เข้าสู่ระบบMata Marni menajam, memahami lebih dari yang diucapkan. Tapi bukan itu yang paling membuat Evalia gelisah, melainkan tatapan Rafael.
Anak kecilnya yang baru tiga tahun itu memandangi ibunya dengan dahi berkerut, ekspresi serius yang hampir lucu di wajah selugu itu, seolah tahu bahwa ia sedang diminta pergi.
Evalia menahan helaan napas, hatinya luluh melihat wajah polos i
Arsen mengangguk dengan wajah serius, lalu ikut berbisik. "Yah... mungkin bukan dia. Tapi aku pasti akan mulai dengan menggertak orang yang lebih kecil dariku. Anggap saja pemanasan."Evalia kembali tertawa pelan. Ketegangannya perlahan mulai mencair.'Terima kasih, Om Arsen,' batin Evalia. 'Mungkin aku tidak pantas menerima semua kebaikan ini... tapi aku sungguh sangat bersyukur.'Evalia menarik napas panjang, lalu diam-diam mengikuti Theodore yang telah menunggunya di depan. Pria itu berjalan perlahan, nyaris seperti sedang menjalankan sebuah upacara, kemudian memberi isyarat agar Evalia mendekat ke arah perapian.
Hati Evalia terasa sesak. Ia memaksakan senyum agar air matanya tidak jatuh. Belum. Ini belum saatnya menangis. "Kalau begitu... ini aku. Semoga aku nggak mengecewakan, Pak..."Selama beberapa detik, Theodore hanya menatapnya tanpa berkedip, benar-benar terpana. Kemudian ia menggeleng tegas. "Nggak. Sama sekali nggak." Ia menoleh kepada Arsen, sementara ketenangannya nyaris runtuh. "Bahkan cara bercandanya pun sama seperti bibimu."Wajah Evalia langsung menghangat. Pipinya memerah. "Pak, saya... saya senang mendengarnya. Sungguh...""Opa." Theodore memotong ucapannya dengan nada tegas. "Mulai sekarang, panggil aku Opa, Evalia.""Baiklah... Opa."Mereka berdiri dalam keheningan cukup lama, tak seorang pun bergerak, sama-sama b
"Sudah siap berangkat?" tanya Aleksander saat mereka berjalan menuju pintu depan."Sudah." Evalia mengembuskan napas pelan saat mengingat pesan yang dikirim Arsen Morgan pagi tadi.[Kalau kamu tiba pukul sebelas, kita bisa mengobrol sebelum makan siang. Aku juga bisa mengirim sopir kalau kamu mau.]Evalia menolaknya dengan sopan. Ia lebih memilih Reza sebagai sopir sekaligus pengawal pribadinya. Lagi pula, ia tahu Aleksander tidak mungkin membiarkan orang asing menjadi sopirnya.Reza membuka pintu mobil untuknya sambil mengangguk profesional.Aleksander mendekat, lalu berkata dengan suara pelan penuh godaan. "Selamat bersenang-senang, Eva.
Aleksander menarik napas perlahan sebelum melanjutkan dengan suara tetap tenang meski terdengar berat. Ia menceritakan bagaimana sejak awal ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, bagaimana ia mencari Evalia tanpa kenal lelah namun tidak pernah berhasil menemukannya. Hingga berbulan-bulan kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Jepara. Setelah itu, semuanya seolah mengalir begitu saja. Pernikahan. Rafael. Rumah yang akhirnya mereka bangun bersama.Evalia mendengarkan dalam diam. Kedua matanya mulai terasa hangat.Mendengar semua kisah itu kembali dari sudut pandang Aleksander membangkitkan perasaan yang tak pernah ia duga. Ada kesedihan, tetapi juga kelegaan. Rasa syukur. Dan cinta.Selama ini Evalia selalu berjuang sendirian, memikul semuanya dalam diam karena merasa harus menghadapi setiap masalah seorang
Evalia mengembuskan napas panjang, lalu menusuk pelan dada Aleksander dengan telunjuknya. "Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti pahlawan tragis saat masuk tadi? Kamu membuatku takut. Wajahmu seperti baru kehilangan kontrak jutaan dolar.""Itu memang terjadi," jawab Aleksander dengan santai.Mata Evalia langsung membelalak. "Apa?"Aleksander tersenyum lebar, menikmati reaksinya sedikit terlalu lama. "Cuma bercanda."Tanpa ragu, Evalia menepuk bahunya. "Alex!"Aleksander kembali tertawa, tetapi tawanya segera memudar. "Baiklah," akunya dengan suara yang lebih rendah. "Rapat tadi memang nggak menyenangkan. Seseorang memaksaku menceritakan kembali kisah lama yang seharusnya tetap terkubur di masa lalu."
Senyum jahil di wajah Evalia perlahan memudar saat ia menerima panggilan itu. Entah mengapa, waktu panggilan tersebut membuatnya merasa ada sesuatu. "Aleksander?" sapanya lembut.Suara pria itu terdengar tenang dan stabil, tetapi Evalia mengenalnya cukup baik untuk menangkap ketegangan yang tersembunyi di balik nada bicaranya. "Eva, kamu sedang sibuk?" tanya Aleksander. "Aku sudah beberapa kali meneleponmu, tapi ponselmu terus sibuk.""Aku nggak sibuk," jawab Evalia cepat. "Tadi Rafael dan aku sedang mengobrol dengan Dion." Nada suaranya mengandung sedikit rasa bersalah. "Kamu sedang dalam perjalanan pulang?"Hening sejenak menyelimuti percakapan sebelum Aleksander menjawab. "Nggak. Aku nggak bisa pulang untuk makan malam. Ada rapat mendadak, dan kemungkinan akan berlanjut sampai makan malam. Maaf, Eva."
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E
Evalia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya."Papi…tega banget. Gimana bisa Papi mempermalukan aku kayak gini di depan media?" Genggaman tangan Evalia di ponselnya semakin kuat. Baru lima hari sejak Eva memberitahu ayahnya keputusan tentang hidupnya sendiri. Dan hari ini, ia sud
“Papi!” seru Lestari, suaranya gemetar. “Dia anak kita! Kumohon…”“Dia sudah buat pilihannya,” ujar Waluyo dingin, napasnya berembus pelan seperti asap cerutu yang baru saja padam. “Sekarang aku yang buat pilihanku.”Aura ruangan itu menegang. Tak ada yang berani menatap matanya langsung, bahkan ud







