เข้าสู่ระบบViola terbaring menatap langit-langit kamar yang putih polos. Sunyi merayap begitu cepat, menghimpit dadanya dengan rasa kesepian yang sangat pekat.Sendiri.Tidak ada lagi sosok Papa yang melindunginya dengan kehangatan tanpa batas. Tidak ada lagi sahabat setia tempatnya berbagi dan berkeluh kesah. Apalagi Dylan, pria yang menjadi muara cintanya, kini hanya tinggal kenangan manis yang tak pernah sungguh-sungguh bisa ia miliki.Dunia di sekelilingnya bergerak maju, sementara dirinya tertinggal sendirian dalam kehampaan.Mata Viola berkaca-kaca. Air mata dingin menetes perlahan, membasahi bantal di bawah kepalanya. Di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah pertanyaan lirih berbisik, menghujam jiwa.‘Mungkinkah... semua rasa sakit dan kehancuran ini adalah karma atas segala kesalahanku di masa lalu?’Langkah kaki memasuki ruang perawatan menyadarkan Viola dari lamunan. Perawat jaga memeriksa tetesan cairan infus yang mengalir pelan di punggung tangan Viola. Tak lama berselang, nampan b
Sementara itu, di sudut kantin rumah sakit yang agak sepi di lantai dasar, Raymond dan Roberto duduk berhadapan di meja paling pojok. Aroma kopi hitam mengepul tipis di antara mereka, tak mampu meredakan ketegangan yang teramat pekat. Tanpa membuang waktu, Roberto langsung menembak putranya dengan tatapan menyelidik. “Kamu sudah melakukan tes DNA, kan?” Raymond bergeming sesaat. Tanpa ragu, ia merogoh saku jasnya, mengambil amplop putih, dan mengeluarkan selembar kertas hasil tes laboratorium resmi dari dalam dompetnya, lalu mendorongnya melewati atas meja tepat di hadapan sang ayah. Roberto langsung meraih kertas itu dengan jemari keriputnya. Sepasang matanya menyusur cepat deretan angka probabilitas genetika yang tercetak nyata di atas sana. Begitu ia menangkap kesimpulan mutlak dari hasil tersebut, rahang Roberto mengeras seketika. Kepalan tangannya meremas ujung kertas hingga berderak pelan. “Sial!” umpat Roberto tertahan, raut wajahnya berubah kelam bagai badai. “Kenapa dari
“Selamat ya... dua jagoan sekaligus. Wah, Mommy-nya bakalan jadi satu-satunya ratu paling cantik di rumah ini.”Mendengar ucapan itu, Jovita dan Raymond langsung tersenyum merekah, saling beradu pandang dengan binar kebahagiaan yang teramat dalam.Sedetik kemudian, Jovita menatap sang dokter dengan alis bertaut tipis. “Tapi, Dok... kakaknya cewek.”Dokter Amira tertegun sejenak. Jemarinya yang memegang probe terhenti di atas perut Jovita. Seketika itu juga, ia teringat bahwa putri sulung Raymond, saat ini sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit yang sama akibat kecelakaan tragis beberapa hari lalu. Dokter kandungan itu langsung merona kikuk, merasa tak enak hati telah melontarkan candaan yang kurang tepat.“Ah... iya, saya lupa,” sesal Dokter Amira tersenyum canggung. “Maksud saya, dua jagoan baru untuk melengkapi keluarga kalian.”Pemeriksaan pun berakhir tanpa ada kendala berarti. Setelah berbincang sejenak mengenai pola makan dan pantangan bagi ibu hamil, Dokter Amira me
Di ruang perawatan yang sunyi, Viola perlahan mengerjap-kerjap menyesuaikan pandangannya dengan cahaya ruangan. Di sisi ranjang, Roberto duduk kaku sambil melipat tangan di dada.Melihat kakeknya berada di sana, Viola mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Suaranya terdengar sangat lirih, hampir berupa bisikan.“Opa...”Roberto menoleh sekilas, menatap cucunya dengan sorot mata sedingin es tanpa ekspresi. “Ada apa?”Viola menelan ludahnya yang terasa pahit, lalu menatap lurus ke arah Roberto dengan mata berkaca-kaca penuh permohonan.“Opa... mau bantu aku?” tanya Viola parau.Roberto menyipitkan mata, menatap cucunya dengan sorot dingin penuh selidik. “Apa?”“Kalau aku sudah sembuh nanti... aku mau ke luar negeri.”“Kenapa tiba-tiba mau ke luar negeri? Capek kerja karena harus merintis karier dari nol?”Viola menggeleng lemah di atas bantal, menahan nyeri di dadanya. “Sebenarnya... rencana itu sudah ada dari dulu. Mau langsung lanjut studi S2.”Tentu saja Viola menyembunyikan alasan sebena
Pagi baru saja merayap naik, sinar matahari menembus kaca jendela ruang VIP rumah sakit.Pintu kamar berderit pelan saat Roberto melangkah masuk dengan tongkat penyangganya. Sosok tua itu menyapu pandangan ke dalam ruangan, hingga matanya jatuh pada Jovita yang terlelap di atas ranjang tambahan lipat, posisi tidur wanita itu tampak meringkuk kaku, teramat kurang nyaman untuk ukuran seorang yang tengah mengandung besar.Melihat putranya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di leher, emosi Roberto langsung tersulut tanpa aba-aba.“Jadi suami, tanggung jawab sedikit, apa susahnya?” sembur Roberto dengan suara serak namun penuh tekanan.Raymond tertegun di tempatnya, pagi-pagi sudah mendapat makian yang tak jelas arahnya. Urat-urat di lehernya serta-merta mengeras, dorongan untuk membalas dengan mengungkap masa lalu sang papa membuncah di ujung lidah.Tapi, sebelum Raymond sempat membuka mulut untuk meledakkan amarahnya, Roberto kembali menyambung ketus.“Istrimu sed
“Tapi di matanya, yang dia tahu dan panggil papa selama ini adalah Raymond, bukan aku!” “Itu semua wajar, karena selama ini dia hidup bersama Raymond. Tapi kalau sudah tiba waktunya... kita bongkar semua rahasia ini di hadapan Viola.” Sebuah rencana busuk terpatri jelas di benak wanita itu. “Kita ambil dia dari Raymond. Jadikan dia satu-satunya putri mahkota yang tunduk di bawah kendalimu sebagai ayah kandung yang sebenarnya.” Elleonor tersenyum dingin, sorot matanya memancarkan ambisi gelap yang tak pernah padam. “Asal kau tahu, tidak mudah meyakinkan Felisa untuk mempertahankan kandungannya. Waktu itu dia hampir mengugurkan kandungannya.” Elleonor menghela napas menjeda kalimatnya. “Kita tinggal selangkah lagi, jangan buat penantian panjang kita berakhir sia-sia.” Julian mendengus lelah, mengusap wajahnya dengan kasar. Pertanyaan penuh keputusasaan meluncur begitu saja dari bibirnya
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







