LOGIN
"๐๐๐๐๐ฎ๐ ๐๐ฃ๐๐ช๐จ๐ฉ๐ง๐๐๐จ sekarang sudah ada di tangan kamu Alfan. Tapi walau begitu, papah nggak akan lepas tangan dan pasrahin semuanya ke kamu. Perusahaan ๐๐๐๐๐ฎ๐ ๐๐ฃ๐๐ช๐จ๐ฉ๐ง๐๐๐จ ini perusahaan keluarga, besar sekali tanggung jawabnya bagi orang yang sudah menduduki kursi kepemimpinan. Dan biarpun umur kamu sudah memenuhi syarat dan bahkan sudah resmi menjadi pemimpin, tapi papah wajib kamu ikut sertakan setiap kamu mengambil keputusan yang menyangkut perusahaan ini. Paham kamu? "
"Dan papah bangga sekali kamu bisa langsung memenangkan proyek besar di jogja di awal kepemimpinan kamu ini. Papah percaya sama kamu bisa menangani semuanya tanpa membuat masalah. " "Iya pah. Makasih atas semuanya, bimbing dan kasih tau kalau saya melakukan kesalahan. Semoga saya bisa mengelola perusahaan ini dengan benar. " ***** "Ayah akan jodohin kamu sama Alfan, Anaknya pak Radit dan ibu Sekar. " "Apa yah? Di jodohin? " Jawab karina "Aku nggak mau ya Ayah. Aku nggak mau. Yang benar aja? Masa aku nikah sama Pria yang bahkan nggak pernah ketemu? "Terus kamu maunya gimana? Ini wasiat dari kakek kamu sebelum meninggal dulu" Ucap ayah Karina. "Tapi kan yah---" "Tapi apa? , ayah udah janji sama kakek kamu. Kalau bakan nurutin wasiatnya buat nikahin kamu sama Alfan kalau usia kamu udah 25 tahun. Karina langsung terkejut dengan permintaan yang begitu mendadak itu. Hatinya di landa rasa bimbang dan ragu. Ia merasa dirinya belum siap untuk menikah dan mengurus suami. Namun pada akhirnya, setelah bergulat dengan perasaan campur aduk itu, karina menerima perintah Ayah nya untuk menikah dengan Alfan. Pernikahan pun akhirnya berjalin. Bagaimanakah pernikahan mereka nantinya? Mampukah karina menjalankan peran sebagai istri dari Alfan? Dan bisakah mereka menjalani hubungan ini yang tanpa di landasi cinta? ***** "Minggu depan kita langsung ketemu keluarga Pak Radit, " Putus Ayah Karina. Bahu perempuan rambut panjang itu melemas pasrah, di satu sisi ia sangat ingin menentang perjodohan konyol ini. Namun, di sisi lainnya Karina juga harus menuruti wasiat sang kakek. Karena samasa hidup kakek nya Karina adalah cucu yang paling dekat dengan kakek nya. Jadi karina tidak mau mengecewakan almarhum kakek. Heri pun memijit pelipisnya. "Maaf ya nak, ayah nggak ada pilihan lain. " ****** ๐๐๐ฃ๐จ๐๐ค๐ฃ ๐ ๐๐ก๐ช๐๐ง๐๐ ๐๐๐๐๐ฉ, ๐๐๐๐๐ ๐ฝ๐ช๐ก๐ช๐จ ๐ ๐๐ ๐๐ง๐ฉ๐ ๐จ๐๐ก๐๐ฉ๐๐ฃ Suara sodokan bola biliard mengudara di sebuah ruangan khusus bergaya modern, dan mewah dengan lampu gantung di atasnya yang menghiasi ruangan ini. "Fan, gue denger lo beneran di jodohin? " Suara pria berambut coklat itu menatap karibnya khawatir. Alfan menatap Aldo sekilas, lalu melanjutkan permainan biliard nya lagi. "Hmmm, papah gue yang nyuruh, " Jawabnya singkat, sudut mulutnya berkedut-kedut seolah ia tidak menikmati permainan sendiri. "Lo nggak berusaha nolak? Beneran kebelet nikah banget nggak si? " ejek Aldo tanpa beban. Pria rupawan itu melempar ๐๐๐ถ๐ฐ๐ธ ๐ฏ๐ถ๐น๐ถ๐ฎ๐ฟ๐ฑ miliknya sembarangan. Langkah jenjangnya menuju lemari pendingin mengambil kaleng minuman lalu duduk di sofa. "Gue cuma mau tahu saja sejauh mana papah bertindak, " Alfan bergumam serak, membuka kalengnya dan menenggak minuman itu sekedar menghilangkan penat yang ada di dalam otaknya. Hari ini ia cukup butek denga masalah di kantornya, ada beberapa kesalahan proyek yang cukup mempengaruhi reputasi ๐๐๐๐๐ฎ๐ ๐๐ฃ๐๐ช๐จ๐ฉ๐ง๐๐๐จ. Untung saja ia segera hubungi kolega-kolega bisnisnya untuk menyelesaikan masalah ini . Masalah satu selesai , satu lagi datang dengan permintaan Radit untuk menikah dengan anak sahabatnya dulu. Kepala Alfan rasanya ingin meledak mendengarnya. "" Tante sekar setuju juga? Aldo masih tidak puas dengan jawaban gamblang. "Mamah selalu ngikut papah, jadi rasanya hari ini kepala gue mau pecah! " Semburannya pelan, lalu menenggak lagi minumannya. "Lo tahu calon bini lo? " Tanya Aldo lagi, karena ia tahu tipikal wanita Alfan. Alfan menggeleng pelan, jujur saja ia benar-benar tidak tahu tentang rencana ini. Radit,alias papah terkadang punya ๐ฅ๐ก๐๐ฃ๐๐ฃ๐ yang membuat dirinya hampir mati muda. "Lah? Ini sih kayak ngambil kucing dalam karung dong! " Seru Aldo tidak menyangka ekspresi karibnya begitu santai. "Kalau calon bini lo giginya maju gimana? " Seloroh Aldo lalu terpikal-pingkal membayangkannya. Alfan menatap Aldo tajam, menendang kaki karibnya hingga mengaduh kesakitan. "Gigi lo yang maju! " Hardik tidak Terima, sekaligus bergidik ngeri. Aldo masih memegangi perutnya karena tertawa. Namun, akhirnya ia menatap karibnya dengan tatapan yang lebih serius. "Fan, masa lo nggak berontak sama sekali sih. Apalagi lo sama sekali nggak tahu tuh asal