Home / Rumah Tangga / Istri Tawanan Abdi Negara / Bab 6 - Kehadiran Yang Tak Diharapkan

Share

Bab 6 - Kehadiran Yang Tak Diharapkan

Author: ekaphrp
last update Last Updated: 2025-07-14 17:01:35

Usai menyelesaikan misi di luar kota, Yudha langsung kembali. Ada satu misi lain yang harus diselesaikan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, yaitu meluruskan apa yang terjadi. Bahwa sesungguhnya ia tidak tahu tentang riwayat alergi sang istri. Setelah beberapa hari menghilang tanpa jejak, ia yakin—Tavisha yang mudah sekali berapi-api akan tersulut emosi. 

Untuk itu, langkah kakinya berat dan cepat, seolah dibersamai oleh badai yang tak terlihat. Yudha bahkan belum sempat mengganti seragam yang mungkin tampak lusuh. Tapi ia tidak peduli. 

Bahkan, matanya terlihat memerah bukan karena kantuk, tapi karena ia tidak tidur dalam memimpin misi penyelamatan sandera yang menegangkan. Namun, yang menguasai pikirannya sejak kembali ke ibu kota bukanlah misi tersebut, melainkan satu nama—Tavisha.

Ia tak sempat ke rumah atau bahkan menghubungi komandannya. Begitu mendarat, ia hanya meminta izin darurat ke markas untuk langsung menuju rumah sakit. Dada Yudha sesak karena rasa bersalah. Ia mendengar kondisi alergi berat yang diderita oleh Tavisha, karena kelalaiannya. Sementara dirinya … suami sah perempuan itu, justru tak ada disisinya ketika nyaris kehilangan nyawa.

Yudha menatap nomor kamar dari ujung lorong. Ada sedikit rasa takut di sana. Bukan karena kondisi sang istri, tapi takut melihat reaksi Tavisha terhadapnya. Ia pun mendekat, perlahan. Namun, langkah kakinya terhenti ketika mendengar canda tawa dari dalam kamar. 

“Dasar brengsek!” 

“Lo ngatain gue brengsek?”

“Bukan lo, tapi tuh lelaki!”

Suara Tavisha terdengar kesal, namun ada sedikit kelegaan. Sebab, melihat sisi perempuan itu yang masih sama. Sisinya yang tidak pernah mengenal takut. 

Yudha membeku di balik pintu yang sedikit terbuka. Hanya ada segaris celah, namun cukup bagi sorot matanya untuk memandang dua sosok di dalam ruangan. 

Tavisha bersandar pada bantal, rambutnya dicepol seadanya. Wajahnya tampak lebih segar, meski masih pucat. Di sisinya, duduk seorang laki-laki dengan jaket biru dongker. 

Mereka tertawa bersama dan saling menyindir satu sama lain. Jarak mereka memang tidak bersentuhan, tapi cukup dekat untuk membuat rahang Yudha mengetat.  

Dalam sekejap, rasa lelah dan khawatir Yudha luruh digantikan sensasi pahit yang menohok. Ia tidak marah, tepatnya belum tahu. Tapi hatinya seperti diremas dari dalam. Diam-diam hancur. 

‘Siapa lelaki itu? Kenapa mereka sangat dekat? Dan Tavisha terlihat nyaman?’

Perlahan tapi pasti, Yudha mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar. Seketika itu pula, kedua pasang mata disana langsung menoleh. Tatapan Tavisha membeku. Sementara Samuel refleks beranjak, seperti tengah tertangkap basah berselingkuh dengan istri orang. 

Yudha berdiri tegap di ambang pintu, tubuhnya menjulang tinggi. Seragam lorengnya masih kumal, tapi justru membuatnya tampak semakin menakutkan. Mata tajamnya menatap Samuel, lalu beralih ke arah Tavisha yang memucat. 

“Maaf mengganggu, sepertinya saya datang di waktu yang kurang tepat.”

Tavisha seperti tertohok oleh kalimat itu. Tatapan Yudha begitu tajam, seolah mengatakan bahwa ia tidak suka kehadiran sahabatnya disana. Entah mengapa, tiba-tiba saja lidahnya kelu. Jantungnya jadi berdetak tak karuan. 

Sama halnya seperti yang Samuel rasakan, Tavisha merasa seperti seorang istri yang tertangkap basah berselingkuh dibelakang suaminya sendiri. Padahal bukan seperti itu ….

