MasukRaditya terbakar amarah menyadari sikap istrinya yang mulai berani. Diraihnya kunci mobil di atas meja dan bergegas mencari Emily ke rumah sakit.
“Dia pikir, siapa dia? Berani sekali meninggalkan rumah tanpa pamit. Mau sembunyi? Percuma!” oceh Raditya seraya menginjak pedal gas lebih dalam.
Sesampainya di ruang kerja istrinya, Raditya semakin marah menemukan ruangan itu kosong. Emily tidak juga menjawab panggilannya. “Perempuan tidak tahu diuntung! Sudah merasa hebat, heh?!”
Raditya membanting pintu melampiaskan marahnya dan nyaris menabrak salah satu perawat yang biasanya menemani Emily memeriksa pasien poli bedah.
“Laras! Mana Emily?!” tanya Raditya kasar, membuat perawat di hadapannya mengernyit.
“Ke kantin, Dok. Ada undangan syukuran ulang tahun Prof. Burhan.”
Tanpa mengucap terima kasih, Raditya meninggalkan Larasati yang menggerutu kecewa. Raditya mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin, mencari sosok Emily yang mudah ditemukan karena posturnya tinggi dan rambut ikalnya yang jarang dimiliki wanita cantik era rebonding.
Matanya memicing ke sudut kantin yang lumayan jauh dari keramaian. Dua sosok yang sangat dikenalnya sedang berdiri berhadapan dengan wajah saling mendekat.
“Oh, di sini kamu rupanya. Mengadu pada sahabatmu? Sudah mulai berani rupanya.” Raditya berjalan cepat ke arah istrinya yang kebetulan sedang ditarik berjalan ke arahnya.
“Ada apa ini?!” Raditya Hutama berdiri menghadang jalan dengan rasa tidak suka yang tidak ingin disembunyikannya.
Buru-buru Emily menarik tangannya lepas. “Mas, sedang apa di sini?” tanya Emily kaget.
“Sedang melihatmu dan Arga berjalan sambil bergandengan mesra. Kenapa?” Raditya meraih tangan Emily lainnya dan menariknya mendekat. “Sudah mulai berani, ya?” desisnya di telinga Emily.
Embusan napas Raditya dan desisannya membuat Emily sedikit mundur. “Tidak seperti pikiranmu, Mas.” Emily menarik tangannya untuk kedua kalinya.
“Kebetulan sekali kamu datang, Dit. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu.” Arga menunjuk pipi Emily yang kini mulai nampak lebam. “Apa yang terjadi dengan wajahnya?”
“Bukan urusanmu!” geram Raditya. “Urus saja pasien hamilmu, kalau masih ingin bekerja di sini!” Tangan kiri Raditya mendorong bahu kanan Arga kasar hingga pria tampan itu mundur dua langkah.
Emily mencengkeram lengan atas Raditya dan berbisik, “Mas, cukup! Ini rumah sakit.”
Raditya menoleh ke arah istrinya dan tersenyum sinis. “Masih tahu tempat rupanya. Kalau kamu tahu ini rumah sakit, kenapa kamu mesra-mesraan dengan Arga di sini? Kamu salah tempat, Sayang.” Raditya meraih dagu istrinya dengan kasar. “Ingat, tempat ini milikku!”
Dagu lancip dengan bulatan kecil menggemaskan itu terdorong kasar ke samping setelah Raditya melepasnya dengan kasar. “Pulang!”
Arga hendak mencegah Raditya, namun urung karena tatapan tajam dan gelengan samar yang Emily isyaratkan. Ia hanya bisa melihat wanita cantik yang pernah menjadi dambaannya itu ditarik kasar menjauhinya.
“Lepas, Mas!” Emily memberontak kasar sesampainya di pelataran parkir. “Kita ketemu di rumah.” Emily berbalik hendak menuju tempat kendaraannya terparkir, namun tangan Raditya menariknya berbalik.
“Masuk!”
***
Mobil belum berhenti sempurna, tangan Emily sudah meraih gagang pintu bersiap membukanya.
“EMMY …!” bentak Raditya marah. “Kamu ingin mati?!”
