เข้าสู่ระบบ"Kan kalau kerjaan kampus nggak ada, jadi nggak sesibuk dulu."Bumi tersenyum tipis. Ia meraih tangan Maura, membawa jemari halus itu ke bibirnya dan mendaratkan satu kecupan hangat di sana. "Seneng lah. Duduk di sini sama kamu, ngeliat kamu ketawa dari pagi sampai malam... ini jauh lebih berharga dari gelar apa pun yang pernah Mas kejar.""Bisa aja mantan dosen ini kalau gombal. Tapi gelarmu udah di langit, jangan sombong." goda Maura dengan cengiran manis yang memerah di pipi. "Tapi janji ya, habis ini kita harus sering-sering jalan gini.""Asal kamu janji nggak marah-marah. Pusing aku kalau kamu cemberut, apalagi seharian." balas Bumi memancing tawa renyah dari bibir Maura di tengah keheningan malam kota yang kian larut menuju pukul dua belas malam.**Mereka pulang esok harinya. Dari setengah siang suasana kamar dipenuhi oleh kesibukan persiapan kepulangan. Agak buru-buru dan panik, karena bangun kesiangan.Bumi mengemas seluruh pakaian dan barang bawaan ke dalam koper-koper besar
"Tas kamu, Mas..!" seru Maura di ambang pintu kamar hotel."HMM.. Bekasmu ketinggalan sayang!"Bumi menyusul."CK!!"Matahari pagi merambat pelan, membiarkan kehangatan tipis menerobos sela-sela kabut tipis yang menyelimuti kawasan Pelataran Candi Borobudur. Di antara deretan batu-batu andesit berukir relief kuno yang berdiri megah menantang zaman, Bumi Arkatama dan Maura melangkah berdampingan.Udara pagi yang segar bertiup lembut, memainkan ujung dress hamil berwarna pastel milik Maura dan helai rambutnya yang dibiarkan terurai setengah.Bumi berjalan dengan tempo yang sangat terukur, satu tangannya menggenggam jemari Maura dengan erat, tangannya yang lain dengan sigap menopang punggung bawah sang istri setiap kali mereka harus melangkahi anak tangga yang agak tinggi.Pengalaman menjelajahi Borobudur dengan kondisi Maura yang sedang mengandung membawa dinamika tersendiri bagi pasangan ini. Bumi, dengan tabiat protektifnya yang eksentrik, bertindak bagaikan pengawal pribadi profesion
Bumi hanya menaikkan sebelah alisnya, merespons gertakan Maura dengan hening dan penuh percaya diri. Pria itu mengawasi setiap pergerakan istrinya dari atas dengan tatapan penuh intensitas.Jemari lentur Maura meluncur cekatan melonggarkan kancing dan resleting celana Bumi. Begitu bentukan yang menegang keras itu terbebas penuh dari balik kain minimnya, Maura menelan ludah sesaat sebelum mendongak, tersenyum licik dan sangat menantang."Inget, ini harga satu tas mewah!" bisik Maura tegas.Tanpa menunggu balasan suaminya, Maura mendekatkan wajahnya. Hembusan napas hangatnya menyapu permukaan yang sudah memanas itu, sebelum akhirnya ia melingkarkan bibirnya dan mulai mengulum di bagian ujung, pelan-pelan."Ahnh..."Satu helaan napas berat lolos dari bibir Bumi. Pria itu mendadak memejamkan mata, jemari tangannya yang semula bersedekap santai kini refleks mencengkeram sprei di samping tubuhnya. Ketahanan dan gengsi tinggi yang biasanya ia agungkan runtuh seketika oleh keahlian tak terdug
Tak menggubris, Bumi malah makin betah memainkan jarinya di dalam sana, menikmati bagaimana Maura merancau tak karuan dengan napas yang tersengal-sengal. Suara desah dan rintihan manja yang lolos dari bibir peremouan itu bak alunan merdu yang makin membakar gairahnya.Meski dia tetap ekstra hati-hati untuk tidak masuk terlalu dalam. Dia sangat sadar akan kondisi Maura yang sedang mengandung buah hati mereka.Setiap kali Maura menekan tubuhnya ke depan, refleks jemari Bumi sedikit mundur, mengatur ritme dan kedalaman agar tak menembus terlalu jauh."Mas... ah! Yang dalem..." keluh Maura dengan mata terpejam, pinggulnya bergerak gemulai berusaha mengejar desakan jari Bumi yang sengaja menahan diri."Enak hm?" bisik Bumi rendah tepat di celah telinga Maura."E- Enak..." rintihnya makin gelisah, pinggulnya bergerak liar mencari titik tertingginya.Tangan kirinya yang meremas dada Maura berpindah mengusap lembut perut buncit istrinya, menyalurkan rasa hangat dan kasih sayang yang mendalam
Dia merunduk sedikit, menyejajarkan wajah cantiknya dengan wajah Bumi yang sudah memerah, yang berhadapan langsung dengan duab buah yang menggantung dari dada sang istri. "Nggak pengen pegang?" tanya Maura.Bumi menaikkan sebelah alis. Berusaha menahan diri, bibirnya terbuka, meyahut."Celana dalamnya, lepas." suruhnya terbata, oleh nafasnya yang tersengal.Ruangan ber-AC dengan suhu dua puluh lima derajat itu seketika terasa mendidih, menyisakan udara dingin yang justru beradu hebat dengan hawa panas yang membakar tubuh mereka.Suasana hening dan intens terkunci rapat di dalam kabin, di mana hanya ada desah napas dan tatapan mata yang saling menguliti.Maura tersenyum kelewat manis. Tanpa mengalihkan pandangannya dari manik mata Bumi yang menggelap penuh gairah, tangan lenturnya bergerak turun ke pinggang. Jemarinya menyusup di balik karet celana dalam yang melekat ketat di pinggul mulusnya.Dengan gerakan lambat yang sengaja disiksa untuk memicu ketahanan suaminya, Maura sedikit mer
Setiap denting kancing yang terlepas seolah menjadi musik latar yang membuat suasana kamar makin gerah. Begitu kancing terakhir terbuka, Maura meloloskan baju yang ia pakai itu begitu saja, membiarkannya jatuh meluncur ke lantai marmer yang dingin.Kini, tubuhnya hanya dibalut oleh setelan baju dalam warna hitam maron yang tentu saja sangat minim.Bumi tersenyum tipis. Refleks menelan ludah, tenggorokannya mendadak sekering gurun Sahara. Harus ia akui, Maura makin berisi sejak hamil. Perubahan hormon yang membuat lekuk tubuh istrinya makin mekar justru menjadi pemandangan paling berbahaya bagi iman Bumi yang setipis tisu dibagi lima.Mata tajam pria itu menelisik tanpa ampun. Pandangannya merambat turun memindai perut buncit yang menggemaskan, kaki jenjang yang mulus, hingga berakhir memicing di area dada yang makin tembam.Bra berenda pastel yang dikenakan Maura bahkan kelihatan hampir tak muat lagi menampung aset berharga milik istrinya itu, tampak begitu sesak dan... menggoda.Jaku
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s