“Ha-halo. Saya Samuel, sahabatnya Tavisha.”

Meski gugup, Samuel tetap mengulurkan tangan itu. Namun, Yudha hanya menatap uluran tangan itu cukup lama. Matanya bahkan tidak bergerak sedikit pun.

Dalam sekejap, udara di dalam kamar berubah jadi berat, seolah-olah ada gelombang amarah yang tidak pernah terucap. 

Tatapan Yudha tidak sekadar menolak jabatan tangan, tapi juga mengatakan bahwa kehadiran Samuel tidak diharapkan disana.

Samuel menarik kembali tangannya perlahan, gerak-geriknya canggung. Ia bisa merasakan desakan tak terlihat untuk segera pergi. Ia seperti seseorang yang baru saja melanggar batas tak kasatmata. Ia menoleh pada Tavisha, seolah meminta persetujuan diam-diam. Tapi perempuan itu hanya membisu. Matanya tertuju pada Yudha, sang suami yang tiba-tiba muncul dalam wujud berbeda—bukan hanya fisik saja, tapi juga aura yang mengitarinya. 

“Kalau begitu, gue pamit dulu, ya.” 

Samuel bergerak kaku seraya menatap Tavisha dan Yudha silih berganti. 

“Jangan lupa, laporan penelitian lo udah ditungguin sama pembimbing,” ucap Samuel, seolah kedatangannya disana hanya untuk urusan perkuliahan. 

“Oke.”

Tavisha menjawab sekenanya. Ia merasakan aura yang tidak menyenangkan disana. Entah karena dominasi sang suami yang begitu kuat. Atau sesuatu hal yang lain, yang tidak ia ketahui. 

Yudha masih bergeming, namun sorot matanya mengikuti setiap langkah Samuel yang berjalan melewati. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar sebagai salam perpisahan, bahkan anggukan pun tidak. Ia hanya berdiri seperti patung yang penuh bara api di dalamnya. 

Begitu pintu tertutup, Yudha mendekat. Sepatu bot militernya berdentum pelan di lantai, menyisakan gema yang membuat suasana makin tegang. Kemudian, ia berdiri tepat di sisi ranjang Tavisha. 

Tavisha membisu, memperhatikan sosok suami yang kini berdiri di hadapannya. Rambut Yudha berantakan, tapi tetap memancarkan pesona yang luar biasa. Wajahnya lelah—tapi sorot matanya menyala seperti bara yang belum padam. Ia tidak duduk. Hanya berdiri seperti seseorang yang tampak hendak menghakimi. 

“Sejak kapan lo pulang? Gue nggak tahu kalau lo udah disini,” ucap Tavisha pelan, mencoba memecah ketegangan.

Yudha mendengus. 

“Jelas saja, karena kamu terlalu sibuk bercanda sama laki-laki lain.”

Deg!

Tavisha tertegun. Tak paham maksud ucapan tersebut. 

“Apa maksud lo? Dia itu sahabat gue. Bahkan, sebelum gue kenal lo!”

“Sahabat?”

Yudha mengulang dengan nada yang lebih tajam. 

“Sahabat seperti apa yang datang ke kamar rawat inap istri orang, duduk sambil bercanda. Apa dia tidak tahu kamu sudah bersuami?”

Nada suara itu terdengar rendah, tapi cukup menusuk. 

Sementara Tavisha yang tidak mengerti dengan sikap Yudha yang tiba-tiba posesif membuatnya hanya bisa menghela napas. 

“Gue nyaris mati, ya! Dia datang karena merasa bersalah, nggak sempat datang pas gue butuh bantuan!”

“Memang kamu pikir cuma dia yang merasa bersalah?”

Suara Yudha terdengar getir. 

“Maksud lo?”

“Saat Papa kamu bilang, kamu ada alergi almond. Saat itu saya khawatir. Tapi ….”

“Tapi lo lebih pilih nggak peduli, iya, ‘kan?”

Tavisha bersedekap, mendongak sambil tertawa sinis. Pertemuan yang diharapkan bisa menjadi ajang untuk meluruskan kesalahpahaman, justru berujung pertengkaran yang tidak diharapkan. 

“Bukan begitu.”

Yudha merendahkan ucapannya. Menarik napas dan mencoba meredam gejolak emosi yang kadung menyala. 

