LOGINPagi-pagi sekali Fenglan dan Muyin sudah berdandan rapi di depan cermin perunggu. Mereka menggunakan warna baju senada yaitu biru muda. Dandanannya lebih santai karena sesuai isi surat Putra Mahkota, hanya acara minum teh saja.Tak lupa Muyin selalu membawa plakat emasnya. Shuqing hari itu ikut serta bersama majikannya, begitu juga A Ying yang berjalan selalu di belakang Muyin.Sampai di kediaman Putra Mahkota, keduanya masuk dan para pelayan menunggu di luar saja. Pangeran Yan Haoran menyambut kedatangan Fenglan. Sedangkan pelayan utusan Putri Mianmian meminta agar Muyin mengikutinya ke suatu ruangan.“Jenderal, sebenarnya aku memintamu datang hari ini bukan untuk santai-santai saja, melainkan ada yang harus kita bahas.” Putra Mahkota menutup ruang belajarnya hingga hanya tersisa mereka berdua saja.“Urusan negara?” tanya Fenglan, dan Putra Mahkota yang memiliki mata sipit itu mengangguk.“Kita tidak hanya berdua saja, tapi ....” Yan Haoran menggeser pintu ruangan tempat buku-bukunya
Muyin kembali membalut punggung Fenglan dengan perlahan. Sesekali ia menguap karena kantuk tak tertahankan. Namun, pekerjaannya tetap diselesaikan.Pada lilitan terakhir, Fenglan menahan tangan istrinya, hingga Muyin yang kelelahan meletakkan dagunya di bahu sang jenderal.“Dulu, dia datang ke barak militer di utara dan menggunakan wajah serta namamu. Untung saja aku tahu sejak awal,” ucap Fenglan sambil mengecup tangan Muyin yang beraroma salep.“Lalu, siapa dia?”“Tidak tahu, yang jelas seseorang mengirimnya karena tidak suka padaku.”Muyin beringsut dan memeluk erat suaminya. Fenglan berjengit menahan nyeri di punggungnya akibat desakan tubuh Muyin.“Mungkinkah Pangeran Rui lagi?”“Mungkin saja, semua orang bisa mengirim orang untuk membunuhku.”“Lalu kita harus apa? Kalau dia muncul lagi di depanmu dengan wajah sama, Fujun pasti kesulitan membedakannya. Bisa jadi nanti kalian akan tidur bersama.” Muyin menguap lagi.“Kau sungguh berpikir ke arah sana?”“Sedikit.”“Dia ingin membun
Shu Li—wanita yang menguasai teknik mengubah seribu wajah sedang menahan sakit di dadanya. Ia bersembunyi di sebuah losmen kosong dan menarik napas dalam sejenak sambil duduk bersila.“Sial, kemampuannya benar-benar tidak bisa diremehkan,” ucap Shu Li sambil menahan batuk. Sedikit lagi ia berhasil menikam jantung Fenglan, tapi lelaki itu terlalu waspada jadi orang.Shu Li menukar wajah Muyin kembali ke wajah aslinya. Ia memang sempat terluka parah saat di peperangan utara, tapi Shu Li kembali ke Kuil Teratai Hitam dan segera memulihkan tenaga dalamnya.“Aku bersumpah akan membalas semua perbuatanmu, Fenglan!” gumamnya dengan gigi yang saling beradu.Baru beberapa saat bermeditasi, suara berisik terdengar. Pintu reyot losmen itu ditendang dan muncul suara Fenglan hingga membuat Shu Li mawas diri.“Dia sampai begitu cepat.” Shu Li menarik napas lebih dalam.Saat pintu kamarnya dibuka oleh Fenglan ia sudah tidak terlihat lagi. Namun, sang Jenderal menemukan beberapa bercak darah di lanta
Fenglan meringis ketika punggungnya terasa ditikam benda tajam. Dengan spontan ia menjauhkan diri dan tangan Muyin terpelanting hingga menabrak dinding kayu.“Furen,” ucap Fenglan sambil menahan sakit dan menatap istrinya begitu dalam.“Aku membencimu, Fujun, kau membunuh kakakku!” Muyin berdiri dan mengangkat pisau itu lebih tinggi hingga sedikit lagi menusuk kepala Fenglan.Sang Jenderal menahan dengan sebelah tangannya. “Aku sudah pernah menjelaskannya padamu!”“Kau harus mati!” Muyin menyeringai keji.Wanita itu melompat mundur untuk mengambil ancang-ancang, lalu ia menerjang ke depan dengan kecepatan yang mengerikan. Ujung belati yang berkilat mengarah lurus ke jantung Fenglan yang terbuka tanpa perlindungan.Meski terkejut bukan main, pengalaman bertahun-tahun di medan perang menyelamatkan nyawa Jenderal itu. Fenglan memutar tubuhnya ke samping. Belati melewati rusuknya, hingga hanya menikam angin saja.Tidak memberi kesempatan Muyin untuk menarik kembali senjatanya atau mengatu
Fenglan dan Muyin pulang ke rumah saat hari sudah malam. Tubuh mereka perlu sedikit peregangan setelah lelah seharian berada di dalam istana. Muyin meminta para pelayan agar menyiapkan air hangat di dalam bak mandi.“Kau pasti ingin mandi berdua denganku, bukan?” Fenglan memijat bahu istrinya dengan lembut.“Sendiri-sendiri saja, memangnya kenapa?” sahut Muyin sambil melepas perhiasan di kepalanya.“Ayolah, jangan terlalu kaku hidupmu, sudah menikah lama juga.” Lelaki berwajah keras itu memijat semakin serius dan agak turun.“Eit, tanganmu. Aku masih sangat lelah.” Muyin menepis tangan Fenglan.Lelaki itu tersenyum. “Satu kali ini saja dan aku jamin besok dan seterusnya kau pasti ingin mandi bersamaku,” bisik Fenglan tepat di telinga Muyin, membuat istrinya sedikit bergidik. Getarannya terasa hangat sampai ke dada.“Ya, baiklah, demi Fujunku tercinta.” Muyin bangkit lalu membuka baju lapisan luarnya dan meminta para pelayan untuk keluar. Bahkan beberapa lilin ia padamkan agar tidak ad
“Pangeran Rui!” tegur Fenglan sambil menyembunyikan Muyin di belakang punggungnya.“Fujun, kita pergi saja da-dari sini.” Muyin sangat ketakutan.“Pangeran Rui, bolehkah hamba tahu apa yang sedang kau lakukan di sini?”Pertanyaan Fenglan membuat Pangeran Rui menutup kembali tubuhnya dengan baju dan Fenglan memberi isyarat pada pelayan itu untuk kabur.“Tidak ada, aku hanya sedang memeriksa kesehatan pelayan saja dari ujung rambut sampai kaki.” Pangeran Rui menatap pelayan yang sedang lari itu dengan tatapan ingin membunuh.“Pemeriksaan pelayan perempuan dilakukan oleh dayang perempuan, juga sebaliknya. Hamba sarankan Pangeran Rui jangan ikut campur urusan receh seperti ini.”“Kau membuat kesal, Jenderal Li,” ucap Pangeran Rui. Ia baru menyadari rok kembang yang tersembunyi di balik tubuh Fenglan.“Hari di mana kita hidup, tidak selalu menyenangkan, Pangeran. Jika kau tak tahu jalan kembali aku bisa mengantarmu.” Jenderal Li membuka jalan untuk Pangeran Rui.“Minggir!” Yan Zhelan pergi