usul perempuan itu, "celotehnya panjang lebar membuat Alfan terdiam sebentar. Pandangannya menatap lurus ke depan jendela besar Mansion pribadinya, yang tertutup tirai. " Kata papah si dia itu anaknya Om eri. Minggu depan kita akan ketemu. " "Gilakkk... Kalau perempuan itu bukan selera lo gimana? " "Alfan hanya menyeringai kecil, menenggak tandas kalengnya lalu meremas kuat. "Terserah nanti, mau gue Pikir-pikir dulu. _______ " Mas, jadi bener Om Radit jodohin kamu? "Tanya pria berpotongan ๐ฎ๐ช๐ฅ๐ฅ๐ญ๐ฆ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ต memakai baju model polo cream dipadu celana bahan hitam yang begitu rapih. Alfan melirik ke arah sepupunya itu. " Kenapa nggak ketik pintu dulu sih? "Ganggu aja. Sewotnya pada sang sepupu Aldan Aldianyah Syarif . Aldan mendekati Alfan, yang masih serius membaca dokumen. " Mas, kalau ditanya itu jawab dong? Kamu di jodohin? "Aldan semakin mendesak karena rasa penasarannya jauh lebih tinggi daripada ๐ข๐ค๐ฃ๐๐จ. Alfan menghela nafas pendek, lalu membanting dokumennya. Hari ini ia harus memeriksa beberapa pihak perusahaan. Dan ini, si Aldan berisi main masuk saja ke ruangannya, membuat kepalanya semakin pening. "Kamu ini kenapa sih? Cerewet banget. Iya, gue di jodohin, puas lo!? " Alfan mendelik kesal karena konsentrasi nya terganggu oleh kehadiran Aldan. Sejak dulu Aldan selalu mengikuti dan bersikap jahil pada Alfan, sebab ia dan Alfan sama-sama anak tunggal. "Terus kenapa kamu ada di sini? Bukannya ada pekerjaan? " Selidik Alfan menatap tajam Aldan. Sedangkan, pria 24 tahun itu hanya nyengir sebagai jawaban. "Sudah selesai kok Mas. Lagian aku kesini cuma kepo aja sama berita dari bunda, " Ungkap Aldan yang kini duduk di sofa Alfan. "Lagipula, aku kaget banget dengernya. Kamu yang lima tahun ini nggak deket siapapun, Tiba-tiba mau di jodohin? Segitunya kebelet ya Mas? " Dengan santainya Aldan bertanya hal yang sensitif bagi Alfan. "Sekali lagi kamu berisik, aku lempar kursi ini ke kamu Dan! " Geram Alfan rendah, kepalanya pusing mendengar ocehan tidak jelas dari sepupunya yang begitu merepotkan ini. Aldan ini seperti mamahnya, suka kepo dan banyak bicara, terus yang paling berisik diantara yang lain. Itu karena ia dan Aldan sama-sama anak tunggal, jadinya dari dulu Aldan selalu mengikuti kemana pun Alfan pergi. "Ya ampun Mas. Aku berisik tuh karena sayang sama kamu Mas! " Jawab Aldan disertai kekehan yang menampakkan lesung pipinya yang manis. Jika Aldan terkenal dengan aura dominasi yang menakutkan, dan galak. Berbeda dengan Aldan yang sangat ramah, sopan dan ๐ด๐ฐ๐ง๐ต ๐ด๐ฑ๐ฐ๐ฌ๐ฆ๐ฏ. Tidak heran pria berkulit putih gading itu di sukai banyak orang. Aldan bosan, lalu berdiri dari duduknya. Aldan hendak keluar dari ruangan Alfan, karna sepupunya ini selalu serius menanggapi segala hal. Namun, sebelum keluar dari situ, Aldan berdiri di ambang pintu lalu berbalik sebentar. "Mas, pokoknya aku harus lihat calon istrimu. Penasaran sama pilihan Om Radit kali ini, " Selorohnya cepat lalu membanting pintu, membuat Aldan melongo. "Dasar nggak jelas, " Monolognya pelan, lalu kembali pada pekerjanya. Namun, ketenangan itu berlangsung sebentar tidak lama, tiba tiba ponselnya berbunyi membuat pria itu berdecak. "Ugh, apalagi sih! " Kesalnya lalu melihat nomor Radit terpangpang jelas di layar ponselnya. Terpaksa ia menggeser tombol hijau. "Hmm, apa pah? " Jawab Alfan tanpa minat, iris pekatnya menatap dingin layar ษชแดแดแด, sambil menggerakan ๐๐๐๐๐ untuk mengirim beberapa email penting. "๐๐ญ๐ง๐ข๐ฏ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ญ๐ฐ๐ฉ๐ฉ ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฑ๐ข๐ฉ ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฐ๐ฐ๐ฌ๐ช๐ฏ๐จ ๐ณ๐ฆ๐ด๐ต๐ข๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐ต ๐ฅ๐ช ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐ข ๐๐ช๐ต๐ป-. " Suara pria tua itu terdengar semangat di seberang sana. "Hmm, ya. " Alfan hanya menjawab singkat, tatapannya tidak bergerak dari layar ๐๐๐๐. Suara decakan terdengar, "๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ฐ๐ฌ ๐ซ๐ข๐ธ๐ข๐ฃ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฏ๐ช๐ข๐ต ๐จ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฑ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ญ ๐ข๐ซ๐ข! ". "Papah, aku banyak kerjaan. Nanti malam kita ketemu lagi, " Jawab Alfan cepat kalau memutus sepihak, karena jiga tidak maka papahnya akan mengomel sepanjang jalan kereta. Alfan lalu menyandarkan punggung tegapnya, kepalanya menghadap ke Langit-langit tembok. Rasa lelah begitu membuatnya ingin tidur sejenak, menghilangkan sejenak masalah yang membuatnya stress beberapa hari ini. Entahlah, untuk kali ini ia tidak ingin memberontak lagi masalah perjodohan. Dulu ia sudah terlalu banyak membantah, dan ia akhirnya mendapatkan karma. _____ Langit jakarta mulai menampakan warna gelap, dan juga cuaca hari ini terlihat mendung. Namun, pertemuan dia keluarga itu tetap berjalan semestinya. Suasana restauran di hotel begitu menenangkan, karena memiliki konsep semi outdoor. Pas sekali dengan suasana Malam ini, terasa hangat dan romantis. Apalagi, terasa sejuk dan terasa alami, karena arenanya dihiasi tanaman yang merambat tumbuh di atap terbuka. Mereka bertiga sudah duduk nyaman di kursi yang sudah di sediakan. "Yah ini beneran? " Bisik Karina yang hari ini memakai blus lengan panjang warna biru muda dan di padukan dengan celana kain warna cream. Arum selalu ibu Karina mencubit pelan paha Karina, matanya setengah melotot mendengar penuturan Karina. "Suttt.udah kamu jangan banyak tanya. Udah santai aja, " Balas Arum tak kalah pelan. Karina meringis , lalu tidak berkomentar lagi. Rasa cemas mulai menggerayangi jiwanya, ini lebih parah ketika ia sedang menunggu sidang skripsi. "Heriiiii! " Seru suara pria tiba-tiba datang bersama dengan perempuan baya dan pria gagah di samping kirinya, yang Karina yakini pria itu adalah Alfan . Heri melambaikan tangannya, lalu mereka bertiga menyambut Rafit dan keluarganya. "Malam broo. Bagaimana kabarnya udah lama nihh nggak ngopi? " Sapa Heri, sembari bertos ria yang menyambut dengan senang. "Wahh, baik broo. Maaf ya kami telat. Ni lo permaisuri kalau dandan lama sekali, " ejek Radit pada Sekar wati, selaku istrinya. "Pah! " Peringat Dekat, laku ia melirik ke arah Karina dengan senyuman hangat. "Astaga, ini yang namanya Karina ya? Manis sekali! " Serunya lalu memeluk Karina secara tiba-tiba. "Ah, selamat malam tante saya Karina dan salam kenal, " Jawab Karina sangat sopan lalu mencium punggung Sekar dan Radit secara bergantian meskipun tubuhnya bergetar. "Wah, cantik sekali calon mantu papah. Alfan, ayo kenalan dulu sama calonya! " Ucap Radit mendelik pada putra tunggalnya, sedari berdiri bagai patung menatap tajam Karina. Karina menatap Alfan cemas, ia mengulurkan tangannya ke arah Alfan tersenyum kecil. "Perkenalkan Mas Alfan, saya Karina Putri Hermawan , " Ucapnya lembut.Namun bukan uluran yang Karina dapat melainkan tatapan mengintimidasi dari iris pekat Alfan. "Kamu sudah tau nama saya kan? Jadi tidak perlu basa-basi , " Suaranya rendah namun terdengar sarkas. Membuat Karina tiba-tiba menciut, lalu menundukan pandangannya. "Alfan! " Geram Sekar melihat ekspresi anaknya yang tidak pernah bersahabat. "Ayo duduk kembali, silahkan mau pesan apa kalian"sela Radit menengahi semuanya. Sedangkan Alfan duduk berhadapan dengan perempuan yang akan menjadi istrinya nanti. Menatapnya begitu lekat.Menilai penampilan Karina malam ini. Suasana makan malam terlihat begitu hangat dan akrab. Baik Radit maupun Heri saling berbicara hangat dekat, karena sejak dulu mereka adalah sahabat dekat. Namun beberapa tahun yang kalau mereka berpisah karena urusan masing masing. Kehangatan itu tidak berlaku untuk Karina dan Alfan. Layaknya suasana danau di malam hari, tenang dan dingin. Sejak tadi Alfa menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi. Iris pekatnya terlihat dingin dan tajam. Bahkan, Alfan hanya menyeruput kopi hitam saja tanpa menyentuh hidangan yang telah di sajikan. Karina pun baru tahu sosok Alfan Putra Wijaya ini. Secara nyata. Ternyata pria 3p tahun ini lebih terlihat maskulin, dan dingin jika dilihat dari dekat. Dengan rambut yang rapih dan tefak, membuat tampangnya terlihat tegas dan galak. Lalu kulit sawo matang-nya begitu kontras dengan kemeja putih gading, namun terlihat sexy dan jantam. Apalagi kemeja itu kancingnya sengaja terbuka 2,sehingga terlihat sedikit dadanya yang lebar. Penampilan Alfan malam ini terlihat santai, tetapi masih terlihat ๐ด๐ต๐บ๐ญ๐ช๐ด๐ฉ. Ibaray kata, ia ingin menunjukkan jika ia pria yang sulit didekati karena aura dominasinya terlalu kental. "Jadi? Gimana kalau bukan depan mereka menikah? " Kalimat Rafit sukses membuat Alfan melirik ke arah papahnya, bola matanya hampir keluar mendengar kalimat itu. "Apa gak terlalu cepat pah, " Ucapnya beray, terkesan datar. Radit ini suka sekali membuat ๐ฎ๐ฐ๐ฐ๐ฅ Alfan buruk. Sementara iti, Karina sendiri sedari tadi hanya membeku,meremas celananya kuat-kiat karena gemetar dengan sosok calon suaminya. Lidahnya kelu untuk menanggapi. "Lho? Papaph pengennya malah mingg6depan fan, tapi kan nggak mungkin juga, " Celetuk Rafit santai, suka sekali membuat putra tunggalnya emosi. ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข. Alfan hanya berdecak, lalu membuang pandangannya karena malas berkomentar. ๐๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ด๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ค๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช? Dia binggung dengan perasaannya. "Bagaimana Mah? Kamu setuju kan kalau Alfan nikah bulan depan? " Radit menatap istrinya sayang. Sejak dulu Rafit dikenal sangat bucin jika menyangkut istrinya Sekarwati. "Aku sih nggak masalah Mas. Coba tanya Karina? Gimana sayang? Kamu mau kan menikah sama Alfan bulan depan? " Sekar kini menatap penuh harap Karina. Dan sebelum menjawab perempuan 25 tahun itu melirik takut ke arah Alfan. Benar saja tatapan pria itu masih memancarkan ketidaksukaan terhadap dirinya. "Terserah Saya ikut kesepakatan kalian saja, apapaun pilihan kalian. Pasti yang terbaik, jawab pelan dan sangat sopan. "Ternyata kamu tidak punya pendirian ya? Sela Alfan rendah, iria pekatnya mengatakan lekat Karina penuh penghakiman, sambil melipat kedua tangannya ke dada. Sikap angkuh Alfan itu membuat semua yang ada di meja iti terdiam. "Apa kamu tidak punya jawaban sendiri? Haruskah dengan kalimat'terserah'? " Lanjut Alfan terus mompojokkan Karina. Pria itu menyeringai puas,dlihat ekspresi ciut perempuan di depannya ini. Persis seperti anak kucing kelaparan. ๐๐ฉ ๐จ๐ฐ๐ฐ๐ฅ! ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ช๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช.๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ. "Alfan! " Desis Sekar melirik tajam ke Alfam, namun tidak di hiraukan oleh Alfan. Pria itu menatap penuh tekanan kepada Karina, menunggu jawaban apa yang akan perempuan itu lontarkan. "๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ฃ๐ข๐ณ, ๐ฌ๐ฐ๐ฌ ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐ญ๐ฐ๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ! ๐๐ข๐ณ๐ถ ๐ข๐ซ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ณ๐ช๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช. Namun, akhirnya Karina menatap teduh Alfam, lalu tersenyum tipis. " Bukan begitu Mas Alfan jika saya langsung menjawab keinginan saya, sepertinya itu terdengar lancang Mas Alfan. Lagi pula saya juga yakin kok pilihan orang tua kita itu yang terbaik, "tutur Karina panjang, suaranya lembut dan teratur. Sedangkan Alfan hanya mendengus mendengar jawaban berani perempuan ini. " Dari mana kamu tahu pilihan mamah terbaik? Sebegitu inginnya kamu jadi istri saya? " "Alfan! Sudah cukup ya kamu! Kamu nggak mau diliahatin orang tuanya Karina. Calon mertua kamu sendiri hah? " Perintah Radit dengan tegas. Ini sudah keterlaluan, karena putranya memang suka sekali bersikap mengintimidasi lawan bicaranya. Entah menurun dari siapa sifat Alfan ini. " Saya selalu yakin, pilihan orang tua akan selalu terbaik meskipun kita membencinya. Namun, terkadang apa yang kita benci bisa jadi itu yang terbaik, "sambung Karina lagi, akhirnya memberanikan diri Meskipun tubuhnya sudah bergetar tidak karuan. Alfan tersenyum menanggapi, dan ia bukan senyuman hangat atau bangga. Namun, senyuman yang mungkin di baliknya akan mematikan lawanya. Pria itu lalu melirik ke arah papah dan mamahnya dan keluarga Pak Heri. "Om Heri, izinkan saya untuk mencoba melihat sejauh mana calon istri sya siap untuk menjadi bagian dari keluarga ini, " Pintanya dengan suara serak, iris matanya kembali menatap Karina. Heri dan Arum saling bertatap. "Silahkan Alfan, Om tidak keberatan sama sekali, " Jawab Heri mantap. Sedangkan Karina merasakan udara di sekitarnya terasa sesak, sulit sekali rasanya bernapas. Begitu mudahnya pria ini berkata seperti itu, setelah beberapa menit yang lalu memberikan sikap yang menggambarkanrasa kebencian pada dirinya. "Nah, gitu dong Fan, daritadi kek! " Seru Radit berbinar. Alfan terdiam, lalu ia berdiri dari kursinya, masih menatap Karina lekat. "Karina, ikut saya sekarang, " Suara Alfan dalam, itu bukan ajakan melainkan lebih je perintah yang tidak boleh ditolak. Karina mengagumkan mulutnya Mendengar ajakn Alfan. "Gimana Mas Alfan? Mau kemana? " Tanya Karina sedikit gelagapan. "Ikut saja Karina"titah Alfan dengan suara rendah, merasa gemas dengan Karina yang lucu sekali. "Nak, ikut aja Alfan, " Bisik Arum mendekat ke arah anaknya itu. Dan, akhirnya perempuan dengan surai hitam itu berdiri. Karina menundukkan badannya kepada Rafit dan Sekarang sebagai tanda pamit, lalu mengikuti Alfan yang sudah berjalan agak jauh. Karina pelan-pelan mengikuti sosok tinggi dan tetap itu dari belakang. Alfan terus tetap berjalan sehingga mereka sampai di reset hotel ini, dengan pemandangan kolam renang yang terlihat cantik di malam hari karena lampu yang dipasang apik si