เข้าสู่ระบบRaditya terbakar amarah menyadari sikap istrinya yang mulai berani. Diraihnya kunci mobil di atas meja dan bergegas mencari Emily ke rumah sakit.
“Dia pikir, siapa dia? Berani sekali meninggalkan rumah tanpa pamit. Mau sembunyi? Percuma!” oceh Raditya seraya menginjak pedal gas lebih dalam.
Sesampainya di ruang kerja istrinya, Raditya semakin marah menemukan ruangan itu kosong. Emily tidak juga menjawab panggilannya. “Perempuan tidak tahu diuntung! Sudah merasa hebat, heh?!”
Raditya membanting pintu melampiaskan marahnya dan nyaris menabrak salah satu perawat yang biasanya menemani Emily memeriksa pasien poli bedah.
“Laras! Mana Emily?!” tanya Raditya kasar, membuat perawat di hadapannya mengernyit.
“Ke kantin, Dok. Ada undangan syukuran ulang tahun Prof. Burhan.”
Tanpa mengucap terima kasih, Raditya meninggalkan Larasati yang menggerutu kecewa. Raditya mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin, mencari sosok Emily yang mudah ditemukan karena posturnya tinggi dan rambut ikalnya yang jarang dimiliki wanita cantik era rebonding.
Matanya memicing ke sudut kantin yang lumayan jauh dari keramaian. Dua sosok yang sangat dikenalnya sedang berdiri berhadapan dengan wajah saling mendekat.
“Oh, di sini kamu rupanya. Mengadu pada sahabatmu? Sudah mulai berani rupanya.” Raditya berjalan cepat ke arah istrinya yang kebetulan sedang ditarik berjalan ke arahnya.
“Ada apa ini?!” Raditya Hutama berdiri menghadang jalan dengan rasa tidak suka yang tidak ingin disembunyikannya.
Buru-buru Emily menarik tangannya lepas. “Mas, sedang apa di sini?” tanya Emily kaget.
“Sedang melihatmu dan Arga berjalan sambil bergandengan mesra. Kenapa?” Raditya meraih tangan Emily lainnya dan menariknya mendekat. “Sudah mulai berani, ya?” desisnya di telinga Emily.
Embusan napas Raditya dan desisannya membuat Emily sedikit mundur. “Tidak seperti pikiranmu, Mas.” Emily menarik tangannya untuk kedua kalinya.
“Kebetulan sekali kamu datang, Dit. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu.” Arga menunjuk pipi Emily yang kini mulai nampak lebam. “Apa yang terjadi dengan wajahnya?”
“Bukan urusanmu!” geram Raditya. “Urus saja pasien hamilmu, kalau masih ingin bekerja di sini!” Tangan kiri Raditya mendorong bahu kanan Arga kasar hingga pria tampan itu mundur dua langkah.
Emily mencengkeram lengan atas Raditya dan berbisik, “Mas, cukup! Ini rumah sakit.”
Raditya menoleh ke arah istrinya dan tersenyum sinis. “Masih tahu tempat rupanya. Kalau kamu tahu ini rumah sakit, kenapa kamu mesra-mesraan dengan Arga di sini? Kamu salah tempat, Sayang.” Raditya meraih dagu istrinya dengan kasar. “Ingat, tempat ini milikku!”
Dagu lancip dengan bulatan kecil menggemaskan itu terdorong kasar ke samping setelah Raditya melepasnya dengan kasar. “Pulang!”
Arga hendak mencegah Raditya, namun urung karena tatapan tajam dan gelengan samar yang Emily isyaratkan. Ia hanya bisa melihat wanita cantik yang pernah menjadi dambaannya itu ditarik kasar menjauhinya.
“Lepas, Mas!” Emily memberontak kasar sesampainya di pelataran parkir. “Kita ketemu di rumah.” Emily berbalik hendak menuju tempat kendaraannya terparkir, namun tangan Raditya menariknya berbalik.
