Share

Bab 3

Author: Selene21
last update publish date: 2026-04-10 15:43:18

Entah mengapa, Emily tidak terkejut mendengar penjelasan Soraya. Adanya perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya dengan Raditya sempat terbersit dalam pikirannya, hanya berada diurutan terbawah.

“Emmy, kalau memang kamu merasa perceraian adalah jalan terbaik buat kalian, ibu akan coba bicarakan dengan ayahmu nanti.” Soraya kembali meremas telapak tangan Emily.

Kehilangan Amelia merupakan pukulan yang berat baginya, tapi keberadaan Emily—saudara kembarnya, perlahan mengobati luka Soraya. Kalau saat ini, kebahagiaan anak itu menjadi taruhannya, Soraya memilih memutuskan hubungan baiknya dengan Hendro dan menyelamatkan Emily.

“Tapi, Bu. Bagaimana dengan ayah, apakah dia juga akan setuju? Bukankah ….”

“Sudah.” Soraya memotong cepat keraguan putrinya. “Jangan terlalu dipikirkan. Biar ibu yang bicara nanti dengan ayahmu. Ibu yakin, ayah tidak akan mengorbankan keluarga apapun alasannya.”

***

Emily mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Tiga puluh menit lagi, dia terjadwal mengerjakan operasi. Kakinya sedikit limbung ketika melangkah keluar dari pintu lift. Beruntung ada seseorang yang menangkap lengannya.

Bug!

“Oh, maaf!” pekik Emily panik. “Terima kasih.” Emily sibuk menarik lengannya dan membetulkan dres denim selutut miliknya, tanpa repot menatap sosok yang sudah menolongnya.

“Hati-hati, Dok.” Suara berat dan maskulin menyapa telinga Emily, membuat wanita itu mendongak.

“Ya. Sekali lagi terima kasih.” Emily mengangguk sopan lalu kembali melangkah menuju kamar operasi.

“Pagi.” Sapaan Emily ketika memasuki ruangan disambut senyuman dan lambaian tangan beberapa rekan sejawatnya yang kebetulan berada di sana.

“Kopi, Dok?” tanya seorang perawat dengan pakaian hijau khas penghuni kamar operasi.

Emily menggeleng seraya mengulas senyum.

“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Rayhan sambil memutar telunjuknya di depan muka Emily. “Pucat banget.”

Refleks, Emily menangkup pipinya sendiri. “Hah?! Nggak, kok.”

“Hati-hati, Dok. Jangan terlalu perhatian, nanti kena masalah seperti dokter Arga kemarin,” sinis Bagus sambil membereskan laporan pasien.

“Hush …!” Rayhan melemparkan tatapan tajam mendengar ucapan Bagus. “Abaikan saja, Em.” Rayhan menepuk bahu Emily mencairkan suasana. “Ada jadwal op?”

Emily mengangguk dan kembali tersenyum. “Ya, aku siap-siap dulu, Kak.” Emily melenggang masuk ke dalam ruang ganti meninggalkan bisikan-bisikan canggung di belakangnya.

“Jaga bicaramu!” geram Rayhan di belakang Bagus. “Dia tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu.”

Rayhan 2 tahun di atas Emily. Ia melihat Emily pertama kali ketika upacara inagurasi ayah Emily—Arthur, menjabat sebagai direktur non-medis menggantikan ayahnya. Malam itu, Rayhan hanya melihat Emily dari kejauhan. Gadis itu mengingatkannya pada mendiang istrinya yang baru saja pergi. Niat hati ingin mengenal dekat Emily, tapi Raditya—putra pemilik rumah sakit tempatnya bekerja—lebih dulu menggenggam tangan wanita itu.

***

Emily melirik jam digital di atas pintu kamar operasinya. Sudah dua jam aku berdiri, batinnya sambil menyelesaikan dua jahitan terakhir sayatannya. Tanpa sadar, Emily menggelengkan kepalanya, menarik perhatian asisten di sebelahnya.

“Kenapa, Dok?” Ratih mencermati butiran peluh sebesar jagung di wajah operator bedahnya.

“Entahlah, saya merasa sedikit pusing,” lirih Emily.

