Home / Romansa / Istri Rahasia Om Raymond / 69. Tak Didukung Takdir

Share

69. Tak Didukung Takdir

Author: Henny Djayadi
last update publish date: 2026-07-08 20:32:30

Felisa tersenyum getir, sarat keputusasaan bercampur kelicikan. Ia mengusap rambut Viola lembut.

“Kamu tahu sendiri kan, bagaimana papamu selalu menjaga jarak dengan Mama? Sekarang saja, tahu Mama di sini, papamu malah pilih tidur di tempat lain dan mengabaikan kamu yang masih sakit. Lalu... bagaimana caranya kita bisa membuat papamu meminum obat itu kalau waktu bersama saja tidak ada?”

Viola terdiam, kepalanya tertunduk dalam. Jemarinya meremas ujung selimut dengan gelisah. Setelah keheninga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
maaf ya...Raymond tidak serendah yg kalian kira..gpp semua mengarah ke Karina dan Felisa.sementara Jovita aman
goodnovel comment avatar
vyv
weh rumitttt. jovita bener2 ga ada dalam radar 2 kubu ini. gass ka author #makinseru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Rahasia Om Raymond   148. Gangguan Saat Bercinta

    Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan berliku Kaliurang, suasana hangat justru mulai memanas karena diwarnai perdebatan kecil tentang konsep desain vila.“Om, untuk lanskap tanah miring seperti itu, lebih bagus kalau pakai konsep tropical modern dengan banyak bukaan kaca besar. Biar pemandangan gunungnya dapet banget dari setiap kamar,” ujar Jovita seraya menunjukkan corak sketsa kasar di tabletnya.Raymond melirik sekilas lalu menggeleng tak setuju. “Kaca terlalu banyak justru bikin boros energi buat penghangat di area dingin seperti Kaliurang, Jo. Menurutku lebih cocok pakai konsep vernacular rustic yang didominasi material kayu tua lokal dan batu alam tebal. Lebih hangat dan punya nilai estetika yang timeless.”“Tapi untuk material kayu maintenance-nya jauh lebih rumit, Om! Kelembapan di sini tinggi, rentan lapuk kalau salah perawatan,” sanggah Jovita pantang kalah, matanya membulat menatap sang suami.Raymond menoleh sedikit ke arah istri kecilnya. Saat ini mereka hanya berd

  • Istri Rahasia Om Raymond   147. Hadiah untuk Jovita

    Malam di Kaliurang semakin dingin, namun di dalam kamar vila, Jovita terlelap tenang dalam kehangatan tubuh polosnya yang terlindung erat di dalam dekapan Raymond. Selimut tebal membungkus mereka berdua, menyisakan keheningan yang intim.“Kamu bahagia, Jo?” bisik Raymond pelan, mengusap bahu mulus istrinya.Jovita memiringkan kepala, melabuhkan kecupan lembut di dada bidang Raymond sebelum mendongak menatap manik mata suaminya. Ia mengangguk pelan dengan senyum tulus. Namun, beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah polos dengan binar cemas.“Om kan suka yang sempit... Apa nanti kalau aku sudah melahirkan dan rasanya jadi longgar, Om bakal cari yang lain?” Meski terdengar polos tapi tersirat beban berat.Raymond terperanjat mendengarnya.“Mana ada!” sanggahnya cepat. Ia memeluk Jovita makin erat. “Kalau bisa, aku justru ingin kita punya banyak anak biar masa tua kita nanti tidak sepi.”Sekali lagi Raymond mencium pucuk kepala istrinya.“Masalah perubahan fisik itu hal yang sangat

  • Istri Rahasia Om Raymond   146. Bukan Malam Pertama

    Udara dingin Kaliurang menyelinap masuk lewat celah jendela. Di dalam villa, Jovita berdiri di samping ranjang, punggungnya hampir menempel ke tiang kayu. Raymond berdiri di belakangnya, tubuh besarnya menekan tanpa memberi celah.Bibir Raymond menempel di ceruk leher Jovita. Bukan ciuman yang lembut seperti biasanya, tapi sebuah gigitan yang diikuti hisapan kuat sampai kulit di sana memerah dan berdenyut. Lidah Raymond menyapu sepanjang urat leher, basah dan panas, sebelum gigitan kedua datang lebih dalam.“Ahh… Om Ray….” Suara Jovita pecah, terdengar gemetar.“Malam ini kau milikku.” gumam Raymond dengan suara serak, napas hangatnya menerpa kulit leher Jovita.Tangan Raymond merayap ke depan, meremas dada Jovita melalui kain tipis gaun tidur, memilin pucuknya sampai mengerang tertahan.Lingeri yang dipakai Jovita langsung ditarik kasar ke bawah, menyibak dada polos yang langsung digenggam lebih kuat. Raymond terus menghisap ceruk leher sambil jari-jarinya bermain kasar di pucuk dada