“Masuk!”
***
Mobil belum berhenti sempurna, tangan Emily sudah meraih gagang pintu bersiap membukanya.
“EMMY …!” bentak Raditya marah. “Kamu ingin mati?!”
“Seolah kamu peduli, Mas!” sahutnya kasar seraya keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
Air mata jatuh tak terbendung dari kedua mata cantik Emily. Semakin punggung tangannya rajin mengusap, semakin deras air matanya luruh. Kakinya tegas melewati ruang tamu, meninggalkan suara berisik antara lantai dan hak sepatunya.
“Ada apa ini?!”
Emily terperanjat melihat ayah mertuanya berdiri menatapnya dengan tangan terentang dan wajah berkerut. “P … Papa ….” Kedua tangan Emily aktif membersihkan wajah dan merapikan rambutnya. “Sudah tadi?”
Alih-alih menjawab pertanyaan menantu kesayangannya, Hendro melangkah pelan menghampiri Emily tanpa melepaskan tatapannya. “Bertengkar?” tanyanya singkat.
Sebuah senyum terpaksa terulas di bibir Emily. “Engh, enggak. Hanya salah paham sedikit.” Buru-buru, Emily meraih lengan Hendro dan mengajaknya ke sofa. “Papa, emh … ada perlu apa datang ke sini?”
Sial! Kenapa aku harus tanyakan hal bodoh ini?! umpat Emily penuh sesal.
Pukk. Hendro menepuk punggung tangan Emily yang masih bertengger hangat di lengannya. “Tidak boleh berkunjung tanpa janji temu, Dok?” goda Hendro lembut. Hatinya perih melihat luka di sudut bibir Emily dan pipi yang lebam. Nalurinya sebagai dokter memberitahunya bahwa itu bekas tamparan tangan anaknya.
Mata Emily kembali berkaca-kaca. Pria paruh baya yang sedang menatap lembut padanya ini, salah satu alasan Emily berat menceraikan Raditya sejak laki-laki itu berubah kasar padanya.
“Papa …,” desah Emily meminta pemakluman.
“Emmy, papa sayang kamu seperti anak papa sendiri. Kalau melihatmu bersedih karena Radit, papa jadi ikut sedih.” Senyum lembut dan mata teduh Hendro mendorong air mata Emily kembali luruh.
“Mencari perlindungan lain?” tanya Raditya yang beberapa menit lalu sudah memperhatikan.
“Radit! Jaga sikapmu. Kenapa Emily sampai menangis?” Punggung Hendro menegak menghadap putranya.
“Entahlah. Papa bisa tanyakan langsung padanya.” Dagu Raditya bergerak menunjuk istrinya.
Emily memaksakan bibirnya tersenyum kembali. “Papa belum cerita kenapa papa datang?”
Hendro paham, Emily tidak ingin memperuncing masalahnya dengan berkata jujur. Maka, yang bisa Hendro lakukan adalah menunggu menantunya itu membuka diri.
“Oh ya, papa punya hadiah pernikahan buat kalian. Maaf, telat.” Hendro merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan dua tiket pesawat. “Ini.”
Ragu, Emily menerima tiket yang terulur padanya. Dibacanya dengan seksama dan terbeliak. “Maladewa?” Mata Emily beralih pada ayah mertuanya.
Kepala Hendro mengangguk pelan. “Awalnya, papa pikir kalian akan senang menerima kado dari papa. Tapi, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk kalian bepergian.”
Raut kecewa di wajah Hendro membuat Emily mengutuki dirinya. Andai saja, dia tidak sembrono mengumbar emosinya, tentu Hendro tidak akan tahu kondisi rumah tangganya.
“Papa, aku minta maaf sudah buat papa khawatir. Kami hanya salah paham biasa, kok.”
Anggukan Hendro tidak mampu mengurangi rasa bersalah Emily. Hendro terlalu baik dan sayang padanya, hingga tidak ingin membuatnya merasa bersalah. Emily yakin itu.
