Share

Bab 5

Author: Selene21
last update publish date: 2026-04-10 15:44:48

“Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.

“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!” pekik Emily beringsut cepat dan menarik tinggi selimutnya.

Ivander berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Tangannya terulur ke arah Emily. “Ivander Scott.”

Ragu-ragu Emily menyambut tangan Ivander. “Bukankah dia pria yang semalam berdiri bersamaku di meja resepsionis?” Emily membatin dan malu sendiri mengingat keliaran akalnya semalam. Pipinya terasa panas. Buru-buru ditariknya kembali tangannya.

“Aku sarankan, kamu segera makan dan memeriksakan diri ke rumah sakit.” Ivander kembali ke kursinya dan mulai memakan habis sarapannya. “Karena semua sudah terkendali, aku duluan.” Ivander mengusap mulutnya dengan tisu dan beranjak.

“Tunggu,” tahan Emily sambil berguling ke kiri meraih tasnya. Ia menarik beberapa lembar uang dari dompetnya dan mengulurkannya pada pria yang semakin tampan pagi ini. “Ambil ini. Terima kasih untuk pertolonganmu.”

Senyum miring tersungging di bibir Ivander. Tangannya meraih lembaran uang dengan cepat dan berlalu. “Terima kasih kembali,” ujarnya di ambang pintu seraya melambaikan tangan berisi lembaran uang.

Deringan ponsel kembali mengejutkan Emily.

“Papa? Ada apa dia menghubungiku?” Emily mendekatkan ponsel ke telinganya. “Halo, Pa.”

[Emmy, papa ada di lobi hotel tempatmu menginap. Bisa kita bertemu?]

Kalimat Hendro tegas dan menuntut Emily mematuhinya, jauh dari nada lembut yang biasanya dia pakai.

“Ya, Pa.”

Emily melepas paksa jarum yang menempel di kulitnya. Menempelkan plester untuk menutup luka dan turun dari ranjang. Tubuhnya sedikit limbung, tapi tidak diacuhkannya. Disisirnya rambut dengan jemarinya sambil berjalan keluar dari ruangan.

Pintu keluar pusat kesehatan berhadapan lurus dengan sofa warna tosca yang terletak di tengah lobi. Berhadapan dengan Hendro yang sedang duduk tegak di atas sofa yang terkejut melihat menantunya keluar dari pintu pusat kesehatan, bukan dari pintu lift.

“Pa,” sapa Emily begitu berdiri di dekat Hendro.

“Duduklah. Apa yang terjadi dengan kalian?” tanya Hendro sebelum Emily sempat mendaratkan tubuhnya.

“Semalam, papa terkejut mendapat notifikasi bank dari kartu kreditmu. Papa datang ke rumah pagi ini, mendapati kepala Radit terbalut perban dan kamu tidak ada di rumah.”

Sial. Emily bodoh! Emily mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa dia membayar tagihan hotel menggunakan kartu kredit Hendro? Astaga ….

“Radit sudah menceritakan kejadiannya, tapi papa tetap mau dengar cerita darimu. Ada apa dengan kalian?”

“Maafkan aku, Pa. Semuanya terjadi begitu cepat dan aku perlu waktu untuk menenangkan diri.” Emily tertunduk, tidak berani mengangkat wajahnya.

“Bukan kata maaf yang mau papa dengar, Nak. Apakah kamu masih belum bisa percaya papa?”

Wajah Emily sontak terangkat dan buru-buru menggeleng. “Bukan begitu, Pa. Aku hanya khawatir mengatakan hal-hal yang tidak sesuai karena pengaruh amarah. Aku janji, segera setelah aku memikirkan semuanya, aku akan temui papa.”

“Emmy, sejak kapan Radit mulai berani memukulmu?” tanya Hendro mengabaikan janji Emily.

Air mata Emily luruh. Malu dan terharu berbaur menjadi sebuah gelombang pasang yang mendorong air matanya jatuh semakin deras. Tidak mau menjadi bahan tontonan, Emily segera menyusut air matanya.

“Pa, aku belum bisa cerita sekarang. Aku ada janji temu dengan pasien. Apa siang ini kita bisa makan siang bersama?”

Hendro segera mengangguk. “Ya, ya. Bisa. Kebetulan hotel ini dekat dengan rumah sakit. Kita ketemu nanti siang di sini, ya.”

Hendro berdiri, menarik Emily bangkit bersamanya dan memeluknya erat. “Papa sayang sekali denganmu, Nak. Maafkan Raditya, ya.”

Emily tidak menjawab. Tangannya mengelus punggung tebal Hendro mengirimkan tanda bahwa dia masih bisa bertahan. Mereka berpisah cepat. Emily menarik koper yang semalaman menunggunya di lobi dan naik ke kamarnya. Ia perlu mandi dan berbenah sebelum pergi bekerja.

Di rumah sakit, Emily melihat banyak karangan bunga berbagai ukuran dan pengirim.

“Siapa yang datang berkunjung?” gumamnya sambil berusaha mengingat agenda direksi yang biasanya menjadi prioritasnya.

“Pagi, Dokcan!” sapa dua orang suster yang berpapasan dengan Emily di selasar rumah sakit.

Emily selalu tersipu bila ada yang menyapanya begitu, meskipun sudah banyak yang mengagumi kecantikannya secara langsung. “Pagi juga, Cantik!” balas Emily seperti biasanya.

Di dalam ruang kerjanya, Emily merutuki kebodohannya menggunakan kartu kredit pemberian ayah mertuanya untuk membayar tagihan hotel. “Bagaimana bisa aku melakukan hal bodoh itu? Hhh ….”

“PAGI …!”

“Arga! Kaget aku! Sial!” amuk Emily karena tindakan Arga yang menerobos masuk ruangan tanpa permisi sambil berteriak.

“Pagi-pagi bengong. Gak baik.” Arga mengabaikan mata yang melotot padanya. “Sudah sarapan? Gak lucu kalau waktu apel kamu pingsan lagi.”

“Sialan!” Emily memberengut.

“Oh, ya. Gimana hasil laboratmu kemarin? Sini, aku mau lihat.” Arga mengulurkan tangannya menengadah.

“Aku belum sempat ambil,” sahut Emily berbohong. “Eh, tadi kamu bilang akan ada apel? Kok aku gak tahu?”

“Waduh … menantu apa ini? Ada anggota direksi baru malah gak tahu. Jangan terlalu fokus pada masalahmu, Em.” Arga menasehati sekaligus menyindir sahabatnya.

“Em, Em, Em. Kamu pikir aku apa? Ember? Apel apa, Ga? Beneran gak tahu aku.” Emily beranjak dari kursinya. Meraih jas putihnya dan mengalungkan tanda pengenal.

“Perkenalan kepala departemen rawat jalan yang baru. Psikiater hebat. Bagus juga langkah mertuamu kali ini. Selain kinerja, kita juga perlu kesehatan mental dalam pelayanan. Dan aku punya kandidat pasien pertamanya. Betul?”

Kalimat Arga penuh penekanan dan Emily memahami sekali maksud pria itu berkata demikian. Emily hanya membalasnya dengan senyuman. “Ayo, kita sambut kepala poli yang baru.”

Perjalanan menuju aula, beberapa dokter dan perawat bergabung bersama mereka menjadikan kelompok mereka pusat perhatian pasien dan keluarga yang kebetulan berpapasan. Tidak jauh berbeda dari pemandangan di depan rumah sakit, aula juga dipenuhi karangan bunga penyambutan.

Di depan pintu aula, Raditya berdiri dengan kedua tangan di saku celana dengan keangkuhan terpancar jelas. Matanya menatap lurus sosok Emily yang berjalan bersama beberapa orang dan wajahnya menyungging senyuman seolah mengejeknya.

“Emmy!” panggil Raditya kasar. “Aku mau bicara!”

Sontak kerumunan Emily buyar, tak terkecuali Arga. Emily melangkah mendekat hingga suara rendahnya tidak akan terdengar orang lain.

“Tolong, jaga sikapmu. Kita bicara selesai acara.” Emily berlalu setelah berkata demikian. Masuk ke aula yang sudah hampir penuh sesak dan menahan Raditya berbuat kasar padanya.

Melihat keberanian yang Emily tunjukkan, Raditya terbakar amarah. Langkahnya cepat menyusul Emily. Tujuannya satu, menyeret wanita itu dan menyelesaikan urusan mereka.

“Radit!”