  • Istri Rahasia Om Raymond   145. Penghangat Malam

    Viola terdiam mematung dengan ponsel yang masih menempel rapat di pipinya.Matanya membelalak tak percaya. Ini adalah pertama kalinya Jovita tidak mengangkat panggilannya bahkan beberapa detik kemudian, nada sambungnya mendadak mati dan nomor gadis itu tidak aktif sama sekali.“Ihh... kok aneh banget sih!” adu Viola pada papanya dengan nada kesal. “Masa Jovita nggak angkat teleponku, Pa? Sekarang malah nomornya jadi nggak aktif!”Raymond berusaha tetap tenang meski dalam hatinya sempat berdesir cemas. Ia menyeruput kopinya santai untuk menutupi riak kegugupan.“Mungkin Jovita lagi sibuk sama tugas studionya, Vio. Atau ponselnya kehabisan baterai.”Tak jauh dari mereka, Bi Lastri yang memegang baki kosong hanya mencebikkan bibir pelan.Asisten rumah tangga itu melirik sinis ke arah Raymond, seolah sudah bisa menebak akal-akalan dan rencana terselubung antara sang majikan dan Jovita, sebelum akhirnya berbalik melangkah menuju dapur.Seperti halnya saat di masa lalu, Bi Lastri memilih di

  • Istri Rahasia Om Raymond   144. Baju Dinas

    Di kamar, Jovita tampak sibuk duduk di tepian ranjang di dekat koper yang terbuka, memilah dan merapikan pakaian yang akan mereka bawa untuk perjalanan ke Kaliurang. Karena Raymond berkata perjalanan ini urusan pekerjaan dan akan bertemu dengan beberapa klien, Jovita membawa beberapa pakaian formal. Raymond yang berdiri di dekatnya bukannya membantu, melainkan sibuk mengganggu. Pria itu dengan santainya menyelipkan beberapa gaun malam tipis dan lingerie ke dalam koper Jovita. “Jangan lupa baju dinasnya dibawa juga, Jo,” ujar Raymond dengan senyum jahil yang mengembang sempurna. Jovita menepuk pelan tangan suaminya seraya mendelik gemas. “Om Ray! Katanya ini perjalanan bisnis?” “Bisnis juga butuh hiburan kan, Sayang?” jawab Raymond enteng tanpa rasa dosa. Jovita menggeleng-gelengkan kepala lalu mengeluarkan beberapa helai baju tidur tipis itu dar

  • Istri Rahasia Om Raymond   143. Belum Saatnya

    “Sepertinya masih belum rezeki ya, Pak, Bu,” ujar dokter dengan suara lembut. “Hasil tesnya masih negatif. Tapi Bu Jovita ini kan masih sangat muda, kondisi rahim dan fisiknya juga secara umum sangat baik.” Raymond mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. Meski berusaha bersikap tenang dan menerima penjelasan dokter, Raymond sama sekali tidak bisa menutupi binar matanya yang mendadak redup karena rasa kecewa. “Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tinggal dijaga saja pola istirahat dan nutrisinya.” Sang dokter memberi penjelasan lanjutan, untuk menenangkan pasiennya. “Iya, Dok. Terima kasih banyak,” sahut Raymond sopan. Setelah seluruh pemeriksaan selesai, Raymond dan Jovita berjalan berdampingan keluar dari ruang periksa. Sepanjang koridor rumah sakit, Raymond tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Jovita. Dia ingin melindungi dan menuntun

  • Istri Rahasia Om Raymond   26. Semakin Terjerat

    Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap

  • Istri Rahasia Om Raymond   7. Miliki Aku, Om!

    Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka

  • Istri Rahasia Om Raymond   6. Hilang Kendali

    Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.​Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"​Jovita sedikit tersentak, lalu me

  • Istri Rahasia Om Raymond   5. Tumbler Maut

    “Papa jahat!”​Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.​Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status