Masuk“Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.
“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!” pekik Emily beringsut cepat dan menarik tinggi selimutnya.
Ivander berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Tangannya terulur ke arah Emily. “Ivander Scott.”
Ragu-ragu Emily menyambut tangan Ivander. “Bukankah dia pria yang semalam berdiri bersamaku di meja resepsionis?” Emily membatin dan malu sendiri mengingat keliaran akalnya semalam. Pipinya terasa panas. Buru-buru ditariknya kembali tangannya.
“Aku sarankan, kamu segera makan dan memeriksakan diri ke rumah sakit.” Ivander kembali ke kursinya dan mulai memakan habis sarapannya. “Karena semua sudah terkendali, aku duluan.” Ivander mengusap mulutnya dengan tisu dan beranjak.
“Tunggu,” tahan Emily sambil berguling ke kiri meraih tasnya. Ia menarik beberapa lembar uang dari dompetnya dan mengulurkannya pada pria yang semakin tampan pagi ini. “Ambil ini. Terima kasih untuk pertolonganmu.”
Senyum miring tersungging di bibir Ivander. Tangannya meraih lembaran uang dengan cepat dan berlalu. “Terima kasih kembali,” ujarnya di ambang pintu seraya melambaikan tangan berisi lembaran uang.
Deringan ponsel kembali mengejutkan Emily.
“Papa? Ada apa dia menghubungiku?” Emily mendekatkan ponsel ke telinganya. “Halo, Pa.”
[Emmy, papa ada di lobi hotel tempatmu menginap. Bisa kita bertemu?]
Kalimat Hendro tegas dan menuntut Emily mematuhinya, jauh dari nada lembut yang biasanya dia pakai.
“Ya, Pa.”
Emily melepas paksa jarum yang menempel di kulitnya. Menempelkan plester untuk menutup luka dan turun dari ranjang. Tubuhnya sedikit limbung, tapi tidak diacuhkannya. Disisirnya rambut dengan jemarinya sambil berjalan keluar dari ruangan.
Pintu keluar pusat kesehatan berhadapan lurus dengan sofa warna tosca yang terletak di tengah lobi. Berhadapan dengan Hendro yang sedang duduk tegak di atas sofa yang terkejut melihat menantunya keluar dari pintu pusat kesehatan, bukan dari pintu lift.
“Pa,” sapa Emily begitu berdiri di dekat Hendro.
“Duduklah. Apa yang terjadi dengan kalian?” tanya Hendro sebelum Emily sempat mendaratkan tubuhnya.
“Semalam, papa terkejut mendapat notifikasi bank dari kartu kreditmu. Papa datang ke rumah pagi ini, mendapati kepala Radit terbalut perban dan kamu tidak ada di rumah.”
Sial. Emily bodoh! Emily mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa dia membayar tagihan hotel menggunakan kartu kredit Hendro? Astaga ….
“Radit sudah menceritakan kejadiannya, tapi papa tetap mau dengar cerita darimu. Ada apa dengan kalian?”
“Maafkan aku, Pa. Semuanya terjadi begitu cepat dan aku perlu waktu untuk menenangkan diri.” Emily tertunduk, tidak berani mengangkat wajahnya.
“Bukan kata maaf yang mau papa dengar, Nak. Apakah kamu masih belum bisa percaya papa?”
Wajah Emily sontak terangkat dan buru-buru menggeleng. “Bukan begitu, Pa. Aku hanya khawatir mengatakan hal-hal yang tidak sesuai karena pengaruh amarah. Aku janji, segera setelah aku memikirkan semuanya, aku akan temui papa.”
“Emmy, sejak kapan Radit mulai berani memukulmu?” tanya Hendro mengabaikan janji Emily.
Air mata Emily luruh. Malu dan terharu berbaur menjadi sebuah gelombang pasang yang mendorong air matanya jatuh semakin deras. Tidak mau menjadi bahan tontonan, Emily segera menyusut air matanya.
“Pa, aku belum bisa cerita sekarang. Aku ada janji temu dengan pasien. Apa siang ini kita bisa makan siang bersama?”
Hendro segera mengangguk. “Ya, ya. Bisa. Kebetulan hotel ini dekat dengan rumah sakit. Kita ketemu nanti siang di sini, ya.”
Hendro berdiri, menarik Emily bangkit bersamanya dan memeluknya erat. “Papa sayang sekali denganmu, Nak. Maafkan Raditya, ya.”
Emily tidak menjawab. Tangannya mengelus punggung tebal Hendro mengirimkan tanda bahwa dia masih bisa bertahan. Mereka berpisah cepat. Emily menarik koper yang semalaman menunggunya di lobi dan naik ke kamarnya. Ia perlu mandi dan berbenah sebelum pergi bekerja.
Di rumah sakit, Emily melihat banyak karangan bunga berbagai ukuran dan pengirim.
“Siapa yang datang berkunjung?” gumamnya sambil berusaha mengingat agenda direksi yang biasanya menjadi prioritasnya.
“Pagi, Dokcan!” sapa dua orang suster yang berpapasan dengan Emily di selasar rumah sakit.
Emily selalu tersipu bila ada yang menyapanya begitu, meskipun sudah banyak yang mengagumi kecantikannya secara langsung. “Pagi juga, Cantik!” balas Emily seperti biasanya.
Di dalam ruang kerjanya, Emily merutuki kebodohannya menggunakan kartu kredit pemberian ayah mertuanya untuk membayar tagihan hotel. “Bagaimana bisa aku melakukan hal bodoh itu? Hhh ….”
“PAGI …!”
“Arga! Kaget aku! Sial!” amuk Emily karena tindakan Arga yang menerobos masuk ruangan tanpa permisi sambil berteriak.
“Pagi-pagi bengong. Gak baik.” Arga mengabaikan mata yang melotot padanya. “Sudah sarapan? Gak lucu kalau waktu apel kamu pingsan lagi.”
“Sialan!” Emily memberengut.
“Oh, ya. Gimana hasil laboratmu kemarin? Sini, aku mau lihat.” Arga mengulurkan tangannya menengadah.
“Aku belum sempat ambil,” sahut Emily berbohong. “Eh, tadi kamu bilang akan ada apel? Kok aku gak tahu?”
“Waduh … menantu apa ini? Ada anggota direksi baru malah gak tahu. Jangan terlalu fokus pada masalahmu, Em.” Arga menasehati sekaligus menyindir sahabatnya.
“Em, Em, Em. Kamu pikir aku apa? Ember? Apel apa, Ga? Beneran gak tahu aku.” Emily beranjak dari kursinya. Meraih jas putihnya dan mengalungkan tanda pengenal.
“Perkenalan kepala departemen rawat jalan yang baru. Psikiater hebat. Bagus juga langkah mertuamu kali ini. Selain kinerja, kita juga perlu kesehatan mental dalam pelayanan. Dan aku punya kandidat pasien pertamanya. Betul?”
Kalimat Arga penuh penekanan dan Emily memahami sekali maksud pria itu berkata demikian. Emily hanya membalasnya dengan senyuman. “Ayo, kita sambut kepala poli yang baru.”
Perjalanan menuju aula, beberapa dokter dan perawat bergabung bersama mereka menjadikan kelompok mereka pusat perhatian pasien dan keluarga yang kebetulan berpapasan. Tidak jauh berbeda dari pemandangan di depan rumah sakit, aula juga dipenuhi karangan bunga penyambutan.
Di depan pintu aula, Raditya berdiri dengan kedua tangan di saku celana dengan keangkuhan terpancar jelas. Matanya menatap lurus sosok Emily yang berjalan bersama beberapa orang dan wajahnya menyungging senyuman seolah mengejeknya.
“Emmy!” panggil Raditya kasar. “Aku mau bicara!”
Sontak kerumunan Emily buyar, tak terkecuali Arga. Emily melangkah mendekat hingga suara rendahnya tidak akan terdengar orang lain.
“Tolong, jaga sikapmu. Kita bicara selesai acara.” Emily berlalu setelah berkata demikian. Masuk ke aula yang sudah hampir penuh sesak dan menahan Raditya berbuat kasar padanya.
Melihat keberanian yang Emily tunjukkan, Raditya terbakar amarah. Langkahnya cepat menyusul Emily. Tujuannya satu, menyeret wanita itu dan menyelesaikan urusan mereka.
“Radit!”
Sebuah suara memanggil namanya dengan tegas membuat langkah kaki Raditya terhenti. Ia menoleh ke arah suara dan melihat ayahnya sedang melambai ke arahnya.
“Oke, lagi-lagi kamu terselamatkan!” desis Raditya geram. Raditya membelokkan kakinya 45 derajat ke Selatan menghampiri Hendro yang sedang berdiri dengan pria asing sebayanya.
“Ya, Pa.”
“Kenalkan, ini anak sahabat papa. Dia akan menjabat sebagai kepala poliklinik yang baru.” Hendro menepuk punggung kanan pria di sampingnya dengan tatapan bangga yang tidak bisa disembunyikan.
“Oh, ya. Selamat datang.” Raditya mengulurkan tangan tanpa repot menanyakan nama rekanan barunya. “Pa, Radit masih ada urusan. Pergi dulu.” Raditya berbalik pergi meninggalkan aula. Tetap tinggal bukan pilihan tepat baginya.
“Ayo, kita duduk di depan. Acara akan segera dimulai.”
Hendro membawa rekan kerja barunya membelah kerumunan karyawan yang baru datang. Beberapa mata memandang kagum pada pria di samping Hendro. Perawakannya tinggi tegap, wajahnya di atas rata-rata dan caranya berjalan sangat elegan.
“Bersiaplah membalas pernyataan cinta,” bisik Hendro membuat pria itu tergelak renyah.
Ketika tiba waktunya Hendro naik ke atas podium memberikan sambutan, matanya mengedar mencari sosok Emily, tapi tidak ketemu. Hatinya was-was, khawatir Raditya meninggalkan aula dengan membawa Emily bersamanya. Namun, ketika Hendro sudah berdiri di atas podium, tangan Emily melambai ke arahnya memberitahukan kehadirannya.
“Terima kasih kepada seluruh rekan sejawat yang sudah meluangkan waktu menghadiri apel penyambutan. Ada dua hal penting yang ingin saya sampaikan terkait masa depan rumah sakit kita tercinta.”
“Dok, makin iri sama dokter,” bisik Laras pada Emily.
Emily menoleh samar. “Iri kenapa?”
“Punya suami bedah plastik, pewaris rumah sakit besar. Punya mertua old money yang luar biasa sayang menantu. Wah, mau mati karena iri rasanya.”
Ratih yang berada di sisi lain Emily terkekeh. “Kamu sudah bercermin pagi ini, Ras? Kecantikan dan kecerdasanmu sudah menyamai dokter Emmy, belum?”
Bibir Laras mengerucut. Matanya berkedip minta dikasihani. “Sudah, sudah jauh tertinggal maksudnya.”
“Wkwkwkwk ….” Tawa Ratih meledak membuat Aris yang duduk tepat di depannya berbalik dengan mata membulat penuh peringatan. “Ups!”
“Saya panggil ke atas podium untuk berdiri bersama saya di sini, dokter Emily Femeraldi.”
Prok … prok … prok ….
Tepukan riuh mengantar Emily berdiri di podium bersama Hendro.
“Rupanya ketenaran saya sudah dikalahkan telak, ya. Saya sebagai direktur, naik ke podium, hanya dewan direksi yang bertepuk tangan. Begitu dokter Emily yang naik, wiuh … riuh!” protes Hendro jenaka.
“Kalah cantik soalnya, Dok!” celetuk suara pria dari barisan belakang.
“Hahahaha …!” tawa Hendro Hutama pecah seketika. “Saya tidak bisa memungkiri hal itu. Baiklah, tidak perlu berlama-lama. Berikutnya saya panggil, kepala departemen rawat jalan yang baru, dr. Ivander Scott, SubSp.KJ (K).”
Prok … prok … prok ….
Tepuk tangan berikutnya tak kalah riuh, bahkan disertai teriakan histeris tertahan dari pihak wanita. Tepukan meriah itu terdengar samar di telinga Emily manakala matanya menangkap pria tampan yang pagi tadi merawatnya sedang berjalan tenang ke arahnya. Makin dekat jarak pria itu darinya, mata Emily makin membola. Tangannya gelisah meremas rok lipit warna marun yang sedang dipakainya.
“Wow …! Best match …!” celetuk sebuah suara dari barisan tengah.
Ivander berdiri tepat di sebelah Emily, bahu mereka nyaris bersinggungan. “Hello, Partner,” lirih Ivander membuat Emily menggeser tubuhnya.