“Oke, papa pulang dulu. Tiket itu untuk minggu depan. Jadi ….” Hendro meremas jemari Emily dan setengah berbisik, “Kalian bisa selesaikan semuanya dan berbaikan sambil menikmati view Kepulauan Maladewa yang terkenal cantik.”
Pukk.
Sekali lagi, Hendro menepuk punggung tangan Emily sebelum berdiri dan meninggalkan kediaman putranya.
Prok … prok … prok ….
“Luar biasa, Emily Femeraldi. Aku baru menyadari bahwa kamu bukan hanya dokter, tapi seorang pemain handal.” Raditya memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana seraya menghampiri Emily yang beranjak dari sofa. “Tidak hanya cantik dan berotak cerdas.” Raditya meraih ujung rambut Emily dan memainkannya. “Daya tarikmu juga luar biasa, Sayang.”
“Akhh …!” Emily memekik kesakitan kala tangan Raditya menarik rambutnya ke depan hingga wajahnya nyaris menyentuh hidung suaminya. “Lepas, Mas! Sakit.” Jemari Emily berusaha membebaskan rambutnya dari cengkeraman Raditya.
“Menjijikkan! Sikapmu saat di atas ranjang bersamaku, jauh berbeda dengan saat ini, Emmy.” Tangan Raditya yang masih terjerat rambut Emily meraba pelan ke arah leher mulus dan detik berikutnya mendorong kasar leher itu hingga terhempas ke sofa.
“Akh … sakit, Mas!” desis Emily sambil berusaha mendorong bahu Raditya menjauh darinya.
“Wanita munafik! Rupanya kamu tidak sabar mengangkang pada pria lain? Menjadikan kemarahanku alasan untuk menggoda Arga, begitu?!”
Jemari Raditya makin kuat mencekik leher Emily, membuat kaki wanita itu menjejak lantai dengan putus asa agar dapat terlepas. Tangan kanannya sibuk meraba meja, mencari alat untuk melumpuhkan Raditya.
Asbak. Emily meraba asbak dan meraihnya dengan sisa tenaga yang dia punya. “Lepaskan aku, Baj*ngan!”
Prakk!
“Argh …!”
Giliran Raditya yang berteriak kesakitan kala penampung abu rokok berbahan kaca itu menggores dahinya dan mengucurkan darah segar. Pria itu limbung ke kiri dan jatuh telentang di lantai—antara meja dan sofa—lalu meringkuk seperti bayi dalam kandungan.
“Astaga … ada apa ini, Non?! Kenapa bisa begini?!” Asih yang terkejut mendengar keributan di ruang depan, segera berlari dari dapur dan terperangah melihat yang terjadi.
Emily meringkuk ketakutan di atas sofa dengan kedua tangan gemetar memeluk tubuhnya. “To—tolong telf ambulans, Bik!” ucapnya terbata.
“TIDAK!” Raditya berusaha duduk. “Kamu.” Telunjuk kirinya terangkat ke arah Emily. “Tanggung jawab!”
“Bantu aku berdiri, Bik.” Raditya mengulurkan tangannya ke arah Asih meminta bantuan. “Bawa aku ke kamar.”
Setelahnya, Asih sibuk berkeliling ruangan mencari dan membawa barang-barang yang Emily minta ke kamar utama untuk merawat luka Raditya. Tangan Emily masih gemetar saat sarung tangan medis sudah membalutnya.
“Apalagi yang kamu tunggu?!” bentak Raditya tak sabar. Dahinya terasa basah dan perih, kepalanya berdenyut, tangannya mengepal kuat mencegahnya berbuat kasar pada Emily yang masih ketakutan.
“Aku akui, kamu semakin menarik. Sikapmu ini membuatku semakin bergairah. Kau tahu?”
