MasukBibir Evalia terbuka, lalu menutup lagi. Ia kehilangan kata.
Evalia ingin mengatakan bahwa ia tak tahu… tapi itu dusta. Ia tahu. Aleksander Batubara membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Rasa takut, iya… tapi juga rindu. Rindu yang seharusnya tak ia rasakan setelah semua yang terjadi.
Akhirnya, Evalia berbisik. “Dia menakutkan.”
Perjalanan menuju Jepara terasa lebih singkat dari biasanya. Lampu-lampu di area parkir bawah tanah yang sudah begitu akrab menyambut kedatangan mereka. Mesin mobil pun dimatikan, menyisakan keheningan yang menenangkan.Aleksander melirik jam di ponselnya lalu mengembuskan napas pelan. "Aku nggak bisa ikut naik," katanya dengan nada penuh penyesalan. "Aku harus kembali ke Semarang untuk menghadiri rapat."Evalia mengangguk mengerti.Aleksander turun lebih dulu, lalu mengangkat Rafael keluar dari mobil dengan mudah. "Ayo, Jagoan. Tunggu Daddy di dekat lift bersama Lisa.""Hmm..." Rafael sudah lebih dulu berlari menuju lift, sementara Lisa segera menyusul di belakangnya.Evalia tetap berdiri di samping mobil, memandangi Aleksan
Aleksander menoleh sambil tersenyum tipis. "Sepertinya itu bukan ide yang bagus, Jagoan. Mami sedang bertemu seseorang yang sangat penting. Daddy nggak mau mengganggunya."Rafael memiringkan kepala. "Memangnya sepenting apa? Lebih penting daripada aku?"Aleksander terkekeh pelan. "Jagoan, Daddy yakin nggak ada siapa pun yang lebih penting buat Mami selain kamu. Bahkan Daddy saja masih kalah penting."Rafael tampak berpikir beberapa detik. Wajahnya terlihat puas dengan jawaban itu, sampai tiba-tiba sebuah ide lain muncul di kepalanya. "Kalau begitu kita beli donat, yuk!""Donat?" Aleksander mengangkat sebelah alis."Iya!" Rafael mengangguk penuh semangat. "Di dalam rumah sakit ada toko donat enak. Mami sering beliin aku. Yang
Pandangan Evalia mulai kabur karena air mata yang menggenang. Kemiripan itu tak mungkin disangkal.Mata yang sama. Garis wajah yang sama. Kekuatan yang tenang, seolah tetap terpancar meski hanya melalui selembar foto yang telah usang. Rambut hitam. Mata kecokelatan. Kulit pucat. Semua ciri itu diwariskan dari generasi ke generasi, berpindah tanpa pernah ada penjelasan.Hati Evalia kembali dipenuhi rasa sesak. Ia membayangkan seperti apa sebenarnya sosok Gisela Morgan. Ketakutan apa yang membuat perempuan itu memilih pergi. Luka sebesar apa yang memaksanya memutus hubungan dengan keluarganya hingga tak seorang pun berhasil menemukannya lagi.Perlahan, Evalia mengembalikan foto itu ke atas meja, lalu membuka tas kulit yang dibawanya. Ia mengeluarkan foto lain yang selama bertahun-tahun selalu ia jaga dengan penu
Evalia merasakan dadanya ikut sesak. Matanya mulai berkaca-kaca. "Gisela… Jadi benar... nama Omaku adalah Gisela..."Dunia di sekeliling Evalia terasa berhenti berputar. Jemarinya menggenggam lutut sendiri erat-erat, berusaha mencari pijakan di tengah kenyataan yang terasa begitu tidak nyata. Selama ini ia merasa sedang mengejar bayangan. Sepanjang hidupnya, ia hanya mengenal nama Tanjaya. Saat berusaha mencari identitas Opanya, semua jejak selalu berakhir buntu.Dokumen palsu. Data kependudukan yang telah dimanipulasi. Silsilah keluarga yang seolah sengaja diputus hingga tak menyisakan apa pun.Evalia menjalani tes DNA tanpa berharap banyak. Kalaupun ada hasil, ia justru membayangkan akan menemukan keluarga dengan masa lalu kelam. Atau sejarah yang seharusnya t
Dada Evalia kembali terasa sesak. Denyut nadinya berdentum keras di telinga.Evalia kembali menatap Diandra. "Apakah dia sudah tahu tentang saya?""Sudah. Nama Anda tercantum di amplop yang beliau terima. Tapi yang tertulis adalah Evalia Tanjaya. Jadi saya rasa beliau belum tahu kalau sekarang Anda adalah Ny. Batubara.""Saya mengerti..." Entah kenapa, jawaban itu sedikit melegakan hati Evalia."Baik," ujar Diandra lembut. "Saya tinggalkan Anda dulu. Beliau akan masuk melalui pintu itu." Ia mengangguk ke arah pintu yang sejak tadi tertutup rapat di sudut ruangan.Setelah itu Diandra berdiri, lalu keluar sambil menutup pintu dengan pelan.Kini Evalia sendirian.
Evalia tersenyum. "Terima kasih? Untuk apa, Sayang?""Karena Mami ngajak Rafa pulang ke Jepara." Rafael mengangguk mantap, lalu menepuk lembut kaki Evalia seperti seorang pria dewasa. "Aku senang sekali hari ini. Senang banget."Hati Evalia ikut menghangat. "Memangnya kenapa begitu senang?""Soalnya nanti ketemu Nenek Marni." Rafael bertepuk tangan riang. "Nenek pasti masakin makanan favorit Rafael. Terus kasih kue besar... sama banyak... banyak... muffin."Evalia terkekeh pelan agar tidak mengganggu penumpang lain. "Iya. Kedengarannya menyenangkan sekali. Mami ikut senang kalau Rafael senang." Ia mengusap lembut rambut putranya.Rafael bersandar nyaman di dadanya sambil memainkan kalung yang dikenakan Evalia. "Aku juga senan
Rafael tertawa puas, menggenggam muffin terakhir di piringnya.Evalia menatap anak itu dengan senyum lembut, merasa ingin mencubit pipi tembamnya yang begitu mirip dengan pipi Aleksander saat sedang iseng menggoda
Ucapan itu langsung membuat Evalia sadar dari lamunannya. “Nggak!” jawabnya cepat. Ia buru-buru mengambil tas, ponsel, dan sisa-sisa kewarasannya. Dengan jari gemetar, ia mengunci mobil dan mengikuti langkah Aleksander menuju lift.
Mata Marni menajam, memahami lebih dari yang diucapkan. Tapi bukan itu yang paling membuat Evalia gelisah, melainkan tatapan Rafael.Anak kecilnya yang baru tiga tahun itu memandangi ibunya dengan dahi berkerut, ekspres
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,







