Se connecterTerima kasih sudah berkunjung. Semoga terhibur.
“Em, Emmy!” Hendro memegang bahu menantunya yang bergetar. “Ada apa? Kenapa menangis begini?” tanya Hendro panik.Emily tidak menjawab. Ia hanya menangis tersedu sambil menggelengkan kepalanya.“Emmy, oke. Anggap, kamu membenci Radit, tidak bisa memaafkannya dan ingin bercerai darinya. Coba, lihat papa.”Emily mengangkat wajahnya dan bertukar pandang dengan Hendro.“Kita ini dokter, Nak. Penyelamat nyawa, bukan sebaliknya. Tolong, kamu pikirkan lagi baik-baik. Terlepas dari semua masalah dan ucapan papa. Hmm?” Wajah Hendro melembut, tidak tega melihat kondisi Emily. “Jangan memutuskan apa-apa. Kamu butuh konseling yang sehat agar tidak menyesali setiap keputusan yang kamu buat.”Hendro mengguncang lembut bahu Emily sebelum berdiri dan merapikan bajunya. “Papa akan atur supaya kamu bisa ngobrol dengan Ivan. Eits, tidak ada penolakan,” imbuh Hendro cepat manakala dilihatnya Emily hendak menolak sarannya.“Papa harus selesaikan pekerjaan papa dan memastikan tidak ada kabar tidak perlu yan
“Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!” Hendro tercekat. “Sebenci itukah kamu pada Raditya, Nak?”Emily kembali menggeleng. “Anak ini bukan wujud dari cinta kasih orang tuanya, Pa. Dia hadir bersama puncak kebencian yang mas Radit lakukan.” Mata Emily yang basah menatap marah pada Hendro. “Aku diperkosa malam itu,” imbuh Emily lirih.“Hah?? Diperkosa?” Hendro semakin tidak paham.“Malam itu mas Radit pulang dalam kondisi mabuk. Dia memaksaku melayaninya ketika aku keberatan karena lelah dan mengantuk. Dia pukul aku, mendorongku ke ranjang dan mengikat kedua lengan dan kakiku. Aku benar-benar hancur malam itu.”Kepala Emily tertunduk, tak kuasa lagi menahan malu dan amarah yang lama disimpannya. Ingatannya kembali pada malam tragis itu.Sekitar dua bulan lalu, di akhir pekan. Emily menerima sekelompok pasien kecelakaan yang membutuhkan tindakan operasi. Nyaris empat belas jam, Emily dan timnya berkutat di dalam kamar operasi m
Ivander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.“Wow …! Best match …!” celetuk sebuah suara dari barisan tengah.Ivander berdiri tepat di sebelah Emily, bahu mereka nyaris bersinggungan. “Hello, Partner,” lirih Ivander membuat Emily menggeser tubuhnya.“Harap tenang.” Wajah Hendro berbinar penuh kebahagiaan. “Saya perkenalkan dulu, dokter Ivan adalah psikiater konsultan jebolan Harvard University. Beliau mengabdi selama tiga tahun sebelum memutuskan menerima tawaran saya dan kembali ke tanah air.”“Wow … fisik oke, otak oke. Mantap!” celetuk Arga penuh semangat.“Betul!” sahut Hendro bersemangat. “Selanjutnya, dokter Ivan akan memimpin departemen rawat jalan dan bertanggung jawab atas kualitas pelayanan dan kesehatan mental karyawan.”“Wuih …! Ada aja gebrakan
“Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!” pekik Emily beringsut cepat dan menarik tinggi selimutnya.Ivander berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Tangannya terulur ke arah Emily. “Ivander Scott.”Ragu-ragu Emily menyambut tangan Ivander. “Bukankah dia pria yang semalam berdiri bersamaku di meja resepsionis?” Emily membatin dan malu sendiri mengingat keliaran akalnya semalam. Pipinya terasa panas. Buru-buru ditariknya kembali tangannya.“Aku sarankan, kamu segera makan dan memeriksakan diri ke rumah sakit.” Ivander kembali ke kursinya dan mulai memakan habis sarapannya. “Karena semua sudah terkendali, aku duluan.” Ivander mengusap mulutnya dengan tisu dan beranjak.“Tunggu,” tahan Emily sambil berguling ke kiri meraih tasnya. Ia menarik beberapa lembar uang dari dompetnya dan mengulurkannya pada pria yang semakin tampan pagi ini. “Ambil
Emily menyalakan lampu kamar tamu yang kini jadi tempat tidurnya, sejak pertengkaran terakhirnya dengan Raditya. Ia rebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar dan empuk yang sebelumnya tidak pernah dia jamah. Pikirannya kembali pada waktu seorang petugas laboratorium membawa hasil pemeriksaan darahnya.Angka-angka yang tertera sedikit mengejutkannya. Kondisi tubuhnya tidak sebagus yang terlihat. Malnutrisi dan anemia sedang menyerangnya perlahan dengan dampak yang luar biasa. Keterangan paling bawah berhasil mencekat napasnya.“Apa benar aku hamil?” gumamnya risau. Emily memejamkan matanya perlahan. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Bulir hangat membasahi kedua pelipis Emily, jatuh ke atas sprei putih berbahan satin.Ia mengeluarkan ponsel dari saku dress denimnya dan membuka kalender. Emily mulai mengingat dan menghitung. “Enam minggu. Siklusku terlambat enam minggu,” gumamnya was-was. “Apa yang harus aku lakukan?”Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan sosok Raditya berdi
Entah mengapa, Emily tidak terkejut mendengar penjelasan Soraya. Adanya perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya dengan Raditya sempat terbersit dalam pikirannya, hanya berada diurutan terbawah.“Emmy, kalau memang kamu merasa perceraian adalah jalan terbaik buat kalian, ibu akan coba bicarakan dengan ayahmu nanti.” Soraya kembali meremas telapak tangan Emily.Kehilangan Amelia merupakan pukulan yang berat baginya, tapi keberadaan Emily—saudara kembarnya, perlahan mengobati luka Soraya. Kalau saat ini, kebahagiaan anak itu menjadi taruhannya, Soraya memilih memutuskan hubungan baiknya dengan Hendro dan menyelamatkan Emily.“Tapi, Bu. Bagaimana dengan ayah, apakah dia juga akan setuju? Bukankah ….”“Sudah.” Soraya memotong cepat keraguan putrinya. “Jangan terlalu dipikirkan. Biar ibu yang bicara nanti dengan ayahmu. Ibu yakin, ayah tidak akan mengorbankan keluarga apapun alasannya.”***Emily mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Tiga puluh menit lagi, dia terjadwal mengerjaka