Kalimat-kalimat yang Raditya lontarkan, membuat bulu kuduk Emily meremang ngeri. Selama enam bulan pernikahannya, Emily hanya sekali berhubungan badan dengan Raditya di malam pertamanya yang kacau. Malam itu, Raditya terlalu agresif hingga melupakan kebutuhan Emily untuk dihargai dan dimanjakan.
Dua hari setelahnya, Emily baru bisa turun dari ranjang dan berjalan normal. Pengalaman pertama yang mengerikan buatnya.
Tunggu, bukankah tadi dia berkata kalau sikapku di atas ranjang berbeda? Ranjang yang mana? Kapan? Apa maksud ucapannya? Kami hanya berhubungan satu kali dan itu mengerikan. Emily termenung mencerna kalimat Raditya yang janggal menurutnya.
“Apa yang kamu tunggu?! Berharap aku mati kehabisan darah, hah?!”
Bentakan Raditya membangunkan Emily dari lamunan dan mulai bekerja. Lima belas menit berlalu tanpa kata, hanya terdengar desisan dari mulut Raditya menahan sakit.
“Kamu akan terima balasan lebih dari ini, Emmy,” geram Raditya sambil menekan perban di kepalanya. “Lihat saja.”
“Aku akan menceraikanmu sebelum itu terjadi, Mas.” Emily melempar sarung tangannya yang berlumuran darah ke kantong plastik warna kuning.
“Kamu mengancamku, Emmy?!” Mata Raditya mendelik marah. “Kamu tidak akan berani mengecewakan orang tuamu. Ingat, jantung ayahmu akan berhenti berdetak begitu kamu tandatangani surat cerai.” Seringai Raditya membuat Emily ingin mengoyak muka itu.
“Kita lihat saja nanti. Aku akan segera ajukan cerai begitu akhir pekan ini berakhir.” Emily melenggang menuju kamar mandi. Ia ingin mandi, membebaskan tubuhnya dari rasa lengket yang sejak tadi sudah mengganggunya.
“Aku harus cari waktu yang tepat untuk bicara dengan ibu dan ayah. Semua ini membuatku gila,” gumamnya seraya melangkah ke bawah aliran air dingin yang memancar deras.
***
Secangkir teh yang masih mengepul asapnya Soraya letakkan di atas meja tepat di depan putrinya. Raut wajah cantik yang biasanya bersinar, hari ini redup tertutup mendung. Soraya sempat bertanya-tanya ketika Emily menghubunginya pagi tadi dan meminta izin berkunjung. Sikap yang tidak pernah dilakukan Emily sebelumnya.
“Kenapa sendirian? Mana Raditya?” tanya Soraya membuka percakapan.
“Ada jadwal operasi, Bu. Ayah mana?” tanya Emily akhirnya setelah lama tidak melihat sosok ayahnya sejak dia masuk rumah.
“Ada janji ketemu sama kawan-kawan lama bersama pak Hendro.”
Deg.
Jawaban Soraya membuat Emily terhenyak.
“Kenapa? Kok diam?” Kening Soraya mengernyit. “Ada apa, Emmy?”
Emily memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang dan memberanikan diri berujar, “Aku ingin bercerai, Bu,” lirihnya.
Air mata Soraya luruh tanpa ampun. Kalimat yang sudah diduganya akan keluar dari bibir Emily entah kapan, akhirnya hari ini terdengar.
“Bu ….” Emily menggeser tubuhnya menempel rapat pada ibunya. “Maafkan aku, Bu. Aku punya alasan kuat melakukannya. Maaf ….” Tangan Emily meremas menggoyangkan tangan Soraya berharap dimaklumi.
Tak lama kemudian, tangis keduanya pecah.
“Emmy.” Soraya menyusut hidungnya dan menatap lurus Emily. “Ada yang ingin ibu katakan padamu. Tentang Radit dan pernikahanmu.”
Isakan Emily terhenti. Tangannya sigap mengusap wajah dan menyingkirkan anak rambut dari dahinya seolah tindakan itu membuat akal sehatnya kembali jernih.
