LOGINEmily menyalakan lampu kamar tamu yang kini jadi tempat tidurnya, sejak pertengkaran terakhirnya dengan Raditya. Ia rebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar dan empuk yang sebelumnya tidak pernah dia jamah. Pikirannya kembali pada waktu seorang petugas laboratorium membawa hasil pemeriksaan darahnya.
Angka-angka yang tertera sedikit mengejutkannya. Kondisi tubuhnya tidak sebagus yang terlihat. Malnutrisi dan anemia sedang menyerangnya perlahan dengan dampak yang luar biasa. Keterangan paling bawah berhasil mencekat napasnya.
“Apa benar aku hamil?” gumamnya risau. Emily memejamkan matanya perlahan. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Bulir hangat membasahi kedua pelipis Emily, jatuh ke atas sprei putih berbahan satin.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku dress denimnya dan membuka kalender. Emily mulai mengingat dan menghitung. “Enam minggu. Siklusku terlambat enam minggu,” gumamnya was-was. “Apa yang harus aku lakukan?”
Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan sosok Raditya berdiri menjulang di ambang pintu. “Rupanya, rasa malumu mulai terkikis, Emmy?!” geram Raditya sambil melangkah masuk.
Lelah, Emily beringsut duduk. “Kenapa lagi, Mas?” tanyanya tak bersemangat.
“Ada yang melaporkan padaku, Arga membopongmu masuk ke dalam kamar istirahat dokter. Apa yang kalian lakukan di dalam? Sudah tidak tahan berpisah terlalu lama, hah?!”
Raditya berdiri tegak di hadapan Emily dengan kedua tangan bertengger di pinggang. “Bikin malu!”
Plak!
Emily terkejut dan kesakitan karena tamparan Raditya yang tidak diduganya. Telinganya berdenging. Amarahnya melesat cepat ke ubun-ubun.
Bug!
Kedua tangan ramping Emily mendorong Raditya sekuat tenaga, membuat pria itu terhuyung. “Cukup, Mas! Aku capek! Sebaiknya kamu keluar.” Emily berdiri dan segera mendorong tubuh kekar Raditya keluar pintu.
Tangan kanan Raditya mencengkeram erat pergelangan tangan kiri Emily. “Berani kamu mengusirku? Kamu pikir ini rumah siapa, hah?!” Raditya melempar tangan Emily kasar. “Kalau ada yang harus keluar rumah, itu kamu!” Teriakan Raditya menghentikan langkah Emily.
“Ya, kamu benar. Kenapa tidak pernah terpikir olehku?” Emily membanting pintu dan menguncinya dari dalam. Ia segera menarik koper kecil dari dalam lemari yang belum sepenuhnya kosong. Dijejalkannya kembali pakaian yang baru digantungnya sebagian.
“Karena kamu yang menyuruhku pergi, maka aku tidak akan menundanya.” Tangan Emily bergerak cepat membereskan parfum dan kosmetiknya dari atas meja.
Dipacunya mobil hatchback merah hadiah pernikahan dari Arthur menembus hiruk-pikuk kota yang mulai berkurang kepadatannya. Emily berkendara tanpa tujuan mengitari pusat kota.
“Aku harus ke mana?” gumamnya risau.
Pulang, jelas bukan jawaban. Emily tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir dengan kondisinya sekarang. Teman? Emily tidak ingin aib rumah tangganya menjadi konsumsi publik.
“Aku harus ke mana?” desahnya seraya melambatkan lagu mobilnya. “Ke mana aku harus pergi, bila pergi dari rumah dan tidak ingin aibku diketahui teman?” Emily mendekatkan mulutnya ke ponsel, mencoba meminta jawaban pada AI.
“Kamu bisa mengunjungi taman kota, perpustakaan, tempat penginapan atau pusat keagamaan yang sesuai dengan keyakinanmu.” Aplikasi itu menjawab pertanyaan Emily tanpa keraguan.
Emily tersenyum kecut menyadari keterbatasan ingatannya ketika sedang menghadapi masalah. “Oke, aku akan mengikuti saranmu.”
***
“Selamat malam, ada yang bisa dibantu?” Resepsionis hotel menyapa dengan ramah.
“Deluxe room, satu.” Emily membalas senyum pria muda itu sama ramahnya. Diambilnya dompet hitam kecil berisi kartu-kartu penting miliknya. Emily menyodorkan kartu identitas dan kartu kredit pemberian Hendro ke atas meja.
“Baik, saya bantu reservasi dulu.” Resepsionis muda itu segera menunduk dan menimbulkan suara berisik ketika jemarinya mulai menekan papan ketik komputernya.
