INICIAR SESIÓNSeminggu telah berlalu setelah pesta pernikahan dan bulan madu dadakan. Karina akhirnya dibawa Alfan untuk tinggal di mansion miliknya di jakarta Selatan. Setelah beberapa hari Akrina harus mengurus pengunduran diri di tempat ia bekerja. Namun, dari pihak bimbel ia memeberikan pekerjaan mengajar lewat zoom. Tentu saja ia mau melakukannya, karena ia juga mau punya uang hasil sendiri.
"Mulai sekarang ini kamar kamu, Karina" Suara rendah Alfan mengudara diantara mereka. Pria itu menunjukkan kamar yang ia sudah siapkan untuk istrinya. Alfan membuka satu kamar kosong di samping ruangan kerjanya, kamari itu adalah kamar dirinya, kamar itu sudah siap di pakai, lengkap dengan perabotannya. Kamar mereka hanya terhalang satu ruangan itu saja. "Kita pisah kamar mas? " Tanya Karina tidak sengaja, lalu ia langsung menutup mulutnya sambil menggeleng. Duh jodohnya Karina udah tau kok masih nanya sih. Alis tebal Alfan terangkat, eksepsinya berubah dingin, lalu ia mengecup kening Karina. "Saya perhatiin, kamu memang ada rasa ya sama saya? " Ucap Alfan menatap Karina lembut. Membuat Karina Ingin teriak atas kelakuan Alfan tadi. "Apakah dari awal kamu menerima perjodohan ini, kamu yang berharap kita satu kamar Karina?, " Sambung Alfan menatap serius Karina yang diam membisu. Perempuan itu menelan salivanya susah payah, menuai semua perkataan Alfan yang begitu pedas sekaligis narsis. "Mas Alfan terlalu percaya diri banget, saya cuma bercanda kok. Jangan dianggap serius ya mas, " Kilahnya dengan suara pelan, sambil mengusap dahinya. "Bercanda kamu tidak lucu Karina, " Sarkas Alfan menatap tajam Karina. Karina mengulum bibitnya, menunduk sambil mengusap-ngusap cincin berlian pemberian Alfan sebagai tandak pernikahan, "iya, Maafkan saya Mas Alfan, " Ucapnya lembut sekali. "Satu lagi Karina, kamu jangan pernah masuk kamar saya tanpa izin dari saya ya, " Alfan memberi peringatan dengannya ekspresi lebih serius. "Kenapa Mas? " "Jangan tanya kenapa Karina, turuti saja perkataan saya, selagi tidak merugikan, " Ucap Alfan tajam dan tidak ada bantahan. Karina menghela nafas panjang, lalu mengangguk patuh. "Saya mengerti Mas Alfan. Tenang saja, saya tahu diri kok, nggak bakal jadi beban Mas Alfan juga. Saya juga kerja kok meski online, " Tutur Karina panjang lebar, suaranya pelan mengandung pada ketegasan di setiap kata yang terucap. Alfan melipat tangannya ke dada,masih menatap istrinya dengan lekat. "Saya cuma bilang jangan masuk kamar saya, kenapa kamu jadi melebar kemana-mana Karina? Hmm kenapa? " Tanya Alfan herang dengan istrinya yang ternyata bisa beriik. "Nggak begitu Mas Alfan,niar kedepannya Mas Alfan tahu kalau saya ini istri yang berguna, dan Buat Mas Alfan juga punya kejelasan, " Seloroh Karina sedikit percaya diri, meskipun selanjutnya ia ciut karena tatapan intimidasi Suaminya Alfan. "Yakin berguna? Semua pelayanan di sini saya kasih fasilitasnya. Kamu kalau keluar tinggal keluarga ada supir, terus tiap pagi sampe sore ada bi ijah buat bersih-bersih rumah,masak dan nyuci. " Terang Alfan lagi, lalu pria itu mengeluarkan sebuah benda dari dompetnya, yaitu kartu biru tua bertuliskan BCA Solitaire. Lalu ia menyodorkan kartu iti kepada Karina. "Ini apa Mas Alfan? " Tanya Karina bingung, membuat Alfan berdecak tidak sabar. "Kartu BPJS... Kamu lihatnya apa Karina? " Pungkasnya tidak sabar, dengan tangannya masih mengambang di udara memegang kartu ATM tersebut. Karina mendelik mendengar kalimat Alfan. "Iya maksud saya ini kartu buat apa? " Sabar sekali ia harus menghadapi pria ini. "Ambil dulu ini! " Titah Alfan tidak mau di bantah, dan terpaksa Karina menerima kartu itu. "Itu buat kebutuhan kamu, apapun yang kamu inginkan pakai kartu itu, sandinya tanggal pernikahan kita. Kalau udah mau abis kamu bilang saya, biar saya transfer lagi. " Alfan sudah menyiapkan ini semua setelah pulang dari Yogyakarta kemarin. Iris mata Karina melebar dan jantungnya berdetak lebih kencang. "Ini beneran buat saya Mas ? Saya boleh pakai ini juga buat beli barang-barang yang aku inginkan? Cerocoa Karina terharu dengan suaminya. Alfan mengangguk singkat. " Apapun yang kamu butuhkan, asal jangan yang aneh-aneh, intinya yang bermanfaat saja dan kepake. " "Aneh-aneh bagaimana Mas Alfan, saya orangnya nggak boros kok, " Sahut Karina tidak Terima . Ia bukan orang yang boros belanja. Tapi dia orang yang kalau membeli sesuatu yang di butuhkan saja."Karina khawatir deh Mas, besok Karina ada kerjaan tapi di luar takut Karina mual lagi Mas" Jawab Karina. Alfan menatap Karina, wajah Karina jelas di penuhi berbagai jenis ekspresi du mulai dari tegas takut, dan capek tentu saja. "Sini deh sayang" Alfan mengkode Karina untuk mendekat ke arahnya. "Selama ini Mas kenal bahkan semua orang kenal kamu itu guru yang hebat, yang kuat bahkan kamu juga yang mengajari anak-anak walaupun lewat zoom. Kamu bisa sendirian selama ini.. ""Mulai besok, lusa sampai 9 bukan kedepannya bahkan sampai selamanya kamu gak harus kuat sendirian ada Mas di dini" Alfan mengangkat tangannya kemudian menunjuk dirinya sendiri. "Ada Mas sayang, suami kamu, calon ayah anak kamu. Jadi istriku sayangku mulai sekarang kamu hanya perlu fokus sama diri kamu sendiri dan adek bayi selebihnya serahin sama Mas ua" Ucap Alfan panjang lebar. Karina berkedip, Air matanya jatuh lagi"Karina sudah selalu jadi beban kamu Mas, masa iya jaga baby gini Karina juga harus membeban
Alfan mengemudikan mobilnya kembali menuju rumah, tapi ketahuilah di sepanjang jalan ia mencari sesuatu untuk bisa mengembalikan mood istrinya ini. Tak jauh dari taman ia berhasil menemukan penjual bunga segar. Tanya bertanya terlebih dahulu ia langsung saja menepikan mobilnya, ia tak mengatakan apapun pada Karina. "Sebentar sayang"Setelah pamit pada Karina, ia ambil dompetnya kemudian ia keluar dari mobil menuju penjual fresh flower itu. "Mau yang mana pak? " Tanay penjual fresh flower pada Alfan. Alfan memperhatikan semua jenis bunga, pilihannya jatuh pada bunga mawar putih kesukaan Karina. "Mau itu aja mbak" Ucap Alfan. Penjual tersebut mengangguk kemudian membuatkan pesanan Alfan. "Jadi berapa mbak? ""Semuanta 120 ribu Pak" Alfan memberikan uang seratus lima puluh."Pak ini kembaliannya" Ucap penjual bunga. "Gapapa mbak ambil aja" Ucap Alfan. "Terima kasih pak"Alfan hanya mengangguk. kemudian Alfan berlari cepat menuju mobilnya. "Buat siapa Mas? Binggung Karina. " B
Pengecekan kali ini selesai lebih awal, Alfan juga sudah kembali melakukan aktivas seperti pada umumnya tidak berpindah-pindah tempat lagi kayak waktu itu yang hampir membuat Karina gila. Kenapa gila? Selain sibuk di tempat proyek yang di cek oleh Alfan, Alfan juga sering sekali ketiduran karena kecapean seharian berada di lapangan berpanas-panasan. Jadilah Alfan tidak memberi kabar pada Karina. "Sayangggggg" Suara itu menyambut Karina. Yap itu suara Alfan, Alfan sudah pulang dari medan. Karina tersenyum, ia tidak terkejut sebab Alfan sudah mengatakan tadi pagi akan makan siang bersama di studio tempat Karina kerja. Alfan kini hanya memakai celana pendek selutut berwarna moca dengan kaos polo coklat Mahoganny "Stopp Mas" Ucap Karina saat melihat penampilan Alfan. "Kenapa sayangku cintaku? " Alfan ikut mengikuti arah pandang Karina. "Makin ganteng aja Mas kalau pake celana pendek "ucap Karina. " Tapi jangan di pakai buat tebar pesona ya"peringatan Karina. "Okaii sayang, ini c
