LOGINFreya keluar dari walk in closet dengan kemeja kerja yang sudah rapi dan rambut yang dikuncir seadanya. Kamar sudah kosong. Ponsel Keano tidak lagi tergeletak di atas meja, dan jas hitam yang tadi tergantung di kapstok pun hilang. Hanya aroma hangat dari parfum pria itu yang masih tertinggal di udara.Dia berdiri sebentar di tengah kamar, menatap pintu yang tertutup rapat. Suara Keano di telepon tadi masih terngiang di telinganya, begitu pelan dan hati-hati, seperti seseorang yang bicara pada sesuatu yang mudah pecah.Siapa yang menelepon sampai dia bicara selembut itu?Freya menggeleng cepat, mengusir pikiran itu. Bukan urusannya. Dia meraih tas dan melangkah turun. Di teras, Pak Beni sudah menunggu di samping mobil, membukakan pintu belakang dengan senyum sopan."Silakan, Nona. Pak Keano sudah berpesan agar saya mengantar Nona sampai ke mall.""Terima kasih, Pak Beni."Sepanjang jalan, Freya menatap jalanan pagi yang mulai ramai. Kursi di sampingnya kosong, dan entah kenapa terasa
Freya mengerjap. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cara Keano menanyakannya, pelan dan hati-hati, membuatnya sedikit bingung. Kenapa Keano ingin tahu sedetail ini?"Punya," jawab Freya akhirnya. "Seorang adik laki-laki. Namanya Arvin. Dia masih kuliah.""Tinggal bersama ayahmu?" tanya Keano lagi. Karena saat datang ke rumah Freya, dia tak melihat seseorang selain ayah Freya.Freya menggeleng pelan. "Tidak, dia di asrama." Freya menunduk, napasnya berembus panjang. "Aku yang menyuruhnya tinggal di sana."Satu sudut alis Keano tertarik ke atas. "Kenapa?"Freya diam sejenak. Dia menimbang apakah perlu menjelaskan sampai sejauh itu, lalu memutuskan bahwa Keano sudah melihat sendiri seperti apa ayahnya, jadi lebih baik tidak ada yang dia tutupi."Aku tidak mau Arvin diperlakukan buruk kalau tinggal serumah dengan Ayah," ucapnya pelan. "Ayah mudah marah kalau sedang kalah judi atau mabuk. Biar aku saja yang menerima semua itu. Arvin harus kuliah dengan tenang."Keano tidak menjawab.
"Siapa yang menghubungi?" tanya Keano. Matanya mengikuti gerakan Freya yang masih memegang ponsel.Freya menurunkan ponselnya sedikit, jarinya belum menekan apa pun. "Rachel," jawabnya. "Dia pasti masih mencemaskanku. Boleh aku jawab dulu?"Freya masih berdiri, ingin pergi ke sudut ruang untuk memberi ruang supaya Keano bisa beristirahat tanpa terganggu. Namun, sebelum melangkah, tangan Keano lebih dulu meraih pergelangan tangannya."Jawab di sini," kata Keano. "Di depanku." Nada suaranya pelan tapi tegas.Freya mengerjap. Dia menatap jemari Keano yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu menatap wajah pria itu. Tidak ada nada memerintah yang kasar, tapi tidak ada celah untuk membantah juga. Dia tidak tahu kenapa Keano meminta itu, tapi tidak punya alasan untuk menolak."Baik," ucap Freya akhirnya.Dia kembali duduk di tepi ranjang, lebih dekat dari sebelumnya, lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Chel?""Frey! Akhirnya diangkat juga." Suara Rachel terdengar lega sekaligus gelisah,
Sore itu, urusan administrasi rumah sakit akhirnya selesai. Keano berjalan keluar dari kamar inap dengan langkah tegak meski tubuhnya masih agak lemas.Nadine tetap berjalan di sisinya dengan satu tangan siap menahan lengannya kalau-kalau dia goyah. Jordan melangkah di depan, sementara Freya mengikuti di belakang, dia tak berani berjalan sejajar dengan keluarga Pradipta.Lorong rumah sakit terasa lebih tenang dari semalam. Freya sesekali menatap punggung Keano. Pria itu berjalan tegak seperti biasa, seolah kejadian kemarin tidak meninggalkan bekas apa pun. Tapi Freya masih ingat betul betapa pucat wajah Keano kemarin, betapa dingin tubuh Keano saat dia mencoba membangunkannya."Freya," panggil Nadine dari depan sambil menoleh sedikit. "Hati-hati di tangga, lukamu belum kering.""Iya, Ma." Panggilan itu meluncur begitu saja, tapi detik berikutnya Freya menggigit bibir. Lidahnya masih belum terbiasa. Setiap kali kata Mama keluar dari mulutnya, ada hangat yang aneh di dada, bercampur r
Keano menurunkan ponsel dari telinganya setelah panggilan singkat yang diterimanya berakhir. Alisnya yang sejak pagi tadi bertaut kini sedikit mengendur, meski sorot matanya masih tajam."Melissa sudah ditangkap," kata Keano pada seisi ruangan. "Polisi menangkapnya di bandara pagi tadi, saat dia hendak kabur."Freya yang duduk di tepi kursi dekat ranjang Keano menarik napas panjang. Bahunya yang sejak semalam menegang perlahan turun. Jemarinya yang meremas ujung kemejanya sendiri akhirnya terlepas."Syukurlah," ucap Freya pelan. "Setidaknya sekarang dia tidak bisa berbuat jahat lagi."Nadine bergeser duduk lebih dekat, lalu menggenggam tangan Freya dengan kedua tangannya. Telapak tangan wanita itu hangat, jauh berbeda dari sentuhan dingin yang dulu Freya bayangkan akan dia terima dari ibu mertuanya."Tidak akan ada lagi yang berani mengganggumu, Freya," kata Nadine lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan Freya. "Mama pastikan itu.""Papa juga." Jordan menambahkan. Suaranya tetap b
Bandara masih lengang di jam sepagi ini. Lampu-lampu terminal menyala putih pucat, dan pendingin udara berembus dingin sampai ke tengkuk Melissa. Dia duduk di deretan kursi dekat gerbang keberangkatan dengan topi ditarik rendah dan masker menutup separuh wajah. Koper besarnya dia peluk di samping kaki, seolah ada yang bisa merebutnya kapan saja.Segelas kopi di tangannya sudah lama dingin, tapi dia belum menyentuhnya sama sekali.Ponselnya kembali dia periksa untuk kesekian kalinya. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan masuk. Nomor pria suruhannya masih sama seperti sejak semalam, tidak aktif, tidak bisa dihubungi.“Angkat, dong,” gumam Melissa sambil menekan nomor itu lagi. Jarinya gemetar. Nada sambung yang berubah menjadi suara operator membuat dadanya semakin sesak.Sejak semalam dia tidak bisa memejamkan mata. Setiap bayangan di jendela apartemennya terasa seperti polisi. Setiap suara langkah di lorong membuatnya tersentak. Akhirnya dia memutuskan membeli tiket penerbangan pali







