LOGINBibir Evalia terbuka, lalu menutup lagi. Ia kehilangan kata.
Evalia ingin mengatakan bahwa ia tak tahu… tapi itu dusta. Ia tahu. Aleksander Batubara membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Rasa takut, iya… tapi juga rindu. Rindu yang seharusnya tak ia rasakan setelah semua yang terjadi.
Akhirnya, Evalia berbisik. “Dia menakutkan.”
Dada Evalia kembali terasa sesak. Denyut nadinya berdentum keras di telinga.Evalia kembali menatap Diandra. "Apakah dia sudah tahu tentang saya?""Sudah. Nama Anda tercantum di amplop yang beliau terima. Tapi yang tertulis adalah Evalia Tanjaya. Jadi saya rasa beliau belum tahu kalau sekarang Anda adalah Ny. Batubara.""Saya mengerti..." Entah kenapa, jawaban itu sedikit melegakan hati Evalia."Baik," ujar Diandra lembut. "Saya tinggalkan Anda dulu. Beliau akan masuk melalui pintu itu." Ia mengangguk ke arah pintu yang sejak tadi tertutup rapat di sudut ruangan.Setelah itu Diandra berdiri, lalu keluar sambil menutup pintu dengan pelan.Kini Evalia sendirian.
Evalia tersenyum. "Terima kasih? Untuk apa, Sayang?""Karena Mami ngajak Rafa pulang ke Jepara." Rafael mengangguk mantap, lalu menepuk lembut kaki Evalia seperti seorang pria dewasa. "Aku senang sekali hari ini. Senang banget."Hati Evalia ikut menghangat. "Memangnya kenapa begitu senang?""Soalnya nanti ketemu Nenek Marni." Rafael bertepuk tangan riang. "Nenek pasti masakin makanan favorit Rafael. Terus kasih kue besar... sama banyak... banyak... muffin."Evalia terkekeh pelan agar tidak mengganggu penumpang lain. "Iya. Kedengarannya menyenangkan sekali. Mami ikut senang kalau Rafael senang." Ia mengusap lembut rambut putranya.Rafael bersandar nyaman di dadanya sambil memainkan kalung yang dikenakan Evalia. "Aku juga senan
Suara Natasha terdengar tajam, membelah keheningan ruangan. “Evalia Wijaya… kamu sama sekali nggak cantik. Kekayaanmu juga nggak sebanding denganku. Jadi bagaimana mungkin Aleksander memilihmu? Pasti kamu menjebaknya.”Natasha memaki tanpa henti. Jari-jarinya mencengkeram tablet begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Detik berikutnya, tablet itu dilemparkannya ke lantai. Benda mahal itu menghantam marmer dengan suara keras. Layarnya langsung retak sebelum meluncur dan berhenti di dekat pecahan vas.Asistennya menelan ludah. Ia sudah sering melihat Natasha marah. Namun, kali ini kemarahannya terasa jauh lebih mengerikan.Natasha perlahan mengangkat wajahnya. Matanya memerah, dipenuhi kecemburuan dan rasa dipermalukan. Beberapa saat, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah napasnya yang me
Ruangan kembali membeku.Mulut Elenora terbuka lebar.Amanda spontan menutup mulutnya karena terkejut.Erik sampai membelalakkan mata, seolah bingung apakah harus memeluk Aleksander atau tertawa bahagia.Sandra menutup mulut sambil tersenyum haru.Kedua putrinya bersorak kecil penuh kegembiraan.Adrian berkedip beberapa kali. “Hamil? Serius? Jadi aku akan punya cicit lagi?”Pipi Evalia memerah. Ia mengangguk malu.Beberapa detik kemudian, ruang keluarga dipenuhi sorak gembira yang lebih meriah daripada sebelumnya.Elenora
Alistair menarik napas tajam. “Tapi, Papi…”Adrian mengangkat tangan, menghentikannya. “Cukup. Jangan terus bersikap keras kepala,” ujarnya dengan suara yang lebih tajam. “Lihat Amanda. Dia justru orang yang paling berhak marah jika mengikuti logikamu. Tapi dia nggak melakukannya. Dia menerima dan menyayangi Evalia. Itu yang seharusnya menjadi contoh.”Keheningan yang muncul setelahnya terasa begitu pekat hingga nyaris menyesakkan.Alistair mengatupkan rahangnya rapat, tetapi tak lagi membalas.Erik akhirnya berdeham, mencoba mencairkan suasana. “Papi nggak perlu mengkhawatirkan keluarga kami.” Ia lalu menoleh kepada Aleksander dan Evalia sambil tersenyum hangat. “Selamat, Aleksander. Dan Evalia… S
Dimas langsung menyesal telah membuka suara. Namun, ia tetap melanjutkan ucapannya. “Memang begitu, Boss. Orang-orang di internet menyebut Boss sebagai pewaris sempurna. Katanya Boss tampan, kaya, dan misterius. Kombinasi itu katanya terlalu sulit dilawan.”Evalia tertawa kecil. “Dengar itu? Ternyata kamu memang seperti tokoh utama drama. Jangan-jangan nanti malam sudah ada yang mengirimiku ancaman.”Dimas ikut tertawa. “Hahaha… Tenang saja, Nyonya Boss. Sepertinya nggak akan sampai begitu. Tapi…”Aleksander sengaja berdeham panjang.Seketika Dimas langsung terdiam.Melihat ekspresi Dimas yang seolah ingin menghilang dari kursi pengemudi, Evalia tak kuasa menahan tawa. W
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E
Evalia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya."Papi…tega banget. Gimana bisa Papi mempermalukan aku kayak gini di depan media?" Genggaman tangan Evalia di ponselnya semakin kuat. Baru lima hari sejak Eva memberitahu ayahnya keputusan tentang hidupnya sendiri. Dan hari ini, ia sud