sudut-sudt kolam renang. Karina takjub dengan pemandangan ini, sampai tubuhnya menabrak punggung keras Alfan. "Ya ampun! Maaf Mas Alfan! Saya tidak sengaja! " Seru Karina, ekspresinya begitu panik. Takut jika Alfan akan semakin sebal dengannya. Alfan berbalik badan, menatap Karina dengan senyuman yang lembut. "Saya minta maaf sama kamu Karina" Ucap Alfan tiba-tiba membuat Karina menatapnya bingung. "Eh? Maksudnya Mas Alfan apa? " Iris madu Karina menatap sekilas mmilik Alfan, lalu segera memutuskan karena terlalu takut dengan tatapan itu. Perempuan itu menundukkan kepala, mengelus lengannya untuk meredam rasa gugupnya. "Karina, lihat saya jika sedang berbicara" Suara Alfan tidak keras, namun terdengar kalimat perintah yang tidak bisa di tolak. Pelan-pekan Karina mendongakkan wajahnya, sehingga Iris mereka saling bertemu. "Maksud Mas Alfan apa? " Ulang Karina suaranya begitu pelan. Alfan masih menatap perempuan di hadapannya ini, terlihat begitu lugu, lucu, gemas, dan pasrah saja ketika menerim pernikahan ini. "Saya minta maaf sama kamu, omongan saya tadi di dalem nyakitin hati kamu. " Kalimat itu sukses membuat Karina terkejut. "Maaf? Saya nggak papa kok Mas, " Jawabnya sedikit bingung, membuat Alfan semakin gemes melihat Karina seperti itu. "Karina, apa kamu tahu alasan di balik perjodohan ini? Alfan memastikan apakah perempuan ini tahu tentang maksud perjodohan ini. Karina menggaruk kepalanya yang tak gatal. " Tau Mas. Ini wasiat kakek. Jadi saya pun tidak bisa menolaknya juga, "terang Karina apa adanya. Perempuan berwajah mungil dan manis itu meremas celananya, gugup setengah mati dengan posisi dekat seperti ini. Di desak seperti ini membuat bimbang, namun ia juga sudah berjanji dengan sang ayah untuk menerima perjodohan ini. " Yaudah kalau seperti itu kita nikah minggu depan. Sampai ketemu nanti Karina. "Ucap Alfan, membuat Karina syok, kaget dan binggung. **** Satu minggu telah berlalu. Kini tibalah hari yang tak pernah di bayangkan Karina sebelumnya yaitu pernikahannya. Pagi itu, ia duduk di kamar, tepat di meja rias . Seorang pwrias sibuk membenahi rambutnya, merapihkan bedak di wajahnya, dan menyematkan hiasan kecil fi sanggupnya. Namun tatapan Karina kosong. Wajahnya tampak begitu cantik dalam balutan riasan pengantin, tapi hatinya belum sepenuhnya siap. Hari ini ia akan menikah dengan pria pilihan kakeknya. Seorang pria yang, meski belakangan ini sering hadir di rumahnya, untuk menemui nya, tetap terasa asing baginya walaupun sering pergi bersama. Alfan. Sejujurnya, Karina masih diliputi ragu. Ada rasa takut yang sulit ia sembunyikan. Namain sebisa mungkin ia mencoba menerima dengan ikhlas. Mungkin inilah jalan takdirnya. Apalagi permintaan ini datang langsung dari almarhum sang kakek yang di wasiatkan ke ayah. Apapun yang akan terjadi setelah hari ini, Karina hanya bisa berharap bahwa inilah jalan terbaik untuk hidupnya. Setelah riasan selesai,ibu masuk ke dalam kamar untuk menjemputnya. "Anak Ibu, udah gede. Udah mau jadi istri orang, kamu harus nurut sama perintah suami selagi baik, jangan pernah membantah ya! Ingat pesan ibu ini. Ayo Ibu antar ke bawah, semua sudah menunggu. " Karina duduk di sebalah Alfan. Di area meja akad para kerabat, sahabat dan tamu undangan sudah berkumpul. Rumah mewah yang di sulap seperti istana ini penuh oleh tamu yang ingin menyaksikan akad nikah putri semata wayang dan putra tunggal dari Heri dan Radit. Semua mata tertuju padanya. Karina menunduk dalam, berusaha menahan gejolak di dadanya. Alfan menoleh sekilas, matanyenatap Karina dengan lirik. Karina pun meliril singkat, Ialu segera menunduk lagi. Keduanya hanya diam. Tidak ada kata yang terucap di antarereka, hanya keheningan. Tak lama kemudian, acara akad nikah di mulai, suasana mendadak hening. Para tamuenunduk khidmat menyimak jalannya ijab kabul. Heri, dengan semangat empat lima, duduk bersila di hadapan Alfan . Wajahnya campur aduk antara senang dan sedih. Tangan kanannya di gengam eray oleh Alfan, sementara penghulu yang mendampingi menatap penuh perhatian. Dengan suara yang pelan namu jelas, Heri mengucapkan,"saya nikahkan dan saya kawin kan engkau Alfan Putra Wijaya dengan putri saya, Karina putri Hermawan binti Heri Hermawan, denganas kawin uang tunai dan logam mulia serta seperangkat alat sholat, dibayar tunai. " Sejenak suasana diam. Lalu Alfan menarik Napas, menatap ke arah Heri dan menjawab tegas. "Saya Terima nikah dan kawinnya Karina Putri Hermawan binti Heri Hermawan dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai. " Dua orang saksi yang duduk di samping penghulu segera bersuara serentak. "Sah." Lalu suara hadirin pun