ログインBibir Evalia terbuka, lalu menutup lagi. Ia kehilangan kata.
Evalia ingin mengatakan bahwa ia tak tahu… tapi itu dusta. Ia tahu. Aleksander Batubara membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Rasa takut, iya… tapi juga rindu. Rindu yang seharusnya tak ia rasakan setelah semua yang terjadi.
Akhirnya, Evalia berbisik. “Dia menakutkan.”
Kata-kata yang tertulis begitu tajam, sembrono, dan kejam, memutarbalikkan kisah hidupnya menjadi sesuatu yang buruk.[Evalia memanfaatkan kehamilan yang tidak direncanakan untuk mengamankan posisinya di sisi Aleksander Batubara,] tulis salah satu paragraf. [Sejumlah sumber menyebutkan bahwa pernikahan itu dipercepat demi menutupi masa lalunya yang dipertanyakan.]Evalia berhenti membaca. Dadanya terasa sesak, sementara kedua matanya mulai memanas.Artikel itu tidak memberikan ruang sedikit pun untuk penjelasan, belas kasihan, ataupun kebenaran. Seluruh hidupnya digambarkan sebagai sosok yang penuh perhitungan dan tidak bermoral, direduksi menja
Di tengah kecemasan, Evalia tetap tersenyum. "Sedikit. Anggap saja ini mandi sebelum tidur tanpa bak mandi."Rafael mengernyit lemah. "Aku nggak suka mandi tanpa mainan.""Aku tahu," kata Evalia lembut. "Nanti kalau sudah sembuh, Mami akan mandikan kamu pakai mainan."Evalia melanjutkan mengusap kedua lengan dan kaki Rafael dengan hati-hati agar tubuhnya tidak kedinginan. Ia sengaja tidak menggunakan air dingin karena tahu hal itu bisa memicu reaksi yang tidak baik pada tubuh anaknya. Sebagai gantinya, ia menjaga suhu air tetap hangat, stabil, dan menenangkan.Setelah selesai, Evalia mengeringkan kulit Rafael dengan lembut, lalu membantunya mengenakan piyama yang lebih tipis. "Masih dingin?" tanyanya.Rafael menggeleng. "Cuma
Evalia mengayunkan kedua kakinya turun dari ranjang dan berdiri. Namun langkahnya terhenti ketika melihat mata Aleksander masih memerah dan wajahnya tampak begitu lesu. "Kamu minum terlalu banyak semalam," katanya sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Kamu benar-benar harus berhenti minum sampanye sebanyak itu."Aleksander mengerang pelan lalu menutupi matanya dengan satu lengan. "Itu sepenuhnya salah pamanmu. Dia menuangkan hampir seluruh isi botol ke gelasku. Kurasa dia sendiri cuma minum satu gelas."Evalia terkekeh pelan. Ia membungkuk dan mengecup lembut bibir Aleksander sebelum pria itu sempat mengatakan hal lain. "Istirahatlah," bisiknya. "Nanti kubangunkan."Sebelum Aleksander sempat membalas, Evalia buru-buru masuk ke kamar mandi. Dan ketika akhirnya hendak meninggalkan kamar, ia melihat Aleksander sud
Arsen mengembuskan napas perlahan, jemarinya mencengkeram gelas lebih erat. "Kalau begitu, kita sepakat."Tatapan mereka bertemu, diam namun sarat makna. Tanpa perlu diucapkan, sebuah pemahaman telah terbentuk di antara keduanya.Beberapa saat kemudian, Arsen memaksakan sebuah senyum tipis. "Setidaknya ada satu hal baik dari semua ini. Sekarang kita punya musuh yang sama."Aleksander mengeluarkan tawa pendek tanpa sedikit pun nuansa geli. "Pria itu memang punya bakat yang langka. Pada akhirnya, dia selalu berhasil membuat semua orang membencinya."Arsen mengangguk sebelum meluruskan duduknya. "Dalam beberapa hari lagi, Evalia akan berkunjung ke rumah keluarga kami. Aku ingin dia mengenal mereka dengan baik lebih dulu. Tanpa tekanan, tanpa perhatian berlebihan."
Sebelum Aleksander sempat mencerna pikiran itu sepenuhnya, Arsen mengulurkan tangan dan menepuk bahunya dengan hangat. "Terima kasih, Aleksander," ucap Arsen tulus. "Kau sudah menjaga keponakanku dengan sangat baik."Aleksander kembali terdiam. "Anda...""Ya," jawab Arsen sambil tersenyum. "Aku adalah paman istrimu."Aleksander hanya bisa menatapnya tanpa kata-kata. "Jadi... saudara perempuan Paman Theodore," katanya perlahan, seolah sedang memastikan setiap kata yang keluar dari mulutnya, "adalah nenek Evalia?"Arsen mengangguk.Untuk beberapa saat, Aleksander tidak mengatakan apa pun. Pikirannya memutar kembali setiap percakapannya dengan Evalia—tentang masa lalunya, tentang keluarga yang selama ini ia cari, dan tenta
Aleksander tersenyum seraya menghampirinya dengan Rafael yang masih nyaman berada dalam pelukannya. "Aku baru saja sampai. Kamu kelihatan sangat sibuk."Rafael memeluk leher Aleksander erat-erat. "Daddy nggak bersuara sama sekali. Daddy licik."Aleksander terkekeh. "Daddy sebenarnya ingin memberi kejutan untuk Mami, tapi ada seseorang yang malah membongkarnya."Rafael berkedip beberapa kali. "Tapi... aku membantu, kan?"Evalia tertawa kecil sambil menggeleng. "Baiklah, kalian berdua. Sekarang pergi bersih-bersih dulu. Chef dan Lisa sebentar lagi datang membawa makanannya." Ia mendorong pelan Aleksander ke arah kamar. "Jangan terlalu memaksakan diri. Makan malam hampir siap."Aleksander mengangkat sebelah alis. "Hmm... Kalimat
Evalia berdiri terpaku, jantungnya berdegup tak karuan.‘Kenapa rasanya seperti baru lari maraton?’ pikirnya kalut.
Ucapan itu langsung membuat Evalia sadar dari lamunannya. “Nggak!” jawabnya cepat. Ia buru-buru mengambil tas, ponsel, dan sisa-sisa kewarasannya. Dengan jari gemetar, ia mengunci mobil dan mengikuti langkah Aleksander menuju lift.
Mata Marni menajam, memahami lebih dari yang diucapkan. Tapi bukan itu yang paling membuat Evalia gelisah, melainkan tatapan Rafael.Anak kecilnya yang baru tiga tahun itu memandangi ibunya dengan dahi berkerut, ekspres
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,







