Share

bab 7

Author: Mariahlia
last update Huling Na-update: 2025-10-08 00:38:15
"Beliau ingin pergi pak."

Paul meletakkan sebuah bukti foto yang ia dapat barusan dari anak buahnya.

Arsen mengambilnya, ia menatap foto itu lama, satu sudut bibirnya tertarik ke atas, "kita ke sana"

Paul menganggukkan kepalanya patuh.

*

Kereta malam itu baru saja tiba di stasiun kecil di pinggiran kota. Lampu-lampu redup berkelap-kelip di antara uap dingin yang naik dari rel. Suara roda besi bergesekan dengan logam masih bergema, bercampur dengan suara pengumuman dari pengeras yang serak.

Kamila menunduk dalam-dalam, berusaha menutupi wajah dengan masker dan topi hitam yang ia beli di kios dekat terminal sore tadi. Matanya sembab, rambutnya berantakan, dan tas kecil yang menempel di pundaknya tampak lusuh karena tergesa-gesa.

Ia hanya ingin naik kereta, pergi sejauh mungkin — ke arah mana pun yang tak dikenal Arsen.

Tapi saat ia hendak melangkah ke peron, tangan seseorang menarik pergelangannya dari belakang.

Deg

Sentuhan itu kuat, dingin.

“Pak Arsen?” suaranya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 56

    Kamila menutup matanya sejenak.Kalimat Arsen itu—tentang momen masa kecil—jatuh tepat di bagian dirinya yang paling rapuh. Bukan tentang uang. Bukan tentang harga diri. Melainkan tentang waktu. Tentang hal-hal kecil yang tidak bisa diulang.Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, seolah jika terlalu cepat, dadanya akan runtuh.“Jangan bicara seolah aku ibu yang egois,” ucapnya pelan, tanpa membuka mata.Arsen tidak menyela.“Aku bekerja bukan karena aku ingin menjauh dari Dania,” lanjut Kamila. Suaranya sedikit bergetar, tapi ia memaksakan diri untuk tetap tenang. “Aku bekerja karena aku takut. Takut suatu hari… semua ini hilang. Takut aku kembali jadi perempuan yang tidak punya apa-apa.”Ia membuka mata.Tatapannya bertemu dengan Arsen.“Aku sudah pernah jatuh sampai dasar,” katanya lirih. “Dan aku tidak ingin itu terulang.”Arsen mengangguk pelan. Tidak ada bantahan. Tidak ada pembelaan diri. Ia hanya menerima kalimat itu apa adanya.“Aku tahu,” katanya akhirny

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 55

    Pagi itu berjalan lebih lambat dari biasanya.Jam dinding kecil di sudut ruang tengah baru saja menunjukkan pukul setengah delapan, namun Kamila merasa waktu seolah tertahan di antara detik-detik yang menggantung. Udara masih dingin, bercampur bau sabun bayi dan sisa sayur bening dari dapur. Cahaya matahari masuk samar lewat jendela, jatuh tepat di lantai semen yang dingin.Kamila berdiri di dekat meja kecil, membungkuk sedikit, memeriksa tas kain berwarna biru muda—tas Dania.Tangannya bergerak pelan namun cekatan. Popok cadangan, tisu basah, botol susu, baju ganti, selimut tipis. Satu per satu ia periksa, seolah takut ada yang terlewat. Keningnya sedikit berkerut, bukan karena bingung, melainkan karena pikirannya bercabang ke mana-mana.Di sudut ruangan, Dania tertidur tenang di box kecilnya.Sementara itu, Arsen masih ada di sana.Belum pergi.Pria itu berdiri bersandar di dekat jendela, ponselnya masih di tangan, layar menyala menampilkan jadwal meeting yang sejak tadi ia abaikan.