menyusul, "sah... Sah. Hening yang semula penuh tegang kini pecah oleh gumaman doa dan ucapan syukur. Seelah kata " ๐๐ข๐ฉ"terucap dari mulut para saksi, semua yang hadir pun serentak mengamini, sejak saat itu. Alfan dan Kaarina telah resmi menjadi pasangan suami istri. Air mata Heri jatuh perlahan membasahi pipinya dia senang melihat putri semata wayangnya sudah dipertemukan dengan laki-laki yang insyaallah bertanggung jawab atas semua hidup putrinya itu. Ia melantunkan doa yang begitu dalam ia memohonagar pernikahan putrinya menjadi jalan menuju kebahagiaan agar rumah tangga yang tumbuh itu menjadi tempat yang teduh, penuh ketenangan cinta yang tulus dan kasih sayang yang tiada henti. **** Malam harinya. Seluruh rangkaian pernikahan Alfan dan Karina telah usai sejak sore tadi. Acaranya dibuat mewah, karena ini adalah pernikahan sama-sama anak tunggal jadi orang tua mereka ingin mempersembahkan yang terbaik untuk pengantin baru itu. Suasana yang ramai. Malam ini, rumah Karina masih cukup ramai . Beberapa kerabat dekat dari pihak ayahnya dan ibunya masih berkumpul. Ada beberapa saudara sepupu yang datang dari luar kota. Suara obrolan pelan dan tawa kecil sesekali terdengar dari ruang tamu. Saat itu, Karina baru saja selesai mandi. Tubuhnya masih lembap, hangat oleh sisa-sisa uap air yang menempel di kulit. Ia melangkah pelan ke arah lemari, tangan kirinya memegang handuk yang melilit tubuh, sementara tangan kanannya membuka pintu lemari untuk mengambil baju tidur sederhana yang nyaman untuk ia pakai malam ini. Merasa aman karena yakin Alfan sedang berbincang dengan ayah dan beberapa kerabat di ruang depan, Karima pun melepaskan handuknya perlahan. Baru saja tangannya memasukkan baju , tiba-tiba--- Klik. Pintu kamar terbuka. Alfan masuk tanpa mengetuk pintu. Wajahnya awalnya tampak santai, tetapi hanya sedetik kemudian matanya membelalak saat mendapati Karina berdiri dengan keadaan baru setengahnya memakai baju. Karina terkejut bukan main. Lalu buru buru menutupi badannya dengan handuk. Wajahnya langsung berubah merah padam dan pucatdalam satu waktu,matanya membesar karena panik. Alfan membeku. Tatapannya terpaku hanya seperkian detik, sebelum ia tersadar dan cepat-cepat memalingkan badan. Bahunya tegang, tangannya mengembalikan di sisi tubuhnya, seolah tak tahu harus bagaimana. "Ma--maaf... Maaf, saya nggak tahu kalau kamu lagi ganti baju" Katanya cepat terbata-bata. Suaranya terdengar panik, bahkan sedikit gemetar. Karina masih membisu, tak sanggup berusaha. Hanya jantungnya yang berdentum keras. Alfan menarik nafas panjang,menenangkan dirinya. Lalu ia berkata pelan, "kalau begitu....saya keluar dulu. Sekali lagi, saya minta maaf. " Ia mundur perlahan dan menutup pintu dengan hati-hati. Sunyi. Karina masih berdiri kaki di tempat, napasnya naik turun tak beraturan, jantung nya berdenyut begitu keras hingga seolah terdengar di telinganya sendiri. Wajahnya makanan, pipinya terasa terbakar. Malu. Malu sekali. Baru kali ini, seumur hidupnya, lekuk tubuhnya meski hanya sekilas dilihat oleh seorang pria. Ya. Pria itu memang sudah sah menjadi suaminya, tapi tetap saja... Aduh, rasanya malu sekali. Dengan gerakan terburu, Karina cepat-cepat mengenakan pakaiannya. Sementara itu, Alfan masih berdiri di luar kamar, jantungnya berdegup kencang, nafasnya tersengal tak beraturan. Astaga.. Apa yang baru saja dilihatnya? Bayangan tubuh Karina yang tertutup setengahnya, masih melekat jelas di benak Alfan. Hanya sekilaa, hanya beberapa detik, namun cukup untuk membuatnya terperangkap dalam imaji yang susah dihapus. Sebagai pria yang normal, tentu saja pemandangan itu bukan hal yang mudah dilupakan. Bahkan, ia tahu, mustahil bisa melupakannya. Darahnya berdesir hebat, panas menjalar perlahan dari tengkuk hingga perut bagian bawah, meninggalkan jejak sensasi yang menegangkan. Ada tarikan naluriah yang begitu kuat sesuatu yang tidak bida ia cegah meski sekuat tenaga mencoba. Alfan memejamkan mata, berharap gambaran itu memudar, larut bersama helaan napasnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya, bayangan itu semakin tajam, seakan tubuh Karina kini berdiri tepat di hadapannya. Ia merasa bersalah. Sangat. Tapi juga... Mengoda. Dan itu membuatnya tambah frustasi. "Astaghfirullah.. Gumamnya lirih. Alfan bertekad kuat, bagaimana ia Tidak akan menyentuh Karina. Sebelum mereka saling cinta , perempuan itu terlalu muda dan polos. Bagi Alfan Katina bukanlah perempuan yang seharusnya ia jamah dengan nafsu. Ia adalah amanah dari seorang Kakek , Ayah dan keluarganya, yang seharusnya ia jaga. Setidaknya, itulah keyakinan yang ingin ia genggam erat saat ini. Meski jauh dari