“Kalau boleh, biar Aris yang lanjutkan, Dok.” Ratih menggerakkan dagunya memberi isyarat Aris agar mengajukan diri, mengingat Emily bukan tipe operator bedah yang hanya mau membedah, tapi enggan menutup luka.

“Iya, Dok. Biar saya kerjakan sisanya,” timpal Aris yakin.

Emily menatap Aris dan Ratih bergantian. Sepasang suami istri ini yang hamper selalu menemaninya mengerjakan berbagai macam operasi. Ia tahu betul kemampuan mereka berdua dan percaya.

“Baiklah. Terima kasih.” Emily menyerahkan nald voeder dan pinset ke tangan Aris yang berada di seberangnya. Berbalik memunggungi pasien dan berjalan melewati Ratih tanpa bersinggungan.

Belum sampai kakinya membuka pintu, mata Emily berkunang-kunang dan sedetik kemudian, ia merasa gelap dan hilang kesadaran.

Brakk …!

Tubuh Emily menghantam pintu kaca geser berbingkai stainless steel sebelum jatuh ke lantai granit.

“DOK …!” pekik semua yang melihatnya.

“Laras, panggil bantuan!” perintah Aris tanpa meninggalkan posisinya.

Hanya Laras yang saat ini kondisinya tidak steril dan bebas bergerak. Sigap, perawat muda itu menghubungi seseorang di luar kamar operasi dan meminta bantuan. Tidak berapa lama, pintu terbuka, Arga masuk berpakaian hijau seperti Laras dan segera berlutut memeriksa kondisi Emily.

“Em, Emmy!” Arga menepuk pipi Emily beberapa kali sebelum mengangkat tubuh itu dan mengikuti Laras menuju ruang istirahat staf operasi.

“Tolong ambilkan stetoskop dan tensimeter!” ujar Arga sambil membaringkan tubuh Emily di atas ranjang. Arga mulai melepaskan topi, sarung tangan dan jas operasi yang masih menempel di tubuh Emily.

Begitu Laras kembali, Arga dengan sigap dan cermat memeriksa Emily.

“Astaga, rendah sekali,” gumamnya ketika melihat angka yang tertera di layar tensimeter digital. Arga menoleh ke arah Laras. “Tolong siapkan infus D5.” Anggukan Laras menjawab permintaan Arga.

“Argh …,” desis Emily ketika merasakan ada sesuatu yang menusuk kulit tangan kirinya.

“Jangan ditarik. Diam dulu.” Sebuah suara membuat Emily terjaga sepenuhnya.

“Arga! Kenapa kamu di sini?!” tanya Emily panik. Matanya mengamati tangan Arga cekatan menempelkan plester di kulitnya dan mengatur tetesan infus.

“P3DP. Pertolongan pertama pada dokter pingsan,” sahut Arga tanpa mengalihkan matanya dari cairan infus di depannya.

“Hmm … hmm ….”

Tawa pelan tertahan dari sisi kanannya membuat Emily menahan omelannya. “Sus,” sapanya canggung. “Terima kasih sudah menolong.”

Laras mengangguk masih dengan seulas senyum di bibirnya. “Sama-sama, Dok. Apa perlu saya buatkan larutan gula?” tawar Laras tulus.

“Tidak, terima kasih.”

“Dia yang hanya berdiri melihatku bekerja menolongmu, sudah dua kali mendapat ucapan terima kasih. Aku, yang menggendongmu dari kamar operasi, memasang infus dan panik, malah kena omelan. Sungguh dunia ini tidak adil.”

“Siapa yang tulus ikhlas membantu, pasti mendapatkan balasan,” balas Emily singkat.

Kali ini, ucapan Emily membuat Laras terkekeh geli. Namun tidak berlangsung lama, tatapan tajam Arga membungkam suara Laras.

“Tolong tinggalkan kami,” pinta Arga tegas.

“Apa lagi kali ini?” tanya Arga menuntut jawaban.

“Apanya?” bingung Emily

“Hampir sepuluh tahun aku mengenalmu dan ini kali pertama kamu pingsan saat bertugas. Ada apa, Emmy? Kamu tahu, tekanan darahmu hanya tujuh puluh. Kamu puasa atau Radit melarangmu makan?!” Suara Arga meninggi.

