LOGINPagi itu, dapur sudah sibuk sejak langit masih pucat. Kyora berdiri di depan kompor, menggulung lengan bajunya dengan rapi. Tangannya bergerak tenang, seolah ia benar-benar hanya seorang pelayan yang terbiasa dengan rutinitas ini.Bubur kacang merah mengental perlahan di panci, aromanya harum dan familiar. Ia mengaduk dengan pelan. Takaran gula. Sedikit garam. Semua persis seperti dulu.Di meja samping, susu almond sudah dipanaskan, kopi hitam diseduh dengan gula secukupnya. Kyora mencicipi sedikit bubur itu, sebelum mematikan kompor.Ia menata semuanya di meja makan. Setelah itu, Kyora mundur beberapa langkah dan berdiri bersama pelayan lain. Kepala sedikit menunduk, tangan terlipat di depan perut. Peran itu kembali ia lakukan.Langkah kaki terdengar dari tangga. Sepatu kulit beradu dengan marmer, Javier turun dari kamar utama. Kemeja putihnya rapi, dasi sudah terpasang, rambutnya tersisir sempurna. Jas hitam ia bawa di tangan kiri.Refleks Kyora melangkah mendekat dan mengulurkan ta
Pagi datang begitu cepat. Ketukan keras di pintu kamar Kyora memecah sunyi.Ia bangkit perlahan, menahan nyeri di pergelangan tangan. Bekas ikatan masih membiru. Kyora mengusapnya pelan, lalu menarik napas panjang. Bertahan. Itu satu-satunya kata yang harus ia ingat hari ini.“Bangun!” suara perempuan terdengar dingin. “Nyonya Calista memanggilmu.”Kyora menarik napas panjang lalu berdiri, merapikan rambutnya seadanya. Pintu dibuka dari luar. Dua pelayan wanita yang tak pernah ia lihat mengapitnya tanpa bicara. Langkah mereka cepat, seolah Kyora bukan pemilik rumah, melainkan lebih rendah dari seorang pelayan.Ruang makan sudah penuh hidangan. Calista duduk di ujung, anggun dengan gaun pagi berwarna krem. Javier berdiri di dekat jendela, menyesap kopi, sengaja memunggungi Kyora.“Cepat kemari!” perintah Calista tanpa menoleh.Kyora berjalan mendekat. Ia menunduk, memainkan ujung jemarinya, persis seperti peran yang harus ia mainkan.“Mulai hari ini,” kata Calista, suaranya manis tapi
Mobil yang membawa Kyora berhenti di sebuah paviliun milik keluarga Benedict. Terpisah dari bangunan utama mansion, dikelilingi pepohonan tinggi yang membuat cahaya matahari sulit menembus.Dua pria turun, membuka pintu belakang, lalu mengangkat tubuh Kyora yang masih limbung.Tangannya terikat ke belakang. Matanya tertutup kain hitam. Kepalanya terkulai, napasnya belum teratur sepenuhnya. Mereka mendudukkannya di kursi kayu dingin di tengah ruangan paviliun.Derit suara pintu terbuka. Langkah kaki terdengar mendekat.Javier masuk dengan wajah tegang yang segera berubah menjadi senyum puas begitu melihat sosok Kyora di hadapannya.“Akhirnya,” gumamnya. “Kekacauan ini punya solusinya.”Ia berdiri tepat di depan Kyora, menatapnya lama seolah memastikan bahwa sosok di hadapannya benar-benar Kyora, wanita yang pernah ia buang.“Air,” perintah Javier singkat.Seseorang menyerahkan sebotol air dingin. Tanpa ragu, Javier menuangkannya ke wajah Kyora.“Uh—!” Kyora tersentak. Batuknya keras, t
"Maafkan aku Ludovic. Karena hanya memanfaatkan kekuasaanmu untuk balas dendam." gumam Kyora gelisah karena merasa bersalah.Pagi itu, Kyora berdiri di balkon sendirian. Suara langkah kaki mendekat dari belakang. Ia tahu tanpa menoleh, hanya ada satu orang di mansion ini yang berjalan dengan ritme setenang itu.Ludovic.“Aku sudah menebak kau akan berdiri di sini,” ucapnya pelan.Kyora tersenyum tipis. “Udara di sini sangat segar. Dan pemandangannya juga indah”Ludovic berdiri di sampingnya. Mereka menatap langit yang perlahan berubah warna. Pagi yang cerah.“Kau tidak tidur semalaman,” kata Ludovic dengan nada bicaranya yang lembut.Kyora menggeleng. “Terlalu banyak yang harus kupikirkan.”“Tentang rencanamu… atau tentangku?” tanya Ludovic lirih.Kyora menoleh. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu di mata Ludovic, ketakutan yang disamarkan dengan ketenangan.“Tentu saja dua-duanya,” jawab Kyora jujur.Ia menarik napas dalam. “Aku tahu ini tidak adil untukmu. Aku sudah menyeretmu ke da
