Share

Bab 2

Author: Selene21
last update publish date: 2026-04-10 15:42:40

Raditya terbakar amarah menyadari sikap istrinya yang mulai berani. Diraihnya kunci mobil di atas meja dan bergegas mencari Emily ke rumah sakit.

“Dia pikir, siapa dia? Berani sekali meninggalkan rumah tanpa pamit. Mau sembunyi? Percuma!” oceh Raditya seraya menginjak pedal gas lebih dalam.

Sesampainya di ruang kerja istrinya, Raditya semakin marah menemukan ruangan itu kosong. Emily tidak juga menjawab panggilannya. “Perempuan tidak tahu diuntung! Sudah merasa hebat, heh?!”

Raditya membanting pintu melampiaskan marahnya dan nyaris menabrak salah satu perawat yang biasanya menemani Emily memeriksa pasien poli bedah.

“Laras! Mana Emily?!” tanya Raditya kasar, membuat perawat di hadapannya mengernyit.

“Ke kantin, Dok. Ada undangan syukuran ulang tahun Prof. Burhan.”

Tanpa mengucap terima kasih, Raditya meninggalkan Larasati yang menggerutu kecewa. Raditya mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin, mencari sosok Emily yang mudah ditemukan karena posturnya tinggi dan rambut ikalnya yang jarang dimiliki wanita cantik era rebonding.

Matanya memicing ke sudut kantin yang lumayan jauh dari keramaian. Dua sosok yang sangat dikenalnya sedang berdiri berhadapan dengan wajah saling mendekat.

“Oh, di sini kamu rupanya. Mengadu pada sahabatmu? Sudah mulai berani rupanya.” Raditya berjalan cepat ke arah istrinya yang kebetulan sedang ditarik berjalan ke arahnya.

“Ada apa ini?!” Raditya Hutama berdiri menghadang jalan dengan rasa tidak suka yang tidak ingin disembunyikannya.

Buru-buru Emily menarik tangannya lepas. “Mas, sedang apa di sini?” tanya Emily kaget.

“Sedang melihatmu dan Arga berjalan sambil bergandengan mesra. Kenapa?” Raditya meraih tangan Emily lainnya dan menariknya mendekat. “Sudah mulai berani, ya?” desisnya di telinga Emily.

Embusan napas Raditya dan desisannya membuat Emily sedikit mundur. “Tidak seperti pikiranmu, Mas.” Emily menarik tangannya untuk kedua kalinya.

“Kebetulan sekali kamu datang, Dit. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu.” Arga menunjuk pipi Emily yang kini mulai nampak lebam. “Apa yang terjadi dengan wajahnya?”

“Bukan urusanmu!” geram Raditya. “Urus saja pasien hamilmu, kalau masih ingin bekerja di sini!” Tangan kiri Raditya mendorong bahu kanan Arga kasar hingga pria tampan itu mundur dua langkah.

Emily mencengkeram lengan atas Raditya dan berbisik, “Mas, cukup! Ini rumah sakit.”

Raditya menoleh ke arah istrinya dan tersenyum sinis. “Masih tahu tempat rupanya. Kalau kamu tahu ini rumah sakit, kenapa kamu mesra-mesraan dengan Arga di sini? Kamu salah tempat, Sayang.” Raditya meraih dagu istrinya dengan kasar. “Ingat, tempat ini milikku!”

Dagu lancip dengan bulatan kecil menggemaskan itu terdorong kasar ke samping setelah Raditya melepasnya dengan kasar. “Pulang!”

Arga hendak mencegah Raditya, namun urung karena tatapan tajam dan gelengan samar yang Emily isyaratkan. Ia hanya bisa melihat wanita cantik yang pernah menjadi dambaannya itu ditarik kasar menjauhinya.

“Lepas, Mas!” Emily memberontak kasar sesampainya di pelataran parkir. “Kita ketemu di rumah.” Emily berbalik hendak menuju tempat kendaraannya terparkir, namun tangan Raditya menariknya berbalik.

“Masuk!”

***

Mobil belum berhenti sempurna, tangan Emily sudah meraih gagang pintu bersiap membukanya.

“EMMY …!” bentak Raditya marah. “Kamu ingin mati?!”

“Seolah kamu peduli, Mas!” sahutnya kasar seraya keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.

Air mata jatuh tak terbendung dari kedua mata cantik Emily. Semakin punggung tangannya rajin mengusap, semakin deras air matanya luruh. Kakinya tegas melewati ruang tamu, meninggalkan suara berisik antara lantai dan hak sepatunya.

“Ada apa ini?!”

Emily terperanjat melihat ayah mertuanya berdiri menatapnya dengan tangan terentang dan wajah berkerut. “P … Papa ….” Kedua tangan Emily aktif membersihkan wajah dan merapikan rambutnya. “Sudah tadi?”

Alih-alih menjawab pertanyaan menantu kesayangannya, Hendro melangkah pelan menghampiri Emily tanpa melepaskan tatapannya. “Bertengkar?” tanyanya singkat.

Sebuah senyum terpaksa terulas di bibir Emily. “Engh, enggak. Hanya salah paham sedikit.” Buru-buru, Emily meraih lengan Hendro dan mengajaknya ke sofa. “Papa, emh … ada perlu apa datang ke sini?”

Sial! Kenapa aku harus tanyakan hal bodoh ini?! umpat Emily penuh sesal.

Pukk. Hendro menepuk punggung tangan Emily yang masih bertengger hangat di lengannya. “Tidak boleh berkunjung tanpa janji temu, Dok?” goda Hendro lembut. Hatinya perih melihat luka di sudut bibir Emily dan pipi yang lebam. Nalurinya sebagai dokter memberitahunya bahwa itu bekas tamparan tangan anaknya.

Mata Emily kembali berkaca-kaca. Pria paruh baya yang sedang menatap lembut padanya ini, salah satu alasan Emily berat menceraikan Raditya sejak laki-laki itu berubah kasar padanya.

“Papa …,” desah Emily meminta pemakluman.

“Emmy, papa sayang kamu seperti anak papa sendiri. Kalau melihatmu bersedih karena Radit, papa jadi ikut sedih.” Senyum lembut dan mata teduh Hendro mendorong air mata Emily kembali luruh.

“Mencari perlindungan lain?” tanya Raditya yang beberapa menit lalu sudah memperhatikan.

“Radit! Jaga sikapmu. Kenapa Emily sampai menangis?” Punggung Hendro menegak menghadap putranya.

“Entahlah. Papa bisa tanyakan langsung padanya.” Dagu Raditya bergerak menunjuk istrinya.

Emily memaksakan bibirnya tersenyum kembali. “Papa belum cerita kenapa papa datang?”

Hendro paham, Emily tidak ingin memperuncing masalahnya dengan berkata jujur. Maka, yang bisa Hendro lakukan adalah menunggu menantunya itu membuka diri.

“Oh ya, papa punya hadiah pernikahan buat kalian. Maaf, telat.” Hendro merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan dua tiket pesawat. “Ini.”

Ragu, Emily menerima tiket yang terulur padanya. Dibacanya dengan seksama dan terbeliak. “Maladewa?” Mata Emily beralih pada ayah mertuanya.

Kepala Hendro mengangguk pelan. “Awalnya, papa pikir kalian akan senang menerima kado dari papa. Tapi, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk kalian bepergian.”

Raut kecewa di wajah Hendro membuat Emily mengutuki dirinya. Andai saja, dia tidak sembrono mengumbar emosinya, tentu Hendro tidak akan tahu kondisi rumah tangganya.

“Papa, aku minta maaf sudah buat papa khawatir. Kami hanya salah paham biasa, kok.”

Anggukan Hendro tidak mampu mengurangi rasa bersalah Emily. Hendro terlalu baik dan sayang padanya, hingga tidak ingin membuatnya merasa bersalah. Emily yakin itu.

“Oke, papa pulang dulu. Tiket itu untuk minggu depan. Jadi ….” Hendro meremas jemari Emily dan setengah berbisik, “Kalian bisa selesaikan semuanya dan berbaikan sambil menikmati view Kepulauan Maladewa yang terkenal cantik.”

Pukk.

