แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Izhaha
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-09 06:02:40

Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin menggila saat kaki Villetta yang terbalut gaun sutra biru belahan tinggi menyentuh lantai."Ikuti langkah saya, Letta," bisik Arjune rendah, memberikan tekanan kecil pada jemari dingin istrinya."Pak Arjune! Boleh diperkenalkan siapa wanita di sebelah Anda?" teriak salah satu jurnalis dari balik barikade.Arjune mengabaikan pertanyaan itu, menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat kokoh. Selama empat tahun pernikahan dingin mereka, ini adalah kali pertama Arjune membawanya kehadapan publik.

"Jangan tegang, Letta. Angkat wajahmu dan tersenyum," bisik Arjune tepat di telinganya."Ba-baik," sahut Villetta terbata, nyaris seperti embusan angin.Jemari panjang pria itu beralih melingkar posesif di pinggang Villetta, menarik tubuh wanita itu hingga menempel tanpa celah. Bagi ratusan pasang mata di ballroom, itu adalah gestur pelindung yang romantis dari seorang putra presiden. Namun bagi Villetta, rengkuhan itu terasa layaknya borgol tak kasat mata yang siap meremukkan tulangnya kapan saja."Tegakkan bahumu. Semua orang sedang melihat," tegur Arjune lagi, nadanya begitu lembut namun menyimpan perintah yang mutlak."Ya." Villetta memaksakan lengkungan di bibirnya.Ia melangkah dengan patuh seperti boneka pajangan yang dikendalikan oleh benang-benang perfeksionisme Arjune.

"Ah, Deputi Arjune! Akhirnya Anda membawa seseorang ," seru seorang Duta Besar, menghampiri mereka dengan gelas wine yang berdenting pelan. "Siapa wanita cantik yang beruntung ini?"Arjune menghentikan langkah, melempar senyum tipis yang sering ia gunakan di depan media—tenang, berwibawa, dan sangat memikat.

"Kenapa Anda tidak mengajak istri Anda?" tanya Mr. William kebingungan.

"Istri saya adalah harta yang terlalu berharga untuk saya ekspos ke depan publik," gumam Arjune dengan nada profesional yang begitu meyakinkan.

Mr. William tampak terenyuh. "Luar biasa, Anda justru memilih menjaga kesucian rumah tangga Anda, Pak Arjune. Saya sangat terkesan."

Rasa mual yang hebat langsung menghantam perut Villetta akibat kepura-puraan yang terasa seperti penghinaan kasar ini. Arjune baru saja mengurungnya di rumah, namun di depan orang-orang ini pria itu berlagak menjadi pahlawan yang penuh kasih.

"Pak Arjune memang selalu mengutamakan keselamatan istrinya di atas segalanya," timpal Villetta dingin, membuat Arjune sedikit meliriknya tajam.

Mr. William tertawa ramah, menatap Villetta dengan minat yang tulus. "Justru Istrinya yang harus berhati-hati, staf secantik Anda bisa mencuri perhatian suaminya."

"Anda terlalu memuji, Mr. William," jawab Villetta dengan senyuman manis yang jarang ia tunjukkan di rumah.

"Apakah Anda sudah memiliki seseorang? Saya punya rekan diplomat muda berbakat yang masih lajang, kalian akan sangat cocok."

Villetta merasakan tubuh Arjune menegang seketika, cengkeraman tangan pria itu di pinggangnya kini terasa jauh lebih keras.

"Saya akan sangat senang jika Anda memperkenalkannya pada saya," balas Villetta menantang.

"Maaf memotong, Mr. William," sela Arjune cepat, suaranya kini terdengar lebih rendah dan tajam. "Tapi Miss Villetta memiliki jadwal yang sangat padat sebagai asisten saya. Saya ragu dia punya waktu untuk perkenalan semacam itu."

"Oh, ayolah Arjune, jangan terlalu kaku pada stafmu sendiri," goda Mr. William sambil menepuk bahu Arjune.

"Maafkan kami, Mr. William. Sepertinya staf saya sudah sedikit kelelahan karena jadwal kami yang padat," kilat Arjune tajam, menyudahi obrolan.

Begitu sang Dubes menjauh dan kerumunan merenggang, suasana di antara keduanya mendadak membeku.

"Apa yang sedang kamu lakukan, Villetta?" tanya Arjune dengan suara rendah yang mengancam, wajahnya masih memoles senyum palsu untuk menyapa tamu lain yang melintas.

"Hanya membantu sandiwaramu. Bukankah kamu ingin aku menjadi pengganti yang sempurna?" balas Villetta ketus.

"Kamu baru saja melewati batas."

“Batas yang mana?” tantang Villetta, langsung menepis tangan Arjune dari pinggangnya

Rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot-otot lehernya menegang di balik kerah kemeja yang kaku. Pria itu tidak menyangka bahwa wanita yang selama empat tahun ini ia anggap sebagai istri yang patuh, berani menyela.

Tanpa sepatah kata pun, Villetta berbalik. Ia berjalan menjauh dengan langkah cepat, tidak peduli jika besok ia harus menghadapi murka Arjune. Saat ini, ia hanya ingin melarikan diri dari peran "pengganti" yang dipaksakan padanya.

Ia mencegat seorang pelayan yang lewat, menyambar segelas champagne dari nampannya, lalu menenggaknya hingga tandas.

“Bu, miniman itu—”

“Tinggalkan saya sendiri,” potong Villetta.

Cairan itu membakar kerongkongannya, namun tetap terasa lebih nyata dibanding setiap kata manis yang baru saja keluar dari mulut Arjune.

"Pria munafik," bisik Villetta pada gelas kosong di genggamannya. "Sangat pandai bersandiwara seolah dia adalah suami terbaik di dunia, padahal dia hanya mencintai citra sempurnanya."

Ia menyambar gelas kedua dari nampan pelayan lain yang lewat, lalu menatap kerumunan elit dari sudut aula yang sepi.

"Hebat sekali, Arjune Yudanegara," gumamnya dengan tawa getir yang tertahan. "Di rumah kamu memperlakukanku seperti pajangan, tapi di sini kamu mengarang cerita tentang keharmonisan rumah tangga.Ha..ha.. Berapa banyak topeng yang kamu punya sebenarnya?"

Beberapa jam berlalu dan Arjune membiarkannya begitu saja—mungkin pria itu terlalu sibuk memoles citranya di depan para petinggi negara. Villetta justru merasa bebas, menyibukkan diri dengan meneguk gelas ketiga, lalu kelima, hingga rasa hangat mulai menulikan rasa sakit di bahunya.

"Teruslah bermain dengan citramu, Arjune," bisik Villetta lirih dengan tatapan sayu yang mulai mengabur. "Bicaralah sesukamu pada dunia. Anggap saja aku stafmu, anggap saja aku orang asing."

Ia menenggak habis sisa cairan di gelasnya hingga tetes terakhir, menantang pusing yang mulai menyerang kepalanya.

Villetta menatap pantulan dirinya di dasar gelas kristal yang kosong, lalu tersenyum tipis. Namun, kemenangan itu tidak bertahan lama.

Perutnya mulai memberikan protes, cairan alkohol yang ia tenggak habis-habisan kini mulai mengaduk isi lambungnya, menciptakan rasa mual yang mendesak.

Villetta berjalan limbung, tangannya sesekali meraba dinding atau sandaran kursi untuk menjaga keseimbangan menuju kamar mandi.

Di tengah kerumunan tamu yang masih sibuk bersosialisasi, ia tidak menyadari ada sepasang mata menatapnya dari kejauhan.

Langkah Villetta terhenti tepat saat ia hampir mencapai lorong menuju toilet.

BOOM!

Sebuah ledakan keras tiba-tiba mengguncang gedung. Lantai yang ia pijak bergetar hebat, membuat Villetta tersungkur ke lantai marmer yang dingin.

Suara itu begitu memekakkan telinga, meninggalkan bunyi dengung panjang yang menyakitkan di kepalanya. Dunianya yang sudah berputar karena alkohol kini benar-benar jungkir balik.

Dalam samar penglihatannya yang kabur, asap mulai memenuhi ruangan dan jeritan histeris tamu undangan mulai pecah.

Di tengah kekacauan itu, Villetta merasakan sebuah tangan besar yang kuat menyambar lengannya, menariknya bangun dengan paksa sebelum sebuah dekapan mengunci tubuhnya. "Tetap di dekat saya, Letta! Jangan lepaskan!"

Villetta merasakan sejalur cairan hangat mengalir turun dari kening, membasahi pelipis dan mengaburkan pandangannya yang memang sudah limbung.

Di tengah kepulan asap dan bayangan orang-orang yang berlarian panik. Ia mengatakan sesuatu, bibirnya bergerak cepat tepat di depan wajah Villetta dengan raut wajah yang frustrasi. Namun, suara itu tidak sampai ke pendengaran Villetta. Kesadarannya mulai terkikis, ditarik oleh kegelapan yang lebih kuat dari pelukannya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 63

    Udara dingin merayap perlahan dari celah dinding batu, menusuk kulit kaki Diana hingga memaksanya membuka mata.Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, sisa-sisa kehangatan semalam mendadak menguap, berganti menjadi denyut penyesalan yang menghantam telak di dada. Suara tetesan air yang jatuh membentur batu menggema teratur—seolah sedang menghitung tiap detik kepanikan yang kian membuncah di dalam kepalanya.Nyut...Rasa nyeri di tulang pinggangnya menarik Diana kembali pada kenyataan. Di antara rasa sakit fisik itu, pikirannya mulai bersahutan liar. Apa yang harus ia lakukan? Kata apa yang sanggup ia ucapkan saat harus menatap mata Arjune dalam keadaan sadar penuh?Belum sempat Diana merangkai kata, sebuah kehangatan tiba-tiba menyelimuti bahunya. Seseorang menyelimutinya."Enggh..." desah Diana pelan."Tidurmu nyenyak?"Suara berat itu terdengar tepat di dekat telinganya. Belum sempat Diana mencerna situasi, sepasang lengan kekar merengkuh pinggangnya dari belakang, menarik tubuhnya

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 62

    Pada akhirnya, Diana kembali berakhir di pelukan yang sama.Mungkin... tidak apa-apa kalau malam ini ia menyerah sebentar. Hanya sementara, ia cuma ingin menikmati rasa hangat ini.Diana tak peduli lagi apakah saat ini Arjune menganggapnya sebagai Villeta atau Diana. Baginya, mau sejauh apapun ia mencoba lari, takdir selalu membawanya ke garis akhir yang sama—meluruh pasrah di dalam dekapan pria ini.Sial.Sentuhan Arjune tak lagi ragu. Telapak tangannya yang lebar dan panas merayap naik dari pinggang Diana yang basah akibat sisa air hujan, menelusuri tiap lekuk tubuhnya dengan gerakan posesif—seolah sedang menuntut kembali hak milik yang sempat terenggut darinya selama tiga tahun terakhir.Napas mereka beradu hebat, makin lama makin liar. Setiap kali jemari Arjune mengusap kulitnya, sengatan gairah merayap cepat menyengat seluruh saraf Diana. Wanita itu meremas erat bahu tegap Arjune, melengkungkan punggungnya saat rasa melayang makin melahap habis sisa akal sehatnya.Arjune menyusuri

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 61

    “...Tampan.”“Hah?”Diana perlahan mendongakkan wajahnya. Semburat merah merayap hangat memenuhi pipinya yang semula pucat. Dengan mata yang menyorot sayu dan tak fokus, ia menatap lekat wajah Arjune—seolah sedang mengamati sesuatu yang teramat menarik.“Pak Arjune...” gumamnya pelan. Bibirnya merekah lembut, membentuk senyum polos yang sedikit kekanak-kanakan. “Anda sangat tampan.”Arjune mengernyitkan dahi. “Apa-apaan ini? Kamu sedang menggodaku?”Diana cepat-cepat menggeleng, walau gerakannya terasa lambat—seperti kesadarannya yang mulai mengambang di udara.“Enggak...”Ia mengangkat telunjuknya yang bergetar halus, menunjuk tepat di depan hidung Arjune.“Kamu...” bisiknya lirih, disusul kekehan geli yang lolos begitu saja. “Sangat... tampan.”Arjune menatap wanita itu tanpa berkedip. Ada yang tidak beres. Cara Diana berbicara dan menatapnya terasa terlalu jujur, terlepas dari sifat aslinya yang biasa tertutup.“Kamu kenapa?” tanya Arjune pelan, melirik curiga. “Jangan bilang kamu

