ログインPria berparang itu menurunkan senjatanya beberapa sentimeter. Matanya menyipit, menatap Arjune seolah sedang berusaha menemukan celah dari sikap tenang pria tersebut."Menyerah?" Nada suaranya terdengar tidak percaya. "Segampang itu?"Arjune mengangkat kedua tangannya sedikit lebih tinggi. "Saya datang ke sini untuk melihat keadaan, bukan berperang dengan warga sendiri."Diana yang berdiri di sampingnya melirik cepat. Warga sendiri? Entah kenapa, kalimat itu terasa aneh keluar dari mulut Arjune. Pria yang selama ini bahkan tampak tidak peduli pada sebagian besar orang di sekitarnya, tiba-tiba menyebut mereka sebagai warga sendiri."Jangan percaya, Ketua!" teriak seorang pria dari kerumunan. "Itu cuma taktiknya saja!"Beberapa pria lain ikut mengangkat senjata mereka. Suasana yang sempat mereda kembali menegang. Diana menahan napas. Satu kesalahan kecil saja, dan keadaan bisa berubah menjadi kekacauan yang fatal.Pria yang dipanggil Ketua mengangkat satu tangan. "Diam." Suaranya tidak
Diana berjalan menyusuri jalan setapak yang licin di lereng bukit, mengikuti langkah kecil anak laki-laki di depan mereka yang sesekali menoleh dengan gelisah.Di sampingnya, Arjune melangkah tenang. Tanah merah yang menempel di pantofel kulit mahalnya sama sekali tidak mengurangi ketegasan setiap langkah pria itu.Melihat ketenangan tersebut, dada Diana justru semakin bergemuruh.Apa dia benar-benar tidak menyadari kalau ini mencurigakan? Atau... memang sengaja membiarkan dirinya masuk ke dalam jebakan?"Apa sebenarnya yang sedang Anda rencanakan, Pak Arjune?" tanyanya akhirnya. Suaranya sengaja ditekan agar tidak terdengar oleh anak yang berjalan beberapa meter di depan mereka.Arjune tetap menatap jalan setapak di hadapannya."Rencana apa?"Diana menghentikan langkahnya. "Anda bukan orang bodoh. Anda pasti tahu anak itu sedang memancing kita."Arjune ikut berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Diana yang berdiri beberapa undakan di bawahnya.Angin perbukitan menerbangkan rambut Di
“Pak Arjune beneran akan membayar saya, kan?” bisik Diana, mencondongkan tubuhnya ke arah Yanuar sembari melirik waspada ke arah Arjune yang sedang berbicara serius dengan kepala desa di sudut balai warga.Yanuar menaikkan sebelah alisnya, ikut memiringkan posisi duduknya agar suaranya yang rendah tidak memantul ke sekitar mereka. “Tentu saja. Kenapa? Apa Nona takut kami tipu?”“Tidak,” sahut Diana cepat, meremas pelan tali tas selempangnya yang sudah agak pudar. “Saya cuma takut kalian mendadak lupa.”Yanuar tidak bisa menahan senyum tipis melihat binar cemas sekaligus penuh harap di bola mata wanita itu. Sikap blak-blakan Diana soal uang justru terasa menyegarkan di matanya. “Kalau begitu, saya minta nomor rekening Anda. Saya akan urus pengirimannya sekarang juga.”Mendengar kata 'sekarang juga', senyum Diana langsung merekah sempurna. Wajah lelahnya akibat kurang tidur seketika menguap, digantikan binar semringah yang tidak bisa disembunyikan. Dengan gerakan kilat, ia merogoh tasny
“Kamu tahu? Selama tiga tahun ini, aku selalu mengutuk setiap malam yang turun hujan.”Suara bariton Arjune mengalun rendah, memecah keheningan fajar yang dingin. Tatapannya lurus menembus langit-langit kamar yang remang. Hujan di luar telah sepenuhnya berhenti, kini hanya menyisakan bunyi teratur dari sisa tetesan air yang jatuh dari ujung atap penginapan.Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, pria itu terbangun tanpa sentakan nafas memburu akibat mimpi buruk. Tidak ada kobaran api yang membakar ingatan. Tidak ada hamparan lautan hitam yang menelan Villeta. Tidak ada pula cekikan rasa bersalah yang biasa memaksanya terjaga di tengah malam buta.Perlahan, Arjune memiringkan kepalanya.Di sisi lain ranjang yang sama, Diana masih tertidur pulas. Tubuh mungilnya meringkuk erat di balik selimut tebal, memunggunginya. Rambut panjang wanita itu terurai berantakan, tersebar menutupi sebagian permukaan bantal. Kepanikan konyol akibat seekor kecoa terbang semalam tampaknya benar-ben
“Pergi!”Arjune refleks menarik tubuhnya menjauh begitu Diana berteriak dengan nada panik. Kerutan bingung muncul di dahinya. Ia sempat mengira wanita itu akhirnya akan menangis atau mengakui sesuatu.Namun, yang dilihatnya justru wajah Diana yang memucat drastis. Kedua matanya membelalak ngeri, bukan menatap dirinya, melainkan ke arah bahu kirinya."Menyingkir!" teriak Diana histeris.Sebelum Arjune sempat bereaksi, Diana meraih sandal karetnya yang tergeletak di dekat ranjang.Plak!Sandal itu menghantam tepat di bahu kiri Arjune—persis di atas perban lukanya."Akh!" Arjune meringis sambil memegang bahunya. "Kamu ini apa-ap—"Kalimatnya terputus.Seekor kecoak terbang melesat dari bahunya, mengepakkan sayap dengan suara berdengung yang membuat bulu kuduk meremang.Diana memekik."Kecoak!"Dalam sekejap, seluruh keberaniannya menghilang.Ia berlari menjauh tanpa arah, sementara serangga itu justru berputar-putar mengikuti pergerakannya."Aaa! Pergi! Jangan dekat-dekat!"Melihat kecoa
Malam semakin larut, namun atmosfer di dalam kamar penginapan tua itu justru terasa semakin memanas. Suara hantaman hujan deras pada kaca jendela kayu yang berderit menjadi satu-satunya latar belakang yang memecah keheningan mencekam di antara dua manusia tersebut.Diana memaksakan tawa kecil, meski kedengarannya kaku di telinganya sendiri. Ia buru-buru memundurkan kepalanya sedikit, berusaha mencari pasokan oksigen yang mendadak terasa menipis di sekitar mereka.“V-Villeta?” Ia menggeleng pelan, mencoba sok santai seolah nama itu hanyalah sekadar angin lalu. “Pak Arjune salah orang, ah. Nama saya Diana. Saya rasa Anda ini terlalu merindukan mantan istri Anda sampai-sampai berhalusinasi melihat wajahnya.”“Berhalusinasi, ya?”Arjune tidak langsung menjauh. Pria itu justru menyilangkan kedua tangannya di depan dada tegapnya yang masih bertelanjang. Di bawah temaram lampu kamar yang benderang sebelum badai semakin mengamuk, perban yang membalut lukanya tampak bergerak naik-turun seiring
Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi n
"...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan di
Villetta terjaga dengan perasaan seolah seluruh sarafnya baru saja disengat listrik. Arjune, suami pajangannya itu tidak mengizinkan dirinya untuk pergi tanpa sepengetahuan. Sejak kapan pria itu perlu peduli dengan dirinya? Viletta membuka mata, bukan karena alarm yang memekakkan telinga, bukan ju
"Buka baju kamu." Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan ke







