LOGINKeesokan paginya, Renata kembali duduk di meja kerjanya dengan semangat baru. Percakapan bersama Dirga semalam masih teringat jelas. Bukan karena semua keraguannya langsung menghilang, melainkan karena dia kini memiliki cara pandang yang lebih baik terhadap dirinya sendiri.Renata tidak perlu membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain. Yang perlu dia lakukan hanyalah menyelesaikan satu demi satu hal yang sudah dimulainya.Renata membuka dokumen skripsi, memeriksa daftar revisi, lalu mulai bekerja. Dia menghabiskan waktu beberapa jam untuk merapikan bagian pembahasan dan memastikan setiap referensi yang digunakan telah dicantumkan dengan benar.Menjelang siang, Renata berhenti sejenak untuk membaca keseluruhan bagian yang sudah diperbaiki. Ada beberapa kalimat yang masih perlu disempurnakan, tetapi secara umum hasilnya jauh lebih baik daripada sebelumnya.Renata menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengembuskan napas lega. Kemudian, dia memeriksa jadwal konsultasi yang dikirimka
Malam itu, Renata dan Dirga benar-benar pergi makan malam bersama seperti yang telah mereka rencanakan. Mereka memilih sebuah restoran kecil yang terletak tidak jauh dari tepi Sungai Serayu. Tempat itu tidak terlalu ramai, dengan pencahayaan hangat dan jendela besar yang memperlihatkan pantulan lampu kota di permukaan air.Renata duduk di hadapan Dirga sambil membaca menu. Sesekali dia melirik pria itu, yang sejak tadi memperhatikannya dengan senyum tipis.“Ada apa?” tanya Renata akhirnya.“Tidak ada.”“Kalau tidak ada, kenapa melihatku terus?”Dirga meletakkan menu di atas meja. “Aku sedang menikmati pemandangan.”Renata mengerutkan hidung. “Pemandangan di luar jendela ada di sebelah sana, Mas.”“Aku tahu.”“Lalu, kenapa melihatku?” tanya Renata.“Karena pemandangan di depanku lebih menarik," jawab Dirga.Renata terdiam. Dia sudah beberapa kali mendengar Dirga melontarkan kalimat manis dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kata-kata pada saat yang tidak terduga.“Mas Dirga sekara
Ternyata Renata tiba di rumah lebih awal. Dia mendapati Bi Sari sedang menyiram tanaman di halaman kecil.“Sudah pulang, Nyonya?”“Iya, Bi. Aku tadi belajar di perpustakaan.”“Bagaimana skripsinya?”Renata meletakkan tas di kursi teras, lalu menghampiri Bi Sari.“Semakin mendekati selesai. Masih ada beberapa bagian yang harus diperbaiki, tetapi aku sudah lebih mengerti apa yang perlu kulakukan.”Wajah Bi Sari langsung cerah.“Syukurlah. Bibi ikut senang mendengarnya.”Renata membantu menyiram tanaman yang belum terkena air. Dia menyukai kegiatan sederhana semacam itu. Setelah berjam-jam menatap layar laptop, melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan tugas kuliah membuat pikirannya terasa lebih segar.“Bi,” panggil Renata setelah beberapa saat.“Iya, Nyonya?”“Dulu, apa Mas Dirga juga sering bekerja sampai lupa waktu?”Bi Sari tertawa kecil.“Sering sekali. Kalau sudah sibuk, Tuan bisa duduk berjam-jam di ruang kerja. Makan pun kadang harus diingatkan.”Renata membayangkan Dirga
Pagi itu, Renata sudah duduk di depan laptop ketika Dirga selesai bersiap untuk berangkat ke kantor. Beberapa lembar catatan tersusun rapi di atas meja, sementara secangkir teh yang dibuatkan Bi Sari mulai kehilangan kehangatannya karena terlalu lama dibiarkan.Renata sedang memeriksa kembali revisi skripsinya. Setelah konsultasi terakhir, dia merasa semakin dekat dengan tahap akhir, meskipun masih ada beberapa bagian yang membutuhkan perhatian lebih. Dirga berhenti di ambang pintu ruang kerja itu.“Belum sarapan?" tanya Dirga.Renata mengangkat wajah. “Sebentar lagi. Aku mau menyelesaikan satu bagian ini dulu.”Dirga melirik layar laptop, lalu memandang istrinya dengan ekspresi yang membuat Renata langsung mengerti bahwa dirinya tidak akan dibiarkan melewatkan sarapan.“Renata.”“Iya, Mas?”“Kamu bisa melanjutkannya setelah makan," lanjut Dirga.Renata mengembuskan napas, kemudian tersenyum kecil. “Baiklah. Aku menyerah.”“Bagus. Aku tidak ingin berdebat dengan istriku hanya karena s
Keluar dari ruang dosen, Renata segera menghubungi Dirga melalui pesan singkat.[Mas, konsultasinya berjalan lancar.]Balasan datang beberapa menit kemudian.[Syukurlah. Apa kata dosenmu?][Tinggal beberapa revisi lagi. Kalau semuanya selesai, aku bisa membicarakan tahap berikutnya.][Aku bangga padamu.]Renata membaca pesan itu berulang kali. Empat kata sederhana tersebut membuat matanya terasa hangat. Dia tahu Dirga memiliki banyak kesibukan. Pria itu mungkin sedang menghadiri rapat atau memeriksa laporan ketika membalas pesannya. Namun, dia tetap menyediakan ruang untuk mendengarkan kabar tentang perjuangan Renata.Setelah membaca pesan itu, Renata segera mengetik balasan.[Aku masih harus bekerja keras.][Aku tahu. Dan aku akan tetap mendukungmu. Tapi, jangan lupa makan siang.]Renata tertawa kecil membaca pesan terakhir. Perhatian Dirga memang sering muncul dalam bentuk sederhana. Dia tidak selalu memberikan hadiah atau mengucapkan kata-kata romantis. Terkadang, wanita itu hanya
Pagi itu, Renata bangun lebih awal daripada biasanya. Setelah merapikan tempat tidur, dia membuka tirai jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar. Udara pagi terasa sejuk, sementara suara kendaraan dari kejauhan mulai terdengar menandakan aktivitas kota telah dimulai.Wanita itu melirik Dirga yang masih berada di kamar mandi, lalu tersenyum kecil. Beberapa hari terakhir, kehidupan mereka terasa semakin dekat. Tidak ada lagi kecanggungan yang terlalu besar ketika mereka duduk berdampingan atau berbagi cerita sebelum tidur. Renata bahkan mulai terbiasa mencari tangan Dirga saat mereka berjalan bersama. Hal-hal yang dahulu membuatnya malu kini terasa alami, seolah hatinya perlahan menemukan tempat yang tepat untuk menetap.Setelah selesai bersiap, Renata turun terlebih dahulu ke ruang makan. Bi Sari sedang menata sarapan ketika melihatnya datang.“Pagi, Nyonya. Tumben sekali sudah rapi sejak tadi.”“Aku mau pergi ke kampus lebih awal, Bi. Ada beberapa hal yang ingin kutanyak







