dan ritme dinaikkan, dia justru memberikan respons yang sangat kooperatif. Begitu juga maksud materi kai ini."Brak!Saking terkejutnya, Maura tak sengaja menyenggol bukunya sampai jatuh membentur lantai. Suara itu membuat setengah isi kelas menoleh ke arah barisan belakang."Ada masalah di belakang, Maura?" tanya Bumi dengan wajah tanpa dosa, menatap istrinya dengan alis terangkat rapat."N-nggak ada, Pak! Maaf, buku saya jatuh," sahut Maura terbata-bata, cepat-cepat membungkuk mengambilnya sekalian menyembunyikan wajahnya."Baik, tolong konsentrasi," kata Bumi santai, menyunggingkan senyum tipis sewaktu Maura kembali duduk tegak. "Jangan sampai ketahuan lemas di tengah jalan, padahal materinya baru dimulai."Risti menutupi mulutnya rapat-rapat agar pekikan tawanya tidak pecah di tengah kelas.Maura cuma bisa meng
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan