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 60

    Kata orang, Diana adalah anak yang beruntung.Ia terlahir dari keluarga berada, dengan seorang ayah yang memiliki reputasi besar di panggung politik. Wajahnya bahkan sangat mirip dengan sang kakak, Viona. Namun, kemiripan fisik itu tidak lantas membuat takdir mereka berjalan sejajar. Viona begitu mudah bergaul dan selalu mampu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Sementara Diana adalah gadis pemalu yang canggung, tidak mudah membuka percakapan, dan lebih sering memilih menarik diri ke dalam kesendirian.Diana tidak pernah keberatan dengan semua ketimpangan itu.Setidaknya, sampai sebelum pernikahan politiknya dengan Arjune terjadi.Pernikahan yang sejak awal tidak pernah benar-benar ia impinkan itu justru perlahan menjelma menjadi sepotong kebahagiaan tak terduga. Diana pernah menggantungkan harapan bahwa pernikahan itu akan memberinya kehangatan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Namun, kenyataan tiga tahun kehidupan mereka justru terbentang penuh jarak. Tiga tahun hid

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 59

    Pria berparang itu menurunkan senjatanya beberapa sentimeter. Matanya menyipit, menatap Arjune seolah sedang berusaha menemukan celah dari sikap tenang pria tersebut."Menyerah?" Nada suaranya terdengar tidak percaya. "Segampang itu?"Arjune mengangkat kedua tangannya sedikit lebih tinggi. "Saya datang ke sini untuk melihat keadaan, bukan berperang dengan warga sendiri."Diana yang berdiri di sampingnya melirik cepat. Warga sendiri? Entah kenapa, kalimat itu terasa aneh keluar dari mulut Arjune. Pria yang selama ini bahkan tampak tidak peduli pada sebagian besar orang di sekitarnya, tiba-tiba menyebut mereka sebagai warga sendiri."Jangan percaya, Ketua!" teriak seorang pria dari kerumunan. "Itu cuma taktiknya saja!"Beberapa pria lain ikut mengangkat senjata mereka. Suasana yang sempat mereda kembali menegang. Diana menahan napas. Satu kesalahan kecil saja, dan keadaan bisa berubah menjadi kekacauan yang fatal.Pria yang dipanggil Ketua mengangkat satu tangan. "Diam." Suaranya tidak

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 58

    Diana berjalan menyusuri jalan setapak yang licin di lereng bukit, mengikuti langkah kecil anak laki-laki di depan mereka yang sesekali menoleh dengan gelisah.Di sampingnya, Arjune melangkah tenang. Tanah merah yang menempel di pantofel kulit mahalnya sama sekali tidak mengurangi ketegasan setiap langkah pria itu.Melihat ketenangan tersebut, dada Diana justru semakin bergemuruh.Apa dia benar-benar tidak menyadari kalau ini mencurigakan? Atau... memang sengaja membiarkan dirinya masuk ke dalam jebakan?"Apa sebenarnya yang sedang Anda rencanakan, Pak Arjune?" tanyanya akhirnya. Suaranya sengaja ditekan agar tidak terdengar oleh anak yang berjalan beberapa meter di depan mereka.Arjune tetap menatap jalan setapak di hadapannya."Rencana apa?"Diana menghentikan langkahnya. "Anda bukan orang bodoh. Anda pasti tahu anak itu sedang memancing kita."Arjune ikut berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Diana yang berdiri beberapa undakan di bawahnya.Angin perbukitan menerbangkan rambut Di

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 6

    Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kin

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 5

    Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi n

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 4

    "...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan di

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 1

    "Buka baju kamu." Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan ke

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status