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 54

    Pagi itu sebenarnya tidak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya.Udara masih lembap, sisa hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah yang samar masuk lewat jendela kecil kontrakan Kamila. Tirai tipis berwarna krem bergoyang pelan, disentuh angin yang malas. Matahari belum sepenuhnya naik, cahayanya masih pucat, seolah ragu-ragu menembus atap seng dan celah bangunan padat di sekitar kontrakan.Kamila baru saja selesai menidurkan Dania.Bayi kecil itu terlelap di dalam box kayu sederhana yang diletakkan di sudut ruang tengah—ruang yang juga berfungsi sebagai dapur, ruang makan, sekaligus ruang tamu. Napas Dania teratur, dadanya naik turun dengan ritme halus yang selalu berhasil membuat Kamila berhenti sejenak, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.Setiap pagi, momen itu selalu sama.Kamila akan berdiri sedikit lebih lama, menatap wajah bayi itu, memperhatikan bulu mata tipisnya, hidung kecilnya, dan bibir mungil yang kadang bergerak seolah sedang bermimpi. Ia selalu bertanya-tanya,

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 53

    Malam semakin larut, tetapi Arsen seolah tidak mengenal waktu.Lampu kecil di sudut ruangan memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menyelimuti wajah Dania yang terlelap di boks bayi sederhana. Nafas bayi itu naik turun dengan ritme yang teratur, seolah dunia di sekitarnya sama sekali tidak memiliki kekacauan apa pun. Jari-jarinya yang kecil mengepal, lalu mengendur perlahan, seakan sedang bermimpi tentang sesuatu yang hangat dan aman.Arsen berdiri di sisi boks itu, menundukkan badan sedikit, menatap wajah bayi itu tanpa berkedip. Senyum di bibirnya tidak juga pudar sejak beberapa menit lalu.“Dia cantik banget,” ucapnya lagi, suaranya dibuat pelan, hampir seperti bisikan. “Cantiknya kebangetan.”Kamila yang duduk di kursi plastik dekat jendela mendengus pelan. Tangannya terlipat di dada, bahunya sedikit terangkat—tanda kesal yang sudah ia tahan sejak tadi.Ia melirik jam dinding sekali lagi.Pukul dua belas lewat dua belas menit.Matanya kembali ke arah Arsen, pria itu masih di p

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 52

    Dan benar saja, malam itu Arsen datang.Bukan siang, bukan sore—melainkan malam, ketika udara mulai turun suhunya dan lampu-lampu kontrakan satu per satu menyala dengan cahaya kuning yang redup. Jam dinding di ruang tamu kecil Kamila baru saja melewati pukul delapan ketika suara langkah kaki berhenti tepat di depan pintu. Tidak terburu-buru. Tidak pula ragu. Seolah pemilik langkah itu sudah sangat yakin bahwa pintu ini akan dibukakan untuknya.Kamila yang baru saja meletakkan tas kerjanya di atas kursi kayu sederhana, berhenti bergerak. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang menyelinap—campuran lelah, cemas, dan sesuatu yang tak ingin ia beri nama.Ketukan itu terdengar. Satu kali. Lalu dua kali. Tidak keras, tapi cukup tegas.Kamila menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya melangkah mendekat. Saat pintu dibuka, ia langsung bertemu dengan sosok tinggi yang berdiri tegak di depan kontrakannya. Arsen.Pria itu tampak sama seperti terakhir

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 51

    Dania Putri Arsenio.Nama itu terucap pelan dari bibir ibunya Nares, hampir seperti doa yang tidak ingin ia ganggu dengan suara terlalu keras. Bayi mungil dalam gendongannya tampak tertidur tenang, napasnya teratur, dada kecilnya naik turun dengan ritme yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa ingin ikut bernapas lebih pelan.Kamila berdiri di dekat meja kayu kecil di ruang tengah rumah kontrakan itu. Rumah yang sederhana, dengan cat dinding warna krem yang mulai kusam di beberapa sudut. Tirai jendela berwarna pucat tergantung setengah terbuka, membiarkan cahaya sore masuk dengan malu-malu. Udara terasa hangat, tapi tidak menyengat. Sunyi—sunyi yang anehnya tidak menakutkan.“Mi…” suara Kamila serak ketika akhirnya ia bicara. “Kenapa ada… nama dia?”Ibunya Nares tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tersenyum kecil, senyum yang mengandung terlalu banyak makna. Matanya masih tertuju pada wajah bayi itu, seolah di sana tersimpan jawaban yang tak perlu diucapkan keras-keras.“Bi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status