LOGINPantai yang di maksud adalah pantai Parangtritis. Salah satu pantai yang terhits di kota Yogyakarta. Terutama di sore seperti ini, pemandangannya sangat cantik. Langit berwarna jingga kemerahan terlihat mendominasi, cahaya matahari memantul indah ke permukaan air laut. "Cantik banget, " Puji Karina tidak berhenti mengagumi keindahan pantai ini meskipun dulu sudah sering ke sini.
Karina sendiri berjalan di belakang istrinya, sedikit menikmati angin laut yang sejuk dan menyegarkan. Ternyata di sore hari masih ramai sekali wisatawan. "Mas Alfan! " Panggil Karina berbalik badan menatap suaminya yang terlihat menawan di bawah langit jingga. Padahal Alfan hanya memakai kaos putih lengan pendek dibalut jaket kulit, satu tangannya terbenam di saku celana jeans ketat yang robek di lutut. Sejenak ia terpana, sembari berjalan mundur. "Mas Alfan tahu tidak?, kalau di pantai ini di larang pakai baju putih loh, "Ucap Karina tiba-tiba membuat Alfan menatapnya bingung. "Kenapa memang ada aturannya? " Pria itu ingin tahu jawaban dari pertanyaan konyol istrinya ini. Karina melirik sejenak ke arah pantai. "Katanya kalau pake baju hijau, bisa di culik sama Nyi Roro rombeng. Alasan penguasa pantai ini, " Jelas Karina dengan ekspresi lucunya. Sedangkan Alfan menatap Karina heran, tidak menyangka perempuan ini percaya hal diluar nalar seperti ini. "Nyi Roro rombeng? Bukannya Nyi Roro Kidul ya? "Terus kenapa kamu tidak pakai baju hijau aja kesini, biar di ambil noh sama Nyi Roro Kidul. Ucap Alfan tanpa dosa. "Eh, Mas kok gitu. Nanti kalau aku di culik Mas bagaimana? Mau jadi duda di usia muda? . " Gak masalah bagi saya, setidaknya beban saya hilang satu, " Jawab Alfan santai, membuat Karina mencebiknya. Perempuan itu tetap berjalan mundur, karena masih ingin menatap suaminya. "Awasss Karina! " Seru Alfan menarik Istrinya kedalam dekapannya. "Maaf kan anak saya Mbak, Mas! " Seru ibu-ibu yang menghampiri anaknya yang hampir menabrak Karina. "Iya gak papa bu, namanya juga anak kecil".Sahut Karina. " Sekali lagi saya minta maaf ya Mbak, Mas. " "Iya bu sama-sama, lain kali awasinnya lebih teliti ya biar gak terjadi hal-hal seperti ini lagi". " Iya Mas. Kalau begitu saya tinggal dulu ya. Terimakasih. Ucap ibu-ibu itu. Setelah kepergian ibu-ibu itu Alfan berucap seperti ini Kepada Karina. "Kamu tuh bisa jalan yang benar tidak? Selalu bikin rusuh! " Omel Alfan pelan, masih Memeluk Karina erat. "Selalu bikin repot saya, " Lanjut Alfan masih kesal dengan tindakan ceroboh istrinya. "Karina lihat saya, " Bisik Alfan dengan rendah karena tak kunjung mendapat respon dari istrinya. Karina merasakan jantungnya berdecak kencang. Lalu ia beranikan diri untuk melihat wajah Alfan. "Kenapa Mas Alfan? " Karina masih menatap intens ekspresi Alfan yang begitu dingin dan misterius. Tatapan mereka sejenak saling mengunci, Karina bisa melihat adanya rasa kelam dari iris pekat Alfan. "Sejak awal kita menikah karena terpaksa, karena di jodohkan. Dan saya di sini mau menegaskan jika saya tidak bisa menjanjikan sebuah pernikahan yang baik-baik saja untuk kamu Karina. Jadi saya harap kamu tidak terlalu berharap penuh untuk pernikahan ini. Tidak tahu kalau ke depannya,kita lihat saja nanti" Tutur Alfan terdengar lembut, namun terselip nada pertahanan yang cukup menyakitkan. Karina menatap satu suaminya, jujur saja ia ingin menjalin hubungan yang baik dengan Alfan. Namun, pria ini sudah menyatakan dengan sejujurnya untuk membuang jauh-jauh harapan yang ia bisa menyakiti dirinya. "Kenapa seperti itu Mas? Saya tidak masalah jika kita pelan-pelan saling mengenal satu sama lain, " Ungkap Karina jujur menatap Alfan semakin dalam. "Karena saya... Suara Alfan tiba-tiba tenggelam dalam deburan ombak yang kencang, sehingga membuat Karina tidak bisa mendengarnya dengan jelas. "Ayo pulang, ombak pantai semakin besar, " Ajak Alfan lalu meninggalkan Karina yang masih bertanya-tanya dengan kalimat terakhir Alfan. "Hah? Kamu ngomong apa sih Mas? Nggak kedengeran sama aku, " Molonolognya menatap Alfan yang pelan-pelan berjalan menjauh darinya, dengan membawa sejuta pertanyaan yang memenuhi pikiran Karina."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