“Seolah kamu peduli, Mas!” sahutnya kasar seraya keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
Air mata jatuh tak terbendung dari kedua mata cantik Emily. Semakin punggung tangannya rajin mengusap, semakin deras air matanya luruh. Kakinya tegas melewati ruang tamu, meninggalkan suara berisik antara lantai dan hak sepatunya.
“Ada apa ini?!”
Emily terperanjat melihat ayah mertuanya berdiri menatapnya dengan tangan terentang dan wajah berkerut. “P … Papa ….” Kedua tangan Emily aktif membersihkan wajah dan merapikan rambutnya. “Sudah tadi?”
Alih-alih menjawab pertanyaan menantu kesayangannya, Hendro melangkah pelan menghampiri Emily tanpa melepaskan tatapannya. “Bertengkar?” tanyanya singkat.
Sebuah senyum terpaksa terulas di bibir Emily. “Engh, enggak. Hanya salah paham sedikit.” Buru-buru, Emily meraih lengan Hendro dan mengajaknya ke sofa. “Papa, emh … ada perlu apa datang ke sini?”
Sial! Kenapa aku harus tanyakan hal bodoh ini?! umpat Emily penuh sesal.
Pukk. Hendro menepuk punggung tangan Emily yang masih bertengger hangat di lengannya. “Tidak boleh berkunjung tanpa janji temu, Dok?” goda Hendro lembut. Hatinya perih melihat luka di sudut bibir Emily dan pipi yang lebam. Nalurinya sebagai dokter memberitahunya bahwa itu bekas tamparan tangan anaknya.
Mata Emily kembali berkaca-kaca. Pria paruh baya yang sedang menatap lembut padanya ini, salah satu alasan Emily berat menceraikan Raditya sejak laki-laki itu berubah kasar padanya.
“Papa …,” desah Emily meminta pemakluman.
“Emmy, papa sayang kamu seperti anak papa sendiri. Kalau melihatmu bersedih karena Radit, papa jadi ikut sedih.” Senyum lembut dan mata teduh Hendro mendorong air mata Emily kembali luruh.
“Mencari perlindungan lain?” tanya Raditya yang beberapa menit lalu sudah memperhatikan.
“Radit! Jaga sikapmu. Kenapa Emily sampai menangis?” Punggung Hendro menegak menghadap putranya.
“Entahlah. Papa bisa tanyakan langsung padanya.” Dagu Raditya bergerak menunjuk istrinya.
Emily memaksakan bibirnya tersenyum kembali. “Papa belum cerita kenapa papa datang?”
Hendro paham, Emily tidak ingin memperuncing masalahnya dengan berkata jujur. Maka, yang bisa Hendro lakukan adalah menunggu menantunya itu membuka diri.
“Oh ya, papa punya hadiah pernikahan buat kalian. Maaf, telat.” Hendro merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan dua tiket pesawat. “Ini.”
Ragu, Emily menerima tiket yang terulur padanya. Dibacanya dengan seksama dan terbeliak. “Maladewa?” Mata Emily beralih pada ayah mertuanya.
Kepala Hendro mengangguk pelan. “Awalnya, papa pikir kalian akan senang menerima kado dari papa. Tapi, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk kalian bepergian.”
Raut kecewa di wajah Hendro membuat Emily mengutuki dirinya. Andai saja, dia tidak sembrono mengumbar emosinya, tentu Hendro tidak akan tahu kondisi rumah tangganya.
“Papa, aku minta maaf sudah buat papa khawatir. Kami hanya salah paham biasa, kok.”
Anggukan Hendro tidak mampu mengurangi rasa bersalah Emily. Hendro terlalu baik dan sayang padanya, hingga tidak ingin membuatnya merasa bersalah. Emily yakin itu.
“Oke, papa pulang dulu. Tiket itu untuk minggu depan. Jadi ….” Hendro meremas jemari Emily dan setengah berbisik, “Kalian bisa selesaikan semuanya dan berbaikan sambil menikmati view Kepulauan Maladewa yang terkenal cantik.”
Pukk.
Sekali lagi, Hendro menepuk punggung tangan Emily sebelum berdiri dan meninggalkan kediaman putranya.
Prok … prok … prok ….
“Luar biasa, Emily Femeraldi. Aku baru menyadari bahwa kamu bukan hanya dokter, tapi seorang pemain handal.” Raditya memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana seraya menghampiri Emily yang beranjak dari sofa. “Tidak hanya cantik dan berotak cerdas.” Raditya meraih ujung rambut Emily dan memainkannya. “Daya tarikmu juga luar biasa, Sayang.”