“Hush! Pelankan suaramu! Aku hanya lupa sarapan pagi ini, tidak ada hubungannya dengan Radit.” Emily mendelik marah.

“Oke, aku percaya.” Arga mengamati keseluruhan wajah Emily. “Kamu pucat, aku sarankan untuk cek Hb supaya semuanya terpantau.”

***

Emily pulang lebih lambat dari biasanya. Bukan karena banyak pasien yang dia kerjakan, tapi, Arga memaksanya menghabiskan cairan infus yang terpasang padanya. Langkahnya sudah menjejak mantap lantai rumahnya. Tubuhnya lebih segar dan perutnya sudah penuh dengan makanan yang rekan-rekannya suguhkan.

Klik.

Emily menyalakan lampu kamar tamu yang kini jadi tempat tidurnya, sejak pertengkaran terakhirnya dengan Raditya. Ia rebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar dan empuk yang sebelumnya tidak pernah dia jamah.

“Apa benar aku hamil?” gumamnya risau. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Bulir hangat membasahi kedua pelipis Emily.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku dress denimnya dan membuka kalender. Emily mulai mengingat dan menghitung. “Enam minggu. Siklusku terlambat enam minggu,” gumamnya was-was. “Apa yang harus aku lakukan?”

Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan sosok Raditya berdiri menjulang di ambang pintu. “Rupanya, rasa malumu mulai terkikis, Emmy?!” geram Raditya sambil melangkah masuk.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 25

    Caroline keluar dari auditorium dengan langkah mantap penuh kebanggaan. Selangkah lagi, keinginannya menjadi istri pewaris rumah sakit akan segera terwujud. Saat ini, ia mungkin hanya salah satu dokter spesialis, tapi sebentar lagi, dia akan menjadi satu-satunya istri pewaris. Membayangkan hal itu, senyum Caroline merekah.Sret.Seseorang menarik lengan Caroline ke tempat yang tersembunyi. “Bahagia sekali sepertinya?” Embusan napas Raditya menyapu leher Caroline.“Radit …,” desah Caroline seraya mendorong pundak pria itu. “Kau akan membuat riasanku luntur.”Raditya menjauhkan wajahnya yang dihiasi seringai. “Aku bangga melihatmu di atas tadi.” Sebuah kecupan mendarat di dahi Caroline. “Perlahan, semua orang akan mulai mengenalmu.”Kepala Caroline mendongak, memamerkan lehernya yang polos. “Argh … sekalian kamu mengagumi istrimu di atas podium?” sinisnya.“Hahaha …! Aku semakin suka saat kamu cemburu seperti ini.” Raditya mendaratkan satu kecupan panjang sbeelum menarik tangan Caroline

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 24

    “Arga?! Jadi beberapa hari ini kamu bilang tinggal menemani ibumu, ternyata menemani pria lain?!”Emily terbeliak. Tidak menyangka Raditya bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu padanya di depan banyak orang yang saat itu ada di IGD. Pengunjung yang awalnya fokus menunggu keluarganya yang sedang mengantre untuk diperiksa, kini tertuju padanya dan Raditya.Plak!Tangan kanan Emily mendarat di pipi kiri Raditya tanpa bisa dikendalikan lagi. Sebuah tamparan yang cukup keras untuk menghapus senyumculas di wajah pria itu yang selama ini dia abaikan.“CUKUP!” bentak Emily dengan lantang. “Tutup mulutmu!”Rekan sejawat yang sedang bertugas pun tersentak melihat perubahan sikap Emily. Dokter cantik, baik dan cerdas yang mereka kenal, lenyap. Pun begitu dengan Raditya. Matanya yang terbelalak sambil meraba pipinya yang panas karena tamparan Emily, menunjukkan bahwa tamparan itu di luar dugaannya.“K