“Apa, Bu?”
“Tiga hari setelah pernikahanmu, ibu tidak sengaja melihat Radit di bandara sedang menjemput seorang wanita. Apakah dia cerita padamu?” tanya Soraya hati-hati.
Emily menggeleng sambil mengingat hari yang ibunya maksud. “Tiga hari setelah pernikahan?” lirih Emily. Bukankah hari itu Raditya berpamitan akan menghadiri simposium?
“Awalnya, ibu ingin menyapa, tapi tindakan mereka selanjutnya membuat ibu urung menyapa.”
Kedua wanita itu saling tatap. Soraya berharap, Emily mengerti maksud yang tersirat dari kalimatnya barusan. Sebaliknya, Emily ingin ibunya bicara langsung tanpa mengirimkan isyarat yang membuatnya menebak-nebak.
“Apa? Mereka melakukan apa, Bu?” Emily mengangkat bahunya menuntut penjelasan.
“Mereka berciuman layaknya pasangan suami istri.”
***
Caroline keluar dari auditorium dengan langkah mantap penuh kebanggaan. Selangkah lagi, keinginannya menjadi istri pewaris rumah sakit akan segera terwujud. Saat ini, ia mungkin hanya salah satu dokter spesialis, tapi sebentar lagi, dia akan menjadi satu-satunya istri pewaris. Membayangkan hal itu, senyum Caroline merekah.Sret.Seseorang menarik lengan Caroline ke tempat yang tersembunyi. “Bahagia sekali sepertinya?” Embusan napas Raditya menyapu leher Caroline.“Radit …,” desah Caroline seraya mendorong pundak pria itu. “Kau akan membuat riasanku luntur.”Raditya menjauhkan wajahnya yang dihiasi seringai. “Aku bangga melihatmu di atas tadi.” Sebuah kecupan mendarat di dahi Caroline. “Perlahan, semua orang akan mulai mengenalmu.”Kepala Caroline mendongak, memamerkan lehernya yang polos. “Argh … sekalian kamu mengagumi istrimu di atas podium?” sinisnya.“Hahaha …! Aku semakin suka saat kamu cemburu seperti ini.” Raditya mendaratkan satu kecupan panjang sbeelum menarik tangan Caroline
“Arga?! Jadi beberapa hari ini kamu bilang tinggal menemani ibumu, ternyata menemani pria lain?!”Emily terbeliak. Tidak menyangka Raditya bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu padanya di depan banyak orang yang saat itu ada di IGD. Pengunjung yang awalnya fokus menunggu keluarganya yang sedang mengantre untuk diperiksa, kini tertuju padanya dan Raditya.Plak!Tangan kanan Emily mendarat di pipi kiri Raditya tanpa bisa dikendalikan lagi. Sebuah tamparan yang cukup keras untuk menghapus senyumculas di wajah pria itu yang selama ini dia abaikan.“CUKUP!” bentak Emily dengan lantang. “Tutup mulutmu!”Rekan sejawat yang sedang bertugas pun tersentak melihat perubahan sikap Emily. Dokter cantik, baik dan cerdas yang mereka kenal, lenyap. Pun begitu dengan Raditya. Matanya yang terbelalak sambil meraba pipinya yang panas karena tamparan Emily, menunjukkan bahwa tamparan itu di luar dugaannya.“K
“Halo. Aku sudah bertemu dengan istrimu, Emily.” Caroline tidak membuang waktu untuk menceritakan kejadian seru yang baru dialaminya.[Ketemu di mana?]“Di rumah sakit milikmu. Di mana lagi?” jawab Caroline sambil mencermati kuku palsunya.[Kamu ngapain ke sana?!] Terdengar kepanikan dalam suara Raditya.“Kok ngapain? Tadi kamu bilang, aku boleh kerja di sini. Kok sekarang ngapain?!” sungut Caroline. “Jangan-jangan, kamu tidak sungguh-sungguh ingin menikahiku, ya?!”[Bukan begitu, Carol. Aku akan membuatmu bekerja di sana, tapi tidak sekarang. Ayolah, jangan mempersulitku.] Raditya mulai kehilangan kesabaran.“Sekarang! Aku maunya sekarang! Kamu tinggal hubungi pegawai HRD dan bilang kalau ada dokter bedah plastik baru yang akan datang hari ini. Beres, ‘kan?!” desak Caroline. “Aku tidak ingin membuang waktu lagi untuk bisa bersamamu, Radit!”[STOP! Stop sebu