lubuk hatinya.ia pun tak tahu sampai mana tekad itu bisa di pertahankan, atau apa yang akan benar-benar terjadi kedepannya. ***** Jam menunjukkan pukul 22.30.Sudah lima menit Alfan berada di kamar itu, namun suasana masih saja kamu. Keduanya sama-sama diliputi rasa canggung, apalagi setelah kejadian tadi, ketika Alfan tanpa sengaja memergoki Karina dalam setengah telanjang. Karina sudah dulu duduk di atas ranjang. Tubuhnya bersandar pelan dipan kayu, matanya sesekali melirik ke arah Alfan yang masih berdiri tidak jauh dari sisi ranjang, seolah rasa ragu harus berbuat apa. Hening terasa cukup lama sebelum akhirnya Alfan membuka suara, pelan tapi jelas. "Karina, malam ini saya akan tidur di sofa saja. " Karina menoleh sekilas, lalu berkata lirih, "jangan, Mas. " "Jangan, Mas...nanti Mas masuk angin sama pegel-pegel kalau tidurnya di sofa . " Alfan berdehem pelan, mencoba menata dirinya. "Baik." Ucapnya singkat. Lalu ia naik ke atas ranjang. Namun sebelum ia benar-benar merembahkan tubuhnya, ia kembali membuka suara. "Karina, "panggilnya. " Iya, Mas? "Jawab Karina, lirih. Alfan menarik napas dalam, lalu menatapnya serius. " Walaupun kita sudah sah sebagai suami istri, saya tidak akan menyentuh kamu. Jadi kamu tidak perlu merasa takut. Malam ini, dan mungkin Malam-malam berikutnya pun, tidak akan terjadi apa-apa di antara kita. " Kata-kata itu meluncur, seolah menekan sesuatu yang selama ini ia pendam. Karina hanya diam. Bibirnya sempat terbuka, namun akhirnya tertutup lagi. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia sedikit terkejut dengan penuturan Alfan barusan, ketika pria itu dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak akan menyentuhnya . Padahal sedari tadi pikirannya berkecamuk, bertanya-tanya apa yang akan terjadi malam ini antara dirinya dan Alfan. Sejauh yang ia tahu, biasanya malam pertama pengantin selalu identik dengan hubungan suami istri. Namun kenyataan yang ia hadapi justru sebaliknya. Sejujurnya, itu membuat Karina merasa sedikit lega. Ia memang belum sepenuhnya siap, masih ada rasa canggung dan kurang nyaman yang mengekang hatinya. Tetapi jauh di lubuk hati, ada juga perasaan lain yang mengusik. Karina pun menatap Karina sejenak, lalu berkata pelan, "Kalau begitu... Sebaiknya kita tidur lagi, Mas. " Alfan mengantuk singkat. Tak lama kemudian, keduanya berbaring di atas ranjang yang sama. Mereka saling membelakangi, seakan sengaja menjaga jarak yang tak terlihat. Sunyi menyelimuti kamar itu, hanya suara napas keduanya yang terdengar. Perlahan, mereka mencoba memejamkan mata. Dan tidak lama kemudian, keduanya pun larut dalam tidur masing-masing. Waktu terus berlalu. Detik demi detik bergulir, menit demi menit berjalan. Hingga jarum jam menunujukan pukul 06.00 pagi hari. Karina lalu terduduk, mengusap kedua matanya yang masih mengantuk, namun rasa penasarannya mengalahkan kantuknya. Karina langsung bangun dari kasur, lalu pandangannya terpaku pada sosok Alfan yang tertidur di sofa, dengan satu lengan menutupi kedua matanya. "Kok Mas Alfan pindah ke sofa? Perempuan itu bingung kenapa Alfan pindah ke sofa, apakah dirinya tidak semerik itu di depan Alfan? . Perempuan itu turun dari kasur dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum membangun kan Alfan. **** Setelah 20menit perempuan itu sudah siapa dengan rok line warna biru muda, dirangkap cardigan rajut putih, dan tidak lupa rambutnya dikepang dengan rapih. Perempuan itu mulai menyiapkan mentalnya untuk membangunkan Alfan. "Mas Alfan, " Panggil Karina lembut namun tidak ada respon. "Mas Alfan, bangun Mas Alfan... " Suara Karina mulai sedikit keras meskipun tergolong lembut. Lalu ia memberanikan diri mengusap lengan Alfan. Hingga pri itu reflek menarik tangan mungil Karina, membuat tubuh perempuan itu berada di atas tubuh Alfan. "Mas Alfan"! Pekik Karina panik kepalanya tenggelam di dada keras samg suami. Dan Alfan sendiri perlahan tersadar lalu mendesis kesal, tidak sadar lengan besarnya membelit pinggang kecil istrinya. "๐๐ข๐ฎ๐ฏ! " Umpatnya pelan terbangun karena aroma minyak bayi yang menyengat, Karina sempat terdiam sejenak, merasakan detak jantung Alfan yang kencang. Namun, detikcom selanjutnya ia buru-buru bangun dari atas tubuh Alfan. "Maafas Alfan, ini sudah hampir jam tujuh, "tutur Karima pelan, kini ia berdiri di hadapan Alfan yang sudah denga posisi terduduk di sofa. Pria itu terlihat memijat keningnya, kemudian Alfan merilik sinis ke arah Karina. ""Kamu ini kenapa sih? Masih pagi sudah rusuh. Mau cari kesempatan sama saya ya? Tuduh Alfan karena kesal sekali waktu tidurnya terganggu. Karima menggeleng keras. " Nggak ada Mas Alfan, saya cuma