LOGINMendengar celetukan polos itu, Damian dan Dylan seketika memutar kepala menatap Elvi dengan kilatan ekspresi yang berbeda.Damian memicingkan mata penuh rasa cemburu, tak rela mendengar istrinya memuji pria lain di depannya.Sementara Dylan mengepalkan tangan di dalam saku celananya dengan wajah jengkel luar biasa. Rasa panas membakar dadanya saat melihat Jovita dan Raymond berdiri berdampingan begitu serasi, sama sekali tidak memperlihatkan selisih jarak usia mereka yang cukup jauh. aura wibawa dan ketampanan Raymond malam itu justru menyatu sempurna dengan keanggunan Jovita.Elvi melangkah cepat menghampiri Jovita. Matanya berkaca-kaca menatap putri kandungnya dari dekat, lalu dengan lembut memegang jemari Jovita."Ayo, Sayang... masuk dulu," bisik Elvi penuh kerinduan.Jovita hanya mengangguk pelan. Biarlah jika ada yang menganggapnya munafik atau bersikap manis di depan orang lain, apa pun emosi yang berkecamuk di dalam dadanya saat ini, ia bertekad tidak ingin memicu keributan di
Jovita berdiri di depan cermin besar, merapikan dress yang baru saja dibelinya.Raymond yang baru selesai bersiap menatap pantulan bayangan istrinya tanpa kedip. Penampilan Jovita malam ini benar-benar berbeda. Bukan sekadar cantik, tetapi memancarkan aura wanita matang yang anggun, elegan, dan jauh lebih dewasa.Dress bergaya empire waist membingkai lekuk tubuh Jovita dengan sangat indah hingga tampak lebih berisi dan sintal, namun di saat bersamaan dengan lihai menyembunyikan tonjolan perut hamil kembarnya dari pandangan awam.Langkah kaki Raymond mendekat perlahan. Dari belakang, ia melingkarkan lengan kekarnya memeluk pinggang Jovita, mendaratkan bisikan dan napas hangat di leher sang istri.“Duh, Sayang...” Raymond berdesis pelan, suaranya berat menahan rasa gemas yang memuncak. “Rasanya Om ingin melepas semua yang kamu pakai ini sekarang juga... lalu bikin berantakan seluruh dandananmu ini.”Jovita terkekeh geli, mengusap rahang tegas suaminya yang menempel di bahunya. Ia meliri
“Tidak Ma, dari yang aku dengar mereka nikah resmi.”Elvi menangis terisak, dada dan bahunya terguncang diliputi penyesalan. Rasa bersalah karena telah menelantarkan Jovita bertahun-tahun kini menghantam dirinya tanpa ampun."Bayangkan, Mas... apa wajar seorang mahasiswa menikah dengan papa dari temannya sendiri?" bisik Elvi dengan suara serak yang putus-putus. "Jojo pasti terpaksa... Dia masih sangat muda, tapi harus berjuang sendirian di luar sana. Dia sampai harus melakukan semua ini cuma demi bertahan hidup!"Elvi mengusap kasar air mata yang terus membasahi pipinya yang pucat, lalu menatap Damian dengan pandangan penuh keputusasaan. "Apa benar-benar nggak ada pria lain yang seumuran dengannya? Kenapa harus Raymond...?"Damian mengelus lembut jemari istrinya, berusaha mengalirkan ketenangan. Meski orang bayarannya menginformasikan jika ada yang janggal dengan pernikahan Jovita dengan Raymond, tapi Damian tidak memberi tahu Elvi. Baginya yang terpenting adalah Raymond bertanggung j
Jovita mengangsurkan ponselnya ke hadapan Raymond. “Om, boleh beli ini?” tanya Jovita penuh harap.Raymond mengambil ponsel tersebut dan menatap layarnya sejenak. Matanya tertuju pada sebuah empire waist dress dengan potongan leher V neck yang anggun dari designer house ternama.Sepanjang mereka menikah, ini adalah gaun termahal yang pernah ingin dibeli oleh istrinya.Tanpa ragu sedikit pun, Raymond mengangguk. “Boleh. Beli saja.”Sampai sekarang Jovita masih sering minta izin jika ingin membeli sesuatu. Sangat berbeda dengan Felisa dulu, uang habis tak tahu apa yang dia beli.Jovita tersenyum mekar. “Model dan motifnya pas banget sama set perhiasan yang Om belikan terakhir kali!”Raymond menatap istrinya heran campur penasaran. “Memangnya mau dipakai ke mana, Hm?”“Mau ketemu Bunda,” jawab Jovita santai namun ada ketegasan di matanya. “Aku harus menunjukkan di depan Bunda kalau aku berkecukupan dan diurus dengan sangat baik sama suamiku.”Raymond terkekeh geli melihat kepolosan sekal
Darah mengalir perlahan melewati selang bening yang terhubung ke mesin hemodialisis, berputar menyaring racun yang kini tak sanggup lagi dieliminasi oleh ginjal renta milik Roberto.Bunyi bip teratur dari monitor medis menjadi satu-satunya irama yang mengisi kesunyian di ruang perawatan tersebut.Di atas brankar, Roberto terbaring pasrah. Sebulir air mata perlahan menetes membasahi pipinya yang mulai keriput. Bukan rasa sakit menusuk dari jarum arteri yang membuatnya menangis, melainkan rentetan bayangan masa lalu yang hadir tanpa diundang, menghantam kesadarannya tanpa ampun.“Mas, aku ada tabungan, bisa kau pakai untuk modal proyek perumahan baru. Tidak masalah kalau lima tahun harus puasa, tapi setelah ini aku yakin kau bakal sukses.”Roberto teringat sosok istri pertamanya, perempuan setia yang rela hidup prihatin dan berkorban habis-habisan saat ia masih merintis karir dari nol. Namun, begitu kesuksesan berhasil diraih dan namanya melambung sebagai pengusaha kaya raya, dengan beg
“Pertemuan ini baru akan dilaksanakan setelah kondisi Jojo benar-benar pulih dan dia diperbolehkan keluar dari rumah sakit oleh dokter. Saya harap Pak Damian dan Bu Elvi bisa memahami hal ini demi keselamatan Jojo dan bayi kembar kami.”Damian mengangguk mantap, lega luar biasa mendengarnya. “Tentu, Ray. Kami sangat memahami itu. Kesehatan Jojo dan bayinya adalah yang paling utama. Terima kasih banyak sudah menyampaikan hal ini. Tolong jaga Jojo baik-baik, kami akan menunggu kabar selanjutnya dari kamu.”“Baik, Pak Damian. Saya tutup dulu teleponnya,” pamit Raymond sebelum mengakhiri sambungan.Damian menurunkan ponselnya perlahan, lalu menatap Elvi yang memandangnya penuh cemas dan antusias.“Bagaimana, Pi?” tanya Elvi dengan suara bergetar, antara cemas dan penuh harap.Damian membawa Elvi ke dalam pelukan yang lebih erat, lalu mengecup penuh kasih pucuk kepala istrinya. “Raymond bilang, Jojo mau bertemu denganmu.”Mata Elvi seketika berkaca-kaca, air mata keharuan merebak di pelupu
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka







