共有

Bab 4

作者: Selene21
last update 公開日: 2026-04-10 15:44:07

Emily menyalakan lampu kamar tamu yang kini jadi tempat tidurnya, sejak pertengkaran terakhirnya dengan Raditya. Ia rebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar dan empuk yang sebelumnya tidak pernah dia jamah. Pikirannya kembali pada waktu seorang petugas laboratorium membawa hasil pemeriksaan darahnya.

Angka-angka yang tertera sedikit mengejutkannya. Kondisi tubuhnya tidak sebagus yang terlihat. Malnutrisi dan anemia sedang menyerangnya perlahan dengan dampak yang luar biasa. Keterangan paling bawah berhasil mencekat napasnya.

“Apa benar aku hamil?” gumamnya risau. Emily memejamkan matanya perlahan. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Bulir hangat membasahi kedua pelipis Emily, jatuh ke atas sprei putih berbahan satin.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku dress denimnya dan membuka kalender. Emily mulai mengingat dan menghitung. “Enam minggu. Siklusku terlambat enam minggu,” gumamnya was-was. “Apa yang harus aku lakukan?”

Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan sosok Raditya berdiri menjulang di ambang pintu. “Rupanya, rasa malumu mulai terkikis, Emmy?!” geram Raditya sambil melangkah masuk.

Lelah, Emily beringsut duduk. “Kenapa lagi, Mas?” tanyanya tak bersemangat.

“Ada yang melaporkan padaku, Arga membopongmu masuk ke dalam kamar istirahat dokter. Apa yang kalian lakukan di dalam? Sudah tidak tahan berpisah terlalu lama, hah?!”

Raditya berdiri tegak di hadapan Emily dengan kedua tangan bertengger di pinggang. “Bikin malu!”

Plak!

Emily terkejut dan kesakitan karena tamparan Raditya yang tidak diduganya. Telinganya berdenging. Amarahnya melesat cepat ke ubun-ubun.

Bug!

Kedua tangan ramping Emily mendorong Raditya sekuat tenaga, membuat pria itu terhuyung. “Cukup, Mas! Aku capek! Sebaiknya kamu keluar.” Emily berdiri dan segera mendorong tubuh kekar Raditya keluar pintu.

Tangan kanan Raditya mencengkeram erat pergelangan tangan kiri Emily. “Berani kamu mengusirku? Kamu pikir ini rumah siapa, hah?!” Raditya melempar tangan Emily kasar. “Kalau ada yang harus keluar rumah, itu kamu!” Teriakan Raditya menghentikan langkah Emily.

“Ya, kamu benar. Kenapa tidak pernah terpikir olehku?” Emily membanting pintu dan menguncinya dari dalam. Ia segera menarik koper kecil dari dalam lemari yang belum sepenuhnya kosong. Dijejalkannya kembali pakaian yang baru digantungnya sebagian.

“Karena kamu yang menyuruhku pergi, maka aku tidak akan menundanya.” Tangan Emily bergerak cepat membereskan parfum dan kosmetiknya dari atas meja.

Dipacunya mobil hatchback merah hadiah pernikahan dari Arthur menembus hiruk-pikuk kota yang mulai berkurang kepadatannya. Emily berkendara tanpa tujuan mengitari pusat kota.

“Aku harus ke mana?” gumamnya risau.

Pulang, jelas bukan jawaban. Emily tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir dengan kondisinya sekarang. Teman? Emily tidak ingin aib rumah tangganya menjadi konsumsi publik.

“Aku harus ke mana?” desahnya seraya melambatkan lagu mobilnya. “Ke mana aku harus pergi, bila pergi dari rumah dan tidak ingin aibku diketahui teman?” Emily mendekatkan mulutnya ke ponsel, mencoba meminta jawaban pada AI.

“Kamu bisa mengunjungi taman kota, perpustakaan, tempat penginapan atau pusat keagamaan yang sesuai dengan keyakinanmu.” Aplikasi itu menjawab pertanyaan Emily tanpa keraguan.

Emily tersenyum kecut menyadari keterbatasan ingatannya ketika sedang menghadapi masalah. “Oke, aku akan mengikuti saranmu.”

***

“Selamat malam, ada yang bisa dibantu?” Resepsionis hotel menyapa dengan ramah.

Deluxe room, satu.” Emily membalas senyum pria muda itu sama ramahnya. Diambilnya dompet hitam kecil berisi kartu-kartu penting miliknya. Emily menyodorkan kartu identitas dan kartu kredit pemberian Hendro ke atas meja.

“Baik, saya bantu reservasi dulu.” Resepsionis muda itu segera menunduk dan menimbulkan suara berisik ketika jemarinya mulai menekan papan ketik komputernya.

Menunggu administrasinya diurus, Emily mengedarkan pandangannya acak. Tiga langkah di sisi kirinya, seorang pria berdiri sejajar dengannya, sepertinya sedang reservasi kamar. Tanpa sadar, Emily mengagumi pahatan sempurna tampak samping di depannya.

Rahang tegas yang terpahat kuat, alis tebal membuat hidung kokohnya semakin nyata, belum lagi rambut yang tertata rapi dan sedikit berantakan di bagian depan mengesankan tampilan maskulin dan seksi secara bersamaan.

“Nyonya Emily Femeraldi, deluxe room 566.” Suara ramah resepsionis muda membuyarkan lamunan Emily.

“Hmm, ya.” Enggan, Emily mengalihkan tatapannya.

“Selamat beristirahat.” Resepsionis muda menyerahkan card key dan kartu kredit Emily.

“Terima kasih.” Emily membereskan kartunya dan meraih tas jinjing yang tadi diletakkannya di atas meja. “Oh, tidak … jangan di sini,” panik Emily lemah sebelum akhirnya limbung dan pingsan.

“Hei! Tolong, ada yang pingsan!” Resepsionis muda itu bergegas menyeberangi meja dan membalik Emily hingga telentang. “Nyonya … Nyonya …!” Pria itu berusaha membangunkan tamunya.

“Permisi, saya dokter.”

Melihat tanda pengenal yang sesuai dengan pernyataan pria di sampingnya, resepsionis muda menyerahkan Emily padanya. Di bawah pengawasan mata beberapa orang, dokter asing itu memeriksa nadi Emily.

“Di mana pusat kesehatan terdekat?” tanya pria itu.

“Pintu sebelah kanan setelah lift.” Resepsionis muda menjawab dengan cepat. “Biar saya bantu angkat,” ujar pria muda itu seraya mengulurkan tangan nyaris menyentuh lengan Emily.

Greb!

Tanpa kata, dokter asing itu mencekal pergelangan tangan resepsionis muda dan melemparkan tatapan tajam, berhasil membuat pria muda mengurungkan niat dan menarik tangannya.

Dokter asing itu membawa tubuh Emily dalam dekapannya dengan sangat mudah. Berjalan tegas menuju pusat kesehatan yang ditunjuk resepsionis tadi.

“Permisi.”

“Ya, Tuan. Ada yang bisa dibantu?” tanya seorang wanita berpakaian perawat.

“Saya perlu satu ranjang, stetoskop dan tensimeter.”

Suara tegas dokter asing membuat perawat itu bergegas memandu ke ranjang yang dimaksud. “Silakan.”

Ivander membaringkan Emily perlahan. Membuka dua kancing atas kemeja wanita itu dan mulai memeriksa area dada atas dengan stetoskop yang diulurkan perawat. Menit berikutnya, Ivander memasang tensimeter dan mendapat angka di bawah normal muncul pada layar.

“Apa di sini ada perlengkapan infus?” tanya Ivander pada perawat yang dijawab gelengan lemah. “Rumah sakit terdekat?”

“Hutama Health Centre.”

“Sial!” umpat Ivander kesal. Tidak mungkin dia membawa seorang wanita asing ke tempat kerja yang bahkan belum resmi menjadi miliknya. Ivander tidak ingin memulai hari pertamanya bekerja dengan sebuah kehebohan.

“Tolong jaga dia.”

Tanpa menunggu persetujuan perawat itu, Ivander meninggalkan pusat kesehatan untuk mendapatkan perlengkapan infus yang diinginkannya. Tak lama, ia mulai berkutat merangkai botol infus dan selangnya agar segera digunakan.

Ivander meraih tangan kiri Emily yang masih terpasang plester putih bergambar hewan. Senyum tipis menghias sudut bibirnya. Dilepaskannya plester itu dan dahinya berkerut.

“Pasien rupanya,” gumam Ivander melihat bekas tusukan jarum yang tersembunyi di bawah plester. Dipilihnya satu pembuluh darah baru yang lumayan besar dan mulai menusukkan jarum.

Ivander termenung menatap wajah cantik dan pucat yang terbaring di atas bantal. Seumur hidupnya, belum pernah dia begitu memikirkan masalah orang asing yang baru pertama kali dia temui. Namun, wanita itu berhasil menarik hatinya sejak berjalan masuk melewati pintu lobi dan berdiri tak jauh di sebelahnya.

“Oke, kamu sedang beruntung,” gumamnya sambil melirik jam tangannya. “Pukul dua lima belas, tanggal lima belas Februari. Oke,” desahnya sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada kursi.

“Selamat pagi.”

Sebuah sapaan mengejutkan Ivander. Ia membuka mata dan menegakkan tubuhnya. “Pagi,” balasnya dengan suara serak yang terdengar sangat seksi di telinga perawat.

“Saya membawakan sarapan yang dikirimkan manajer hotel.” Perawat itu mengangkat nampan di tangannya sedikit lebih tinggi untuk menunjukkannya pada Ivander.

“Terima kasih.”

“Argh, di mana ini?” Suara serak lainnya bergabung, membuat dua orang di seberangnya menoleh.

“Nyonya, anda berada di pusat kesehatan hotel. Apa anda ingat yang terjadi semalam?” Perawat itu meletakkan nampan dan menghampiri Emily.

“Oh, ya. Terima kasih atas bantuannya.” Emily melirik tangan kirinya dan mendesah spontan.

Perawat itu mengangguk sopan dan meninggalkan ruangan.

“Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.

“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 28

    “KAMU?!” Emily tersentak mundur. “Sedang apa kamu di sini?!”Emily tidak menduga bertemu Ivander di pantai malam ini. Kenapa harus pria ini yang dia temui ketika suasana hatinya sedang tidak baik?“Kamu yang sedang apa?! Mau mati?! Bunuh diri?!” Pria itu balik membentak dengan mata melotot tajam ke arah Emily.Emily dibuat terkejut lagi dengan reaksi pria dingin itu. Ivander yang dikenal Emily selama ini adalah sosok dingin tanpa ekspresi dan enggan ikut campur urusan orang lain. Tapi, malam ini Ivander membuktikan bahwa dirinya adalah manusia yang memiliki emosi.“Apa? Mati? Bunuh diri?” Emily bingung dengan ucapan Ivander. “Siapa?” Tanpa sadar bibirnya tersenyum menyadari dugaan pria itu.“Lucu?!” bentak Ivander lagi.Tawa Emily meledak beberapa saat. Ia terbahak hingga air matanya keluar dan jatuh ke pipi. Ivander terpesona melihatnya. Ini kali pertama sejak ia meliha

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 27

    “Apa benar, papa yang meminta Carol bergabung? Jujur, aku sedang bingung dengan sikap papa sekarang. Kenapa papa izinkan Carol hadir? Untuk menggeser posisiku sebagai istri Radit? Atau apa?!” cecar Emily dengan suara bergetar.Hendro tersentak menyadari pemikiran Emily terhadapnya.“E—Emmy. Tolong, jangan berpikir demikian.” Hendro mengusap wajahnya panik. “Papa tidak tahu tentang hal ini. Menurut Hanum, Radit yang menandatangani kontrak kerjanya. Papa juga terkejut ketika nama Carol masuk dalam daftar rekanan baru. Sungguh.”Emily buru-buru berdiri ketika Hendro mencondongkan badan dan mengulurkan tangan padanya. “Papa, maaf. Kepalaku pusing. Aku ingin istirahat.”“Tidak, dengarkan papa dulu. Sampai kapanpun, kamu satu-satunya menantu papa. Tidak akan tergantikan oleh siapapun.” Hendro menyusul bangkit dan berjalan mendekati Emily.“Emmy, papa mohon. Jangan begini.”Air mata Emily luruh. “Pa, tolong izinkan kami berpisah. Tidak perlu mempertahankan hubungan yang sudah hancur. Percum

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 26

    “Apa yang pertama kali Emily katakan ketika bangun?” tanya Ivander.Soraya menyusut hidungnya. “Maaf. Hanya kata maaf yang terus keluar dari bibir kecilnya. Selama berhari-hari.” Air mata Soraya kembali menetes. “Apa pun yang kami tanyakan atau katakan, dia hanya menjawab maaf dengan pandangan kosong.”Ivander mangut-manggut dengan bibir terlipat ke dalam.“Ivan, boleh saya minta tolong sesuatu?” tanya Soraya ragu.“Apa itu?” tanya Ivander menimpali.“Tolong bantu Emily melewati krisis ini. Dia ….” Soraya ragu melanjutkan kalimatnya. Ia khawatir terlalu ikut campur urusan putrinya, tapi hati kecilnya tidak tega melihat Emily menghadapi kondisi rumah tangganya saat ini tanpa bantuan seseorang—seperti ketika Emily kecil tumbuh tanpa kehadiran orang tua membersamainya.Ivander menunggu Soraya meneruskan kalimatnya. Keinginan pasien untuk membagi masalahnya adalah kunci utama keberhasilan konselingnya. Apabila masih ada yang ingin dia simpan untuk dirinya sendiri, maka konselor tidak berh

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 25

    Caroline keluar dari auditorium dengan langkah mantap penuh kebanggaan. Selangkah lagi, keinginannya menjadi istri pewaris rumah sakit akan segera terwujud. Saat ini, ia mungkin hanya salah satu dokter spesialis, tapi sebentar lagi, dia akan menjadi satu-satunya istri pewaris. Membayangkan hal itu, senyum Caroline merekah.Sret.Seseorang menarik lengan Caroline ke tempat yang tersembunyi. “Bahagia sekali sepertinya?” Embusan napas Raditya menyapu leher Caroline.“Radit …,” desah Caroline seraya mendorong pundak pria itu. “Kau akan membuat riasanku luntur.”Raditya menjauhkan wajahnya yang dihiasi seringai. “Aku bangga melihatmu di atas tadi.” Sebuah kecupan mendarat di dahi Caroline. “Perlahan, semua orang akan mulai mengenalmu.”Kepala Caroline mendongak, memamerkan lehernya yang polos. “Argh … sekalian kamu mengagumi istrimu di atas podium?” sinisnya.“Hahaha …! Aku semakin suka saat kamu cemburu seperti ini.” Raditya mendaratkan satu kecupan panjang sbeelum menarik tangan Caroline

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 24

    “Arga?! Jadi beberapa hari ini kamu bilang tinggal menemani ibumu, ternyata menemani pria lain?!”Emily terbeliak. Tidak menyangka Raditya bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu padanya di depan banyak orang yang saat itu ada di IGD. Pengunjung yang awalnya fokus menunggu keluarganya yang sedang mengantre untuk diperiksa, kini tertuju padanya dan Raditya.Plak!Tangan kanan Emily mendarat di pipi kiri Raditya tanpa bisa dikendalikan lagi. Sebuah tamparan yang cukup keras untuk menghapus senyumculas di wajah pria itu yang selama ini dia abaikan.“CUKUP!” bentak Emily dengan lantang. “Tutup mulutmu!”Rekan sejawat yang sedang bertugas pun tersentak melihat perubahan sikap Emily. Dokter cantik, baik dan cerdas yang mereka kenal, lenyap. Pun begitu dengan Raditya. Matanya yang terbelalak sambil meraba pipinya yang panas karena tamparan Emily, menunjukkan bahwa tamparan itu di luar dugaannya.“K

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 23

    “Halo. Aku sudah bertemu dengan istrimu, Emily.” Caroline tidak membuang waktu untuk menceritakan kejadian seru yang baru dialaminya.[Ketemu di mana?]“Di rumah sakit milikmu. Di mana lagi?” jawab Caroline sambil mencermati kuku palsunya.[Kamu ngapain ke sana?!] Terdengar kepanikan dalam suara Raditya.“Kok ngapain? Tadi kamu bilang, aku boleh kerja di sini. Kok sekarang ngapain?!” sungut Caroline. “Jangan-jangan, kamu tidak sungguh-sungguh ingin menikahiku, ya?!”[Bukan begitu, Carol. Aku akan membuatmu bekerja di sana, tapi tidak sekarang. Ayolah, jangan mempersulitku.] Raditya mulai kehilangan kesabaran.“Sekarang! Aku maunya sekarang! Kamu tinggal hubungi pegawai HRD dan bilang kalau ada dokter bedah plastik baru yang akan datang hari ini. Beres, ‘kan?!” desak Caroline. “Aku tidak ingin membuang waktu lagi untuk bisa bersamamu, Radit!”[STOP! Stop sebu

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 14

    Raditya berbalik dengan kasar dan menghempaskan lengannya hingga cengkeraman Hendro terlepas. “Papa bilang apa barusan? Menjadikan Emily pewaris? Apa aku gak salah dengar, Pa?!”“Usahakan Emily tidak menceraikanmu. Ubah semua karakter burukmu! Bagaimana bisa kamu menyakitinya, tapi masih menyebutny

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 13

    “Aku ingin mengajukan gugatan cerai.”Kalimat pertama Emily setelah mereka sampai rumah, tidak mengejutkan Arthur dan Soraya. Mereka hanya saling pandang dengan tatapan sedih.“Maaf, kalau keputusanku ini melukai kalian. Tapi, aku sudah menimbangnya masak-masak. Aku harap—.”“Kami mendukungmu,” pot

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 17

    Soraya terus memperhatikan dan mendengarkan setiap kalimat yang diutarakan wanita muda yang menghampiri Emily dengan takut-takut. Dari yang didengarnya, Soraya tahu bahwa wanita muda itu adalah istri pedagang yang ditabraknya.“Mereka pasangan muda dengan tiga orang anak yang masih kec

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 16

    Ivander mengedar pandangannya begitu memasuki ruang IGD yang penuh sesak. Jantungnya selalu berdebar kencang bila berkaitan dengan Aura.“Paman …!” teriak Aura di sela tangisannya.“Hei … shh …. It’s okay.” Ivander naik ke

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status