“Seharusnya kamu tahu bagaimana menjaga martabat suami saat tidak ada disini. Apa kata orang kalau melihat kamu berdua dengan laki-laki lain sementara suami kamu sedang bertugas?”

Ucapan itu seperti tamparan. Tavisha menegakkan tubuhnya yang bergetar. Bukan karena sakit, tapi emosi yang kian berapi. Bukankah seharusnya Yudha meminta maaf karena hampir saja membunuhnya? Tapi, mengapa kehadiran pria itu justru hanya membuat sesak saja?

“Jadi ini soal reputasi lo?”

***

ekaphrp

Sejauh enam bab ini bagaimana? Yuk komen sebanyaknya~ Makasih!

| 12
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (31)
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
haduhhhh c Yudha malahh tambah runyam ajja .bukannya kamu minta maaf karena udah ninggalin tavisha dalam keadaan darurat malahh bikin masalah lagi dengan cemburu gak jelas .
goodnovel comment avatar
Yhara_18
mereka ini smaa2 keras, gak da yg nyalah ya. Cemana coba.
goodnovel comment avatar
Yhara_18
lah gak jdi meluruskan kesalahpahaman malah semakin salah paham Krn sahabat tavisha seorang laki2.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 82 - Perpisahan Yang Menyakitkan

    Yudha menjauh dari kerumunan setelah briefing keberangkatan esok malam. Di sudut lapangan yang jauh dari hiruk pikuk prajurit, Yudha menyalakan rokok untuk sedikit mengurangi kegelisahannya. Tidak hanya soal keberangkatannya saja yang memberatkan. Tapi, ada hal yang jauh mengganggu pikiran. Ketika Tavisha begitu dekat dengan sahabat lawan jenisnya. Ditambah lagi tak ada kabar dari sang perempuan bahwa ia keluar dari rumah. Meski hubungan mereka masih dingin, namun Yudha berharap Tavisha tetap menjadikan dirinya sebagai orang pertama untuk tahu segala hal tentangnya, termasuk apa yang ingin ia lakukan.Rokok mulai terselip di bibir. Ia hendak menyalakan saat tiba-tiba seseorang menarik lintingan tersebut.“Nggak biasanya Mas ngerokok disini.”Yudha menoleh dan mendapati Bening berdiri disisinya dengan jarak dua langkah. Wanita itu memandangnya heran. Dan Yudha langsung memalingkan wajah ke arah lapangan yang membentang luas.“Untuk apa kamu kesini?”“Aku lihat Mas gelisah daritadi.”Yud

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 81 - Tidak Ada Jalan Lain

    “Tidak ada jalan lain,” ucap seorang pria berseragam pangkat tinggi yang kini tengah berbicara empat mata dengan orang berpengaruh di bidang pertahanan tersebut. Pagi menjelang siang itu tampak mencekam di ruang tertutup yang hanya ada mereka berdua. Selain atasan dan bawahan, mereka juga seorang sahabat yang sudah lama berkecimpung di dunia militer. Kali ini, dilema datang dari pria yang sangat berpengaruh seantero nusantarq. Pasalnya, baru tadi pagi hati yang sekeras batu itu hancur berkeping-keping. Walau ia tidak menunjukkan bahwa dirinya hancur di hadapan sang putri, tapi—sebagai seorang ayah ia memahami itu. Ia teringat bagaimana mendiang Harlyn kesepian ketika mengandung putri mereka. Bagaimana dirinya hampir mati di medan perang tanpa bisa memberitahu apa yang terjadi. Dan kini, bayangan itu menghancurkan pertahanan dirinya sendiri. Tavisha terlalu muda. Ia sadar ada banyak langkah yang diambil tanpa mempertimbangkan perasaan putrinya. Termasuk bagaimana ia memaksa sang putri m

