LOGIN“Boleh, tapi hati-hati.” Suara Raymond serak karena gairah.
Tangan Raymond menyelinap masuk ke dalam blus longgar Jovita, langsung menyentuh kulit hangat di pinggang yang lebih lembut karena kehamilan. Raymond melepas blus yang dikenakan Jovita, disusul bra yang sudah ketat di bagian depan. Dua buah dada tampak semakin berisi karena kehamilan lima bulan itu langsung terpapar. Puncaknya lebih gelap, lebih sensitif, dan sedikit bengkak.Waktu berputar tanpa suara, membawa Roberto pada kenyataan paling telak dalam sisa hidupnya.Di ruang kerjanya yang sunyi, amplop cokelat dari laboratorium swasta tergeletak terbuka di atas meja kerjanya. Sepasang mata tua yang biasanya memancarkan kalkulasi dingin dan penuh ambisi kini gemetar hebat.Selembar kertas putih di tangannya mencetak persentase yang meremukkan seluruh harga diri dan keyakinannya selama ini.99,99 persen. Viola bukan darah daging Raymond. Gadis itu adalah anak kandung Julian.Bagi Roberto ini adalah bukti nyata kegagalannya. Bukan hanya sebagai laki-laki, tapi juga seorang ayah.Air mata tua yang sudah puluhan tahun mengering mendadak tumpah, menetes membasahi kertas yang mengungkap kenyataan itu. Roberto merasa menjadi pria paling bodoh di dunia. Rasa bersalah yang teramat pekat menghantam dadanya tanpa ampun, meremukkan ego yang selama ini diagungkannya.Betapa kejam dirinya pada Raymond, putra kandung yang dia singkirkan dan harus terbebani kesalahan yang
“Boleh, tapi hati-hati.” Suara Raymond serak karena gairah. Tangan Raymond menyelinap masuk ke dalam blus longgar Jovita, langsung menyentuh kulit hangat di pinggang yang lebih lembut karena kehamilan. Raymond melepas blus yang dikenakan Jovita, disusul bra yang sudah ketat di bagian depan. Dua buah dada tampak semakin berisi karena kehamilan lima bulan itu langsung terpapar. Puncaknya lebih gelap, lebih sensitif, dan sedikit bengkak. “Dadamu… makin montok. Cantik banget…” bisik Raymmond lalu membungkuk. Mulutnya langsung mengecup salah satu, lalu menghisap pelan-pelan. Lidahnya memutar, menggigit ringan, sementara tangannya yang lain memijat dada satunya dengan hati-hati. Rasa asin-manis dari kulit Jovita memenuhi mulutnya. Setiap hisapan membuat Jovita menggeliat, punggungnya melengkung, jari-jari kakinya mengerat di seprai. “Ahh… pelan…” Tapi tangan Jovita
Viola terbaring menatap langit-langit kamar yang putih polos. Sunyi merayap begitu cepat, menghimpit dadanya dengan rasa kesepian yang sangat pekat.Sendiri.Tidak ada lagi sosok Papa yang melindunginya dengan kehangatan tanpa batas. Tidak ada lagi sahabat setia tempatnya berbagi dan berkeluh kesah. Apalagi Dylan, pria yang menjadi muara cintanya, kini hanya tinggal kenangan manis yang tak pernah sungguh-sungguh bisa ia miliki.Dunia di sekelilingnya bergerak maju, sementara dirinya tertinggal sendirian dalam kehampaan.Mata Viola berkaca-kaca. Air mata dingin menetes perlahan, membasahi bantal di bawah kepalanya. Di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah pertanyaan lirih berbisik, menghujam jiwa.‘Mungkinkah... semua rasa sakit dan kehancuran ini adalah karma atas segala kesalahanku di masa lalu?’Langkah kaki memasuki ruang perawatan menyadarkan Viola dari lamunan. Perawat jaga memeriksa tetesan cairan infus yang mengalir pelan di punggung tangan Viola. Tak lama berselang, nampan b
Sementara itu, di sudut kantin rumah sakit yang agak sepi di lantai dasar, Raymond dan Roberto duduk berhadapan di meja paling pojok. Aroma kopi hitam mengepul tipis di antara mereka, tak mampu meredakan ketegangan yang teramat pekat. Tanpa membuang waktu, Roberto langsung menembak putranya dengan tatapan menyelidik. “Kamu sudah melakukan tes DNA, kan?” Raymond bergeming sesaat. Tanpa ragu, ia merogoh saku jasnya, mengambil amplop putih, dan mengeluarkan selembar kertas hasil tes laboratorium resmi dari dalam dompetnya, lalu mendorongnya melewati atas meja tepat di hadapan sang ayah. Roberto langsung meraih kertas itu dengan jemari keriputnya. Sepasang matanya menyusur cepat deretan angka probabilitas genetika yang tercetak nyata di atas sana. Begitu ia menangkap kesimpulan mutlak dari hasil tersebut, rahang Roberto mengeras seketika. Kepalan tangannya meremas ujung kertas hingga berderak pelan. “Sial!” umpat Roberto tertahan, raut wajahnya berubah kelam bagai badai. “Kenapa dari
“Selamat ya... dua jagoan sekaligus. Wah, Mommy-nya bakalan jadi satu-satunya ratu paling cantik di rumah ini.”Mendengar ucapan itu, Jovita dan Raymond langsung tersenyum merekah, saling beradu pandang dengan binar kebahagiaan yang teramat dalam.Sedetik kemudian, Jovita menatap sang dokter dengan alis bertaut tipis. “Tapi, Dok... kakaknya cewek.”Dokter Amira tertegun sejenak. Jemarinya yang memegang probe terhenti di atas perut Jovita. Seketika itu juga, ia teringat bahwa putri sulung Raymond, saat ini sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit yang sama akibat kecelakaan tragis beberapa hari lalu. Dokter kandungan itu langsung merona kikuk, merasa tak enak hati telah melontarkan candaan yang kurang tepat.“Ah... iya, saya lupa,” sesal Dokter Amira tersenyum canggung. “Maksud saya, dua jagoan baru untuk melengkapi keluarga kalian.”Pemeriksaan pun berakhir tanpa ada kendala berarti. Setelah berbincang sejenak mengenai pola makan dan pantangan bagi ibu hamil, Dokter Amira me
Di ruang perawatan yang sunyi, Viola perlahan mengerjap-kerjap menyesuaikan pandangannya dengan cahaya ruangan. Di sisi ranjang, Roberto duduk kaku sambil melipat tangan di dada.Melihat kakeknya berada di sana, Viola mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Suaranya terdengar sangat lirih, hampir berupa bisikan.“Opa...”Roberto menoleh sekilas, menatap cucunya dengan sorot mata sedingin es tanpa ekspresi. “Ada apa?”Viola menelan ludahnya yang terasa pahit, lalu menatap lurus ke arah Roberto dengan mata berkaca-kaca penuh permohonan.“Opa... mau bantu aku?” tanya Viola parau.Roberto menyipitkan mata, menatap cucunya dengan sorot dingin penuh selidik. “Apa?”“Kalau aku sudah sembuh nanti... aku mau ke luar negeri.”“Kenapa tiba-tiba mau ke luar negeri? Capek kerja karena harus merintis karier dari nol?”Viola menggeleng lemah di atas bantal, menahan nyeri di dadanya. “Sebenarnya... rencana itu sudah ada dari dulu. Mau langsung lanjut studi S2.”Tentu saja Viola menyembunyikan alasan sebena
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