Sebuah suara memanggil namanya dengan tegas membuat langkah kaki Raditya terhenti. Ia menoleh ke arah suara dan melihat ayahnya sedang melambai ke arahnya.

“Oke, lagi-lagi kamu terselamatkan!” desis Raditya geram. Raditya membelokkan kakinya 45 derajat ke Selatan menghampiri Hendro yang sedang berdiri dengan pria asing sebayanya.

“Ya, Pa.”

“Kenalkan, ini anak sahabat papa. Dia akan menjabat sebagai kepala poliklinik yang baru.” Hendro menepuk punggung kanan pria di sampingnya dengan tatapan bangga yang tidak bisa disembunyikan.

“Oh, ya. Selamat datang.” Raditya mengulurkan tangan tanpa repot menanyakan nama rekanan barunya. “Pa, Radit masih ada urusan. Pergi dulu.” Raditya berbalik pergi meninggalkan aula. Tetap tinggal bukan pilihan tepat baginya.

“Ayo, kita duduk di depan. Acara akan segera dimulai.”

Hendro membawa rekan kerja barunya membelah kerumunan karyawan yang baru datang. Beberapa mata memandang kagum pada pria di samping Hendro. Perawakannya tinggi tegap, wajahnya di atas rata-rata dan caranya berjalan sangat elegan.

“Bersiaplah membalas pernyataan cinta,” bisik Hendro membuat pria itu tergelak renyah.

Ketika tiba waktunya Hendro naik ke atas podium memberikan sambutan, matanya mengedar mencari sosok Emily, tapi tidak ketemu. Hatinya was-was, khawatir Raditya meninggalkan aula dengan membawa Emily bersamanya. Namun, ketika Hendro sudah berdiri di atas podium, tangan Emily melambai ke arahnya memberitahukan kehadirannya.

“Terima kasih kepada seluruh rekan sejawat yang sudah meluangkan waktu menghadiri apel penyambutan. Ada dua hal penting yang ingin saya sampaikan terkait masa depan rumah sakit kita tercinta.”

“Dok, makin iri sama dokter,” bisik Laras pada Emily.

Emily menoleh samar. “Iri kenapa?”

“Punya suami bedah plastik, pewaris rumah sakit besar. Punya mertua old money yang luar biasa sayang menantu. Wah, mau mati karena iri rasanya.”

Ratih yang berada di sisi lain Emily terkekeh. “Kamu sudah bercermin pagi ini, Ras? Kecantikan dan kecerdasanmu sudah menyamai dokter Emmy, belum?”

Bibir Laras mengerucut. Matanya berkedip minta dikasihani. “Sudah, sudah jauh tertinggal maksudnya.”

“Wkwkwkwk ….” Tawa Ratih meledak membuat Aris yang duduk tepat di depannya berbalik dengan mata membulat penuh peringatan. “Ups!”

“Saya panggil ke atas podium untuk berdiri bersama saya di sini, dokter Emily Femeraldi.”

Prok … prok … prok ….

Tepukan riuh mengantar Emily berdiri di podium bersama Hendro.

“Rupanya ketenaran saya sudah dikalahkan telak, ya. Saya sebagai direktur, naik ke podium, hanya dewan direksi yang bertepuk tangan. Begitu dokter Emily yang naik, wiuh … riuh!” protes Hendro jenaka.

“Kalah cantik soalnya, Dok!” celetuk suara pria dari barisan belakang.

“Hahahaha …!” tawa Hendro Hutama pecah seketika. “Saya tidak bisa memungkiri hal itu. Baiklah, tidak perlu berlama-lama. Berikutnya saya panggil, kepala departemen rawat jalan yang baru, dr. Ivander Scott, SubSp.KJ (K).”

Prok … prok … prok ….

Tepuk tangan berikutnya tak kalah riuh, bahkan disertai teriakan histeris tertahan dari pihak wanita. Tepukan meriah itu terdengar samar di telinga Emily manakala matanya menangkap pria tampan yang pagi tadi merawatnya sedang berjalan tenang ke arahnya. Makin dekat jarak pria itu darinya, mata Emily makin membola. Tangannya gelisah meremas rok lipit warna marun yang sedang dipakainya.

“Wow …! Best match …!” celetuk sebuah suara dari barisan tengah.