“Akhh …!” Emily memekik kesakitan kala tangan Raditya menarik rambutnya ke depan hingga wajahnya nyaris menyentuh hidung suaminya. “Lepas, Mas! Sakit.” Jemari Emily berusaha membebaskan rambutnya dari cengkeraman Raditya.
“Menjijikkan! Sikapmu saat di atas ranjang bersamaku, jauh berbeda dengan saat ini, Emmy.” Tangan Raditya yang masih terjerat rambut Emily meraba pelan ke arah leher mulus dan detik berikutnya mendorong kasar leher itu hingga terhempas ke sofa.
“Akh … sakit, Mas!” desis Emily sambil berusaha mendorong bahu Raditya menjauh darinya.
“Wanita munafik! Rupanya kamu tidak sabar mengangkang pada pria lain? Menjadikan kemarahanku alasan untuk menggoda Arga, begitu?!”
Jemari Raditya makin kuat mencekik leher Emily, membuat kaki wanita itu menjejak lantai dengan putus asa agar dapat terlepas. Tangan kanannya sibuk meraba meja, mencari alat untuk melumpuhkan Raditya.
Asbak. Emily meraba asbak dan meraihnya dengan sisa tenaga yang dia punya. “Lepaskan aku, Baj*ngan!”
Prakk!
“Argh …!”
Giliran Raditya yang berteriak kesakitan kala penampung abu rokok berbahan kaca itu menggores dahinya dan mengucurkan darah segar. Pria itu limbung ke kiri dan jatuh telentang di lantai—antara meja dan sofa—lalu meringkuk seperti bayi dalam kandungan.
“Astaga … ada apa ini, Non?! Kenapa bisa begini?!” Asih yang terkejut mendengar keributan di ruang depan, segera berlari dari dapur dan terperangah melihat yang terjadi.
Emily meringkuk ketakutan di atas sofa dengan kedua tangan gemetar memeluk tubuhnya. “To—tolong telf ambulans, Bik!” ucapnya terbata.
“TIDAK!” Raditya berusaha duduk. “Kamu.” Telunjuk kirinya terangkat ke arah Emily. “Tanggung jawab!”
“Bantu aku berdiri, Bik.” Raditya mengulurkan tangannya ke arah Asih meminta bantuan. “Bawa aku ke kamar.”
Setelahnya, Asih sibuk berkeliling ruangan mencari dan membawa barang-barang yang Emily minta ke kamar utama untuk merawat luka Raditya. Tangan Emily masih gemetar saat sarung tangan medis sudah membalutnya.
“Apalagi yang kamu tunggu?!” bentak Raditya tak sabar. Dahinya terasa basah dan perih, kepalanya berdenyut, tangannya mengepal kuat mencegahnya berbuat kasar pada Emily yang masih ketakutan.
“Aku akui, kamu semakin menarik. Sikapmu ini membuatku semakin bergairah. Kau tahu?”
Kalimat-kalimat yang Raditya lontarkan, membuat bulu kuduk Emily meremang ngeri. Selama enam bulan pernikahannya, Emily hanya sekali berhubungan badan dengan Raditya di malam pertamanya yang kacau. Malam itu, Raditya terlalu agresif hingga melupakan kebutuhan Emily untuk dihargai dan dimanjakan.
Dua hari setelahnya, Emily baru bisa turun dari ranjang dan berjalan normal. Pengalaman pertama yang mengerikan buatnya.
Tunggu, bukankah tadi dia berkata kalau sikapku di atas ranjang berbeda? Ranjang yang mana? Kapan? Apa maksud ucapannya? Kami hanya berhubungan satu kali dan itu mengerikan. Emily termenung mencerna kalimat Raditya yang janggal menurutnya.
“Apa yang kamu tunggu?! Berharap aku mati kehabisan darah, hah?!”
Bentakan Raditya membangunkan Emily dari lamunan dan mulai bekerja. Lima belas menit berlalu tanpa kata, hanya terdengar desisan dari mulut Raditya menahan sakit.
“Kamu akan terima balasan lebih dari ini, Emmy,” geram Raditya sambil menekan perban di kepalanya. “Lihat saja.”