Emily berjalan menyusuri selasar rumah sakit. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Arthur begitu teguh pada keputusannya, meskipun kondisi istri dan anaknya sedang tidak baik-baik saja karena masalah itu. Emily tidak menyangka ayahnya lebih mencintai status dan harta benda dibandingkan kebahagiaan anaknya.Tak terasa, Emily sampai di taman rumah sakit. Area hijau yang jauh dari aroma antiseptik dan cairan desinfektan. Taman ini terletak bersebelahan dengan kantin rumah sakit, agak ke belakang. Tempat yang cocok untuk berdiam atau mengalihkan pikiran yang sedang buntu. Emily memilih duduk di bangku paling ujung, di bawah pohon akasia yang sedang lebat bunganya.“Hhh … mari kita duduk sejenak dan melupakan yang terjadi.”Pandangan Emily menerawang jauh tanpa fokus yang jelas. Tangan kirinya bersandar pada lengan bangku untuk menopang kepalanya. Lama-kelamaan, rasa kantuk menghinggapinya. Emily tertidur.Puk.Emily tersentak
“Kalau begitu, kita buat bayi itu enggan hidup.”Mata Raditya yang awalnya sayu karena nikmatnya sentuhan Caroline, terbelalak mendengar penuturan kekasihnya itu. “Apa maksudmu? Kamu ingin melenyapkan bayi itu?!” Raditya menarik tubuhnya duduk tegak.Raut wajah Caroline tak kalah kagetnya melihat respon Raditya. “Jangan bilang, kamu masih ingin punya hubungan dengan istrimu lewat bayi itu, iya?!” sungutnya seraya keluar dari dalam air.“Carol! Sayang!” panggil Raditya panik. “Hei … ayolah. Selesaikan dulu ini.”“Selesaikan saja sendiri!” teriak Caroline sambil meraih jubah mandi yang tergantung di dinding dan melangkah pergi.Plash!Raditya memukul air dengan kesal. “Si*l …!” umpatnya.***Arga baru saja menyelesaikan pasien rawat jalan terakhirnya. Ia melirik jam tangannya dan mendesah, “Sudah beberapa hari berlalu,
Raditya berjalan cepat ke tempat mobilnya terparkir. Ia membuka pintu dan menutup pintu dengan kasar. Wajahnya merah dengan raut bersungut-sungut.“Kenapa? Bertengkar lagi?” Tangan pemilik suara itu mengelus dada Raditya berulang kali hingga napas pria itu kembali teratur.“Sial*n mereka semua! Menyesal aku datang tadi.” Raditya memukul kemudi mobilnya dengan kesal.“Sudah, jangan lampiaskan marahmu di sini. Bukan aku yang menyulut amarahmu. Hmm?” Tangan yang tadinya diam di atas dada, kini beralih ke dagu Raditya, memaksa pria itu menoleh ke arah pemilik suara.“Lihat aku. Apakah masih bisa marah?” Caroline mengulas senyum menghibur Raditya. “Ceraikan saja dia. Bertahan juga menghabiskan tenaga. Percuma. Hmm?”Alih-alih menjawab, Raditya membuang muka hingga dagunya terpisah dari jemari Caroline. “Kalau aku yang menceraikannya, hak warisku akan lenyap. Jatuh ke tangan wanita itu karena dia sedang mengandung anakku.”“Hmm ….” Caroline meluru