Calista baru saja tiba di mansion ketika jarum jam hampir menyentuh tengah malam.Pintu besar terbuka, derap sepatu haknya terdengar ringan namun percaya diri. Beberapa pelayan mengikuti dari belakang, masing-masing membawa tas belanjaan bermerek, kotak perhiasan, gaun mahal, dan tas eksklusif yang masih terbungkus rapi.Calista tersenyum puas.Begitu matanya menangkap sosok Javier yang duduk di ruang keluarga dengan kemeja terbuka setengah, ekspresinya berubah cerah. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada tanda ia peduli pada wajah lelah pria itu atau berkas-berkas yang masih tergeletak di meja.“Sayang,” ucapnya ringan, melepas mantel dan menyerahkannya pada pelayan. “Kau sudah di rumah.”Javier menoleh. Semua amarah yang sejak tadi menggerogoti dadanya mendadak melemah. Setiap kali melihat Calista, logika selalu kalah. Wanita itu punya cara sendiri untuk membuatnya lupa segalanya.Calista melangkah mendekat, tanpa bertanya ia duduk di pangkuan Javier, kedua tangannya melingkar di leher
"Sean, bawa lelaki itu pergi!" perintah Ludovic.Sean mengangguk patuh. Ia menyeret orang itu keluar dari ruangan. Lorong bawah tanah kembali sunyi setelah pintu baja ditutup. Udara dingin masih terasa menempel di kulit. Kyora menarik napas panjang, seolah baru saja melepaskan beban yang sejak tadi menekan dadanya.Ludovic berdiri di sampingnya, bahunya tegang, rahangnya mengeras.“Kau yakin dengan keputusanmu?” tanya Ludovic pelan, namun nadanya tegas.Kyora mengangguk. “Aku sudah terlalu lama menjadi korban. Kali ini, aku ingin memegang kendali.”Ludovic menatapnya lama, lalu menghela napas. “Baiklah. Tapi mulai sekarang, semua langkah yang kau ambil atas izinku dan dalam pengawasanku. Satu kesalahan kecil saja, mereka akan menyeretmu kembali ke neraka itu.”“Aku mengerti,” jawab Kyora. "Itu sebabnya, aku membutuhkanmu tetap di sampingku."Malam itu, rencana mulai disusun. Orang suruhan Javier yang kini menjadi milik Kyora diberi instruksi rinci. Ia harus kembali ke sisi tuannya tan
Kabut pagi mulai tersibak, memperlihatkan perbukitan hijau di kejauhan. Namun kedamaian itu hanya milik balkon Ludovic. Di tempat lain, badai yang tak terlihat sudah mulai berhembus.Kantor pusat keluarga Benedict berdiri megah di pusat kota, dikelilingi gedung-gedung tinggi. Dari luar, semua tampa
Balkon lantai atas mansion Armany menghadap langsung ke perbukitan yang tertutup kabut tipis pagi itu. Angin sejuk meniup pelan, membawa aroma kopi hitam yang mengepul dari cangkir di hadapan Ludovic.Meja bundar kecil dari marmer putih sudah tertata dengan sarapan sederhana. Croissant, buah segar,
Pagi menyapa lewat sinar matahari yang menembus tirai tipis di jendela kamar. Udara dingin dari luar menembus hangatnya ruangan.Kyora membuka mata perlahan. Kelopak matanya terasa berat karena kelelahan. Semalam Ludovic benar-benar menghabiskan tubuhnya. Ia memutar kepala, dan mendapati pria itu m
"A-aku?" Kyora terbata, gugup bercampur tegang dan takut."Hm," bisiknya. "Sebagai menu makan malamku." Suara Ludovic rendah dan berat, hidungnya menyusuri pipi Kyora lembut, tapi tidak mengecupnya.Ia hanya diam, menatapnya dalam ke manik mata Kyora yang masih meninggalkan bekas sembab, seolah ing