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 80 - Mencari Ketenangan

    Tavisha terdiam dibalik kemudi tanpa benar-benar melihat apa yang ada di hadapannya. Yang ia rasakan hanya gema dari satu kalimat yang terucap beberapa jam lalu. Kalimat yang belum mendapatkan balasan apapun. “Tavisha hamil.”Reaksi pertama sang ayah memang terkejut. Namun setelahnya … Manggala membeku. Yang Tavisha yakini bukan karena bahagia atau marah. Entahlah, ekspresinya terlalu samar untuk bisa ia baca. Sang ayah hanya diam seperti batu, tidak pernah berubah bentuk sekalipun dihantam berkali-kali. Tavisha menahan napas, seolah dadanya menolak mengendur sejak meninggalkan kediaman Tandjung. Ucapannya sendiri terus mengiang di telinga, sementara sosok sang ayah berdiri di depan jendela tanpa ekspresi, masih saja terbayang. Tavisha sendiri tak tahu apa yang ia harapkan dari pria paruh baya itu. Apakah penolakan, amarah, atau keputusan yang menyenangkan. Tapi … ketiganya tidak ia dapatkan. Atau minimal, ia membutuhkan reaksi dari pria itu. Akan tetapi, semuanya tak ia dapatkan ju

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 79 - Bersimpuh Memohon

    Tak ada jawaban yang berarti. Tavisha hanya bergeming, memandang manik yang berusaha menghindari tatapannya. Ia tahu Yudha pun berat mengatakannya. Tapi, apa yang bisa diperbuat? Meraung pun rasanya percuma. Perlahan, Tavisha beranjak dari duduknya. Masih hening. Tak ada ucapan yang keluar dari bibir kecil itu. Sampai Yudha menahan pergelangan tangan yang terasa begitu kurus entah sejak kapan. “Tavisha …,” panggil pria itu, lirih. “Aku mau istirahat, Mas.” Sebuah kalimat terlontar dengan sangat rendah, seolah jika sedikit lebih keras terdengar getarannya. Apa yang Tavisha rasakan, jauh lebih menyesakkan. Dalam keadaan hamil, ia harus ditinggal. Bahkan, saat persalinan nanti pun seolah mustahil untuk suaminya ada di dekatnya. Yudha menelan ludah, cenderung gelisah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain melepas pergelangan tangan itu dan membiarkan sang istri mengambil jeda untuk menenangkan diri. Pasalnya, bukan hanya Tavisha saja. Yudha pun belum siap jika harus meninggalkan san

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 78 - Berat Hati

    Yudha menatap wajah sang istri cukup lama sebelum beranjak dari tepi ranjang. Ia menyampirkan selimut hingga sebatas dada sang perempuan, memastikan agar tetap hangat. Dan ketika ia hendak berdiri, ponsel di saku celananya bergetar. Ia pun merogoh lalu memandang layar menampilkan kontak dari markas besar. Getarannya terasa seperti alarm yang membangunkan sisi lain dalam dirinya—sisi yang tak pernah bisa menolak panggilan tugas.Sekilas, ia memandang Tavisha sekali lagi. Perempuan itu masih terlelap, wajahnya teduh dengan rambut terurai menutupi sebagian pipinya. Yudha menahan napas sejenak, baru melangkah keluar kamar sepelan mungkin. Begitu tiba di ruang tamu, ia segera mengangkat panggilan itu.“Siap perintah!”Suara di seberang terdengar tegas. “Kapten, mohon segera ke markas. Ini mendesak. Panglima memerintahkan seluruh tim utama hadir pagi ini.”“Pagi ini?” Yudha melirik jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. “Iya, Kapten. Tidak bisa ditunda.”“Baik. Saya sege

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 77 - Sebuah Petuah

    Dahlia keluar dari kamar setelah berhasil menenangkan sang menantu dan memberinya makan. Hormon yang dialami Tavisha memang tidak biasa. Perempuan itu sangat rapuh. Seolah jika dipegang sedikit saja mampu menghancurkannya. Setelah pintu kembali tertutup, Yudha langsung menghampiri. Ada kecemasan di wajah yang tak bisa ia tutupi. “Bagaimana Tavisha, Bu?"“Dia tidur lagi setelah makan dan minum vitamin.”Terdengar hela nafas lega setelahnya. Dahlia lantas menyelipkan tangannya di sela lengan putranya sambil membawa pria itu untuk duduk di sofa. “Duduk sini, kita ngobrol sebentar.”Yudha hanya mengangguk pelan. “Jangan terlalu keras dengan Tavisha, Nak,” nasehat sang ibu setelah berhasil duduk di sofa ruang tamu bersama putranya. Namun, tidak ada sahutan yang berarti dari bibir Yudha. Pria itu hanya bergeming, seakan berpikir apa benar ia terlalu keras pada istrinya? Padahal, ia sudah berusaha untuk bisa menahan semua ego dan amarah yang terpendam di kepala hanya demi tidak menyakiti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status