ログインEntah mengapa, Emily tidak terkejut mendengar penjelasan Soraya. Adanya perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya dengan Raditya sempat terbersit dalam pikirannya, hanya berada diurutan terbawah.
“Emmy, kalau memang kamu merasa perceraian adalah jalan terbaik buat kalian, ibu akan coba bicarakan dengan ayahmu nanti.” Soraya kembali meremas telapak tangan Emily.
Kehilangan Amelia merupakan pukulan yang berat baginya, tapi keberadaan Emily—saudara kembarnya, perlahan mengobati luka Soraya. Kalau saat ini, kebahagiaan anak itu menjadi taruhannya, Soraya memilih memutuskan hubungan baiknya dengan Hendro dan menyelamatkan Emily.
“Tapi, Bu. Bagaimana dengan ayah, apakah dia juga akan setuju? Bukankah ….”
“Sudah.” Soraya memotong cepat keraguan putrinya. “Jangan terlalu dipikirkan. Biar ibu yang bicara nanti dengan ayahmu. Ibu yakin, ayah tidak akan mengorbankan keluarga apapun alasannya.”
***
Emily mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Tiga puluh menit lagi, dia terjadwal mengerjakan operasi. Kakinya sedikit limbung ketika melangkah keluar dari pintu lift. Beruntung ada seseorang yang menangkap lengannya.
Bug!
“Oh, maaf!” pekik Emily panik. “Terima kasih.” Emily sibuk menarik lengannya dan membetulkan dres denim selutut miliknya, tanpa repot menatap sosok yang sudah menolongnya.
“Hati-hati, Dok.” Suara berat dan maskulin menyapa telinga Emily, membuat wanita itu mendongak.
“Ya. Sekali lagi terima kasih.” Emily mengangguk sopan lalu kembali melangkah menuju kamar operasi.
“Pagi.” Sapaan Emily ketika memasuki ruangan disambut senyuman dan lambaian tangan beberapa rekan sejawatnya yang kebetulan berada di sana.
“Kopi, Dok?” tanya seorang perawat dengan pakaian hijau khas penghuni kamar operasi.
Emily menggeleng seraya mengulas senyum.
“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Rayhan sambil memutar telunjuknya di depan muka Emily. “Pucat banget.”
Refleks, Emily menangkup pipinya sendiri. “Hah?! Nggak, kok.”
“Hati-hati, Dok. Jangan terlalu perhatian, nanti kena masalah seperti dokter Arga kemarin,” sinis Bagus sambil membereskan laporan pasien.
“Hush …!” Rayhan melemparkan tatapan tajam mendengar ucapan Bagus. “Abaikan saja, Em.” Rayhan menepuk bahu Emily mencairkan suasana. “Ada jadwal op?”
Emily mengangguk dan kembali tersenyum. “Ya, aku siap-siap dulu, Kak.” Emily melenggang masuk ke dalam ruang ganti meninggalkan bisikan-bisikan canggung di belakangnya.
“Jaga bicaramu!” geram Rayhan di belakang Bagus. “Dia tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu.”
Rayhan 2 tahun di atas Emily. Ia melihat Emily pertama kali ketika upacara inagurasi ayah Emily—Arthur, menjabat sebagai direktur non-medis menggantikan ayahnya. Malam itu, Rayhan hanya melihat Emily dari kejauhan. Gadis itu mengingatkannya pada mendiang istrinya yang baru saja pergi. Niat hati ingin mengenal dekat Emily, tapi Raditya—putra pemilik rumah sakit tempatnya bekerja—lebih dulu menggenggam tangan wanita itu.
***
Emily melirik jam digital di atas pintu kamar operasinya. Sudah dua jam aku berdiri, batinnya sambil menyelesaikan dua jahitan terakhir sayatannya. Tanpa sadar, Emily menggelengkan kepalanya, menarik perhatian asisten di sebelahnya.
“Kenapa, Dok?” Ratih mencermati butiran peluh sebesar jagung di wajah operator bedahnya.
“Entahlah, saya merasa sedikit pusing,” lirih Emily.
“Kalau boleh, biar Aris yang lanjutkan, Dok.” Ratih menggerakkan dagunya memberi isyarat Aris agar mengajukan diri, mengingat Emily bukan tipe operator bedah yang hanya mau membedah, tapi enggan menutup luka.
“Iya, Dok. Biar saya kerjakan sisanya,” timpal Aris yakin.
