INICIAR SESIÓNMata Marni menajam, memahami lebih dari yang diucapkan. Tapi bukan itu yang paling membuat Evalia gelisah, melainkan tatapan Rafael.
Anak kecilnya yang baru tiga tahun itu memandangi ibunya dengan dahi berkerut, ekspresi serius yang hampir lucu di wajah selugu itu, seolah tahu bahwa ia sedang diminta pergi.
Evalia menahan helaan napas, hatinya luluh melihat wajah polos i
Evan merapikan jasnya. “Ya. Aku perlu bertemu Rania.” Suaranya tenang dan terkendali. “Kamu sedang menjalankan misi?”Leon menggeleng. “Baru selesai. Saya hendak pulang sekarang.” Kemudian ia memiringkan kepala dengan senyum tipis penuh arti. “Haruskah saya berpura-pura tidak melihat Anda di sini malam ini?”Sudut bibir Evan sedikit terangkat. “Aku akan sangat menghargai kemampuanmu untuk tiba-tiba kehilangan ingatan.”Leon terkekeh. “Dimengerti. Rania ada di dalam. Sedang rapat dengan yang lain.”“Kita mengobrol lain kali, Leon,” ujar Evan sembari melangkah pergi.“Baik, Boss. Usahakan jangan memulai perang tanpa mengundang kami,”
Setelah jeda panjang yang membuat para direktur berkeringat sekaligus kebingungan, Evan akhirnya angkat bicara. "Baiklah. Aku akan menyelidikinya bersama tim keamanan. Jangan khawatir soal kargonya." Tatapannya beralih kepada direktur penjualan. "Bujuk klien baik-baik. Yakinkan mereka bahwa barang akan segera tiba. Kalau mereka tetap meminta pengiriman lebih cepat, kirim satu batch lagi dan minta tim GardaX mengawal pengirimannya!"Kelegaan langsung menyelimuti seluruh meja."Terima kasih, Pak.""Kami sangat menghargainya, Pak."Setelah membahas beberapa urusan sepele lainnya, Evan akhirnya membubarkan rapat dengan satu lambaian tangan. Kursi-kursi bergeser. Tablet ditutup. Para eksekutif bergegas keluar seakan bertahan satu detik lebih lama di sana bisa memangkas usia m
Suasana di dalam gedung redup dan dingin. Layar-layar di sepanjang dinding berkedip, menampilkan peta, berkas, serta berbagai foto. Di tengah semua itu terpampang satu gambar.Evan Wiratama.Raka berhenti di depan layar dan menyipitkan mata.Vino berdiri di sampingnya lalu mulai memberikan laporan. “Kami sudah memastikan pergerakan Evan Wiratama saat ini. Pengamanannya sangat ketat, tetapi bukan berarti tidak bisa ditembus. Kami juga berhasil mengidentifikasi beberapa anggota GardaX yang berkaitan dengan operasi di Hutan Pinus.”Raka mendengarkan tanpa berkedip. “Bagaimana kamu tahu mereka terlibat? Kamu yakin soal itu?” tanya Raka.“Beberapa hari sebelum kematian Nona Muda, beberapa orang dari G
Evalia mendengus geli.“Aku nggak akan pernah memaksamu,” lanjut Aleksander. “Aku akan menunggu sampai kamu sembuh. Benar-benar sembuh. Percayalah, aku bisa menahannya.” Suaranya tenang. Tegas. Penuh kasih.Evalia berkedip menatapnya, sedikit terkejut mendengar begitu banyak kata keluar dari mulut Aleksander dalam satu tarikan napas. Aleksander Batubara bukanlah pria yang membuang-buang kata kecuali ia sungguh-sungguh memaksudkan setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.“Aku senang mendengarnya,” ujar Evalia lembut. Namun sebelum pikirannya sempat menghentikan mulutnya, ia menambahkan, “Tapi kalau suatu saat kamu benar-benar nggak bisa menahannya... kita selalu bisa mencari cara lain untuk membantumu melepaskan kebutuhanmu.”
Aleksander menoleh kepadanya. Sikap dingin yang diperlihatkannya beberapa detik lalu lenyap sepenuhnya, berganti dengan ketenangan dan kelembutan yang begitu Evalia kenal. Tatapannya kembali lembut, mantap, dan hangat. “Baiklah, istriku tersayang,” katanya. “Aku akan memberikan jawaban yang sebenarnya.”Aleksander menatap Evalia dengan sungguh-sungguh. “Aku yakin ini kesempatan terbaik untukmu, Eva. Kamu cerdas. Kamu mampu. Dan kamu mencintai bidang ini, meskipun kamu selalu berpura-pura sebaliknya. Aku nggak ingin istriku hanya tinggal di rumah tanpa melakukan sesuatu yang benar-benar memberinya kepuasan hanya karena itu terasa aman. Kamu pantas bersinar di tempat yang memang diinginkan hatimu.”Mendengar kata-kata bijak Aleksander, Evalia merasakan kehangatan perlahan memenuhi dadanya. Bukan tekanan. Bukan pula tuntutan. Ha
Evalia mendongak menatap pria di sisinya. "Alex..." Suaranya bergetar meski ia telah berusaha keras mengendalikannya. "Kenapa aku merasa... ini seperti perpisahan terakhirku dengan Opa?"Aleksander menggenggam tangannya dengan lembut. "Istriku," bisiknya, "sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. Semoga Sang Pemilik Kehidupan memberikan yang terbaik untuk Opa..."Evalia memejamkan mata sejenak dan bersandar pada sentuhan Aleksander. Dalam hati, ia memohon kepada kekuatan apa pun yang bersedia mendengarnya agar Samuel diberi waktu sedikit lebih lama, satu hari, satu minggu, atau bahkan satu bulan lagi."Eva, tunggu..." Suara Jonathan menggema di lorong rumah sakit yang sunyi tepat ketika Evalia hendak melangkah masuk ke lift.Evalia berhenti dan perlahan menoleh.
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E