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 23

    “Halo. Aku sudah bertemu dengan istrimu, Emily.” Caroline tidak membuang waktu untuk menceritakan kejadian seru yang baru dialaminya.[Ketemu di mana?]“Di rumah sakit milikmu. Di mana lagi?” jawab Caroline sambil mencermati kuku palsunya.[Kamu ngapain ke sana?!] Terdengar kepanikan dalam suara Raditya.“Kok ngapain? Tadi kamu bilang, aku boleh kerja di sini. Kok sekarang ngapain?!” sungut Caroline. “Jangan-jangan, kamu tidak sungguh-sungguh ingin menikahiku, ya?!”[Bukan begitu, Carol. Aku akan membuatmu bekerja di sana, tapi tidak sekarang. Ayolah, jangan mempersulitku.] Raditya mulai kehilangan kesabaran.“Sekarang! Aku maunya sekarang! Kamu tinggal hubungi pegawai HRD dan bilang kalau ada dokter bedah plastik baru yang akan datang hari ini. Beres, ‘kan?!” desak Caroline. “Aku tidak ingin membuang waktu lagi untuk bisa bersamamu, Radit!”[STOP! Stop sebu

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 22

    Emily berjalan menyusuri selasar rumah sakit. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Arthur begitu teguh pada keputusannya, meskipun kondisi istri dan anaknya sedang tidak baik-baik saja karena masalah itu. Emily tidak menyangka ayahnya lebih mencintai status dan harta benda dibandingkan kebahagiaan anaknya.Tak terasa, Emily sampai di taman rumah sakit. Area hijau yang jauh dari aroma antiseptik dan cairan desinfektan. Taman ini terletak bersebelahan dengan kantin rumah sakit, agak ke belakang. Tempat yang cocok untuk berdiam atau mengalihkan pikiran yang sedang buntu. Emily memilih duduk di bangku paling ujung, di bawah pohon akasia yang sedang lebat bunganya.“Hhh … mari kita duduk sejenak dan melupakan yang terjadi.”Pandangan Emily menerawang jauh tanpa fokus yang jelas. Tangan kirinya bersandar pada lengan bangku untuk menopang kepalanya. Lama-kelamaan, rasa kantuk menghinggapinya. Emily tertidur.Puk.Emily tersentak

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 21

    “Kalau begitu, kita buat bayi itu enggan hidup.”Mata Raditya yang awalnya sayu karena nikmatnya sentuhan Caroline, terbelalak mendengar penuturan kekasihnya itu. “Apa maksudmu? Kamu ingin melenyapkan bayi itu?!” Raditya menarik tubuhnya duduk tegak.Raut wajah Caroline tak kalah kagetnya melihat respon Raditya. “Jangan bilang, kamu masih ingin punya hubungan dengan istrimu lewat bayi itu, iya?!” sungutnya seraya keluar dari dalam air.“Carol! Sayang!” panggil Raditya panik. “Hei … ayolah. Selesaikan dulu ini.”“Selesaikan saja sendiri!” teriak Caroline sambil meraih jubah mandi yang tergantung di dinding dan melangkah pergi.Plash!Raditya memukul air dengan kesal. “Si*l …!” umpatnya.***Arga baru saja menyelesaikan pasien rawat jalan terakhirnya. Ia melirik jam tangannya dan mendesah, “Sudah beberapa hari berlalu,

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 20

    Raditya berjalan cepat ke tempat mobilnya terparkir. Ia membuka pintu dan menutup pintu dengan kasar. Wajahnya merah dengan raut bersungut-sungut.“Kenapa? Bertengkar lagi?” Tangan pemilik suara itu mengelus dada Raditya berulang kali hingga napas pria itu kembali teratur.“Sial*n mereka semua! Menyesal aku datang tadi.” Raditya memukul kemudi mobilnya dengan kesal.“Sudah, jangan lampiaskan marahmu di sini. Bukan aku yang menyulut amarahmu. Hmm?” Tangan yang tadinya diam di atas dada, kini beralih ke dagu Raditya, memaksa pria itu menoleh ke arah pemilik suara.“Lihat aku. Apakah masih bisa marah?” Caroline mengulas senyum menghibur Raditya. “Ceraikan saja dia. Bertahan juga menghabiskan tenaga. Percuma. Hmm?”Alih-alih menjawab, Raditya membuang muka hingga dagunya terpisah dari jemari Caroline. “Kalau aku yang menceraikannya, hak warisku akan lenyap. Jatuh ke tangan wanita itu karena dia sedang mengandung anakku.”“Hmm ….” Caroline meluru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status