تسجيل الدخولKeira menahan napasnya di lantai, memandangi jam tangan miliaran rupiah itu dengan otak yang berputar cepat. Aksa yang menyadari tatapan Keira langsung dengan tenang menarik turun lengan *hoodie*-nya, lalu berbalik mengemas kotak perkakas. "Sudah selesai, Neng. Cuma masalah freon sedikit. Saya permisi dulu," ujar Aksa dengan suara diredam, lalu melangkah cepat keluar dari pintu utama sebelum Keira sempat menegurnya. Alana mengembuskan napas lega yang teramat panjang setelah pintu tertutup. "Hah... akhirnya selesai juga. Untung abangnya cepat kerjanya." Keira bangkit berdiri, menepuk-nepuk celananya sambil menatap pintu dengan senyum misterius. "Iya, Al. Cepat banget. Bahkan untuk ukuran tukang AC, jam tangannya... keren banget ya. Kelihatan seperti barang langka." Jantung Alana kembali mencelos. "A-Ah? Masa sih? Mungkin itu jam tangan KW yang beli di pasar kaget, Kei. Zaman sekarang kan banyak yang mirip." "Mungkin saja," sahut Keira pendek, tidak ingin membongkar kartu as-nya se
"I-Itu bau diffuser ruangan tahu, El! Aroma sandalwood plus cedarwood. Aku sengaja beli biar tidurnya nyenyak, mirip bau spa hotel," sela Alana super cepat, buru-buru menyambar sebotol pelembap dari meja rias dan menyodorkannya ke tangan Elara. "Ini skincare-nya. Yuk ganti baju di kamar mandi luar, nanti filmnya keburu habis!" Elara mengendus pelembap itu beralih fokus. "Oh, kirain. Wanginya cowok banget soalnya." Setelah Elara berhasil digiring keluar, Alana bersandar di pintu kamar mandi dalam dengan sisa tenaga yang ada. Sungguh malam yang menguras umur.*** Keesokan paginya, pukul tujuh tepat. Pagi hari membawa kepanikan babak baru. Aksa memiliki jadwal sebagai ketua penguji sidang Bab 2 mahasiswa lain pukul delapan tiga puluh. Ia harus keluar dari apartemen, namun masalahnya, Keira sudah bangun dan duduk tenang di meja makan luar sambil membaca tabletnya. Di dalam kamar utama, Aksa menatap penampilannya di cermin dengan dahi berkerut dalam. Ia mengenakan hoodie kebesaran warn
Alana tertawa hambar sambil mengelus pergelangan kakinya yang sama sekali tidak sakit. "I-Iya, Kei. Lantainya licin banget, makanya agak oleng tadi. Yuk, langsung masuk ke ruang tengah saja!"Keira tidak menjawab, hanya tersenyum tipis yang membuat bulu kuduk Alana meremang. Begitu masuk ke ruang tengah, Elara langsung melompat ke atas sofa beludru raksasa. "Al! Gila, TV lo segede gaban begini! Ada Netflix-kan? Malam ini kita wajib movie marathon!""Ada kok, El. Bebas pakai saja," jawab Alana, berusaha bersuara senormal mungkin. Pandangannya melirik ke arah pintu kamar utama yang tertutup rapat. 'Mas Aksa pasti ada di dalam,' batinnya menjerit panik."Gue mau ganti baju dulu ya, baju gue bau asap knalpot motor Bara tadi," kata Elara sambil bangkit berdiri."Eh, jangan di kamar utama, El!" seru Alana cepat, menghadang jalan Elara. "K-Kamar mandi luar ada di sebelah sana. Baju ganti aku ambilin dulu, kalian tunggu di sini saja ya!"Alana langsung melesat masuk ke dalam kamar utama dan m
Keira meremas struk apotek itu di dalam genggamannya, menyembunyikannya ke dalam saku kulot sebelum Alana menyadari keterkejutannya. Pikirannya berputar liar. 'Susu ibu hamil? Vitamin pranikah? Atas nama Pak Aksa?' Detektif di dalam diri Keira mendadak bangun total. Tak lama kemudian, Elara kembali masuk ke lobi setelah memastikan Bara benar-benar melesat pergi dengan motornya. "Hah! Capek banget badak satu itu kalau lagi ngamuk. Al, kamu nggak apa-apa?" "Aku nggak apa-apa, El. Makasih ya udah bantuin," jawab Alana, napasnya masih agak memburu karena sisa ketegangan tadi. Keira berjalan mendekat, memasang senyum manis yang sengaja dibuat sealami mungkin. "Al, ini udah hampir jam dua belas malam. Angkutan umum udah nggak ada, kosan aku juga gerbangnya pasti udah dikunci jam sebelas tadi. Kosan Elara 'kan searah sama aku. Gimana kalau... malam ini kita menginap di tempat kamu aja?" "Eh?" Alana tersentak, matanya melebar panik. "M-Menginap di sin