Emily menatap Aris dan Ratih bergantian. Sepasang suami istri ini yang hamper selalu menemaninya mengerjakan berbagai macam operasi. Ia tahu betul kemampuan mereka berdua dan percaya.
“Baiklah. Terima kasih.” Emily menyerahkan nald voeder dan pinset ke tangan Aris yang berada di seberangnya. Berbalik memunggungi pasien dan berjalan melewati Ratih tanpa bersinggungan.
Belum sampai kakinya membuka pintu, mata Emily berkunang-kunang dan sedetik kemudian, ia merasa gelap dan hilang kesadaran.
Brakk …!
Tubuh Emily menghantam pintu kaca geser berbingkai stainless steel sebelum jatuh ke lantai granit.
“DOK …!” pekik semua yang melihatnya.
“Laras, panggil bantuan!” perintah Aris tanpa meninggalkan posisinya.
Hanya Laras yang saat ini kondisinya tidak steril dan bebas bergerak. Sigap, perawat muda itu menghubungi seseorang di luar kamar operasi dan meminta bantuan. Tidak berapa lama, pintu terbuka, Arga masuk berpakaian hijau seperti Laras dan segera berlutut memeriksa kondisi Emily.
“Em, Emmy!” Arga menepuk pipi Emily beberapa kali sebelum mengangkat tubuh itu dan mengikuti Laras menuju ruang istirahat staf operasi.
“Tolong ambilkan stetoskop dan tensimeter!” ujar Arga sambil membaringkan tubuh Emily di atas ranjang. Arga mulai melepaskan topi, sarung tangan dan jas operasi yang masih menempel di tubuh Emily.
Begitu Laras kembali, Arga dengan sigap dan cermat memeriksa Emily.
“Astaga, rendah sekali,” gumamnya ketika melihat angka yang tertera di layar tensimeter digital. Arga menoleh ke arah Laras. “Tolong siapkan infus D5.” Anggukan Laras menjawab permintaan Arga.
“Argh …,” desis Emily ketika merasakan ada sesuatu yang menusuk kulit tangan kirinya.
“Jangan ditarik. Diam dulu.” Sebuah suara membuat Emily terjaga sepenuhnya.
“Arga! Kenapa kamu di sini?!” tanya Emily panik. Matanya mengamati tangan Arga cekatan menempelkan plester di kulitnya dan mengatur tetesan infus.
“P3DP. Pertolongan pertama pada dokter pingsan,” sahut Arga tanpa mengalihkan matanya dari cairan infus di depannya.
“Hmm … hmm ….”
Tawa pelan tertahan dari sisi kanannya membuat Emily menahan omelannya. “Sus,” sapanya canggung. “Terima kasih sudah menolong.”
Laras mengangguk masih dengan seulas senyum di bibirnya. “Sama-sama, Dok. Apa perlu saya buatkan larutan gula?” tawar Laras tulus.
“Tidak, terima kasih.”
“Dia yang hanya berdiri melihatku bekerja menolongmu, sudah dua kali mendapat ucapan terima kasih. Aku, yang menggendongmu dari kamar operasi, memasang infus dan panik, malah kena omelan. Sungguh dunia ini tidak adil.”
“Siapa yang tulus ikhlas membantu, pasti mendapatkan balasan,” balas Emily singkat.
Kali ini, ucapan Emily membuat Laras terkekeh geli. Namun tidak berlangsung lama, tatapan tajam Arga membungkam suara Laras.
“Tolong tinggalkan kami,” pinta Arga tegas.
“Apa lagi kali ini?” tanya Arga menuntut jawaban.
“Apanya?” bingung Emily
“Hampir sepuluh tahun aku mengenalmu dan ini kali pertama kamu pingsan saat bertugas. Ada apa, Emmy? Kamu tahu, tekanan darahmu hanya tujuh puluh. Kamu puasa atau Radit melarangmu makan?!” Suara Arga meninggi.
“Hush! Pelankan suaramu! Aku hanya lupa sarapan pagi ini, tidak ada hubungannya dengan Radit.” Emily mendelik marah.
“Oke, aku percaya.” Arga mengamati keseluruhan wajah Emily. “Kamu pucat, aku sarankan untuk cek Hb supaya semuanya terpantau.”
***
Emily pulang lebih lambat dari biasanya. Bukan karena banyak pasien yang dia kerjakan, tapi, Arga memaksanya menghabiskan cairan infus yang terpasang padanya. Langkahnya sudah menjejak mantap lantai rumahnya. Tubuhnya lebih segar dan perutnya sudah penuh dengan makanan yang rekan-rekannya suguhkan.
Klik.
Emily menyalakan lampu kamar tamu yang kini jadi tempat tidurnya, sejak pertengkaran terakhirnya dengan Raditya. Ia rebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar dan empuk yang sebelumnya tidak pernah dia jamah.
“Apa benar aku hamil?” gumamnya risau. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Bulir hangat membasahi kedua pelipis Emily.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku dress denimnya dan membuka kalender. Emily mulai mengingat dan menghitung. “Enam minggu. Siklusku terlambat enam minggu,” gumamnya was-was. “Apa yang harus aku lakukan?”
Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan sosok Raditya berdiri menjulang di ambang pintu. “Rupanya, rasa malumu mulai terkikis, Emmy?!” geram Raditya sambil melangkah masuk.
***
Kedua tangan Emily terlipat di depan dada, terhimpit di antara tubuhnya dan Ivander, menekannya. Entah karena tekanan itu atau ketakutan yang melandanya, Emily merasa dadanya mulai sesak, napasnya cepat dan pendek. Ia masih berusaha melepaskan diri dan mengumpulkan udara lebih banyak.Namun, lengan pria yang memeluknya tidak kendur sedikit pun. Napas pria itu semakin dekat ke wajahnya manakala ia mengucapkan sederet kalimat yang tidak bisa Emily dengar dengan jelas.Emily berusaha mendorong sekali lagi. “Tidak, jangan. Hhh …,” desahnya sebelum ia kehilangan kesadaran.“Emmy! Emmy!” panggil Ivander dengan nada tegas. “Si*l …! Apa yang sebenarnya Arga lakukan padamu?!”Ivander mengangkat tubuh Emily dan membaringkannya ke sofa. Ia berbalik ke lemari kecil, mencari handuk atau kain bersih yang bisa dipakainya mengelap keringat. Ia kembali ke sofa membawa saputangan biru muda yang ditemukannya di antara tumpukan pakaian di dalam lemari.Cekatan, Ivander membuka dua kancing teratas kemeja
Kening Asih berkerut heran mendengar nada dingin Emily menjawab telepon. Rasa penasaran membuatnya bertanya. “Siapa, Non?”Emily memutar tubuhnya. “Orang gila yang kurang kerjaan,” sahutnya sembari tersenyum. “Bik, saya mau siap-siap dulu, ya.”***Tempat pertama yang Emily datangi setelah memarkir mobilnya adalah ruangan ICU tenpat Arthur dirawat. Soraya sedang menyeka wajah dan leher Arthur dengan handuk kecil lembab ketika Emily mendekat.“Sayang, sudah datang?” Soraya menyodorkan pipinya memudahkan Emily menciumnya.“Ya, baru saja. Hari ini, ada banyak hal yang harus aku kerjaan. Kalau iu butuh sesuatu, telfon saja. Mungkin seharian ini aku tidak bisa datang lagi.”Soraya hanya mengangguk menanggapi penjelasan panjang putrinya. Ia mengeringkan tangannya dengan tisu, lalu menarik Emily duduk di kursi.“Kemarin, papa mertuamu datang lagi. Dia menceritakan semuanya. Ke
“Hai,” balas Emily lembut. “Siapa, ya?”“Dia datang denganku.”Emily mendongak lebih tinggi menyesuaikan matanya dengan tinggi badan tamunya. “K-kamu?” kata Emily kaget. Rasa tenang, lega dan bebas yang baru dirasakannya, lenyap.Beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya diam dan saling pandang sampai suara gadis kecil itu membuyarkan semuanya.“Kenapa kalian hanya diam?” celetuk Aura polos.“Aura! Sini, Sayang!”Mendengar suara lain yang dikenalinya, Emily berpaling mengikuti tubuh gadis kecil itu. Ia menoleh dan tersenyum menyapa Rebecca—wanita yang sering Emily lihat bersama Ivander beberapa waktu belakangan—dan melambai.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ivander masih berdiri diam di tempatnya.Kali ini, Emily tidak repot mendongak. “Baik.”“Aku dengar—.”“Ivan, bisa kita pergi sekarang?” Suara lembut Rebecca memotong kalimat Ivander. “Aura akan terlambat menghadiri kelas baletnya.”Segera saja Ivander berbalik dan berkata, “Ya, bisa.”Pria itu pergi begitu saja tanpa menyelesaikan ka
Emily maju selangkah dengan tangan terulur hendak memeriksa ayahnya, tapi dengan cepat, Arthur menepis tangan Emily kasar.Plak!“Katakan! Apa yang kamu lakukan pada bayimu?!” Arthur berkeras menuntut jawaban Emily. “Argh …!”Pluk!“Mas …!” teriak Soraya histeris melihat tubuh Arthur lemas dengan mata terpejam. “Emmy, kenapa ini?!” tangisnya pecah.Emily berlutut di depan kaki Arthur, menekan pembuluh darah nadi di bawah rahang ayahnya memastikan masih ada detak jantung berdenyut di sana.“Kita baringkan ayah di lantai dulu!” titah Emily cepat. “Hubungi ambulans, Bu!”Begitu tubuh lemas Arthur terbaring telentang sesuai harapannya, Emily segera mmembuka kancing kemeja Arthur dan mulai menekan dada kirinya. Mulutnya terus menghitung seiring tangannya menekan dada. Ia dongakkan kepala Arthur dan meniupkan napasnya lewat mulut ayahnya. Ia ulang beberapa kali tindakannya hingga sirine ambulans berdengung di halaman rumahnya.Emily masih berlutut dan mengatur napasnya, peluhnya membanjiri
“Surprise …!” teriak Aura bersemangat seraya mendorong pintu sekuat tenagaSepasang tangan yang saling berjabatan, terlepas karena kaget dan panik. Aura menatap dua orang dewasa di hadapannya dengan tatapan bingung. Kemudian, ia berlari menubruk kaki kanan Ivander dan memeluknya erat.“Siapa dia?” tanya Aura seraya menunjuk ke arah wanita cantik yang sedang menatap padanya.“Aura …!” Seorang wanita cantik berambut ikal sepunggung menyusul masuk.“Van …?” sapa Rebecca penuh tanya.Dalam kebingungannya, Emily mengutuki kebodohannya. Andai saja semalam dia bersikeras menginap di hotel, suasana memalukan ini tidak perlu dialaminya.“Hai.” Ivander melambaikan tangan, mengibas lebih tepatnya. “Masuk.”“Apa kami mengganggu?” tanya Rebecca tidak enak hati. “Sayang, sini.”Emily tersenyum. “Engh, tidak. Saya hanya berpamitan hendak pergi. Silakan.”Emily mengangguk sopan ketika berjalan melewati Rebecca. Hatinya memastikan bahwa ini wanita yang dilihatnya semalam sedang berbincang dengan Ivand
“Tolong antarkan aku ke hotel!” tegas Emily dengan nada dingin.“Ada apa denganmu?” tanya Ivander, terkejut dengan reaksi Emily yang menurutnya berlebihan.“Aku tidak ingin mengganggumu.” Emily mengambil tasnya dari atas sofa. “Atau, aku pergi sendiri,” imbuhnya manakala Ivander hanya terpaku menatapnya.Ivander hanya diam menatap Emily mulai dari garis wajah hingga gerak-geriknya. “Dia sedang gelisah, tapi karena apa?” batin Ivander menyimpulkan. “Ada apa denganmu? Apa yang mengganggumu?”“Jangan kelewatan, Emily. Dia punya kehidupannya sendiri yang tidak bisa kamu ganggu.” Emily menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya tidak nyaman terlalu lama tinggal denganmu.”“Oke, kalau itu maumu. Aku akan mengantarmu. Besok.” Ivander meninggalkan Emily yang masih berdiri terpaku.Setelahnya, Ivander benar-benar mengabaikan keberadaan
“Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!” Hendro tercekat. “Sebenci itukah kamu pada Raditya, Nak?”Emily kembali menggeleng. “Anak ini bukan wujud dari cinta kasih orang tuanya, Pa. Dia hadir bersama puncak kebencian yang mas Radit lakukan.
Ivander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.“Wow …! Best match …!”
Raditya terbakar amarah menyadari sikap istrinya yang mulai berani. Diraihnya kunci mobil di atas meja dan bergegas mencari Emily ke rumah sakit.“Dia pikir, siapa dia? Berani sekali meninggalkan rumah tanpa pamit. Mau sembunyi? Percuma!” oceh Raditya seraya menginjak pedal gas lebih dalam.Sesampa
Brakk …!Emily melempar pintu ruang kerjanya penuh emosi. Dibanting tubuhnya ke kursi hitam besar yang biasanya selalu diperlakukannya lembut karena itu hadiah dari staf bawahannya di hari pertamanya bekerja. Kepalanya yang berdenyut selaras dengan nadi, ditopang tangannya di atas meja, seolah akan







