INICIAR SESIÓNRaymond menundukkan wajahnya lebih dalam. Lidahnya menyapu pelan sepanjang celah basah Jovita, menekan titik sensitif itu dengan ujung lidah sebelum menghisapnya perlahan.‘Tuhan, rasanya mau meledak...’ batin Jovita kacau. Desahan halus keluar dari bibirnya, jemarinya mencengkeram erat tepi sofa saat tubuhnya sedikit terangkat tanpa sadar.Raymond tidak terburu-buru. Ia membuka paha istrinya lebih lebar dengan kedua tangan, lalu menjilat lagi, kali ini lebih dalam, lebih kasar. Lidahnya masuk ke celah yang sudah basah, bergerak pelan sambil sesekali menghisap kuat di titik puncaknya. Suara gesekan basah terdengar jelas di antara napas mereka.“Ahh… Om…” erang Jovita, suaranya bergetar.Tanpa peringatan, Raymond menyelipkan dua jari sekaligus. Jari-jarinya masuk jauh ke dalam, menggesek dinding hangat yang seketika menyempit ketat, sementara lidahnya tetap bergerak tanpa ampun di atas. Tempo permainan itu kian cepat. Setiap dorongan jari diiringi hisapan yang membuat kedua paha Jovita
Raymond memejamkan mata terlebih, mengawali permohonan.“Semoga kita berdua selalu diberikan kebahagiaan, rumah tangga ini terus bertahan selamanya. Hanya maut yang memisahkan.”Jovita tersenyum haru, lalu ikut memejamkan mata dan menyahut riang, “Semoga Jojo bisa lulus dengan nilai sempurna di sidang skripsi nanti! Lalu bisa menjadi istri yang baik buat Om Ray.”Raymond tertawa kecil mendengar kepolosan istrinya, lalu melanjutkan permohonan berikutnya. “Semoga kita cepat dikaruniai anak-anak yang lucu dan menggemaskan.”“Semoga Om Ray selalu setia dan sayang keluarga, tidak lirik perempuan lain lagi,” timpal Jovita cepat tanpa membuka mata.“Jojo juga harus selalu setia sama Om, jangan sampai tergoda pria yang lebih muda,” balas Raymond tak mau kalah.Jovita mengulum senyum, lalu membisikkan doa dengan nada jahil yang mengoda. “Dan... semoga stamina Om Raymond tetap terjaga sampai tua nanti!”Mendengar permohonan terakhir yang makin mengada-ada dan menjurus itu, Raymond langsung memb
“Aku jujur padanya kalau aku sudah menikah lagi. Saat Karin bertanya apa aku mau punya anak dari istri baruku, aku jawab 'mau'. Aku nggak bohong, kan? Aku memang sangat mau punya anak lagi... tapi hanya dari kamu, Jovita.”Penjelasan itu mengalir jujur, tanpa kebohongan yang disembunyikan. Raymond tak ingin salah paham sekecil apa pun melingkupi hubungan mereka dan tumbuh menjadi duri.“Kita tidak bisa menyembunyikan pernikahan kita selamanya, aku juga ingin menjalani rumah tangga yang normal seperti pasangan lainnya.”Penjelasan tulus itu merobohkan pertahanan Jovita. Pertahanan yang sejak tadi ia bangun atas dasar prasangka seketika runtuh. Air mata kelegaan meluncur deras menyusuri pipinya. Tanpa ragu, ia merangsek maju, menghambur ke pelukan Raymond dan memeluk erat pinggang suaminya.Mengetahui Jovita sampai cemburu buta hingga menangis terisak, Raymond bukannya marah melainkan malah merasa sangat gemas. Pria itu menyunggingkan senyum jahil seraya menatap wajah istrinya yang masi
Di dalam taksi yang melaju membelah malam, Jovita duduk terpaku di sudut kursi dengan hati yang dipenuhi kegamangan.Sebagai seorang istri, statusnya jelas dan sah secara hukum maupun agama. Namun di mata publik, keberadaannya bagaikan bayangan tak kasat mata.Pikiran buruk mulai menggerogoti Jovita, seandainya Raymond benar-benar menghamili perempuan lain, apakah ia punya keberanian untuk melabrak seperti istri sah lainnya?Sebuah pertanyaan pahit menyeruak, Haruskah mereka bercerai saja?Memasuki pintu apartemen, keheningan menyambut Jovita. Tak lama kemudian, lampu ruangan menyala. Di hadapannya, Raymond berdiri membawa sebuah kue ulang tahun berukuran kecil.“Selamat ulang tahun untuk pernikahan kita,” ujar Raymond lembut dengan senyum hangat melingkupi wajahnya. “Semoga kebahagiaan selalu hadir membersamai kita.”Jovita mengerutkan dahi, bingung. Seingatnya, mereka menikah secara siri tepat di hari ulang tahun Viola. Lantas mengapa Raymond justru merayakannya malam ini?“Om tidak
Raymond menatap Kaisar, mempertahankan ketenangan meski aura di antara mereka terasa makin menegang.“Ada atau tidak ada perempuan lain dalam hidupku, itu adalah privasiku. Dan aku tidak wajib memberikan penjelasan apa pun padamu,” tegas Raymond, suaranya tenang namun dingin tak tergoyahkan.Raymond jeda sejenak, memperbaiki posisi duduknya sebelum melanjutkan. “Di sini aku ingin bicara padamu sebagai seorang ayah. Saat aku dihadapkan pada pilihan sulit antara memilih Karina atau putriku... terpaksa aku memilih putriku. Aku tidak mungkin bermain-main dengan keselamatan anakku sendiri. Aku harap kau bisa memahami keputusanku ini.”Kaisar mengangguk perlahan. Wajahnya menyirat keteduhan yang matang. Sebagai pria yang memikul beban keluarga dan bisnis skala besar, ia bisa mengerti naluri Raymond.“Aku paham, Ray,” jawab Kaisar akhirnya. “Aku harap peristiwa dan masalah pribadi ini tidak membuat urusan bisnis kita terganggu. Semoga kita tetap bisa bekerja sama dengan baik ke depannya.”Se
PLAK!Suara tamparan memecah keheningan ruangan. Karina seketika tersudut, memegangi pipinya yang memerah panas seraya meneteskan air mata.Kaisar berdiri dengan napas memburu, menyambar beberapa lembar foto dari meja dan melemparnya tepat ke wajah Karina hingga kertas-kertas itu berserakan di lantai.“Apa-apaan ini, Karin?!” bentak Kaisar dengan suara menggelegar. “Bisa-bisanya kamu berhubungan dan berkumpul lagi dengan Felisa?! Kamu mau menghancurkan reputasi dirimu sendiri dan keluarga Adhiwangsa? Semua orang di kalangan atas tahu Felisa itu wanita panggilan kelas atas pascabercerai dari Raymond!”Karina mendongak, berusaha membela diri di balik tangisnya. “Aku cuma butuh informasi, Kak! Cuma Felisa yang tahu banyak tentang Raymond!”Kemarahan Kaisar justru semakin menjadi mendengar pembelaan adiknya.“Lupakan Raymond! Buka hatimu untuk laki-laki lain! Papa sudah mencarikan jodoh terbaik untukmu, jadi jangan permalukan keluarga Adhiwangsa lagi dengan mengejar pria yang tidak mengin
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