Ivander berdiri tepat di sebelah Emily, bahu mereka nyaris bersinggungan. “Hello, Partner,” lirih Ivander membuat Emily menggeser tubuhnya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 47

    Begitu pintu ruang kerjanya tertutup, Emily kembali meringkuk memeluk lutut seperti biasanya ketika sedang ingin bersembunyi. Ratih mengusap lembut punggung tirus Emily berulang kali.“Apa yang sebenarnya terjadi, Em?” tanya Ratih lembut.Punggung di bawah sentuhan tangan Ratih bergetar seketika.“Oke, jangan cerita kalau itu berat.” Ratih meraih bahu Emily dan memeluknya.Beberapa waktu lamanya, Emily hanya menangis dalam dekapan Ratih. Namun tiba-tiba, Emily mendorong Ratih dan berlari ke arah wastafel. Ia muntah. Tidak ada muatan yang keluar, hanya air dan suara berisik dari dalam kerongkongan.Ratih segera menyadari, Emily tidak sakit. Wanita muda itu mengalami guncangan psikis yang besar. Ratih mendekati Emily, memberinya segelas air dan sekotak tisu. Namun, Emily tidak kunjung beranjak dari tempatnya.“Tarik napas dalam, Em. Lawan,” bisik Ratih memberi semangat.Emily hanya menggeleng sebagai bentuk jawaban. Ia masih terus muntah hingga wajahnya merah dan buku jari yang menumpu

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 46

    Kedua tangan Emily terlipat di depan dada, terhimpit di antara tubuhnya dan Ivander, menekannya. Entah karena tekanan itu atau ketakutan yang melandanya, Emily merasa dadanya mulai sesak, napasnya cepat dan pendek. Ia masih berusaha melepaskan diri dan mengumpulkan udara lebih banyak.Namun, lengan pria yang memeluknya tidak kendur sedikit pun. Napas pria itu semakin dekat ke wajahnya manakala ia mengucapkan sederet kalimat yang tidak bisa Emily dengar dengan jelas.Emily berusaha mendorong sekali lagi. “Tidak, jangan. Hhh …,” desahnya sebelum ia kehilangan kesadaran.“Emmy! Emmy!” panggil Ivander dengan nada tegas. “Si*l …! Apa yang sebenarnya Arga lakukan padamu?!”Ivander mengangkat tubuh Emily dan membaringkannya ke sofa. Ia berbalik ke lemari kecil, mencari handuk atau kain bersih yang bisa dipakainya mengelap keringat. Ia kembali ke sofa membawa saputangan biru muda yang ditemukannya di antara tumpukan pakaian di dalam lemari.Cekatan, Ivander membuka dua kancing teratas kemeja

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 45

    Kening Asih berkerut heran mendengar nada dingin Emily menjawab telepon. Rasa penasaran membuatnya bertanya. “Siapa, Non?”Emily memutar tubuhnya. “Orang gila yang kurang kerjaan,” sahutnya sembari tersenyum. “Bik, saya mau siap-siap dulu, ya.”***Tempat pertama yang Emily datangi setelah memarkir mobilnya adalah ruangan ICU tenpat Arthur dirawat. Soraya sedang menyeka wajah dan leher Arthur dengan handuk kecil lembab ketika Emily mendekat.“Sayang, sudah datang?” Soraya menyodorkan pipinya memudahkan Emily menciumnya.“Ya, baru saja. Hari ini, ada banyak hal yang harus aku kerjaan. Kalau iu butuh sesuatu, telfon saja. Mungkin seharian ini aku tidak bisa datang lagi.”Soraya hanya mengangguk menanggapi penjelasan panjang putrinya. Ia mengeringkan tangannya dengan tisu, lalu menarik Emily duduk di kursi.“Kemarin, papa mertuamu datang lagi. Dia menceritakan semuanya. Ke

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 44

    “Hai,” balas Emily lembut. “Siapa, ya?”“Dia datang denganku.”Emily mendongak lebih tinggi menyesuaikan matanya dengan tinggi badan tamunya. “K-kamu?” kata Emily kaget. Rasa tenang, lega dan bebas yang baru dirasakannya, lenyap.Beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya diam dan saling pandang sampai suara gadis kecil itu membuyarkan semuanya.“Kenapa kalian hanya diam?” celetuk Aura polos.“Aura! Sini, Sayang!”Mendengar suara lain yang dikenalinya, Emily berpaling mengikuti tubuh gadis kecil itu. Ia menoleh dan tersenyum menyapa Rebecca—wanita yang sering Emily lihat bersama Ivander beberapa waktu belakangan—dan melambai.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ivander masih berdiri diam di tempatnya.Kali ini, Emily tidak repot mendongak. “Baik.”“Aku dengar—.”“Ivan, bisa kita pergi sekarang?” Suara lembut Rebecca memotong kalimat Ivander. “Aura akan terlambat menghadiri kelas baletnya.”Segera saja Ivander berbalik dan berkata, “Ya, bisa.”Pria itu pergi begitu saja tanpa menyelesaikan ka

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 43

    Emily maju selangkah dengan tangan terulur hendak memeriksa ayahnya, tapi dengan cepat, Arthur menepis tangan Emily kasar.Plak!“Katakan! Apa yang kamu lakukan pada bayimu?!” Arthur berkeras menuntut jawaban Emily. “Argh …!”Pluk!“Mas …!” teriak Soraya histeris melihat tubuh Arthur lemas dengan mata terpejam. “Emmy, kenapa ini?!” tangisnya pecah.Emily berlutut di depan kaki Arthur, menekan pembuluh darah nadi di bawah rahang ayahnya memastikan masih ada detak jantung berdenyut di sana.“Kita baringkan ayah di lantai dulu!” titah Emily cepat. “Hubungi ambulans, Bu!”Begitu tubuh lemas Arthur terbaring telentang sesuai harapannya, Emily segera mmembuka kancing kemeja Arthur dan mulai menekan dada kirinya. Mulutnya terus menghitung seiring tangannya menekan dada. Ia dongakkan kepala Arthur dan meniupkan napasnya lewat mulut ayahnya. Ia ulang beberapa kali tindakannya hingga sirine ambulans berdengung di halaman rumahnya.Emily masih berlutut dan mengatur napasnya, peluhnya membanjiri

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 42

    “Surprise …!” teriak Aura bersemangat seraya mendorong pintu sekuat tenagaSepasang tangan yang saling berjabatan, terlepas karena kaget dan panik. Aura menatap dua orang dewasa di hadapannya dengan tatapan bingung. Kemudian, ia berlari menubruk kaki kanan Ivander dan memeluknya erat.“Siapa dia?” tanya Aura seraya menunjuk ke arah wanita cantik yang sedang menatap padanya.“Aura …!” Seorang wanita cantik berambut ikal sepunggung menyusul masuk.“Van …?” sapa Rebecca penuh tanya.Dalam kebingungannya, Emily mengutuki kebodohannya. Andai saja semalam dia bersikeras menginap di hotel, suasana memalukan ini tidak perlu dialaminya.“Hai.” Ivander melambaikan tangan, mengibas lebih tepatnya. “Masuk.”“Apa kami mengganggu?” tanya Rebecca tidak enak hati. “Sayang, sini.”Emily tersenyum. “Engh, tidak. Saya hanya berpamitan hendak pergi. Silakan.”Emily mengangguk sopan ketika berjalan melewati Rebecca. Hatinya memastikan bahwa ini wanita yang dilihatnya semalam sedang berbincang dengan Ivand

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 7

    “Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!” Hendro tercekat. “Sebenci itukah kamu pada Raditya, Nak?”Emily kembali menggeleng. “Anak ini bukan wujud dari cinta kasih orang tuanya, Pa. Dia hadir bersama puncak kebencian yang mas Radit lakukan.

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 6

    Ivander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.“Wow …! Best match …!”

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 2

    Raditya terbakar amarah menyadari sikap istrinya yang mulai berani. Diraihnya kunci mobil di atas meja dan bergegas mencari Emily ke rumah sakit.“Dia pikir, siapa dia? Berani sekali meninggalkan rumah tanpa pamit. Mau sembunyi? Percuma!” oceh Raditya seraya menginjak pedal gas lebih dalam.Sesampa

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 1

    Brakk …!Emily melempar pintu ruang kerjanya penuh emosi. Dibanting tubuhnya ke kursi hitam besar yang biasanya selalu diperlakukannya lembut karena itu hadiah dari staf bawahannya di hari pertamanya bekerja. Kepalanya yang berdenyut selaras dengan nadi, ditopang tangannya di atas meja, seolah akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status