***
“Surprise …!” teriak Aura bersemangat seraya mendorong pintu sekuat tenagaSepasang tangan yang saling berjabatan, terlepas karena kaget dan panik. Aura menatap dua orang dewasa di hadapannya dengan tatapan bingung. Kemudian, ia berlari menubruk kaki kanan Ivander dan memeluknya erat.“Siapa dia?” tanya Aura seraya menunjuk ke arah wanita cantik yang sedang menatap padanya.“Aura …!” Seorang wanita cantik berambut ikal sepunggung menyusul masuk.“Van …?” sapa Rebecca penuh tanya.Dalam kebingungannya, Emily mengutuki kebodohannya. Andai saja semalam dia bersikeras menginap di hotel, suasana memalukan ini tidak perlu dialaminya.“Hai.” Ivander melambaikan tangan, mengibas lebih tepatnya. “Masuk.”“Apa kami mengganggu?” tanya Rebecca tidak enak hati. “Sayang, sini.”Emily tersenyum. “Engh, tidak. Saya hanya berpamitan hendak pergi. Silakan.”Emily mengangguk sopan ketika berjalan melewati Rebecca. Hatinya memastikan bahwa ini wanita yang dilihatnya semalam sedang berbincang dengan Ivand
“Tolong antarkan aku ke hotel!” tegas Emily dengan nada dingin.“Ada apa denganmu?” tanya Ivander, terkejut dengan reaksi Emily yang menurutnya berlebihan.“Aku tidak ingin mengganggumu.” Emily mengambil tasnya dari atas sofa. “Atau, aku pergi sendiri,” imbuhnya manakala Ivander hanya terpaku menatapnya.Ivander hanya diam menatap Emily mulai dari garis wajah hingga gerak-geriknya. “Dia sedang gelisah, tapi karena apa?” batin Ivander menyimpulkan. “Ada apa denganmu? Apa yang mengganggumu?”“Jangan kelewatan, Emily. Dia punya kehidupannya sendiri yang tidak bisa kamu ganggu.” Emily menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya tidak nyaman terlalu lama tinggal denganmu.”“Oke, kalau itu maumu. Aku akan mengantarmu. Besok.” Ivander meninggalkan Emily yang masih berdiri terpaku.Setelahnya, Ivander benar-benar mengabaikan keberadaan
Alarm ponselnya bordering nyaring tepat pukul lima pagi. Hendro menggeser layar ponsel untuk mematikannya. Biasanya, Hendro tidak menyentuh lagi ponselnya sampai ia menyelesaikan sesi olahraga pagi dan persiapan bekerja sekitar pukul delamapn pagi.Namun, hari ini hatinya gelisah tanpa sebab. Setelah mematikan alarm, Hendro membuka notifikasi di layar ponselnya dan melihat ada beberapa pesan masuk dari Ivander, keponakan dari mendiang istrinya. Pria yang bisa dipastikan mengirim pesan padanya satu tahun sekali untuk mengucapkan selamat ulang tahun.“Ivan? Tumben dia kirim pesan. Ada apa?”Hendro membaca pesan Ivander dengan cermat. Keningnya berkerut, matanya memicing. “Astaga … Emmy!”Buru-buru ia turun dari ranjang, mandi dan bergegas menuju alamat yang Ivander bagikan padanya. Sepanjang jalan, Hendro tak henti berdoa untuk keselamatan menantu dan calon cucunya. Beberapa kali ia menghubungi Arthur, tapi tidak ada jawaban. Begitu pula Raditya, tidak ada jawaban.Pagi ini jalanan pada
Pamela keluar dari bilik periksa dengan wajah kesal. “Sebaiknya, apa yang igin kamu bicarakan adalah hal yang benar-benar penting,” sembur dokter cantik itu.“Aku yang akan jadi wali pasien,” singkat Ivander.“Hah?! Apa? Kamu apanya pasien?!” desis Pamela dengan mata mendelik. “Jadi kamu yang—.”“Dengar!” bentak Ivander tertahan. “Aku akan ceritakan detailnya, yang pasti tidak seperti bayanganmu. Biarkan aku yang tanda tangan semua dokumennya.”Dahi Pamela mengkerut dalam. “Aneh! Aku tidak pernah berpikir kamu akan seputus asa ini, Van.”“Hentikan fantasimu! Aku tidak sebejat itu.”Mata Pamela mengerjap lega. “Syukurlah. Tapi, kamu tetap tidak bisa menjadi wali pasiennya. Harus keluarganya. Kecuali, kamu memang keluarga pasien,” sindir Pamuela jenaka.“Van,” panggil Emily dari balik tirai.Ivander mendekatkan kepalanya ke telinga Pamela dan berbisik, “Segera!” Setelahnya, ia menghilang di balik tirai.“Ya.” Ivander berdiri di samping ranjang Emily. Tangannya mengepal melihat kondaisi