“Aku akan menceraikanmu sebelum itu terjadi, Mas.” Emily melempar sarung tangannya yang berlumuran darah ke kantong plastik warna kuning.
“Kamu mengancamku, Emmy?!” Mata Raditya mendelik marah. “Kamu tidak akan berani mengecewakan orang tuamu. Ingat, jantung ayahmu akan berhenti berdetak begitu kamu tandatangani surat cerai.” Seringai Raditya membuat Emily ingin mengoyak muka itu.
“Kita lihat saja nanti. Aku akan segera ajukan cerai begitu akhir pekan ini berakhir.” Emily melenggang menuju kamar mandi. Ia ingin mandi, membebaskan tubuhnya dari rasa lengket yang sejak tadi sudah mengganggunya.
“Aku harus cari waktu yang tepat untuk bicara dengan ibu dan ayah. Semua ini membuatku gila,” gumamnya seraya melangkah ke bawah aliran air dingin yang memancar deras.
***
Secangkir teh yang masih mengepul asapnya Soraya letakkan di atas meja tepat di depan putrinya. Raut wajah cantik yang biasanya bersinar, hari ini redup tertutup mendung. Soraya sempat bertanya-tanya ketika Emily menghubunginya pagi tadi dan meminta izin berkunjung. Sikap yang tidak pernah dilakukan Emily sebelumnya.
“Kenapa sendirian? Mana Raditya?” tanya Soraya membuka percakapan.
“Ada jadwal operasi, Bu. Ayah mana?” tanya Emily akhirnya setelah lama tidak melihat sosok ayahnya sejak dia masuk rumah.
“Ada janji ketemu sama kawan-kawan lama bersama pak Hendro.”
Deg.
Jawaban Soraya membuat Emily terhenyak.
“Kenapa? Kok diam?” Kening Soraya mengernyit. “Ada apa, Emmy?”
Emily memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang dan memberanikan diri berujar, “Aku ingin bercerai, Bu,” lirihnya.
Air mata Soraya luruh tanpa ampun. Kalimat yang sudah diduganya akan keluar dari bibir Emily entah kapan, akhirnya hari ini terdengar.
“Bu ….” Emily menggeser tubuhnya menempel rapat pada ibunya. “Maafkan aku, Bu. Aku punya alasan kuat melakukannya. Maaf ….” Tangan Emily meremas menggoyangkan tangan Soraya berharap dimaklumi.
Tak lama kemudian, tangis keduanya pecah.
“Emmy.” Soraya menyusut hidungnya dan menatap lurus Emily. “Ada yang ingin ibu katakan padamu. Tentang Radit dan pernikahanmu.”
Isakan Emily terhenti. Tangannya sigap mengusap wajah dan menyingkirkan anak rambut dari dahinya seolah tindakan itu membuat akal sehatnya kembali jernih.
“Apa, Bu?”
“Tiga hari setelah pernikahanmu, ibu tidak sengaja melihat Radit di bandara sedang menjemput seorang wanita. Apakah dia cerita padamu?” tanya Soraya hati-hati.
Emily menggeleng sambil mengingat hari yang ibunya maksud. “Tiga hari setelah pernikahan?” lirih Emily. Bukankah hari itu Raditya berpamitan akan menghadiri simposium?
“Awalnya, ibu ingin menyapa, tapi tindakan mereka selanjutnya membuat ibu urung menyapa.”
Kedua wanita itu saling tatap. Soraya berharap, Emily mengerti maksud yang tersirat dari kalimatnya barusan. Sebaliknya, Emily ingin ibunya bicara langsung tanpa mengirimkan isyarat yang membuatnya menebak-nebak.
“Apa? Mereka melakukan apa, Bu?” Emily mengangkat bahunya menuntut penjelasan.
“Mereka berciuman layaknya pasangan suami istri.”
