LOGINBibir Evalia terbuka, lalu menutup lagi. Ia kehilangan kata.
Evalia ingin mengatakan bahwa ia tak tahu… tapi itu dusta. Ia tahu. Aleksander Batubara membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Rasa takut, iya… tapi juga rindu. Rindu yang seharusnya tak ia rasakan setelah semua yang terjadi.
Akhirnya, Evalia berbisik. “Dia menakutkan.”
“Sayang, kamu harus duduk dulu…” ujar Eva sambil menarik kursi lipat yang memang sudah tersedia di tepi danau, seperti memang disiapkan untuk mereka.Mereka pun berdampingan, menunggu kail bergerak.Eva menikmati ketenangan sore itu. Riak air yang halus, suara burung dari pepohonan, dan semilir angin yang membawa aroma lembap khas Jakarta menjelang senja.Rafa terus bercerita, tentang bagaimana ikan mungkin bisa berbicara di dalam air, dan keinginannya mendaki gunung jauh di luar kota, seperti yang pernah dijanjikan Daddy-nya.Eva tertawa mendengar semua imajinasi polosnya, lalu mencubit lembut pipinya. “Kamu banyak sekali cerita hari ini.”“Rafa suka di sini,” kata Rafa tiba-tiba, s
Hati Evalia menghangat mendengar janji itu. “Kali ini jangan ingkar, ya,” ujarnya manja, penuh kehangatan.“Nggak akan,” bisik Aleksander. “Aku berhutang makan malam yang layak untuk istriku.”Evalia terkekeh pelan, kehangatan merambat di dadanya. “Baiklah, Tuan Batubara. Aku nggak akan menahanmu lebih lama. Kamu punya kerajaan yang harus diurus, dan aku punya email yang harus dibalas.”“Kerja yang rajin,” balas pria itu, suaranya hangat dengan nada menggoda. “Dan jangan cari masalah, Bu Batubara.”Evalia tersenyum. “Aku nggak janji.”Tawa mereka menyatu di ujung sambungan, ringan dan penuh rasa sayang.
Evalia membeku.Yang membuatnya terpukul bukan judulnya. Melainkan akta bahwa Aleksander pernah berjanji tidak akan mengumumkan pernikahan mereka sampai Evalia siap.Namun sekarang semuanya sudah tersebar.Tangannya sedikit gemetar saat mengeklik artikel itu.Dan ketika Evalia melihat sumbernya, perutnya langsung terasa mual.[Situs Resmi Griya Batubara Holdings.]Jantung Evalia berdegup lebih cepat.“Oh. Ya. Tuhan.” Tangan Evalia refleks menutup mulut, menahan napas yang nyaris berubah jadi pekikan. “Dia benar-benar melakukannya! Dia mengumumkannya… secara publik?! Kenapa tiba-tiba? Kenapa dia nggak bilang apa
Sebelum membuka pintu, Evalia sempat melirik ke belakang. Aleksander masih di sana, santai, dengan senyum khas yang sedikit menyebalkan.‘Serius… kenapa dia bisa terlihat menyebalkan tapi tetap menarik bahkan di pagi hari?’ pikir Evalia sambil tersenyum tipis.Lalu pintu dibuka.Di sana berdiri Rafael, putra kecilnya, mengenakan hoodie hitam kecil dengan rambut yang sedikit berantakan.“Selamat pagi, sayang,” ujar Evalia sambil merunduk dan memeluknya. Aroma khas anak itu dan pelukannya yang hangat langsung membuat hatinya luluh. “Sudah lapar, ya?”Rafael mengangguk serius. “Iya, Mami. Pak Jono bilang aku boleh mulai sarapan, tapi Mami biasanya bilang kita makan bareng jam tuju
Saat bibir mereka bertemu, ciuman itu tidak liar atau terburu-buru. Lambat, disengaja, dan lembut. Seolah dunia di luar kamar itu berhenti.Ciuman yang menyimpan permintaan maaf, kerinduan, dan janji tanpa kata.Jari-jari Evalia bergerak ke dada Aleksander, bertumpu di atas detak jantungnya yang kuat dan nyata. Untuk sekali ini, ia tidak berpikir terlalu jauh. Ia membalas ciuman itu dengan perasaan yang sama.Namun ketika ciuman semakin dalam, napasnya mulai tak teratur, pikirannya kabur. Kehangatan Aleksander mengelilinginya sepenuhnya. Menenangkan sekaligus membuatnya kewalahan.Saat Aleksander akhirnya menjauh, Evalia terengah pelan.Aleksander tersenyum, ibu jarinya mengusap pipinya. “Sekarang kamu bisa tidur.&rdquo
Evalia tidak mendebat. Tidak menyembunyikan diri di balik sarkasme. Ia hanya diam, menunggu.Beberapa saat berlalu sebelum suara Aleksander terdengar pelan, teredam. “Maaf, Eva. aku bikin kamu marah.”Dada Evalia kembali terasa sesak.“Aku janji ini nggak akan terjadi lagi,” lanjut Aleksander tulus. “Aku janji kamu nggak akan lihat aku seperti itu lagi.”Kata-kata itu menembus hati Evalia, meruntuhkan sisa amarah yang ada. Perlahan, ia mulai rileks dalam pelukan itu.Aleksander mempererat pelukannya, seolah takut Evalia akan pergi. Satu tangan melingkari pinggangnya, yang lain naik menyangga bahunya.Evalia menutup mata, merasakan kekuatan peluk







