LOGINElenora menatap langsung ke arah Evalia. “Dia membawa seekor katak ke dapur dan memasukkan ke dalam teko pengasuhnya. Perempuan itu hampir pingsan saat menuang teh.”
Evalia menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Namun genggamannya pada tangan Aleksander sedikit menguat, seolah menenangkannya.
Ketegangan Aleksander perlahan kembali reda. Ia tersenyum tipis,
Tatapan Aleksander kembali melembut, seakan belenggu terakhir yang mengikat hatinya akhirnya terlepas. Pria itu merengkuh Evalia ke dalam pelukannya dengan hati-hati, sangat memperhatikan luka-luka yang masih dimiliki istrinya.Evalia mengembuskan napas panjang, membiarkan dirinya larut dalam kehangatan pelukan itu. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan tersebut, hatinya terasa begitu ringan. Tidak ada lagi pertanyaan yang belum terjawab. Tidak ada lagi bayang-bayang kemungkinan yang menghantuinya. Yang tersisa hanyalah kepastian.Mereka tetap berada dalam pelukan itu selama beberapa menit, tanpa sepatah kata pun, hanya menikmati irama napas satu sama lain.Hingga akhirnya tubuh Evalia menyerah pada kelelahan. Kelopak matanya terasa begitu berat, sementara kepalanya perlahan bersandar di bahu Aleksander.
Evalia menarik napas tajam, tetapi tak ada kata yang mampu keluar. Detak jantungnya menghantam dadanya begitu keras hingga ia yakin Aleksander bisa merasakannya melalui tangan mereka yang masih saling menggenggam. Ia mencoba berbicara, tetapi gagal. Akhirnya ia hanya mampu berbisik, "Seseorang... mencoba membunuhku?"Rahang Aleksander mengeras. Otot di pelipisnya berkedut pelan. "Ya, seseorang," jawabnya hati-hati. "Setelah kecelakaan itu, aku meminta anak buahku melakukan penyelidikan. Kami menemukan bahwa seseorang telah menyewa seorang pembunuh bayaran untuk melakukannya."Evalia menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Pikirannya langsung melayang kepada bayi yang belum sempat lahir dan telah ia kehilangan, juga kepada keluarga serta sahabat-sahabatnya yang begitu mengkhawatirkan dirinya sejak insiden itu terjadi.
Lestari menutup mulutnya dengan serbet sambil menahan tawa.Aleksander mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi puas.Evalia tertawa pelan lalu menyandarkan tubuh ke kursinya. "Aku dikelilingi para pengkhianat."Rafael menjulurkan tangan dan dengan hati-hati meletakkan sepotong wortel kecil ke piring Evalia. "Mam, tolong makan demi Rafa."Estella menambahkan sepotong brokoli. "Kak, makanlah demi ilmu kedokteran."Aleksander kembali menyelipkan sepotong daging panggang ke piring istrinya, kali ini dengan sorot kemenangan yang jelas di matanya. "Sayangku, makanlah demi suamimu."Evalia menatap mereka bertiga bergantian. Lalu ia mengangkat sendoknya dengan pasrah. "Baiklah... aku m
Secara refleks Evalia bergerak hendak memeluk Aleksander. Namun gerakan mendadak itu membuat bahunya yang cedera menegang disertai nyeri tajam. Ia langsung membeku, lalu buru-buru menyembunyikan rasa sakit itu di balik senyuman, khawatir Aleksander akan berubah pikiran jika melihat kondisinya.Namun Aleksander tetaplah Aleksander. Tak ada hal sekecil apa pun yang luput dari perhatiannya.Meski begitu, Aleksander memilih tidak membongkar kebohongan kecil istrinya. Sebaliknya, ia menyunggingkan senyum tipis. "Kalau begitu, ayo lanjut jalan. Dengan kecepatan seperti ini, kita baru sampai ruang makan setelah makan malam selesai."Evalia ternganga pura-pura tersinggung. "Apa kamu sedang menghina kecepatan jalanku, Pak Batubara?""Nggak pernah," jawab Aleksander dengan wajah s
"Opa kalian sedang sakit parah. Sekarang beliau dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi besar. Dokter... meminta keluarga bersiap menghadapi kemungkinan terburuk."Kalimat itu menghantam Evalia dan Estella seperti siraman air dingin.Estella membeku. Sikap cerianya seketika menghilang.Jari-jari Evalia mencengkeram cangkir teh sedikit lebih erat."Opa?" bisik Estella. "Maksud Mami... Opa Samuel?"Lestari mengangguk perlahan. "Iya. Oma menemani beliau di rumah sakit. Mereka nggak ingin membuat kalian khawatir saat kondisi Evalia masih terluka."Keheningan kembali turun di antara mereka.Evalia menelan ludah. Tenggorokannya mendadak
Dion menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil melipat tangan di dada. "Aku memang hidup untuk mengatakan hal yang sudah jelas.""Lebih baik hidup lebih lama saja.""Aku akan berusaha. Tapi nggak ada jaminan kalau suamimu tahu aku ikut mengorek wilayah kekuasaannya."Tawa mereka kembali memecah suasana. Namun, di balik canda itu, ada kenyataan yang tak pernah benar-benar menghilang.Seseorang mungkin pernah mencoba membunuh Evalia. Pikiran itu membebani keduanya.Dion berdeham pelan. "Tenang saja, Eva. Aku akan bekerja diam-diam. Tanpa jejak, tanpa keributan, tanpa drama. Kalau memang ada seseorang yang mencoba membunuhmu, aku pasti akan menemukannya. Mereka nggak akan punya tempat untuk bersembunyi."
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E
Evalia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya."Papi…tega banget. Gimana bisa Papi mempermalukan aku kayak gini di depan media?" Genggaman tangan Evalia di ponselnya semakin kuat. Baru lima hari sejak Eva memberitahu ayahnya keputusan tentang hidupnya sendiri. Dan hari ini, ia sud







