Home / Romansa / Istri Rahasia untuk Kakak Ipar / 28. Kehamilan yang diharapkan

Share

28. Kehamilan yang diharapkan

Author: Banyu Biru
last update Last Updated: 2026-02-15 22:46:57

“Sandra?”

Sandra terkesiap saat Bastian menyentuh bahunya pelan.

“Kita mulai sekarang, ya.”

Ia hanya bisa mengangguk sambil membuang nafas.

"Ayo, berbaring dulu!" Perintah Bastian.

Sandra membaringkan tubuhnya di ranjang pemeriksaan sementara Elena berdiri di sisi lain ruangan, memperhatikan dengan penuh harap.

Bastian mulai dengan USG transvaginal untuk melihat kondisi ovarium. Dengan monitor yang menyala, menampilkan gambaran abu-abu yang bergerak pelan.

Awalnya ekspresi Bastian
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   50. Belum Waktunya

    Kondisi Sandra yang begitu bagus beberapa hari ini, membuatnya sedikit bermalas-malasan di villa. Sepagian, entah sudah beberapa kali ia lari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. "Tara.. bisa gak kamu gak di sini?" Sandra menatap sebal Dewantara yang juga membenamkan kepalanya di wastafel. "Sandra.... aku juga mual!" Jawabnya lemah. Sandra hanya memijit keningnya pelan. Menahan pusing yang selalu dirasakanya setiap pagi. Seharusnya Dewantara bisa menenangkannya di masa trimester awal yang penuh drama. Tapi alih-alih menenangkan, Dewantara justru merasakan semua yang ia rasakan. "Aku akan meminta Bastian untuk merawatmu!" Dewantara akhirnya menegakkan tubuhnya dan menatap bayangan wajahnya yang pucat di cermin. "Kenapa gak ke rumah sakit saja? Aku bisa bedrest selama beberapa hari!" Usul Sandra. Dari pada seperti tahanan, ia lebih memilih istirahat total di rumah sakit selama beberapa hari. "Lalu aku? Sendirian di sini?" Dewantara menarik sudut bibirnya.

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   49. Selamat Tinggal

    "Aku hamil, Bara!" Elena menatap Bara yang masih berdiri di depan pintu. Begitu ia dapati dua garis di testpacknya, Elena segera memacu mobilnya siang itu juga ke kost Bara. "Masuklah dulu. Kita bicara di dalam!" Bara menatap sekitar. Untung saja, penghuni kost yang lain masih belum pulang. Elena mengekor, mengikuti Bara yang telah duduk lebih dulu di sofa. "Bara... aku hamil!" Elena kembali mengulangi kata-katanya. Mendengar pengakuan Elena, Bara tak lagi merasa kaget. Ia menoleh. Memandang Elena yang tampak panik di sampingnya. Tentu saja Elena akan hamil, ia telah menghitung masa subur Elena dengan mudah. "Bara!" tangannya menyentuh paha Bara sambil menggoyangnya pelan. "Kamu dengar kan, aku ngomong apa?" Elena mendecak sebal. Bara selalu memanjakannya, tapi akhir-akhir ini, laki-laki itu terkesan cuek. "Aku dengar!" Bara akhirnya menjawab. "Jadi, kapan kamu nikahin aku?" Elena mendekat. Tersenyum penuh harap. "Nikah?" Ulang Bara. Elena mengangguk cepat. M

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   48. Langkah dalam Bayangan

    Dewantara datang bersama Ardi menuju hotel Santika. Bukan hotel besar tapi memang itulah tujuannya. Tak ingin banyak orang yang tahu. Langkahnya mantap. Tak sedikitpun tampak keraguan. "Atas nama Bapak Ardi ya?" petugas lobby membuka catatan. Ardi mengangguk. Ia menahan senyum sambil melirik Dewantara yang kali ini berpakaian lebih santai. "Silakan, Pak!" Seorang petugas dari arah lain datang setelah petugas lobby memberinya isyarat tangan. Dewantara dan Ardi segera melangkahkan kaki menuju ruangan yang dimaksud. Ruangan itu tidak terlalu besar tapi cukup elegan. Dengan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya lembut ke seluruh sisi menciptakan suasana yang tenang. Setelah Ardi menutup pintu, Dewantara segera duduk di hadapan seorang lali-laki. Ia duduk dengan tenang di kursinya. Sorot matanya tajam, namun wajahnya tampak serius seperti biasa. Ardi duduk tak jauh dari Dewantara. Pria itu memegang tablet kecil di tangannya, namun sesekali melirik ke arah orang yang dud

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   47. Permainan Kotor

    "Kenapa kita harus ke hotel? Aku lebih puas kita di rumah!" Pertanyaan Rendra menunjukkan ketidakpuasan. Ia beringsut dan bersandar di bahu ranjang sambil menyalakan sebatang rokok. Tak mempedulikan tubuhnya yang masih telanjang di depan Desi. "Ada Wiryawan di rumah!" Jawab Desi sambil menjauh. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Gaun marunnya sudah kembali menutupi tubuhnya dengan rapi, seolah beberapa menit lalu tidak terjadi apa-apa di antara mereka. "Cepat berpakaian!" Desi melemparkan kemeja Rendra yang masih tercecer di sebelahnya. Dengan mendengus, Rendra menerima kemeja itu lalu memakainya. Pria itu menutup kancing bajunya satu per satu dengan santai, karena hubungan terlarang mereka memang sudah menjadi hal yang biasa. Desi berdiri lalu berjalan ke meja dan menuangkan dua gelas minuman dari botol whiskey yang telah tersedia. “Minum dulu,” katanya ringan sambil menyerahkan satu gelas pada Rendra. Ia tahu, ia tak bisa m

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   46. Pemilik yang Sesungguhnya

    Sejak pertemuannya dengan Elena di ballroom Hotel Grand Mahardika itu, sesuatu berubah dalam kehidupan Dewantara. Hampir setiap hari ia mengirim kurir untuk datang ke rumah keluarga Wiryawan. Kadang sebuah buket bunga mawar putih yang mahal, kadang kotak perhiasan, atau tas dan pakaian edisi terbatas yang bahkan belum dirilis di Indonesia. Sesekali, ia juga mengirimkan makanan dari restoran bintang lima. "Dari Dewantara lagi, Ma?" Elena melirik ibunya dengan tatapan mata malas. Berbeda dengan Elena, Desi justru sangat senang, anaknya mendapatkan perhatian Dewantara. "Lihat ini!" Suaranya begitu keras. Seperti ingin menunjukkan pada semua orang. Termasuk Sandra yang baru melangkahkan kakinya masuk. Gadis itu hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan langkahnya ke kamar. Ia tak pernah tertarik dengan urusan seperti itu. "Hadiah khusus untukmu, dari Dewantara Jayadi Rukmana!" Mata Desi berkilat bangga menatap kartu-kartu kecil yang selalu bertuliskan nama yang sama."Aneh. Aku gak

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   45. Awal Bertemu

    Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom Hotel Grand Mahardika, salah satu hotel paling bergengsi di Jakarta. Malam itu, hotel penuh dengan para tamu penting yang sebagian adalah pengusaha, pejabat, serta keluarga-keluarga yang dianggap terpandang. Sebuah acara tahunan yang biasa diadakan keluarga Rukmana, ayah kandung dari Helen Rukmana. Bersama Bagaskara suaminya. Helen menyalami tamu. undangan yang mulai berdatangan untuk mengucapkan selamat atas perayaan ulang tahun ke-40 perusahaan besar keluarga. "Kau lihat kan, Elena. Di sini banyak pengusaha muda yang datang. Mereka semuanya orang kaya, Sayang!" Desi terus saja berbisik lirih di telinga Elena, sejak mereka turun dari mobil. "Ayolah, Ma. Sekarang gak jaman perjodohan!" Elena memutar bola matanya. Baginya tak ada laki-lski lain kecuali satu pria, sayangnya ia bukan penguasaha. Itu sebabnya, sang ibu menolak mentah-mentah hubungan mereka. "Jangan pernah mendekati laki-lami miskin, Elena. Atau kau akan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status