LOGINEvalia mendengus geli.
“Aku nggak akan pernah memaksamu,” lanjut Aleksander. “Aku akan menunggu sampai kamu sembuh. Benar-benar sembuh. Percayalah, aku bisa menahannya.” Suaranya tenang. Tegas. Penuh kasih.
Evalia berkedip menatapnya, sedikit terkejut mendengar begitu banyak kata keluar dari mulut Aleksander dalam satu tarikan napas. Aleksander Ba
Suasana di dalam gedung redup dan dingin. Layar-layar di sepanjang dinding berkedip, menampilkan peta, berkas, serta berbagai foto. Di tengah semua itu terpampang satu gambar.Evan Wiratama.Raka berhenti di depan layar dan menyipitkan mata.Vino berdiri di sampingnya lalu mulai memberikan laporan. “Kami sudah memastikan pergerakan Evan Wiratama saat ini. Pengamanannya sangat ketat, tetapi bukan berarti tidak bisa ditembus. Kami juga berhasil mengidentifikasi beberapa anggota GardaX yang berkaitan dengan operasi di Hutan Pinus.”Raka mendengarkan tanpa berkedip. “Bagaimana kamu tahu mereka terlibat? Kamu yakin soal itu?” tanya Raka.“Beberapa hari sebelum kematian Nona Muda, beberapa orang dari G
Evalia mendengus geli.“Aku nggak akan pernah memaksamu,” lanjut Aleksander. “Aku akan menunggu sampai kamu sembuh. Benar-benar sembuh. Percayalah, aku bisa menahannya.” Suaranya tenang. Tegas. Penuh kasih.Evalia berkedip menatapnya, sedikit terkejut mendengar begitu banyak kata keluar dari mulut Aleksander dalam satu tarikan napas. Aleksander Batubara bukanlah pria yang membuang-buang kata kecuali ia sungguh-sungguh memaksudkan setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.“Aku senang mendengarnya,” ujar Evalia lembut. Namun sebelum pikirannya sempat menghentikan mulutnya, ia menambahkan, “Tapi kalau suatu saat kamu benar-benar nggak bisa menahannya... kita selalu bisa mencari cara lain untuk membantumu melepaskan kebutuhanmu.”
Aleksander menoleh kepadanya. Sikap dingin yang diperlihatkannya beberapa detik lalu lenyap sepenuhnya, berganti dengan ketenangan dan kelembutan yang begitu Evalia kenal. Tatapannya kembali lembut, mantap, dan hangat. “Baiklah, istriku tersayang,” katanya. “Aku akan memberikan jawaban yang sebenarnya.”Aleksander menatap Evalia dengan sungguh-sungguh. “Aku yakin ini kesempatan terbaik untukmu, Eva. Kamu cerdas. Kamu mampu. Dan kamu mencintai bidang ini, meskipun kamu selalu berpura-pura sebaliknya. Aku nggak ingin istriku hanya tinggal di rumah tanpa melakukan sesuatu yang benar-benar memberinya kepuasan hanya karena itu terasa aman. Kamu pantas bersinar di tempat yang memang diinginkan hatimu.”Mendengar kata-kata bijak Aleksander, Evalia merasakan kehangatan perlahan memenuhi dadanya. Bukan tekanan. Bukan pula tuntutan. Ha
Evalia mendongak menatap pria di sisinya. "Alex..." Suaranya bergetar meski ia telah berusaha keras mengendalikannya. "Kenapa aku merasa... ini seperti perpisahan terakhirku dengan Opa?"Aleksander menggenggam tangannya dengan lembut. "Istriku," bisiknya, "sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. Semoga Sang Pemilik Kehidupan memberikan yang terbaik untuk Opa..."Evalia memejamkan mata sejenak dan bersandar pada sentuhan Aleksander. Dalam hati, ia memohon kepada kekuatan apa pun yang bersedia mendengarnya agar Samuel diberi waktu sedikit lebih lama, satu hari, satu minggu, atau bahkan satu bulan lagi."Eva, tunggu..." Suara Jonathan menggema di lorong rumah sakit yang sunyi tepat ketika Evalia hendak melangkah masuk ke lift.Evalia berhenti dan perlahan menoleh.
Genggaman Aleksander membuatnya tetap berpijak pada kenyataan. Ibu jari pria itu mengusap lembut punggung jemarinya, memberikan ketenangan tanpa kata. Aleksander sedikit mendekat, kehadirannya yang hangat dan kokoh seolah menjadi jangkar yang menahan Evalia agar tidak tenggelam dalam gejolak perasaannya."Kau baik-baik saja?" bisik Aleksander."Hmm... aku hanya terkejut. Opa memberikannya kepadaku. Kenapa?"Sebelum Aleksander sempat menjawab, Samuel kembali menatap Evalia. "Eva..."Evalia menelan ludah dan memaksa dirinya membalas tatapan sang opa. "Ya, Opa?""Jangan terlihat ketakutan seperti itu," ujar Samuel disertai tawa kecil. Secercah humor sempat menerangi wajahnya yang kelelahan. "Aku nggak sedang memberimu kutukan. A
Januar mengangguk sambil terkekeh pelan. “Sejujurnya, kami bahkan baru mengetahui pernikahan mereka dari internet. Itu pun awalnya kami kira hanya gosip.”Lestari menghela napas, kemudian memberi isyarat agar keduanya mendekat, seolah hendak membocorkan informasi rahasia negara. “Dengar... Mereka punya seorang putra. Usianya empat tahun. Namanya Rafael Tanjaya Batubara.”Nora terkesiap pelan sambil menempelkan tangan ke dada. Januar mengerjapkan mata seakan baru saja mendengar sebuah keajaiban.“Empat tahun?” bisik Nora. “Dan nggak ada seorang pun yang memberi tahu kami? Kamu tahu betapa aku menyukai anak-anak?”Lestari tersenyum geli. “Percayalah, aku langsung menyadarinya begitu kamu mencengkeram tanganku tadi.&rdqu
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E