Menunggu administrasinya diurus, Emily mengedarkan pandangannya acak. Tiga langkah di sisi kirinya, seorang pria berdiri sejajar dengannya, sepertinya sedang reservasi kamar. Tanpa sadar, Emily mengagumi pahatan sempurna tampak samping di depannya.
Rahang tegas yang terpahat kuat, alis tebal membuat hidung kokohnya semakin nyata, belum lagi rambut yang tertata rapi dan sedikit berantakan di bagian depan mengesankan tampilan maskulin dan seksi secara bersamaan.
“Nyonya Emily Femeraldi, deluxe room 566.” Suara ramah resepsionis muda membuyarkan lamunan Emily.
“Hmm, ya.” Enggan, Emily mengalihkan tatapannya.
“Selamat beristirahat.” Resepsionis muda menyerahkan card key dan kartu kredit Emily.
“Terima kasih.” Emily membereskan kartunya dan meraih tas jinjing yang tadi diletakkannya di atas meja. “Oh, tidak … jangan di sini,” panik Emily lemah sebelum akhirnya limbung dan pingsan.
“Hei! Tolong, ada yang pingsan!” Resepsionis muda itu bergegas menyeberangi meja dan membalik Emily hingga telentang. “Nyonya … Nyonya …!” Pria itu berusaha membangunkan tamunya.
“Permisi, saya dokter.”
Melihat tanda pengenal yang sesuai dengan pernyataan pria di sampingnya, resepsionis muda menyerahkan Emily padanya. Di bawah pengawasan mata beberapa orang, dokter asing itu memeriksa nadi Emily.
“Di mana pusat kesehatan terdekat?” tanya pria itu.
“Pintu sebelah kanan setelah lift.” Resepsionis muda menjawab dengan cepat. “Biar saya bantu angkat,” ujar pria muda itu seraya mengulurkan tangan nyaris menyentuh lengan Emily.
Greb!
Tanpa kata, dokter asing itu mencekal pergelangan tangan resepsionis muda dan melemparkan tatapan tajam, berhasil membuat pria muda mengurungkan niat dan menarik tangannya.
Dokter asing itu membawa tubuh Emily dalam dekapannya dengan sangat mudah. Berjalan tegas menuju pusat kesehatan yang ditunjuk resepsionis tadi.
“Permisi.”
“Ya, Tuan. Ada yang bisa dibantu?” tanya seorang wanita berpakaian perawat.
“Saya perlu satu ranjang, stetoskop dan tensimeter.”
Suara tegas dokter asing membuat perawat itu bergegas memandu ke ranjang yang dimaksud. “Silakan.”
Ivander membaringkan Emily perlahan. Membuka dua kancing atas kemeja wanita itu dan mulai memeriksa area dada atas dengan stetoskop yang diulurkan perawat. Menit berikutnya, Ivander memasang tensimeter dan mendapat angka di bawah normal muncul pada layar.
“Apa di sini ada perlengkapan infus?” tanya Ivander pada perawat yang dijawab gelengan lemah. “Rumah sakit terdekat?”
“Hutama Health Centre.”
“Sial!” umpat Ivander kesal. Tidak mungkin dia membawa seorang wanita asing ke tempat kerja yang bahkan belum resmi menjadi miliknya. Ivander tidak ingin memulai hari pertamanya bekerja dengan sebuah kehebohan.
“Tolong jaga dia.”
Tanpa menunggu persetujuan perawat itu, Ivander meninggalkan pusat kesehatan untuk mendapatkan perlengkapan infus yang diinginkannya. Tak lama, ia mulai berkutat merangkai botol infus dan selangnya agar segera digunakan.
Ivander meraih tangan kiri Emily yang masih terpasang plester putih bergambar hewan. Senyum tipis menghias sudut bibirnya. Dilepaskannya plester itu dan dahinya berkerut.
“Pasien rupanya,” gumam Ivander melihat bekas tusukan jarum yang tersembunyi di bawah plester. Dipilihnya satu pembuluh darah baru yang lumayan besar dan mulai menusukkan jarum.
Ivander termenung menatap wajah cantik dan pucat yang terbaring di atas bantal. Seumur hidupnya, belum pernah dia begitu memikirkan masalah orang asing yang baru pertama kali dia temui. Namun, wanita itu berhasil menarik hatinya sejak berjalan masuk melewati pintu lobi dan berdiri tak jauh di sebelahnya.
“Oke, kamu sedang beruntung,” gumamnya sambil melirik jam tangannya. “Pukul dua lima belas, tanggal lima belas Februari. Oke,” desahnya sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada kursi.
“Selamat pagi.”
Sebuah sapaan mengejutkan Ivander. Ia membuka mata dan menegakkan tubuhnya. “Pagi,” balasnya dengan suara serak yang terdengar sangat seksi di telinga perawat.
“Saya membawakan sarapan yang dikirimkan manajer hotel.” Perawat itu mengangkat nampan di tangannya sedikit lebih tinggi untuk menunjukkannya pada Ivander.
“Terima kasih.”
“Argh, di mana ini?” Suara serak lainnya bergabung, membuat dua orang di seberangnya menoleh.
“Nyonya, anda berada di pusat kesehatan hotel. Apa anda ingat yang terjadi semalam?” Perawat itu meletakkan nampan dan menghampiri Emily.
“Oh, ya. Terima kasih atas bantuannya.” Emily melirik tangan kirinya dan mendesah spontan.
Perawat itu mengangguk sopan dan meninggalkan ruangan.
“Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.
“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!”
Begitu pintu ruang kerjanya tertutup, Emily kembali meringkuk memeluk lutut seperti biasanya ketika sedang ingin bersembunyi. Ratih mengusap lembut punggung tirus Emily berulang kali.“Apa yang sebenarnya terjadi, Em?” tanya Ratih lembut.Punggung di bawah sentuhan tangan Ratih bergetar seketika.“Oke, jangan cerita kalau itu berat.” Ratih meraih bahu Emily dan memeluknya.Beberapa waktu lamanya, Emily hanya menangis dalam dekapan Ratih. Namun tiba-tiba, Emily mendorong Ratih dan berlari ke arah wastafel. Ia muntah. Tidak ada muatan yang keluar, hanya air dan suara berisik dari dalam kerongkongan.Ratih segera menyadari, Emily tidak sakit. Wanita muda itu mengalami guncangan psikis yang besar. Ratih mendekati Emily, memberinya segelas air dan sekotak tisu. Namun, Emily tidak kunjung beranjak dari tempatnya.“Tarik napas dalam, Em. Lawan,” bisik Ratih memberi semangat.Emily hanya menggeleng sebagai bentuk jawaban. Ia masih terus muntah hingga wajahnya merah dan buku jari yang menumpu
Kedua tangan Emily terlipat di depan dada, terhimpit di antara tubuhnya dan Ivander, menekannya. Entah karena tekanan itu atau ketakutan yang melandanya, Emily merasa dadanya mulai sesak, napasnya cepat dan pendek. Ia masih berusaha melepaskan diri dan mengumpulkan udara lebih banyak.Namun, lengan pria yang memeluknya tidak kendur sedikit pun. Napas pria itu semakin dekat ke wajahnya manakala ia mengucapkan sederet kalimat yang tidak bisa Emily dengar dengan jelas.Emily berusaha mendorong sekali lagi. “Tidak, jangan. Hhh …,” desahnya sebelum ia kehilangan kesadaran.“Emmy! Emmy!” panggil Ivander dengan nada tegas. “Si*l …! Apa yang sebenarnya Arga lakukan padamu?!”Ivander mengangkat tubuh Emily dan membaringkannya ke sofa. Ia berbalik ke lemari kecil, mencari handuk atau kain bersih yang bisa dipakainya mengelap keringat. Ia kembali ke sofa membawa saputangan biru muda yang ditemukannya di antara tumpukan pakaian di dalam lemari.Cekatan, Ivander membuka dua kancing teratas kemeja
Kening Asih berkerut heran mendengar nada dingin Emily menjawab telepon. Rasa penasaran membuatnya bertanya. “Siapa, Non?”Emily memutar tubuhnya. “Orang gila yang kurang kerjaan,” sahutnya sembari tersenyum. “Bik, saya mau siap-siap dulu, ya.”***Tempat pertama yang Emily datangi setelah memarkir mobilnya adalah ruangan ICU tenpat Arthur dirawat. Soraya sedang menyeka wajah dan leher Arthur dengan handuk kecil lembab ketika Emily mendekat.“Sayang, sudah datang?” Soraya menyodorkan pipinya memudahkan Emily menciumnya.“Ya, baru saja. Hari ini, ada banyak hal yang harus aku kerjaan. Kalau iu butuh sesuatu, telfon saja. Mungkin seharian ini aku tidak bisa datang lagi.”Soraya hanya mengangguk menanggapi penjelasan panjang putrinya. Ia mengeringkan tangannya dengan tisu, lalu menarik Emily duduk di kursi.“Kemarin, papa mertuamu datang lagi. Dia menceritakan semuanya. Ke
“Hai,” balas Emily lembut. “Siapa, ya?”“Dia datang denganku.”Emily mendongak lebih tinggi menyesuaikan matanya dengan tinggi badan tamunya. “K-kamu?” kata Emily kaget. Rasa tenang, lega dan bebas yang baru dirasakannya, lenyap.Beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya diam dan saling pandang sampai suara gadis kecil itu membuyarkan semuanya.“Kenapa kalian hanya diam?” celetuk Aura polos.“Aura! Sini, Sayang!”Mendengar suara lain yang dikenalinya, Emily berpaling mengikuti tubuh gadis kecil itu. Ia menoleh dan tersenyum menyapa Rebecca—wanita yang sering Emily lihat bersama Ivander beberapa waktu belakangan—dan melambai.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ivander masih berdiri diam di tempatnya.Kali ini, Emily tidak repot mendongak. “Baik.”“Aku dengar—.”“Ivan, bisa kita pergi sekarang?” Suara lembut Rebecca memotong kalimat Ivander. “Aura akan terlambat menghadiri kelas baletnya.”Segera saja Ivander berbalik dan berkata, “Ya, bisa.”Pria itu pergi begitu saja tanpa menyelesaikan ka
Emily maju selangkah dengan tangan terulur hendak memeriksa ayahnya, tapi dengan cepat, Arthur menepis tangan Emily kasar.Plak!“Katakan! Apa yang kamu lakukan pada bayimu?!” Arthur berkeras menuntut jawaban Emily. “Argh …!”Pluk!“Mas …!” teriak Soraya histeris melihat tubuh Arthur lemas dengan mata terpejam. “Emmy, kenapa ini?!” tangisnya pecah.Emily berlutut di depan kaki Arthur, menekan pembuluh darah nadi di bawah rahang ayahnya memastikan masih ada detak jantung berdenyut di sana.“Kita baringkan ayah di lantai dulu!” titah Emily cepat. “Hubungi ambulans, Bu!”Begitu tubuh lemas Arthur terbaring telentang sesuai harapannya, Emily segera mmembuka kancing kemeja Arthur dan mulai menekan dada kirinya. Mulutnya terus menghitung seiring tangannya menekan dada. Ia dongakkan kepala Arthur dan meniupkan napasnya lewat mulut ayahnya. Ia ulang beberapa kali tindakannya hingga sirine ambulans berdengung di halaman rumahnya.Emily masih berlutut dan mengatur napasnya, peluhnya membanjiri
“Surprise …!” teriak Aura bersemangat seraya mendorong pintu sekuat tenagaSepasang tangan yang saling berjabatan, terlepas karena kaget dan panik. Aura menatap dua orang dewasa di hadapannya dengan tatapan bingung. Kemudian, ia berlari menubruk kaki kanan Ivander dan memeluknya erat.“Siapa dia?” tanya Aura seraya menunjuk ke arah wanita cantik yang sedang menatap padanya.“Aura …!” Seorang wanita cantik berambut ikal sepunggung menyusul masuk.“Van …?” sapa Rebecca penuh tanya.Dalam kebingungannya, Emily mengutuki kebodohannya. Andai saja semalam dia bersikeras menginap di hotel, suasana memalukan ini tidak perlu dialaminya.“Hai.” Ivander melambaikan tangan, mengibas lebih tepatnya. “Masuk.”“Apa kami mengganggu?” tanya Rebecca tidak enak hati. “Sayang, sini.”Emily tersenyum. “Engh, tidak. Saya hanya berpamitan hendak pergi. Silakan.”Emily mengangguk sopan ketika berjalan melewati Rebecca. Hatinya memastikan bahwa ini wanita yang dilihatnya semalam sedang berbincang dengan Ivand
Entah mengapa, Emily tidak terkejut mendengar penjelasan Soraya. Adanya perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya dengan Raditya sempat terbersit dalam pikirannya, hanya berada diurutan terbawah.“Emmy, kalau memang kamu merasa perceraian adalah jalan terbaik buat kalian, ibu akan coba bicarak
“Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!” Hendro tercekat. “Sebenci itukah kamu pada Raditya, Nak?”Emily kembali menggeleng. “Anak ini bukan wujud dari cinta kasih orang tuanya, Pa. Dia hadir bersama puncak kebencian yang mas Radit lakukan.
Ivander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.“Wow …! Best match …!”
“Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!” pekik Emily beringsut cepat dan menarik tinggi selimutnya.Ivander berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Ta







