เข้าสู่ระบบElenora menatap langsung ke arah Evalia. “Dia membawa seekor katak ke dapur dan memasukkan ke dalam teko pengasuhnya. Perempuan itu hampir pingsan saat menuang teh.”
Evalia menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Namun genggamannya pada tangan Aleksander sedikit menguat, seolah menenangkannya.
Ketegangan Aleksander perlahan kembali reda. Ia tersenyum tipis,
Arsen mengangguk dengan wajah serius, lalu ikut berbisik. "Yah... mungkin bukan dia. Tapi aku pasti akan mulai dengan menggertak orang yang lebih kecil dariku. Anggap saja pemanasan."Evalia kembali tertawa pelan. Ketegangannya perlahan mulai mencair.'Terima kasih, Om Arsen,' batin Evalia. 'Mungkin aku tidak pantas menerima semua kebaikan ini... tapi aku sungguh sangat bersyukur.'Evalia menarik napas panjang, lalu diam-diam mengikuti Theodore yang telah menunggunya di depan. Pria itu berjalan perlahan, nyaris seperti sedang menjalankan sebuah upacara, kemudian memberi isyarat agar Evalia mendekat ke arah perapian.
Hati Evalia terasa sesak. Ia memaksakan senyum agar air matanya tidak jatuh. Belum. Ini belum saatnya menangis. "Kalau begitu... ini aku. Semoga aku nggak mengecewakan, Pak..."Selama beberapa detik, Theodore hanya menatapnya tanpa berkedip, benar-benar terpana. Kemudian ia menggeleng tegas. "Nggak. Sama sekali nggak." Ia menoleh kepada Arsen, sementara ketenangannya nyaris runtuh. "Bahkan cara bercandanya pun sama seperti bibimu."Wajah Evalia langsung menghangat. Pipinya memerah. "Pak, saya... saya senang mendengarnya. Sungguh...""Opa." Theodore memotong ucapannya dengan nada tegas. "Mulai sekarang, panggil aku Opa, Evalia.""Baiklah... Opa."Mereka berdiri dalam keheningan cukup lama, tak seorang pun bergerak, sama-sama b
"Sudah siap berangkat?" tanya Aleksander saat mereka berjalan menuju pintu depan."Sudah." Evalia mengembuskan napas pelan saat mengingat pesan yang dikirim Arsen Morgan pagi tadi.[Kalau kamu tiba pukul sebelas, kita bisa mengobrol sebelum makan siang. Aku juga bisa mengirim sopir kalau kamu mau.]Evalia menolaknya dengan sopan. Ia lebih memilih Reza sebagai sopir sekaligus pengawal pribadinya. Lagi pula, ia tahu Aleksander tidak mungkin membiarkan orang asing menjadi sopirnya.Reza membuka pintu mobil untuknya sambil mengangguk profesional.Aleksander mendekat, lalu berkata dengan suara pelan penuh godaan. "Selamat bersenang-senang, Eva.
Aleksander menarik napas perlahan sebelum melanjutkan dengan suara tetap tenang meski terdengar berat. Ia menceritakan bagaimana sejak awal ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, bagaimana ia mencari Evalia tanpa kenal lelah namun tidak pernah berhasil menemukannya. Hingga berbulan-bulan kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Jepara. Setelah itu, semuanya seolah mengalir begitu saja. Pernikahan. Rafael. Rumah yang akhirnya mereka bangun bersama.Evalia mendengarkan dalam diam. Kedua matanya mulai terasa hangat.Mendengar semua kisah itu kembali dari sudut pandang Aleksander membangkitkan perasaan yang tak pernah ia duga. Ada kesedihan, tetapi juga kelegaan. Rasa syukur. Dan cinta.Selama ini Evalia selalu berjuang sendirian, memikul semuanya dalam diam karena merasa harus menghadapi setiap masalah seorang
Evalia mengembuskan napas panjang, lalu menusuk pelan dada Aleksander dengan telunjuknya. "Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti pahlawan tragis saat masuk tadi? Kamu membuatku takut. Wajahmu seperti baru kehilangan kontrak jutaan dolar.""Itu memang terjadi," jawab Aleksander dengan santai.Mata Evalia langsung membelalak. "Apa?"Aleksander tersenyum lebar, menikmati reaksinya sedikit terlalu lama. "Cuma bercanda."Tanpa ragu, Evalia menepuk bahunya. "Alex!"Aleksander kembali tertawa, tetapi tawanya segera memudar. "Baiklah," akunya dengan suara yang lebih rendah. "Rapat tadi memang nggak menyenangkan. Seseorang memaksaku menceritakan kembali kisah lama yang seharusnya tetap terkubur di masa lalu."
Senyum jahil di wajah Evalia perlahan memudar saat ia menerima panggilan itu. Entah mengapa, waktu panggilan tersebut membuatnya merasa ada sesuatu. "Aleksander?" sapanya lembut.Suara pria itu terdengar tenang dan stabil, tetapi Evalia mengenalnya cukup baik untuk menangkap ketegangan yang tersembunyi di balik nada bicaranya. "Eva, kamu sedang sibuk?" tanya Aleksander. "Aku sudah beberapa kali meneleponmu, tapi ponselmu terus sibuk.""Aku nggak sibuk," jawab Evalia cepat. "Tadi Rafael dan aku sedang mengobrol dengan Dion." Nada suaranya mengandung sedikit rasa bersalah. "Kamu sedang dalam perjalanan pulang?"Hening sejenak menyelimuti percakapan sebelum Aleksander menjawab. "Nggak. Aku nggak bisa pulang untuk makan malam. Ada rapat mendadak, dan kemungkinan akan berlanjut sampai makan malam. Maaf, Eva."
“Papi!” seru Lestari, suaranya gemetar. “Dia anak kita! Kumohon…”“Dia sudah buat pilihannya,” ujar Waluyo dingin, napasnya berembus pelan seperti asap cerutu yang baru saja padam. “Sekarang aku yang buat pilihanku.”Aura ruangan itu menegang. Tak ada yang berani menatap matanya langsung, bahkan ud
Malam itu, makan malam keluarga terasa seperti hukuman bagi Eva.Aroma sup ayam yang hangat justru membuat perutnya mual. Lidahnya kelu. Di hadapan ayahnya, Waluyo Wijaya, Eva ingin bicara tentang bayi di rahimnya, tentang kebohongan yang membelit napasnya setiap hari, tapi suaranya terkurung di te
Masa depan cemerlang Evalia Wijaya baru saja hancur karena satu gelas wiski. Setidaknya, itulah yang ia ingat malam itu.Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Eva membayangkan langkah kecil menuju bar hotel akan menjadi awal kehancuran dirinya. Satu gelas. Satu tawa. Satu tatapan mata dari pria yang
Tangan Lestari bergetar saat menggenggam tangan putrinya. “Kamu benar. Mami pengecut. Tapi sekarang nggak lagi. Mami nggak peduli apa yang terjadi pada Papi-mu atau perusahaan itu. Mami di pihak kamu sekarang.”