***
Pamela keluar dari bilik periksa dengan wajah kesal. “Sebaiknya, apa yang igin kamu bicarakan adalah hal yang benar-benar penting,” sembur dokter cantik itu.“Aku yang akan jadi wali pasien,” singkat Ivander.“Hah?! Apa? Kamu apanya pasien?!” desis Pamela dengan mata mendelik. “Jadi kamu yang—.”“Dengar!” bentak Ivander tertahan. “Aku akan ceritakan detailnya, yang pasti tidak seperti bayanganmu. Biarkan aku yang tanda tangan semua dokumennya.”Dahi Pamela mengkerut dalam. “Aneh! Aku tidak pernah berpikir kamu akan seputus asa ini, Van.”“Hentikan fantasimu! Aku tidak sebejat itu.”Mata Pamela mengerjap lega. “Syukurlah. Tapi, kamu tetap tidak bisa menjadi wali pasiennya. Harus keluarganya. Kecuali, kamu memang keluarga pasien,” sindir Pamuela jenaka.“Van,” panggil Emily dari balik tirai.Ivander mendekatkan kepalanya ke telinga Pamela dan berbisik, “Segera!” Setelahnya, ia menghilang di balik tirai.“Ya.” Ivander berdiri di samping ranjang Emily. Tangannya mengepal melihat kondaisi
“Hei!” hardik Ivander kaget seraya mencekal lengan Emily yang menghajar tubuhnya. “Apa yang kamu lakukan?!” Matanya membulat marah.“Aku yang bertanya lebih dulu padamu, apa maksudnya ini?!” balas Emily tak kalah marah. “Seolah kamu berhak mengatur seluruh kehidupanku hanya karena beberapa kali memberiku bantuan. Begitu?!”Ivander menarik tubuhnya duduk dan membawa Emily bersamanya, duduk di atas pangkuannya. “Dan beberapa kali itu tidak bisa membuatmu percaya padaku? Baiklah. Aku akan tunjukkan sikap yang akan membuat kepercayaanmu semakin pudar.”Cekalan Ivander berpindah dari pergelangan tangan Emily ke tengkuk wanita itu. Dengan satu kali hentakan, kepala Emily meneleng sesuai perintah Ivander dan menerima ciuman yang menuntut.Emily berontak. Marah dan kesal dengan sikap sesuka hati pria itu. Ia menggigit bibir pria itu dan mulai menangis. Sakit di bibir bawahnya, membuat Ivander terpaksa melepaskan ciumannya.Sikapnya melunak melihat Emily menangis tersedu di pangkuannya. Tangan
Grep!Ivander mencium Emily dengan rakus. Bibirnya menekan, memaksa wanita itu menerima dan membalasnya. Emily terpaku beberapa detik lamanya, sebelum kedua tangannya mulai mendorong dan memukul Ivander.“Humpt … humpt …!” Emily berontak sekuat tenaga, tapi sia-sia. Ivander terlalu kuat untuk dilawan.Tangan Emily berhasil menyusup di antara tubuhnya dan Ivander. Kepalan tangannya mendorong sekuat tenaga. Pikirannya hanya fokus untuk melepaskan diri dari jeratan gairah Ivander yang nyaris menghanyutkannya.“Hhh … hhh … hhh.” Emily terengah-engah kehabisan napas. Kepalanya menggeleng cepat ketika kepala Ivander kembali mendekat. “Tidak … hentikan,” tolaknya lemah.“Lihat aku!” perintah Ivander yang hanya dijawab gelengan kepala Emily. “Emily, lihat aku.” Nada Ivander melembut.Emily mendongak dengan wajahnya yang basah dan merona karena ciuman Ivander. Mata itu basah oleh air mata.“Kamu menangis? Apa aku menyakitimu?” tanya Ivander sambil mengusap bibir bengkak Emily dengan ibu jariny
Tok tok tok.Pintu kamar terbuka. Jemari Ivander masih melanjutkan aktivitasnya.“HEI …!” bentak Arga menghambur masuk.Emily hendak menurunkan kemejanya, tapi tangan bebas Ivander mencegahnya. “Rahimnya keras. Cepat siapkan USG portable-mu!”“Oke.” Dengan kesal karena Ivander tidak berusaha menghentikan aktivitasnya, Arga membuka koper kecil dan mulai menyiapkan peralatannya. Makin kesal hatinya manakala melihat Emily bersemu merah karena sentuhan itu.“Minggir!” usir Arga dingin.Kalimat Arga tidak serta-merta membuat Ivander beranjak. Ia masih sempat mengambil tisu, membersihkan krim dari perut Emily dan bangkit perlahan. Matanya tidak pernah lepas dari wajah Emily dan tentu saja, semu merah itu terekam juga olehnya.“Emmy, kamu sedang mengalami kontraksi.” Arga menempelkan jemarinya lembut sebelum menuang gel dingin berwarna biru muda. “Ayo, kita cek dulu.”Layar hitam putih segera berubah begitu probe USG Arga menempel di perut Emily. Arga beberapa kali terdiam dan mengambil tang
“Pagi, Emmy!” sapa pria itu penuh semangat dan senyum cerah.“K-kamu?!” pekik Emily kaget. “Untuk apa kamu di sini?” tanyanya bingung.“Lupa? Dalam rekaman itu, ada kita, tidak hanya kamu.” Ivander menarik kursi kosong di sebelahnya dan menyilakan Emily duduk dengan gerakan dagu.“Karena semua sudah datang, mari kita mulai,” ujar Bayusena membuka pembicaraan resmi. “Hari ini kami berempat diberikan tugas dan wewenang untuk meminta penjelasan atas foto dan video terkait anda berdua. Silakan dewan direksi.”Dua jam lamanya, Emily dan Ivander menjawab berbagai pertanyaan dan menjelaskan banyak tuduhan terkait video dan foto yang beredar di kalangan intern rumah sakit. Mereka keluar dari ruangan beriringan dengan raut wajah yang berbanding terbalik. Emily dengan gurat emosinya, sedangkan Ivander dengan senyum cerianya.Begitu mereka keluar dari pintu ruangan, Hendro sudah berdiri menyambut dengan wajah tegang.“Kita perlu bicara,” ujarnya singkat tanpa ingin dibantah.“Dengan kami?” tanya
Emily terdiam, matanya menatap tangan besar Ivander yang erat menggenggam tangan, tapi tidak mencoba menariknya. Hanya merasakan kehangatan yang melingkupi tangan dan menjalar ke hatinya.“Kenapa rasanya hangat dan tenang? Apa baru Ivadner yang menggenggam tanganku seperti ini?” batin Emily takjub dengan apa yang sedang terjadi. Ini kali pertama ada seseorang yang menggenggam tangannya seperti ini. Bahkan, Arthur—ayahnya—dan Raditya tidak pernah melakukannya.“Kenapa?” tanya Ivander khawatir. “Apa yang kamu rasakan?”“Hangat,” sahut Emily spontan.“Hah?! Apa?” Ivander tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. “Kamu bilang apa?”Emily mengangkat kepalanya dan bersitatap dengan Ivander. “Hangat,” ulangnya tanpa ragu. “Ini pertama kalinya aku merasakan genggaman tangan seseorang bisa memberikan rasa hangat dan ketenangan,” imbuhnya tanpa berpikir.Ivander mencoba mencerna kalimat Emily tanpa berlebihan. “Berikan tanganmu,” pin
Emily kembali ke kamarnya, berbaring menyamping setengah meringkuk—posisi favoritnya ketika membutuhkan perlindungan. Sebuah himpitan terasa menyesakkan dadanya melihat kondisi Soraya nyaris kembali ke tahun-tahun setelah kepergian Amelia. Rumah besarnya kembali sunyi. Meja makan bund
Soraya terus memperhatikan dan mendengarkan setiap kalimat yang diutarakan wanita muda yang menghampiri Emily dengan takut-takut. Dari yang didengarnya, Soraya tahu bahwa wanita muda itu adalah istri pedagang yang ditabraknya.“Mereka pasangan muda dengan tiga orang anak yang masih kec
“Aku ingin mengajukan gugatan cerai.”Kalimat pertama Emily setelah mereka sampai rumah, tidak mengejutkan Arthur dan Soraya. Mereka hanya saling pandang dengan tatapan sedih.“Maaf, kalau keputusanku ini melukai kalian. Tapi, aku sudah menimbangnya masak-masak. Aku harap—.”“Kami mendukungmu,” pot
“Sudah waktunya kamu menjadwalkan sesi konselingmu, kalau itu tidak merepotkan.”Emily mendongak. “Apakah bisa sekarang?”Alih-alih menjawab, Ivander mengambil kursi dan meumbawanya ke samping ranjang Emily. “Silakan,” ujarnya yakin.&ldquo