"Rileks aja bu, kita langsung USG aja ya ibu silahkan berbaring" Ucap dokter Nisa. Gel dingin menyentuh kulit perut karina, transducer USG di geser pelan oleh dokter Nisa. Dukkkk... Duukkk... Duk.... Jangan kira Karina bodoh tidak mengetahui itu, air mata keluar dari matanya begitu mendengar suara pelan itu. "I am pregnant? " Pertanyaan tanpa ekspresi itu keluar dari mulutnya begitu saja. Dokter Nisa tersenyum manis, tak lama ia tunjuk layar"nih bu, kantong kehamilannya sudah kelihatan sekarang. Ukurannya sesuai dengan hari terakhir perkiraan saya 5 minggu. Detak jantung juga sudah ada walau belum secepat biasanya tapi untuk 14px/menit itu sudah sangan baik bu"jelas dokter Nisa. "Bu Karina ada mengalami mual tidak? Muntah? Pusing? Atau bahkan ada hal aneh lain mungkin? " Tanya dokter Nisa. "Tidak dok, semuanya aman" Jawab Karina. Karina bangkit dari ranjang kemudian kembali ke kursi "Untuk menghindari mual berlebihan nanti ibu bisa konsumsi vitamin yah, sama anti mual juga ya
"Ini? Pacarnya pak Alfan? " Tanya salah satu dari mereka. Alfan menggeleng"Ini istri saya oak, jauh-jauh lho nyusul saya kesini karena tau sesuatu yang terjadi dengan saya" Alfan merangkul Karina di depan mereka. "Tidak heran anda sehebat ini, ternyata di dampingi oleh istri yang benar-benar indah seperti ini"Karina tersenyum mendengar pujian itu. "Mari pak, saya harus pulang ke mess" Ucap Alfan. "Silahkan kalau begitu pak Alfan. "Sesampainya di mes, Alfan langsung izin untuk bersih-bersih dulu dan Icha di suruh Karina untuk di hotel saja. " Mas ke toilet duduk ya sayang bersih-bersih gerah ini"izin Alfan.Karina mengangguk, dan ia diam di sisi kasur menunggu Alfan mengganti bajunya. 10 menit Alfan selesai, celana bahan berwarna hitam dengan kaos berwarna putih yang ada tulisannya. "Mau peluk lagi engga? Udah gak bau asem sekarang" Tanya Alfan. "Mau dong Mas ganteng" Ucap Karina dengan bibir yang sudah manyun. "Sini peluk ututututu istri Mas cantik banget" Alfan merentangk
Mata Karina yang sejak tadi menahan cemas akhirnya berkaca-kaca. "Mas bikin aku takut aja hik hik.. ""Maaf sayang" Jawab Alfan lembut. "Tadi Mas mau mau ngabarin kamu tapi kondisinya engga memungkinkan buat langsung menghubungi. Begitu keadaan sudah lebih aman, aku langsung telpon kamu. "Karina mengusap sudut matanya yang bera air. "Yang penting Mas gak apa-apa. " Iya, Mas baik-baik aja sayang. Maafin Mas ya. "Ucap Alfan terus meminta maaf. Karina mengangguk meskipun Alfan tidak bisa melihatnya. " Mas sekarang masih dimana? "Tanya Karina. "Mas Masih di sekitar lokasi, setelah ini mas mau lanjut ke tempat yang Mas rencana kan tadi pagi. Nanti sudah sampai Mas kabarin lagi. "" Iya Mas jangan lupa, Karina tungguin di sini Mas"ucap Karina. "Emang kamu dimana sekarang? Jangan bilang kamu nyusul? " Tanya Alfan. "Iya Mas aku di medan, di lokasi kamu otw sekarang" Ucap Karina. "Yaudah kalau begitu,kamu istirahat aja dulu Mas agak lama sayang"Ucap Alfan. " Gak Mas Karina tungguin
"Salsa? " Suara bariton mendistraksi lamunan seorang perempuan berwajah blasteran Amerika Indonesia, cantik dan penuh keanggunan. "Kamu ngapain berdiri di depan sini? " Tanya pria itu lalu merangkul perempuannya. "Aku nunggu kamu kok, udah selesai? " Salsa tersenyum tipis, membalas dengan meme
"Yah kalau, Kamu punya cowok di luar. Kamu bayar laki-lak itu pakai uang dari kartu ini. apapun sesuatu yang kamu inginkan, " Seloroh santai. Rahang Karina hampir jatuhh dibuat, karena mendengar tuduhan suaminya yang tidak masuk akal. "Mana ada Mas! Jangan bicara sembarangan ya Mas, " Jawabannya pen
Pantai yang di maksud adalah pantai Parangtritis. Salah satu pantai yang terhits di kota Yogyakarta. Terutama di sore seperti ini, pemandangannya sangat cantik. Langit berwarna jingga kemerahan terlihat mendominasi, cahaya matahari memantul indah ke permukaan air laut. "Cantik banget, " Puji Karina
"Wijaya Industries sekarang sudah ada di tangan kamu Alfan. Tapi walau begitu, papah nggak akan lepas tangan dan pasrahin semuanya ke kamu. Perusahaan Wijaya Industries ini perusahaan keluarga, besar sekali tanggung jawabnya bagi orang yang sudah menduduki kursi kepemimpinan. Dan biarpun umur kamu s