“Hei!” hardik Ivander kaget seraya mencekal lengan Emily yang menghajar tubuhnya. “Apa yang kamu lakukan?!” Matanya membulat marah.“Aku yang bertanya lebih dulu padamu, apa maksudnya ini?!” balas Emily tak kalah marah. “Seolah kamu berhak mengatur seluruh kehidupanku hanya karena beberapa kali memberiku bantuan. Begitu?!”Ivander menarik tubuhnya duduk dan membawa Emily bersamanya, duduk di atas pangkuannya. “Dan beberapa kali itu tidak bisa membuatmu percaya padaku? Baiklah. Aku akan tunjukkan sikap yang akan membuat kepercayaanmu semakin pudar.”Cekalan Ivander berpindah dari pergelangan tangan Emily ke tengkuk wanita itu. Dengan satu kali hentakan, kepala Emily meneleng sesuai perintah Ivander dan menerima ciuman yang menuntut.Emily berontak. Marah dan kesal dengan sikap sesuka hati pria itu. Ia menggigit bibir pria itu dan mulai menangis. Sakit di bibir bawahnya, membuat Ivander terpaksa melepaskan ciumannya.Sikapnya melunak melihat Emily menangis tersedu di pangkuannya. Tangan
Grep!Ivander mencium Emily dengan rakus. Bibirnya menekan, memaksa wanita itu menerima dan membalasnya. Emily terpaku beberapa detik lamanya, sebelum kedua tangannya mulai mendorong dan memukul Ivander.“Humpt … humpt …!” Emily berontak sekuat tenaga, tapi sia-sia. Ivander terlalu kuat untuk dilawan.Tangan Emily berhasil menyusup di antara tubuhnya dan Ivander. Kepalan tangannya mendorong sekuat tenaga. Pikirannya hanya fokus untuk melepaskan diri dari jeratan gairah Ivander yang nyaris menghanyutkannya.“Hhh … hhh … hhh.” Emily terengah-engah kehabisan napas. Kepalanya menggeleng cepat ketika kepala Ivander kembali mendekat. “Tidak … hentikan,” tolaknya lemah.“Lihat aku!” perintah Ivander yang hanya dijawab gelengan kepala Emily. “Emily, lihat aku.” Nada Ivander melembut.Emily mendongak dengan wajahnya yang basah dan merona karena ciuman Ivander. Mata itu basah oleh air mata.“Kamu menangis? Apa aku menyakitimu?” tanya Ivander sambil mengusap bibir bengkak Emily dengan ibu jariny
Entah mengapa, Emily tidak terkejut mendengar penjelasan Soraya. Adanya perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya dengan Raditya sempat terbersit dalam pikirannya, hanya berada diurutan terbawah.“Emmy, kalau memang kamu merasa perceraian adalah jalan terbaik buat kalian, ibu akan coba bicarak
Raditya terbakar amarah menyadari sikap istrinya yang mulai berani. Diraihnya kunci mobil di atas meja dan bergegas mencari Emily ke rumah sakit.“Dia pikir, siapa dia? Berani sekali meninggalkan rumah tanpa pamit. Mau sembunyi? Percuma!” oceh Raditya seraya menginjak pedal gas lebih dalam.Sesampa
Brakk …!Emily melempar pintu ruang kerjanya penuh emosi. Dibanting tubuhnya ke kursi hitam besar yang biasanya selalu diperlakukannya lembut karena itu hadiah dari staf bawahannya di hari pertamanya bekerja. Kepalanya yang berdenyut selaras dengan nadi, ditopang tangannya di atas meja, seolah akan
“Sudah waktunya kamu menjadwalkan sesi konselingmu, kalau itu tidak merepotkan.”Emily mendongak. “Apakah bisa sekarang?”Alih-alih menjawab, Ivander mengambil kursi dan meumbawanya ke samping ranjang Emily. “Silakan,” ujarnya yakin.&ldquo