"Sekarang jawab jujur, Al... Kenapa kamu bisa tinggal di apartemen mewah milik Pak Aksa, dosen pembimbing kamu sendiri, malam-malam begini?!" Suara Bara yang meninggi laksana guntur di lobi Kuningan Residence yang sunyi. Cengkeramannya di bahu Alana membuat gadis itu terpaku dengan wajah pias. Di samping mereka, Elara dan Keira melangkah mundur satu langkah, mata mereka membelalak sempurna menanti jawaban. Atmosfer lobi mendadak mencekam, siap meruntuhkan seluruh dinding rahasia Alana. "Ada masalah di sini, Saudara Bara?" Sebuah suara bariton yang teramat familier, dengan nada santai namun sarat akan wibawa yang memotong ketegangan, tiba-tiba terdengar dari arah lift koridor utama. Semua kepala refleks menoleh. Aksa Dewantara berjalan mendekat dengan langkah kasual. Tidak ada setelan jas formal atau kemeja kaku dosen yang biasa ia kenakan di kampus. Malam ini, Aksa hanya memakai kaus oblong putih polos berpotongan pas badan, celana jins hitam,
Jantung Alana seakan berhenti berdetak melihat wajah Bara yang terpampang jelas di layar interkom unit penthouse. Hubungan mereka yang belum berakhir, namun merenggang karena pernikahan siri ini, membuat kehadiran Bara selalu menjadi bom waktu. "M-Mas Aksa... bagaimana ini?" bisik Alana panik, suaranya bergetar hebat. "Bara nekat sekali sampai naik ke atas. Kalau Papa dan Mama lihat..." Aksa tetap mempertahankan ekspresi tenangnya yang dingin, meskipun kilat amarah dan cemburu sempat melintas di matanya. Aksa menoleh sekilas ke arah ruang tengah, di mana Papa Damar dan Mama Ratna sedang berbincang santai setelah menempuh perjalanan jauh. Sebagai sesama kalangan pengusaha yang menghormati persahabatan lama, kedatangan orang tua Alana adalah kehormatan, sekaligus ujian berat untuk menyembunyikan status pernikahan siri ini dari publik kampus. "Alana, dengarkan saya," ucap Aksa dengan suara rendah namun teramat tegas, mencengkeram lembut kedua bahu Alana. "Jangan biarkan dia membuat ke
Begitu Aksa menutup rapat sore itu dengan ketukan pulpen yang dingin, Alana langsung mengemas barang-barangnya dengan gerakan kasar. Jantungnya masih berdegup kencang, separuh karena emosi, separuh lagi karena sensasi gila di bawah meja yang baru saja berakhir. "Al, lo mau langsung bali
Aksa melangkah masuk ke dalam ruang komite tanpa mengalihkan pandangannya dari tautan tangan Alana dan Bara. Suara langkah sepatunya terdengar begitu intimidatif di tengah keheningan yang mendadak mencekam. Alana yang panik setengah mati langsung menarik tangannya dengan sentakan kasar,
Ancaman Aksa semalam sukses membuat Alana tidak bisa tidur nyenyak. Alhasil, pagi ini ia datang ke kelas Manajemen Strategis dengan kantung mata yang menghitam dan wajah ditekuk.Suasana kelas riuh rendah sampai ketukan pulpen di atas meja dosen seketika membungkam seisi ruangan. Aksa be
Napas Alana tertahan di tenggorokan. Punggungnya yang membentur pintu kayu apartemen terasa kaku, sementara tubuh tegap Aksa mengurungnya begitu rapat. Aroma sandalwood bercampur mint yang maskulin menguasai indra penciumannya, mengikis habis aroma restoran tempat ia makan bersama Bara tadi.







