LOGINPada akhirnya, Diana kembali berakhir di pelukan yang sama.Mungkin... tidak apa-apa kalau malam ini ia menyerah sebentar. Hanya sementara, ia cuma ingin menikmati rasa hangat ini.Diana tak peduli lagi apakah saat ini Arjune menganggapnya sebagai Villeta atau Diana. Baginya, mau sejauh apapun ia mencoba lari, takdir selalu membawanya ke garis akhir yang sama—meluruh pasrah di dalam dekapan pria ini.Sial.Sentuhan Arjune tak lagi ragu. Telapak tangannya yang lebar dan panas merayap naik dari pinggang Diana yang basah akibat sisa air hujan, menelusuri tiap lekuk tubuhnya dengan gerakan posesif—seolah sedang menuntut kembali hak milik yang sempat terenggut darinya selama tiga tahun terakhir.Napas mereka beradu hebat, makin lama makin liar. Setiap kali jemari Arjune mengusap kulitnya, sengatan gairah merayap cepat menyengat seluruh saraf Diana. Wanita itu meremas erat bahu tegap Arjune, melengkungkan punggungnya saat rasa melayang makin melahap habis sisa akal sehatnya.Arjune menyusuri
“...Tampan.”“Hah?”Diana perlahan mendongakkan wajahnya. Semburat merah merayap hangat memenuhi pipinya yang semula pucat. Dengan mata yang menyorot sayu dan tak fokus, ia menatap lekat wajah Arjune—seolah sedang mengamati sesuatu yang teramat menarik.“Pak Arjune...” gumamnya pelan. Bibirnya merekah lembut, membentuk senyum polos yang sedikit kekanak-kanakan. “Anda sangat tampan.”Arjune mengernyitkan dahi. “Apa-apaan ini? Kamu sedang menggodaku?”Diana cepat-cepat menggeleng, walau gerakannya terasa lambat—seperti kesadarannya yang mulai mengambang di udara.“Enggak...”Ia mengangkat telunjuknya yang bergetar halus, menunjuk tepat di depan hidung Arjune.“Kamu...” bisiknya lirih, disusul kekehan geli yang lolos begitu saja. “Sangat... tampan.”Arjune menatap wanita itu tanpa berkedip. Ada yang tidak beres. Cara Diana berbicara dan menatapnya terasa terlalu jujur, terlepas dari sifat aslinya yang biasa tertutup.“Kamu kenapa?” tanya Arjune pelan, melirik curiga. “Jangan bilang kamu
Kata orang, Diana adalah anak yang beruntung.Ia terlahir dari keluarga berada, dengan seorang ayah yang memiliki reputasi besar di panggung politik. Wajahnya bahkan sangat mirip dengan sang kakak, Viona. Namun, kemiripan fisik itu tidak lantas membuat takdir mereka berjalan sejajar. Viona begitu mudah bergaul dan selalu mampu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Sementara Diana adalah gadis pemalu yang canggung, tidak mudah membuka percakapan, dan lebih sering memilih menarik diri ke dalam kesendirian.Diana tidak pernah keberatan dengan semua ketimpangan itu.Setidaknya, sampai sebelum pernikahan politiknya dengan Arjune terjadi.Pernikahan yang sejak awal tidak pernah benar-benar ia impinkan itu justru perlahan menjelma menjadi sepotong kebahagiaan tak terduga. Diana pernah menggantungkan harapan bahwa pernikahan itu akan memberinya kehangatan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Namun, kenyataan tiga tahun kehidupan mereka justru terbentang penuh jarak. Tiga tahun hid
Pria berparang itu menurunkan senjatanya beberapa sentimeter. Matanya menyipit, menatap Arjune seolah sedang berusaha menemukan celah dari sikap tenang pria tersebut."Menyerah?" Nada suaranya terdengar tidak percaya. "Segampang itu?"Arjune mengangkat kedua tangannya sedikit lebih tinggi. "Saya datang ke sini untuk melihat keadaan, bukan berperang dengan warga sendiri."Diana yang berdiri di sampingnya melirik cepat. Warga sendiri? Entah kenapa, kalimat itu terasa aneh keluar dari mulut Arjune. Pria yang selama ini bahkan tampak tidak peduli pada sebagian besar orang di sekitarnya, tiba-tiba menyebut mereka sebagai warga sendiri."Jangan percaya, Ketua!" teriak seorang pria dari kerumunan. "Itu cuma taktiknya saja!"Beberapa pria lain ikut mengangkat senjata mereka. Suasana yang sempat mereda kembali menegang. Diana menahan napas. Satu kesalahan kecil saja, dan keadaan bisa berubah menjadi kekacauan yang fatal.Pria yang dipanggil Ketua mengangkat satu tangan. "Diam." Suaranya tidak
Diana berjalan menyusuri jalan setapak yang licin di lereng bukit, mengikuti langkah kecil anak laki-laki di depan mereka yang sesekali menoleh dengan gelisah.Di sampingnya, Arjune melangkah tenang. Tanah merah yang menempel di pantofel kulit mahalnya sama sekali tidak mengurangi ketegasan setiap langkah pria itu.Melihat ketenangan tersebut, dada Diana justru semakin bergemuruh.Apa dia benar-benar tidak menyadari kalau ini mencurigakan? Atau... memang sengaja membiarkan dirinya masuk ke dalam jebakan?"Apa sebenarnya yang sedang Anda rencanakan, Pak Arjune?" tanyanya akhirnya. Suaranya sengaja ditekan agar tidak terdengar oleh anak yang berjalan beberapa meter di depan mereka.Arjune tetap menatap jalan setapak di hadapannya."Rencana apa?"Diana menghentikan langkahnya. "Anda bukan orang bodoh. Anda pasti tahu anak itu sedang memancing kita."Arjune ikut berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Diana yang berdiri beberapa undakan di bawahnya.Angin perbukitan menerbangkan rambut Di
“Pak Arjune beneran akan membayar saya, kan?” bisik Diana, mencondongkan tubuhnya ke arah Yanuar sembari melirik waspada ke arah Arjune yang sedang berbicara serius dengan kepala desa di sudut balai warga.Yanuar menaikkan sebelah alisnya, ikut memiringkan posisi duduknya agar suaranya yang rendah tidak memantul ke sekitar mereka. “Tentu saja. Kenapa? Apa Nona takut kami tipu?”“Tidak,” sahut Diana cepat, meremas pelan tali tas selempangnya yang sudah agak pudar. “Saya cuma takut kalian mendadak lupa.”Yanuar tidak bisa menahan senyum tipis melihat binar cemas sekaligus penuh harap di bola mata wanita itu. Sikap blak-blakan Diana soal uang justru terasa menyegarkan di matanya. “Kalau begitu, saya minta nomor rekening Anda. Saya akan urus pengirimannya sekarang juga.”Mendengar kata 'sekarang juga', senyum Diana langsung merekah sempurna. Wajah lelahnya akibat kurang tidur seketika menguap, digantikan binar semringah yang tidak bisa disembunyikan. Dengan gerakan kilat, ia merogoh tasny
Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kin
Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi n
"...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan di
Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin m







