LOGINLucia Amara ( 28 ) seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama adik dari almarhum kedua orang tuanya. Bukan seperti saudara pada umumnya yang di sayang, tapi Lucia di jadikan pembantu di rumah besar itu. Dia tak bisa melawan karena dia tak punya kekuatan untuk melawan. "Lucia, besok keluarga Tuan Marvel akan datang kemari. Kau harus menikah dengan tuan Marvel menggantikan Nadia. Kau tahu bukan jika Nadia tak akan bisa menikah dengan laki laki itu? Apa kata orang nanti jika menikah dengan laki laki seperti Marvel?" # Marvel Vanderick ( 35 ), laki laki yang terkenal dengan kekejamannya karena di kabarkan melakukan kekerasan pada mantan istrinya. Siapa yang sangka jika seorang Marvel tak pernah membantah semua rumor itu dan tetap menjalankan perannya sebagai seorang penguasa tanpa bisa disentuh. "Tuan Marvel, aku memberikan putri ku sebagai pengganti uang yang aku bawa kabur. Tuan bisa melakukan apa saja kepadanya." Marvel masih melihat gadis yang sedang ketakutan di depannya. Menunduk, dengan tangan gemetar. "Baik, aku bawa dia. Jika kau tak segera mengembalikan uang itu dalam waktu tiga bulan, dia akan tewas!" Marvel membawa Lucia pergi, bukan langsung ke rumah melainkan mendaftarkan pernikahan nya dengan Lucia. "Kau sekarang sudah sah menjadi istriku, turuti perintahku. Dan jangan macam macam." Akankah hidup Lucia berubah? Atau malah akan menjadi lebih sengsara dari sebelumnya? Apa yang di rencanakan Marvel pada Lucia? Ig: Sangkarachan
View More"Lucia, kenapa semua pakaian milikku belum siap? Kau tahu aku harus berangkat kuliah hari ini!"
Teriakan menggema di seluruh rumah itu. Terlihat dari arah belakang rumah seorang gadis tergesa gesa membawa beberapa baju untuk naik ke lantai atas. "Maaf Nadia, semua bajumu baru selesai ku rapikan." Lucia memberikan baju yang dia bawa kepada Nadia yang sudah menunggunya dengan wajah yang marah. Plak..... Tapi Nadia malah menampar Lucia karena menurutnya Lucia lamban dan membuatnya terlambat. Lucia hanya menunduk dan memegang pipinya yang terasa perih. Dia tak bisa melawan karena selama ini dia menumpang di rumah itu. Semua pekerjaan rumah itu Lucia yang mengerjakan meskipun banyak pelayan disana. "CK, kenapa kau selalu membuatku marah? Kau memang pembawa sial Lucia." "Nadia, aku tidak ...." Blam.... Lucia berusaha membela diri dan ingin mengatakan alasan kenapa dia terlambat mengantarkan baju milik Nadia ke kamarnya. Tapi Nadia sudah memaki bahkan menamparnya langsung. Nadia menutup pintu kamarnya dengan keras, dimana di depan pintu masih ada Lucia yang berdiri menahan tangisnya. Lucia meremas ujung bajunya sambil terisak tanpa suara. Setelah itu, dia pergi dari sana agar tak ada orang lain yang melihatnya menangis. Terutama Selena, jika sampai Selena tahu dia pasti akan di maki dan di pukul habis habisan. Lucia kembali ke kamarnya, yang ada di belakang dapur rumah itu. Kamar yang dia tempati adalah bekas gudang yang di jadikan sebuah kamar. Bahkan kamar pelayan yang ada disana lebih bagus dan luas dari pada kamar yang dia tempati. "Ayah, ibu, kenapa kalian tak membawaku saja?" gumam Lucia lirih. Dia memegang pipinya yang masih terasa panas saat ini. Tak hanya pipi, beberapa tubuh lainnya juga masih tersisa bekas lebam. Tapi dia tak bisa mengeluh kepada siapa siapa. Pelayan yang ada disana juga memperlakukannya dengan buruk. Beberapa pukulan juga sering dia dapatkan ketika apa yang dia lalukan tak sesuai dengan perintah Selena dan yang lainnya. Lucia menangis dalam diam, Lucia tak punya kuasa apa apa. Dia melihat lengannya yang masih tersisa bekas luka karena baru saja di pukul oleh Selena beberapa waktu yang lalu. Di kamar lain, sepasang suami istri sedang cemas dengan apa yang terjadi. "Ini semua karena kau yang gila, bagaimana bisa kau menggelapkan dana perusahaan? Lihat apa yang terjadi? Kau tahu bukan jika keluarga Vanderick itu kejam. Dan kau malah menjadikan putrimu sebagai jaminan untuk semua dana yang kau gelapkan. Nadia akan marah besar jika sampai dia tahu?!" "Ma, jangan malah membuatku pusing. Kau pikirkan caranya agar Nadia tak sampai menikah dengan tuan Marvel." Sepasang suami istri terus berjalan mondar mandir sambil berpikir keras. Jika dana yang di pakai tidak di kembalikan mereka akan di seret masuk ke dalam penjara. Selena juga Adika tak mungkin mempunyai uang sebanyak itu. Lalu sebuah ketukan pintu menghentikan mereka. "Paman, bibi.... sarapan sudah siap." Terdengar suara Lucia dari depan pintu. Mata Selena membulat sempurna lalu detik berikutnya mata nya berbinar karena dia menemukan sebuah ide untuk menyelematkan mereka. Selena langsung membuka pintu kamarnya dan melihat Lucia. Dia menarik tangan gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Adika yang melihat itu tentu saja kebingungan. Tapi dia memilih untuk diam, karena dia tahu jika istrinya itu mempunyai banyak rencana. "Lucia, besok kau harus menggantikan Nadia untuk menikah dengan keluarga Vanderick." Mata Lucia membola, dia melihat Selena tak mengerti kenapa tiba tiba Lucia harus menikah dengan keluarga itu. Lucia bahkan tahu siapa keluarga Vanderick sebenarnya. Siapa yang tak kenal dengan tuan muda nya yang terkenal kejam dan arogan. Bahkan berita tentang nya yang melakukan kekerasan kepada mantan istrinya sudah menjadi bahan pembicaraan di seluruh kota itu. "A-apa maksud Bibi? Kenapa tiba tiba aku harus menikah dengan keluarga Vanderick?" Selena mendekat ke arah Lucia, memegang dagu Lucia dengan kuat. "Anggap saja ini semua untuk membalas budi atas kau yang sudah tinggal disini selama bertahun tahun. Semua biaya makan dan tempat tinggalmu. Ingat Lucia, bagaimanapun kau harus mengikuti apa yang ku katakan." "Kalau kau tak menuruti apa yang ku katakan, nenek mu yang ada di kampung itu tak akan ku urus lagi. Bukannya dia masih membutuhkan banyak uang?" Air mata Lucia menetes, tapi dia tak diberi kesempatan untuk membela diri atau menolak. Wajah Lucia di hempas begitu saja oleh Selena. "Sekarang kau pergi dan kembali ke kamarmu. Aku akan mengatur semuanya, ingat jangan sampai kau kabur jika tak mau nenekmu itu ku siksa!" Lucia melangkah keluar dari kamar Selena dengan perasaan tak karuan, tubuhnya lunglai seketika. Bagaiamana tidak, di dunia ini dia bertahan hanya demi neneknya. Meskipun dia sering disiksa tapi paman dan bibinya masih mau mengirim uang untuk neneknya meskipun tak seberapa. "Kenapa mereka semua jahat padaku? Apa aku tak bisa menentukan jalan hidup ku sendiri?" gumam Lucia pelan. Adika yang melihat Lucia keluar pun menarik Selena untuk menjelaskan semua rencananya. "Kita tak mungkin mengorbankan anak kita sendiri, jadi lebih baik Lucia yang kita berikan pada tuan Marvel sebagai jaminan." # Di sisi lain, Marvel Vanderick sedang berbicara dengan orang tuanya. Dan lagi lagi, orang tuanya sudah mendesak Marvel untuk segera menikah. Marvel Vanderick (35) seorang pengusaha muda dan juga milyuder ternama hanya diam ketika sang mommy mengoceh panjang lebar tentang pernikahan nya. "Marvel, kapan kau akan menikah lagi?" Marvel mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. "Mom, apa kau lupa jika putramu ini sudah pernah menikah? Kenapa kau memaksaku menikah lagi? Dan lagi aku tak tertarik dengan wanita mom!" Hanabi tersedak minumannya mendengar perkataan sang putra. "Kau tak suka dengan wanita? Jangan bilang kau suka laki laki Marvel?" pekik sang Mommy. Marvel memutar bola matanya malas menanggapi kehebohan sang mommy. Belum sempat Marvel menyahut lagi ponselnya bergetar. Pesan masuk dari asistennya yang memberi tahu jika Adika ingin bertemu. Dia hanya membaca sekilas lalu memasukkan kembali ponsel miliknya. Tak lama dia berdiri dari duduknya dan pergi dari meja makan "Marvel, mommy belum selesai bicara. Kau mau kemana?" Marvel terus melangkah keluar, dia masuk ke dalam mobilnya untuk pergi ke kantor tanpa mengindahkan teriakan sang mommy. Di dalam perjalanan Marvel kembali membuka ponselnya, menyuruh sang asisten untuk membawa Adika menemuinya diluar, di tempat dimana biasa dia menghukum orang orang yang membuat masalah dengan nya. "Apalagi yang tua bangka itu rencanakan?" to be continuedMarvel yang mendengar gerutuan istrinya terkekeh, dia lalu memeluk Lucia dan mencium kening Lucia dalam. "Biarkan saja mereka merencanakan apapun kepada ku. Aku tak tertarik sama sekali dengan mereka. Jadi jangan mengomel lagi, hemm?" Lucia mengangguk meskipun dia masih kesal. Ingin sekali rasanya dia mengacak acak keluarga Denisa saat ini juga. Tapi mengingat rencananya, Lucia memendam semuanya. Meskipun dia kesal, tapi dia yakin Marvel tak akan menanggapinya sama sekali. "Bisa bisanya tua bangka itu bilang aku gila? Dia pikir dia siapa? Aku yang akan bikin dia gila nantinya!" gerutu Lucia lagi. Marvel pun sama tak terimanya dengan semua perkataan Tomo tentang istri nya. Dia lalu mengirim pesan singkat pada Digo agar membantu menekan perusahaan Tomo secara perlahan. Digo juga mendapat kiriman suara dari Marvel tentang apa yang dilakukan Tomo juga Denisa. Tentu saja hal itu membuat Digo geram. Dia meminta Asistennya untuk menekan perusahaan Tomo dan membuat kehebo
"Jadi kita menjebak Denisa?" tanya Marvel memastikan. "Bisa di bilang begitu, lagi pula dia yang ingin bertemu dengan Kanza. Jika dia memang seniat itu dia pasti akan datang. Jadi kita harus menyambutnya bukan?" Marvel mengusap kepala Lucia lembut. Malam itu, hanya Kenzo yang menjaga Kanza di rumah sakit. Tapi tetap saja Marvel memberikan penjagaan di sekitar rumah sakit dan juga ruangan Kanza. Sementara Denisa yang tak mendapatkan kabar dari orang suruhannya mulai gelisah. Dia tak tahu jika semua orang suruhannya sudah di tangkap oleh Marvel. "Kenapa mereka tak memberitahuku apa apa? Di hubungi juga tak bisa. Benar benar sialan. Mau uangnya tapi tak becus mengurusi pekerjaan biasa saja." Sejak tiba di bandara dia terus menggerutu karena orang orang nya tak bisa di hubungi sama sekali. Tak lama dia mencari taxi untuk pergi ke tempat seseorang yang sudah menunggunya. Tanpa Denisa tidak tahu jika sejak tadi ada seseorang yang juga sedang mengawasinya. Marvel mendapat
