Mag-log inAngin di puncak Bukit Tengkorak tidak pernah berhembus pelan, selalu berputar seperti badai dan sesekali terdengar tangisan arwah yang penuh dendam. Di kaki bukit berdiri reruntuhan Kuil Teratai Hitam, markas sisa-sisa sekte sesat yang dikabarkan telah dimusnahkan dunia persilatan puluhan tahun lalu di bawah perintah Kaisar sendiri.Mo Yan melangkah masuk melewati gerbang kuil yang sudah ditutup oleh lumut. Meski ia sendiri adalah pembunuh yang kejam, aura di tempat itu membuatnya merinding. Sangat terasa kesunyian menjadi satu-satunya napas di sana."Tamu tak diundang, pastikan kau datang membawa penawaran yang menarik." Suara wanita terdengar dari segala arah."Aku datang membawa emas, bukan nyawa," jawab Mo Yan lantang. Matanya terus menyapu kegelapan kuil sambil tangannya siaga ke pedang.Sebuah hantaman tenaga dalam yang dahsyat tiba-tiba menekan dada Mo Yan, dan memaksanya mundur beberapa langkah. Dari balik bayangan patung dewa tanpa kepala, sesosok wanita melayang turun perlah
Muyin sudah baik-baik saja. Namun, ia tak akan melupakan kejadian yang menimpa kakaknya dan wanita itu berjanji tidak akan pernah tidur dengan tenang sebelum membalaskan kematian Ruyin.Meski dendam di hatinya kian membara, ia terus belajar dengan serius walau lelah melanda. Muyin mencurahkan semua kemampuannya dengan baik, sebab jika tertinggal sedikit saja makan akan sulit mengejarnya.Tabib Xu berdiri di samping sebuah manekin kayu seukuran manusia yang permukaannya penuh dengan lubang-lubang kecil. Ia memegang jarum perak panjang dan mulai mempraktekkan ilmunya di depan Muyin."Lihat ini, Nyonya Muda. Ini adalah Mingmen atau Pintu Kehidupan, tepat di antara ruas tulang belakang lumbal kedua. Bagi seorang tabib, memanaskan titik ini dengan moxa bisa mengembalikan (Yang) ginjal yang runtuh. Tapi bagi seorang ahli bela diri, hantaman keras di sini bisa memutus aliran Qi dan membuat lawan lumpuh seumur hidup."Muyin mendekat, matanya memperhatikan setiap titik dengan baik. "Jadi, seti
Beberapa Hari SebelumnyaMuyin dan Ruyin duduk di taman. Ruyin menyulam sapu tangannya sendiri untuk pernikahannya bersama Jenderal Li, sedangkan Muyin memperbaiki kipas yang manik-maniknya copot.“Setelah menikah nanti, kau boleh datang ke kediaman kami, meimei,” ucap Ruyin pada adiknya.“Aku tidak berpikir untuk menikah, Jiejie. Aku hanya ingin lepas dari tempat ini,” jawab Muyin dengan rasa malas.“Jangan begitu, kau harus menikah, punya anak dan memiliki keluarga sendiri. Sebagai kakak, aku rela menukar seluruh kehidupanku agar kau bahagia. Aku tak pernah bisa berbuat banyak untuk kebahagiaanmu.”“Jiejie, jangan bicara seperti itu, tak lama lagi kau akan menikah, kau harus bahagia, soal hidupku biar aku sendiri yang akan memutuskan bagimana.” Secara tak sengaja jemari Muyin tertusuk jarum.“Hati-hati, tanganmu sampai berdarah.” Ruyin membersihkan darah adiknya. “Memangnya setelah aku menikah kau akan ke mana?”“Aku akan jadi biksuni supaya hidupku tak harus terus-terusan diatur or
“Kakak Ipar, buka pintunya!” Keyi menggedor-gedor pintu dengan kuat. Tabib Xu kemudian mendekatinya.“Biarkan saja, dia perlu ruang dan waktu untuk meluapkan perasaannya,” ucap lelaki tua itu.“Apa yang terjadi sebenarnya, Guru?”“Nyonya Muda membuka kenangan lama yang seharusnya ia lupakan dan tentu saja rasanya sakit. Mungkin saja ada kenangan dengan ibunya yang sangat menyakitkan. Sudahlah kita pergi saja kerjakan yang lain.” Tabib Xu menarik tangan Keyi.“Tapi tangisan Kakak Ipar sampai sesenggukan begitu, Guru, aku tidak bisa tenang.”“Ya, namanya orang menangis memang menyedihkan. Nanti juga Nyonya Muda akan kembali tenang. Ayo cepat aku akan mengajarimu cara memanah burung dengan tepat di lehernya.“Tapi ...” Tangan Keyi terus ditarik menjauh dari ruangan di mana Muyin masih menangis tersedu-sedu.“Ini tidak mungkin, tidak mungkin terjadi.” Wanita dengan lesung pipi itu terus menangis. Setelah ia diam sejenak dan menghapus air matanya, ia menangis lagi.“Seharusnya aku melupaka
Muyin bergegas ke halaman samping. Tanpa perlu bertanya lagi, tangan Muyin dengan cekatan memilah tanaman yang dimaksud.Ia tahu persis kebiasaan gurunya, jika Tabib Xu meminta herbal saat sedang menumbuk sesuatu yang berbau tajam, biasanya ia membutuhkan tanaman penyeimbang. Namun, sekarang instruksi Tabib Xu lebih mendalam."Ambilkan tiga bunga Yang Jin Hua (Kecubung) yang kelopaknya baru mekar setengah, lalu gali akar Shi Chang Pu yang tumbuh di dekat aliran air," perintah lelaki tua itu lagi.Muyin tertegun sejenak. Yang Jin Hua dikenal sebagai tanaman pembius yang kuat, bahkan beracun jika salah takaran. Sementara Shi Chang Pu biasanya digunakan untuk menenangkan pikiran dan membuka panca indra. Kombinasi yang aneh dan mematikan.Setelah membersihkan akar dan membawa bunga berbentuk terompet putih itu ke meja medis, Muyin melihat Tabib Xu sedang menyiapkan sebuah tungku kecil dengan api biru yang menyala dengan tenang."Duduklah," perintah Tabib Xu serius. "Hari ini kita tidak be
Kabut tipis masih menyelimuti kaki Gunung Barat, dan memperpendek jarang pandang di halaman Paviliun Pengobatan. Ayam jantan bahkan belum berkokok, tapi mata Bai Muyin sudah terbuka lebar.Udara pagi di pegunungan menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Namun, Muyin tidak lagi menggigil seperti hari pertama ia tiba.Tubuhnya mulai beradaptasi dengan kerasnya alam, sama seperti tekadnya yang semakin menguat. Ia membasuh wajahnya dengan air sumur yang dingin dan membiarkan rasa beku itu mencubit kesadaran dan menghalau sisa kantuk dari wajahnya.Tanpa membangunkan Keyi yang masih mendengkur dalam balutan selimut lusuh, Muyin melangkah keluar menuju kebun herbal.Muyin berjongkok di antara petak-petak tanaman, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam. Tabib Xu melarangnya dengan keras mengenali tanaman menggunakan penglihatan di pagi hari."Mata bisa ditipu oleh bentuk dan warna, tapi hidungmu tidak akan pernah berbohong tentang aroma sebuah tanaman." Begitu kata gurunya.Hidung