Sekali lagi, Hendro menepuk punggung tangan Emily sebelum berdiri dan meninggalkan kediaman putranya.

Prok … prok … prok ….

“Luar biasa, Emily Femeraldi. Aku baru menyadari bahwa kamu bukan hanya dokter, tapi seorang pemain handal.” Raditya memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana seraya menghampiri Emily yang beranjak dari sofa. “Tidak hanya cantik dan berotak cerdas.” Raditya meraih ujung rambut Emily dan memainkannya. “Daya tarikmu juga luar biasa, Sayang.”

“Akhh …!” Emily memekik kesakitan kala tangan Raditya menarik rambutnya ke depan hingga wajahnya nyaris menyentuh hidung suaminya. “Lepas, Mas! Sakit.” Jemari Emily berusaha membebaskan rambutnya dari cengkeraman Raditya.

“Menjijikkan! Sikapmu saat di atas ranjang bersamaku, jauh berbeda dengan saat ini, Emmy.” Tangan Raditya yang masih terjerat rambut Emily meraba pelan ke arah leher mulus dan detik berikutnya mendorong kasar leher itu hingga terhempas ke sofa.

“Akh … sakit, Mas!” desis Emily sambil berusaha mendorong bahu Raditya menjauh darinya.

“Wanita munafik! Rupanya kamu tidak sabar mengangkang pada pria lain? Menjadikan kemarahanku alasan untuk menggoda Arga, begitu?!”

Jemari Raditya makin kuat mencekik leher Emily, membuat kaki wanita itu menjejak lantai dengan putus asa agar dapat terlepas. Tangan kanannya sibuk meraba meja, mencari alat untuk melumpuhkan Raditya.

Asbak. Emily meraba asbak dan meraihnya dengan sisa tenaga yang dia punya. “Lepaskan aku, Baj*ngan!”

Prakk!

“Argh …!”

Giliran Raditya yang berteriak kesakitan kala penampung abu rokok berbahan kaca itu menggores dahinya dan mengucurkan darah segar. Pria itu limbung ke kiri dan jatuh telentang di lantai—antara meja dan sofa—lalu meringkuk seperti bayi dalam kandungan.

“Astaga … ada apa ini, Non?! Kenapa bisa begini?!” Asih yang terkejut mendengar keributan di ruang depan, segera berlari dari dapur dan terperangah melihat yang terjadi.

Emily meringkuk ketakutan di atas sofa dengan kedua tangan gemetar memeluk tubuhnya. “To—tolong telf ambulans, Bik!” ucapnya terbata.

“TIDAK!” Raditya berusaha duduk. “Kamu.” Telunjuk kirinya terangkat ke arah Emily. “Tanggung jawab!”

“Bantu aku berdiri, Bik.” Raditya mengulurkan tangannya ke arah Asih meminta bantuan. “Bawa aku ke kamar.”

Setelahnya, Asih sibuk berkeliling ruangan mencari dan membawa barang-barang yang Emily minta ke kamar utama untuk merawat luka Raditya. Tangan Emily masih gemetar saat sarung tangan medis sudah membalutnya.

“Apalagi yang kamu tunggu?!” bentak Raditya tak sabar. Dahinya terasa basah dan perih, kepalanya berdenyut, tangannya mengepal kuat mencegahnya berbuat kasar pada Emily yang masih ketakutan.

“Aku akui, kamu semakin menarik. Sikapmu ini membuatku semakin bergairah. Kau tahu?”

Kalimat-kalimat yang Raditya lontarkan, membuat bulu kuduk Emily meremang ngeri. Selama enam bulan pernikahannya, Emily hanya sekali berhubungan badan dengan Raditya di malam pertamanya yang kacau. Malam itu, Raditya terlalu agresif hingga melupakan kebutuhan Emily untuk dihargai dan dimanjakan.

Dua hari setelahnya, Emily baru bisa turun dari ranjang dan berjalan normal. Pengalaman pertama yang mengerikan buatnya.

Tunggu, bukankah tadi dia berkata kalau sikapku di atas ranjang berbeda? Ranjang yang mana? Kapan? Apa maksud ucapannya? Kami hanya berhubungan satu kali dan itu mengerikan. Emily termenung mencerna kalimat Raditya yang janggal menurutnya.

