Se connecterTerima kasih yang sudah mampir di cerita Freya dan Keano, jangan lupa dukung buku ini dengan tinggalkan komentar kalian.
Malam harinya.Keano pulang lebih larut dari biasanya setelah menyelesaikan berbagai urusan di kantor. Dia berjalan menyusuri koridor rumah yang sudah sepi dan gelap, menuju kamarnya yang ada di lantai dua.Begitu memasuki kamar, dia melangkah lebih dalam, tatapannya tertuju ke atas ranjang.Freya sudah tertidur lelap di sana, posisinya yang berantakan seperti biasa, satu kaki terjulur keluar dari selimut.Keano melangkah mendekat dengan pelan, matanya tertuju pada pergelangan kaki Freya yang masih terbalut perban. Dia berjongkok di sisi ranjang, tangannya terulur untuk memastikan kondisi kaki itu tanpa bermaksud membangunkan Freya.Namun, begitu jemarinya menyentuh kulit di sekitar perban, Freya tersentak kaget, matanya terbuka lebar dan tubuhnya refleks bergerak.“Pak?” Freya bersuara, masih setengah terjaga, menatap Keano yang berjongkok di sampingnya.“Apa aku mengejutkanmu?” tanya Keano tenang, meski gerakannya tadi memang tidak dia maksudkan untuk membangunkan Freya.Freya meng
Di apartemennya.Brian duduk di depan televisi tanpa benar-benar menonton apa pun, pikirannya masih dipenuhi kekesalan sejak pemecatan yang menghancurkan kariernya beberapa hari lalu. “Harusnya aku duduk santai tapi tetap mendapat upah, bukan duduk begini tapi tanpa mendapatkan apa pun!” Brian menenggak minumnya, geram karena kini tak punya pemasukan gara-gara dipecat.Di tengah kekesalan yang dialaminya. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari salah satu temannya yang masih bekerja di mall.[Bro, kamu udah lihat belum? Heboh banget di grup karyawan. Freya digendong sama Pak Keano tadi siang, lewat koridor utama pula, bukan jalur belakang!]Brian mengerutkan kening, membuka pesan itu dengan rasa penasaran yang bercampur tidak percaya. Temannya mengirimkan beberapa tangkapan layar dari grup karyawan, memperlihatkan foto-foto yang diam-diam diambil beberapa karyawan yang melihat—Freya dalam gendongan Keano, wajahnya yang tertunduk malu, dan Keano yang berjalan tegap tanpa peduli tat
Keano kembali ke mall untuk melanjutkan pekerjaannya.Keano baru saja duduk di balik meja kerja ketika Nanda masuk dengan membawa beberapa dokumen, raut wajahnya sedikit berbeda dari biasanya.“Pak.” Nanda membuka suara, meletakkan dokumen itu di atas meja. “Berita soal kejadian tadi sudah menyebar ke seluruh karyawan mall. Bukan hanya di toko tempat Freya bekerja, tapi juga sampai ke divisi lain.”Keano tidak menanggapi. Dia meraih salah satu berkas yang ada di meja, membukanya dengan tenang seolah informasi yang baru saja disampaikan Nanda bukanlah sesuatu yang perlu dia risaukan.Nanda memperhatikan sikap itu dengan kening sedikit berkerut. “Apa Bapak sekarang berniat mempublikasikan pernikahan ini? Bukankah ini bukan bagian dari rencana awal?”Keano masih diam, matanya tetap tertuju pada lembar laporan di tangannya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya menjawab tanpa mengangkat wajah. “Bukan aku yang ingin pernikahan ini dirahasiakan.”“Maksud saya bukan soal siapa yang ingin merah
Keano diam mendengar pertanyaan itu. Bukannya menjawab dengan kata-kata, dia justru berjongkok di depan Freya, tangannya terulur menyentuh pergelangan kaki yang tak berbalut perban.“Apa kakimu sakit lagi?” tanya Keano, suaranya sudah kembali tenang meski masih menyimpan sisa ketegangan.Freya sedikit bingung dengan perubahan sikap yang begitu mendadak itu. Tapi dia tetap membalas, “Tidak, Pak.”Keano tidak langsung percaya. Dia sengaja menekan pelan bagian yang masih membengkak, cukup untuk memastikan.“Akh!” Freya memekik kecil, refleks menarik kakinya sedikit karena rasa nyeri yang tiba-tiba menjalar.“Itu yang namanya tidak sakit?” tanya Keano, kedua alisnya sedikit terangkat, nada suaranya penuh sindiran halus.Freya tertunduk, tidak berani membalas, malu karena ketahuan berbohong soal kondisinya sendiri.Keano menghela napas panjang, mencoba menahan emosi yang bahkan dia sendiri tidak sepenuhnya mengerti kenapa bisa meledak sedemikian rupa tadi. “Berjanjilah, jangan mengulanginy
Begitu mendengar pertanyaan Freya, Keano berhenti melangkah, tepat sebelum pintu keluar. Dia menoleh pada Freya yang masih berada dalam gendongannya, tatapannya dingin tapi tegas saat berkata, “Kamu tidak berhak memilih.”Kalimat itu terdengar begitu absolut, membuat Freya membeku dalam diam. Dia tidak sepenuhnya paham maksud dari ucapan itu, tapi tidak berani bertanya lebih jauh melihat ekspresi Keano yang begitu menyeramkan.Keano kembali melangkah menuju mobil yang sudah menunggu di area drop-off, tidak menghiraukan lagi tatapan-tatapan yang masih mengikuti mereka dari kejauhan.Begitu masuk ke dalam mobil, Keano segera memberi instruksi pada sopir. “Jalan sekarang.”Freya duduk diam, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Dia melirik Keano dari sudut matanya, melihat rahang yang masih mengeras, ekspresi dingin yang begitu jelas terpancar dari wajah pria itu.Sepanjang perjalanan, Freya hanya bisa menunduk, jemarinya saling meremat di atas pangkuan, menahan gejolak kecemasan
Beberapa saat sebelumnya.Di luar ruang istirahat karyawan, Keano baru saja tiba dengan langkah tergesa, dadanya masih dipenuhi kekhawatiran setelah pencarian panik yang membawanya sampai ke mall ini.Namun, begitu tangannya hampir menyentuh gagang pintu, suara percakapan dari dalam membuatnya menghentikan gerakan.“Eh, tapi, Frey.” Terdengar suara Rachel. “Kamu suka nggak sama Keano?”Keano membeku di tempatnya, tangannya tertahan di udara. Sesuatu dalam dirinya memaksanya untuk diam, mendengarkan dengan seksama percakapan yang seharusnya tidak dia dengar.Dia mendengar jawaban Freya yang penuh keraguan, mendengar penjelasan yang begitu berhati-hati soal perlakuan baik yang dia berikan, mendengar Rachel yang begitu yakin menyimpulkan sesuatu yang bahkan Keano sendiri belum berani mengakuinya secara terbuka.Ekspresi wajah Keano tetap datar, tapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan.Begitu percakapan itu mereda, Keano akhirnya mendorong pintu, melangkah masuk dengan tenang