mau bangunin Mas Alfan saja. Nggak ada niat apapun. ๐๐ฐ๐ฌ ๐๐ข๐ด ๐ข๐ญ๐ง๐ข๐ฏ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐จ๐ช๐ฏ๐ช ๐บ๐ข? ๐๐ข๐ฅ๐ช ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ. ๐๐ค๐ข๐ฑ ๐๐ข๐ณ๐ช๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช. "Saya mau mandi, Setelah itu kita ke rumah papah, "lanjut Alfan meninggalkan Karina yang riweh dengan pikirannya sendiri. Namun, sebelum masuk ke kamar mandi, Alfan menatap Karina sejenak dan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat sedikit. *** "๐๐๐ก๐ก๐ค pengantin baruuu!! " Sapa Sekar menyambut kedatangan Alfan dan Karina. Luar biasa sekali, mereka terlihat masih segar untuk seusia lansia, padahal kemarin bari saja ada acara besar. Sedangkan Alfan, jangan ditanya, karena ia ingin cepat-cepat kembali ke mansion untuk tidur. "Pagi mah, pagi pah, " Balas Karina sopan, tidak lupa mencium punggung tangan kedua mertuanya itu. "Dan, kok kami loyo sih padahal habis tempur, " Ledek Radit menatap Putranya merebahkan tubuh di sofa, sambil memejamkan matanya. "Mas Alfan tadi malam kurang tidur pah, mungkin kecapean kemaren jadinya susah tidur" Jawab Karina mewakili suaminya. Sekar terkirim mendengar kalimat menantunya. "Kok malam kamu yang kelihatan cerah Rin, apa Alfan Mainnya terlalu lembut ya? " Bisik Sekar membuat wajah Karina memerah. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐บ๐ข? "Bukan begitu mah, " Karina berkata dengan nada canggung, dan bingung juga mau jawab apa. Rin Papah sama Mamah ada kado buat kalian, ", sela Radit lalu mengeluarkan dia tiket pesawat. "Tiket pesawat? Ngapain coba ke Jogja sore ini? " Kali ini Alfan yang bertanya perasaannya mulai tidak enak kali ini. Rasa kantuknya langsung menghilang entah kemana. "Ya buat bulan madu kalian lah! Tadinya Papah mau ngasih tiket ke Jepang, tapi lupa Karina belum ada persiapan apapun. Jadi kali ini ke Jogja dulu aja deh, nanti yang lain menyusul. "Terang Radit panjang, tanpa sadar ekspresi Alfan sudah menahan geram dan kecut. " Kenapa harus pake bulan madu sih pah, aku sibuk, "desis Alfan semakin pusing kepalanya berkumpul bersama orang-orang di sini. "Kamu sibuk apa sih Fan! Kerjaan libur dulu kenapa sih!! " Protes Sekar, kesal sekali melihat Alfan yang terlalu kaki dan keras kepala. Karina pun tetkejut mendengar ide mertuanya, dari sekian banyak tempat kenapa milih Jogja? Ya, sebenarnya tidak masalah juga. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐๐ข๐ด ๐๐ญ๐ง๐ข๐ฏ. "Kalian sore tinggal berangkat, tadi asisten papah sudah siapkan semuanya. Dari hotel dan akomodasinya. Pokoknya tinggal beres aja. Lagipula hotel kalian dekat pantai loh. Asih tuh buat berduaan, " Radit sengaja membuat kejutan mendadak seperti ini, dan memang tujuannya untuk membuat mereka berdua semakin dekat. Alfan berusaha untuk tetap sabar, ia menghela napas pendek. Tidak mau berdebat lagi, lagian percuma. "Suka-suka mamah sama papah aja deh, akhirnya Alfan berkata pasrah, kupingnya sudah panas mendengar omelan orang tuanya. **** Sore harinya mereka berdua sampai di kota Yogyakarta, dan seperti biasa raut wajah Alfan masih ditekuk dan dingin, membuat Karina sendiri binggung untuk mengajar bicara Alfan. Seperti saat ini mereka ada di dalam mobil menuju hotel yang sudah di siapkan mertuanya. Sedari tadi Alfan hanay terdiam sambil menatap pemandangan jalanan kota Yogyakarta di sore hari, semakin padat. "Mas Alfan capek ya? " Karina berani bertanya untuk memecah keheningan di antara mereka. "Sudah tau kenapa bertanya. " Ketuanya tanpa menatap Karina. Perempuan itu meremas roknya kuat, ia sudah tahu akan mendapatkan jawaban dingin seperti ini. Perempuan berkembang satu itu berdehem. "Nanti ikut saya ke pantai yuk Mas, dijamin rasa capeknya hilang. Pantainya cantik banget lho Mas, " Ajak Karina begitu lembut, tersenyum yang tidak sampai mata. Tatapan Alfan beralih ke Karina, ada jeda sejenak dan cukup Alfan mengerutkan kedua alisnya. "Apa jaminan kamu kalau rasa capek saya tidak hilang? "Karina langsung salah tingkah mendapat pertanyaan seperti itu, " Nanti saya belikan es kepala muda deh, seger lo Mas Alfan, "tutur Karina lembut mencoba merayu suaminya pelan-pelan. Alfan hanya mendengus. Pria itu menggunakan kedua tangannya untuk merapihkan rambutnya. "Setelah sampai hotel, langsung anter saya dan istri saya ke pantai ya pak, Ucap Alfan pada sopir, tidak menghiraukan jawaban Karina. Diam -diam membuat Karina tersenyum malu, karena Alfan menerima ajakannya."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ค๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐น๐บ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