“Apa yang kamu tunggu?! Berharap aku mati kehabisan darah, hah?!”

Bentakan Raditya membangunkan Emily dari lamunan dan mulai bekerja. Lima belas menit berlalu tanpa kata, hanya terdengar desisan dari mulut Raditya menahan sakit.

“Kamu akan terima balasan lebih dari ini, Emmy,” geram Raditya sambil menekan perban di kepalanya. “Lihat saja.”

“Aku akan menceraikanmu sebelum itu terjadi, Mas.” Emily melempar sarung tangannya yang berlumuran darah ke kantong plastik warna kuning.

“Kamu mengancamku, Emmy?!” Mata Raditya mendelik marah. “Kamu tidak akan berani mengecewakan orang tuamu. Ingat, jantung ayahmu akan berhenti berdetak begitu kamu tandatangani surat cerai.” Seringai Raditya membuat Emily ingin mengoyak muka itu.

“Kita lihat saja nanti. Aku akan segera ajukan cerai begitu akhir pekan ini berakhir.” Emily melenggang menuju kamar mandi. Ia ingin mandi, membebaskan tubuhnya dari rasa lengket yang sejak tadi sudah mengganggunya.

“Aku harus cari waktu yang tepat untuk bicara dengan ibu dan ayah. Semua ini membuatku gila,” gumamnya seraya melangkah ke bawah aliran air dingin yang memancar deras.

***

Secangkir teh yang masih mengepul asapnya Soraya letakkan di atas meja tepat di depan putrinya. Raut wajah cantik yang biasanya bersinar, hari ini redup tertutup mendung. Soraya sempat bertanya-tanya ketika Emily menghubunginya pagi tadi dan meminta izin berkunjung. Sikap yang tidak pernah dilakukan Emily sebelumnya.

“Kenapa sendirian? Mana Raditya?” tanya Soraya membuka percakapan.

“Ada jadwal operasi, Bu. Ayah mana?” tanya Emily akhirnya setelah lama tidak melihat sosok ayahnya sejak dia masuk rumah.

“Ada janji ketemu sama kawan-kawan lama bersama pak Hendro.”

Deg.

Jawaban Soraya membuat Emily terhenyak.

“Kenapa? Kok diam?” Kening Soraya mengernyit. “Ada apa, Emmy?”

Emily memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang dan memberanikan diri berujar, “Aku ingin bercerai, Bu,” lirihnya.

Air mata Soraya luruh tanpa ampun. Kalimat yang sudah diduganya akan keluar dari bibir Emily entah kapan, akhirnya hari ini terdengar.

“Bu ….” Emily menggeser tubuhnya menempel rapat pada ibunya. “Maafkan aku, Bu. Aku punya alasan kuat melakukannya. Maaf ….” Tangan Emily meremas menggoyangkan tangan Soraya berharap dimaklumi.

Tak lama kemudian, tangis keduanya pecah.

“Emmy.” Soraya menyusut hidungnya dan menatap lurus Emily. “Ada yang ingin ibu katakan padamu. Tentang Radit dan pernikahanmu.”

Isakan Emily terhenti. Tangannya sigap mengusap wajah dan menyingkirkan anak rambut dari dahinya seolah tindakan itu membuat akal sehatnya kembali jernih.

“Apa, Bu?”

“Tiga hari setelah pernikahanmu, ibu tidak sengaja melihat Radit di bandara sedang menjemput seorang wanita. Apakah dia cerita padamu?” tanya Soraya hati-hati.

Emily menggeleng sambil mengingat hari yang ibunya maksud. “Tiga hari setelah pernikahan?” lirih Emily. Bukankah hari itu Raditya berpamitan akan menghadiri simposium?

“Awalnya, ibu ingin menyapa, tapi tindakan mereka selanjutnya membuat ibu urung menyapa.”

Kedua wanita itu saling tatap. Soraya berharap, Emily mengerti maksud yang tersirat dari kalimatnya barusan. Sebaliknya, Emily ingin ibunya bicara langsung tanpa mengirimkan isyarat yang membuatnya menebak-nebak.

“Apa? Mereka melakukan apa, Bu?” Emily mengangkat bahunya menuntut penjelasan.

“Mereka berciuman layaknya pasangan suami istri.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 46

    Kedua tangan Emily terlipat di depan dada, terhimpit di antara tubuhnya dan Ivander, menekannya. Entah karena tekanan itu atau ketakutan yang melandanya, Emily merasa dadanya mulai sesak, napasnya cepat dan pendek. Ia masih berusaha melepaskan diri dan mengumpulkan udara lebih banyak.Namun, lengan pria yang memeluknya tidak kendur sedikit pun. Napas pria itu semakin dekat ke wajahnya manakala ia mengucapkan sederet kalimat yang tidak bisa Emily dengar dengan jelas.Emily berusaha mendorong sekali lagi. “Tidak, jangan. Hhh …,” desahnya sebelum ia kehilangan kesadaran.“Emmy! Emmy!” panggil Ivander dengan nada tegas. “Si*l …! Apa yang sebenarnya Arga lakukan padamu?!”Ivander mengangkat tubuh Emily dan membaringkannya ke sofa. Ia berbalik ke lemari kecil, mencari handuk atau kain bersih yang bisa dipakainya mengelap keringat. Ia kembali ke sofa membawa saputangan biru muda yang ditemukannya di antara tumpukan pakaian di dalam lemari.Cekatan, Ivander membuka dua kancing teratas kemeja

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 45

    Kening Asih berkerut heran mendengar nada dingin Emily menjawab telepon. Rasa penasaran membuatnya bertanya. “Siapa, Non?”Emily memutar tubuhnya. “Orang gila yang kurang kerjaan,” sahutnya sembari tersenyum. “Bik, saya mau siap-siap dulu, ya.”***Tempat pertama yang Emily datangi setelah memarkir mobilnya adalah ruangan ICU tenpat Arthur dirawat. Soraya sedang menyeka wajah dan leher Arthur dengan handuk kecil lembab ketika Emily mendekat.“Sayang, sudah datang?” Soraya menyodorkan pipinya memudahkan Emily menciumnya.“Ya, baru saja. Hari ini, ada banyak hal yang harus aku kerjaan. Kalau iu butuh sesuatu, telfon saja. Mungkin seharian ini aku tidak bisa datang lagi.”Soraya hanya mengangguk menanggapi penjelasan panjang putrinya. Ia mengeringkan tangannya dengan tisu, lalu menarik Emily duduk di kursi.“Kemarin, papa mertuamu datang lagi. Dia menceritakan semuanya. Ke

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 44

    “Hai,” balas Emily lembut. “Siapa, ya?”“Dia datang denganku.”Emily mendongak lebih tinggi menyesuaikan matanya dengan tinggi badan tamunya. “K-kamu?” kata Emily kaget. Rasa tenang, lega dan bebas yang baru dirasakannya, lenyap.Beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya diam dan saling pandang sampai suara gadis kecil itu membuyarkan semuanya.“Kenapa kalian hanya diam?” celetuk Aura polos.“Aura! Sini, Sayang!”Mendengar suara lain yang dikenalinya, Emily berpaling mengikuti tubuh gadis kecil itu. Ia menoleh dan tersenyum menyapa Rebecca—wanita yang sering Emily lihat bersama Ivander beberapa waktu belakangan—dan melambai.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ivander masih berdiri diam di tempatnya.Kali ini, Emily tidak repot mendongak. “Baik.”“Aku dengar—.”“Ivan, bisa kita pergi sekarang?” Suara lembut Rebecca memotong kalimat Ivander. “Aura akan terlambat menghadiri kelas baletnya.”Segera saja Ivander berbalik dan berkata, “Ya, bisa.”Pria itu pergi begitu saja tanpa menyelesaikan ka

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 43

    Emily maju selangkah dengan tangan terulur hendak memeriksa ayahnya, tapi dengan cepat, Arthur menepis tangan Emily kasar.Plak!“Katakan! Apa yang kamu lakukan pada bayimu?!” Arthur berkeras menuntut jawaban Emily. “Argh …!”Pluk!“Mas …!” teriak Soraya histeris melihat tubuh Arthur lemas dengan mata terpejam. “Emmy, kenapa ini?!” tangisnya pecah.Emily berlutut di depan kaki Arthur, menekan pembuluh darah nadi di bawah rahang ayahnya memastikan masih ada detak jantung berdenyut di sana.“Kita baringkan ayah di lantai dulu!” titah Emily cepat. “Hubungi ambulans, Bu!”Begitu tubuh lemas Arthur terbaring telentang sesuai harapannya, Emily segera mmembuka kancing kemeja Arthur dan mulai menekan dada kirinya. Mulutnya terus menghitung seiring tangannya menekan dada. Ia dongakkan kepala Arthur dan meniupkan napasnya lewat mulut ayahnya. Ia ulang beberapa kali tindakannya hingga sirine ambulans berdengung di halaman rumahnya.Emily masih berlutut dan mengatur napasnya, peluhnya membanjiri

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 42

    “Surprise …!” teriak Aura bersemangat seraya mendorong pintu sekuat tenagaSepasang tangan yang saling berjabatan, terlepas karena kaget dan panik. Aura menatap dua orang dewasa di hadapannya dengan tatapan bingung. Kemudian, ia berlari menubruk kaki kanan Ivander dan memeluknya erat.“Siapa dia?” tanya Aura seraya menunjuk ke arah wanita cantik yang sedang menatap padanya.“Aura …!” Seorang wanita cantik berambut ikal sepunggung menyusul masuk.“Van …?” sapa Rebecca penuh tanya.Dalam kebingungannya, Emily mengutuki kebodohannya. Andai saja semalam dia bersikeras menginap di hotel, suasana memalukan ini tidak perlu dialaminya.“Hai.” Ivander melambaikan tangan, mengibas lebih tepatnya. “Masuk.”“Apa kami mengganggu?” tanya Rebecca tidak enak hati. “Sayang, sini.”Emily tersenyum. “Engh, tidak. Saya hanya berpamitan hendak pergi. Silakan.”Emily mengangguk sopan ketika berjalan melewati Rebecca. Hatinya memastikan bahwa ini wanita yang dilihatnya semalam sedang berbincang dengan Ivand

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 41

    “Tolong antarkan aku ke hotel!” tegas Emily dengan nada dingin.“Ada apa denganmu?” tanya Ivander, terkejut dengan reaksi Emily yang menurutnya berlebihan.“Aku tidak ingin mengganggumu.” Emily mengambil tasnya dari atas sofa. “Atau, aku pergi sendiri,” imbuhnya manakala Ivander hanya terpaku menatapnya.Ivander hanya diam menatap Emily mulai dari garis wajah hingga gerak-geriknya. “Dia sedang gelisah, tapi karena apa?” batin Ivander menyimpulkan. “Ada apa denganmu? Apa yang mengganggumu?”“Jangan kelewatan, Emily. Dia punya kehidupannya sendiri yang tidak bisa kamu ganggu.” Emily menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya tidak nyaman terlalu lama tinggal denganmu.”“Oke, kalau itu maumu. Aku akan mengantarmu. Besok.” Ivander meninggalkan Emily yang masih berdiri terpaku.Setelahnya, Ivander benar-benar mengabaikan keberadaan

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 7

    “Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!” Hendro tercekat. “Sebenci itukah kamu pada Raditya, Nak?”Emily kembali menggeleng. “Anak ini bukan wujud dari cinta kasih orang tuanya, Pa. Dia hadir bersama puncak kebencian yang mas Radit lakukan.

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 6

    Ivander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.“Wow …! Best match …!”

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 5

    “Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!” pekik Emily beringsut cepat dan menarik tinggi selimutnya.Ivander berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Ta

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 4

    Emily menyalakan lampu kamar tamu yang kini jadi tempat tidurnya, sejak pertengkaran terakhirnya dengan Raditya. Ia rebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar dan empuk yang sebelumnya tidak pernah dia jamah. Pikirannya kembali pada waktu seorang petugas laboratorium membawa hasil pemeriksaan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status