Kanza di larikan ke rumah sakit oleh Kenzo. Ketika tiba di rumah sakit, Kanza langsung mendapat perawatan. Bugh..... Kenzo meninju dinding yang ada di sisinya. "Bagaimana bisa kecolongan?" "Kita cuma manusia biasa Ken, kita sudah berusaha tapi jika takdir memang bilang kalau Kanza harus terluka dulu kita tak bicara mencegahnya." Kenzo menoleh, terlihat Marvel dan Lucia baru saja tiba disana. Marvel menepuk pelan pundak Kenzo untuk menenangkan laki laki itu. Mereka menunggu Kanza selesai di periksa. Dan tak lama dokter yang memeriksa Kanza pun keluar. "Bagaimana keadaannya?" "Pasien baik baik saja, lukanya sudah di obati. Dia hanya sedikit syok karena mengalami kekerasan dan penyerangan seperti ini. Kami akan melihat nya nanti setelah dia sadar. Jika butuh penangan khusus kami akan mendatangkan dokter khusus untuknya. Sementara waktu dia harus di rawat, paling lama dua hari." Setelah mengatakan itu, dokter itu pergi berbarengan dengan Kanza yang juga di bawa ke
Setelah perdebatan panas itu, Lucia tetap ikut kemana pun Marvel pergi karena Marvel memaksanya. "Marvel, aku mendapat info jika wanita itu sudah berangkat kemari." Marvel yang sejak tadi fokus dengan file di ponselnya bingung ketika Kenzo mengajaknya bicara. Terlebih Kenzo membicarakan wanita lain selain Lucia. "Wanita? Wanita siapa yang kau maksud? Wanita ku cuma Lucia dan dia ada disini sekarang." Lucia menepuk pelan keningnya sementara Kenzo menghela napas panjang karena dia lupa jika dunia Marvel akan berputar pada Lucia. "Ck, kau lupa jika kemarin kita berencana pindah ke rumah biasa karena teman satu panti Kanza." Marvel sempat berpikir lalu mengingat apa yang menjadi rencana mereka. "Lah iya ya, aku lupa sungguh. Jadi sampai dimana wanita itu? Apa rumahnya sudah siap? Dan juga bagaimana dengan Kanza?" Kenzo menceritakan semua info yang dia dapatkan. Lucia juga memberitahu Marvel jika Ibu panti dan adik adik Kanza sudah di pindahkan ke tempat yang aman. D
Kanza yang saat ini fokus membantu pelayan untuk masak tak sadar jika dirinya sedang dibicarakan Marvel juga Lucia. "Ayo ganti baju dulu." Lucia menarik tangan Marvel untuk dibawanya naik ke kamarnya. "Mom, kami ganti pakaian dulu. Tak nyaman makan pakai baju begini." Hanabi mengangguk
Beberapa bulan berlalu semenjak Lucia pingsan, keadaannya berangsur membaik. Marvel pernah menjenguk Lucia beberapa kali tapi dia tak berani mendekat. Seperti yang di janjikan pada sang mommy jika dia tak akan mengganggu pengobatan Lucia sang istri. Hampir tiga bulan lamanya Marvel belum melihat is
Keberangkatan Lucia sudah di siapkan dengan baik oleh kedua orang tua Marvel. Tak lagi bisa menahannya karena Lucia benar benar butuh penanganan khusus. Marvel sangat tahu jika hanya di tempat Ganesha, Lucia bisa segera pulih. Sama seperti dirinya dulu yang sempat frustasi karena semua masalahnya.
Mendengar jawaban Marvel tentang perjanjian itu yang tak sesuai angannya membuat Adika dan Selena gemetar ketakutan. Mereka merasa jika Marvel kali ini ingin membalas dendam pada mereka untuk Lucia. "Dan hari ini adalah tanggal perjanjian itu selesai, jadi aku akan menagih apa yang sudah kalian j












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews