LOGINMalam mulai merangkak naik. Baik Melisa dan Jimmy saling menatap lekat, mereka duduk di atas ranjang yang sama. Deru jantung mulai memesat, Melisa sangat ketakutan.
Jimmy mendekat setelah melepas jasnya dan membuang ke sembarang arah. Tatapannya buas pada Melisa. Seakan ia hendak menerkam gadis manis yang berada di hadapan dan mencabik-cabiknya menggunakan cumbuan panas. “Jangan sakiti aku, Tuan. Kumohon,” kata Melisa mengiba. Ia mendekap guling guna menutupi tubuh bagian depannya yang terekspose di bagian dada. Ia jijik menatap penampilannya sendiri yang bagaikan wanita malam, dengan baju kurang bahan serta dada terbuka. Mengutuk perbuatan sang mantan suami yang terang-terangan menjualnya pada lelaki hidung belang. Melisa takut dinodai pria asing yang sepertinya keturunan bule ini. Jimmy memangkas jarak. Ia menyentuh wajah Melisa yang sudah dibanjiri air mata menggunakan jemari kanannya. Mengusap pelan, namun membuat Melisa merinding bukan main. "Jangaaan," lirih gadis itu ketakutan dan bergetar. “Aku tak akan menyakitimu, Baby. Bukankah sudah kukatakan kalau kita akan bersenang-senang, hum?" balas Jimmy semakin bergejolak. Gelora di dadanya membuncah, ia bagaikan tersengat aliran listrik kala bersentuhan dengan Melis. “Tidak! Jangan! Saya tidak memakai kontrasepsi, saya takut hamil, Tuan. Jangan!" tolak Melisa. Ia berkata jujur sebab sejak dulu tak pernah ber-KB. Kalau sampai lelaki ini memaksa berhubungan badan dan ia hamil, lalu akan diapakan anak itu? Melisa tahu, lelaki di hadapannya ini pasti akan meninggalkannya tanpa mau peduli. Secara, Melisa sudah ‘dibeli’. "Hm, bagus dong! Kamu bisa langsung hamil nanti setelah kita kita menikah," beritahunya. Jimmy hanya ingin menggoda adik kecil yang dulu sempat ia asuh. Karena rambut Jimmy yang lumayan panjang serta terdapat banyak tato di lengannya, mungkin Melisa tak mengenali ia sejak tadi. Jimmy tersenyum, ia hanya ingin menggoda gadis polos tersebut. Meski sangat ingin bercinta, tapi Jimmy tak akan memaksa. Itu bukan gayanya. “Me-menikah? Dengan Tuan? Aku tidak mau!” tolak Melisa dengan telak. Ia saja baru diceraikan, mana bisa langsung menikah dengan lelaki yang tak dikenal. “Kenapa? Bukannya aku tampan? Harusnya kau bangga karrna memililiku, Melisa. Selain parasku yang rupawan, milikku juga besar. Kau tahu 'kan, berapa ukuran milik pria bule?” jelas Jimmy ingin tahu. Sepertinya, Melisa lupa pada dia sepenuhnya. Hm, sangat disayangkan sekali. “Kita tak saling mengenal, dan aku tak ingin dinikahi siapa pun,” jelas Melisa sambil menatap manik coklat almond yang begitu menggetarkan jiwa. Bulu mata lentik itu mengerjap. Dari jarak sedekat itu, dapat Melisa lihat jika wajah Jimmy rasanya tak asing bagi Melisa. Jimmy sedikit terkekeh. Melisa masih sama dengan yang dulu. Alis hitam nan lebat, irish mata berwarna hitam legam, pipi bersemburat merah jambu dengan hidung yang sangat pesek. Gadis incarannya telah tumbuh menjadi Wanita yang sangat cantik. Sayangnya, nasib buruk mempertemukan mereka dengan kondisi yang sudah sangat berbeda. “Aku tak menerima penolakan, Melisa. Kau akan menjadi pengantinku setelah resmi bercerai nanti.” Jimmy mengatakan dengan senyum tersungging di kedua sudut bibirnya. Pria itu gemas sekali, ia memandang ke arah bibir Melisa yang amat menggoda. Pria itu menggeleng, menepis pikirannya yang mulai mengembara liar dan menginginkan Melisa sepenuhnya. Dulu, Jimmy sering bersama Melisa, sejak usia gadis itu baru 7 tahun. Kebersamaan mereka menumbuhkan percikan cinta, tetapi Jimmy hanya diam dan menyimpan sendirian. Sebab, Melisa terlalu dini mengenai itu. Jimmy 24 tahun, sementara Melisa berusia 12 tahun kala itu. Karena keadaan yang mengharuskannya kembali ke Amerika, ia tak bertemu Kembali dengan Melisa sampai 8 tahun lamanya. Dan sekarang, gadis kecil itu sudah dinikahi oleh lelaki tak bertanggung jawab. Yang pada akhirnya, Melisa dipertemukan kembali dengan Jimmy dengan kondisi berbeda. “Sudahlah, jangan menangis. Mandi sana dan ganti pakaianmu. Kalau sampai kamu menggunakan baju itu lagi, bukan tak mungkin aku akan menerkammu dengan brutal,” katanya sambil terkekeh. Paras cantik Melisa membuat pikirannya mengelana. Sebagai pria dewasa, ia menyukai Melisa yang imut dan sangat menggemaskan. Ya, tak dipungkiri. Jimmy tertarik dengan gadis itu sejak usia 24 tahun. Sementara Melisa dulu masih berusia 12 tahun. “Tidak! Aku tak membawa baju ganti,” jawabnya. Melisa menggeleng, jangan sampai dia harus mandi dan berganti pakaian, sementara pria asing itu ada di sini. “Jangan membuatku marah. Mandilah dan aku menunggumu di bawah. Kamu belum makan, ‘kan?” terka Jimmy yang melirik tubuh kurus itu sekali lagi yang tampak ... seksi. “Aku tidak lapar, Tuan!” Bibir Melisa mengatakan tidak, namun sejak tadi perutnya terus berbunyi serta membuat Jimmy terkekeh pelan. “Nah, apa kataku? Kau lapar. Ya sudah, jangan banyak protes, Melisa Indriyani!" "Tuan, tahu namaku?" "Tahu. Sudahlah, itu tidak penting. Lapar atau tidak, aku menunggumu di bawah sepuluh menit lagi. Bersihkan tubuh dan wajahmu yang memakai make up tebal itu. Aku suka penampilanmu yang natural. Pakaianmu akan diantarkan pelayan nanti,” ujarnya. Jimmy bangkit dari tempat tidur dengan kondisi pangkal paha yang menggembung. Fix! Ia sedang terangsang kali ini. "Dasar pemaksa! Duh, siapa sih dia? Kok aku lupa?" gerutu Melisa yang segera beranjak dari atas ranjang. **** Melisa usai membersihkan tubuh dan menghapus make up. Tapi sampai dua menit menunggu, pakaiannya tak kunjung diantarkan. "Ck! Kemana gadis itu?" Jimmy mendesah sebal. Ia lantas bangkit dari tempat duduknya dan berlarian menuju ke lantai atas. Ceklek! "Aaaa! Kenapa tidak ketuk pintu dulu?" teriak Melisa menutup dada bagian atasnya saat Jimmy mendekat dengan tatapan menguliti atas dan bawah. Jimmy terdiam sesaat. Kedua bahu putih mulus itu terpampang di hadapan. Ia bagaikan singa kelaparan yang ingin sekali menerkam mangsanya. Jakunnya bergerak naik turun. Ia melirik AC di ruangan ini yang menunjukkan angka 18° Celcius, namun tidak serta merta menambah suasana sejuk. Malah terkesan semakin panas saja. Namun untuk menormalkan ekspresi di wajahnya, pria itu menggeleng serta menatap biasa saja. "Kenapa kamu tidak kunjung memakai pakaianmu?" tanyanya dengan raut wajah dingin. "Tidak ada pakaian, Tuan! Saya harus memakai apa? Di lemari hanya ada baju Anda." Melisa tadi sudah mencari beberapa pakaian di lemari, namun tidak ada. Hanya setumpuk pakaian pria itu yang tersusun rapi di sana. "Hm, tidak usah memakai pakaian juga lebih bagus," kata Jimmy dengan pelan. Namun sayangnya, Melisa mendengar perkataan itu. "Apa yang Tuan katakan tadi?" "Tidak. Cepat pakai pakaianmu yang ada di atas ranjang itu. Apa matamu rabun sampai tidak dapat melihat kalau di atas kasur sudah ada gaun yang harus kamu kenakan?" tanya Jimmy resah sambil menunjuk ranjangnya. Ia membuka dua kancing kemeja di bagian atas karena dirasa hawa yang tiba-tiba memanas. "Ya sudah, Anda keluar dulu, Tuan. Saya nanti akan menghampiri di meja makan," jawab Melisa ketakutan. Ia dapat melihat jika pria itu sedang menatap ingin padanya. Melisa bukan gadis polos yang tidak bisa menangkap apa arti pandangan itu. "Oh, oke!" Jimmy berlalu sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal. Lalu, berbalik badan lagi sambil berkata, “Bagaimana kalau keluar di dalam?” Jimmy sudah dapat membayangkan bagaimana halusnya kulit putih itu. Ingin rasanya melepas kaitan handuk di bagian bawah ketiak Melisa. Melemparkan kain putih itu ke lantai, membawa gadisnya ke atas ranjang dan .... "Shit! Aku bisa gila kalau lama-lama seperti ini! Melisa terlalu menggoda," umpatnya dalam hati. Bisakah Jimmy menahan hasratnya kali ini?"Dan bisa-bisanya kamu mesum begini saat kita sekamar dengan Andrew. Kalau dia lihat bagaimana?" bisik Melisa tajam, meski rona merah mulai menjalar di pipinya."Makanya, kamu sebagai Mommy-nya, bujuk dia agar mau tidur sendiri," balas Jimmy tidak mau kalah, napasnya serak dan memburu."Ck, kasihan kalau tidur sendiri. Dia jarang dapat kasih sayang dari Mommy-nya dulu," bela Melisa. Ia teringat bagaimana Andrew begitu haus akan perhatian sejak pertama kali mereka bertemu.Jimmy memutar bola matanya. "Kasihan apanya? Di sini sudah biasa kali, banyak kok bayi baru lahir tidurnya sendiri.""Hah? Ck, itu kasihan pokoknya!" Melisa tetap pada pendiriannya. Baginya, membiarkan anak sekecil Andrew tidur tanpa dekapan adalah hal yang tidak tega ia lakukan. Apalagi, momen seperti ini tak akan terulang. "Kasihan terus, tapi sama aku gak kasihan," gerutu Jimmy manja, menunjukkan sisi kekanak-kanakannya yang jarang ia perlihatkan pada orang lain."Kamu sudah gede, tidak perlu dikasihani! Sudah, a
Suasana hangat di meja makan itu mendadak sedikit mendingin, bukan karena suhu udara Brooklyn, melainkan karena ketegasan Jimmy yang tak bisa ditawar."Apa kamu ingin jadi vlogger juga dengan cara merekam semua aktivitas kita? Kalau iya, aku tidak setuju," ujar Jimmy telak.Melisa mengerutkan kening, rasa kecewa mulai membayang di wajahnya. "Kenapa?""Aku tidak ingin kamu terlalu mengekspose kehidupan pribadi kita. Aku suka privasi, Sayang.""Aku tidak akan menunjukkan wajahmu atau wajah Andrew. Hanya keseharianku saja," bela Melisa, mencoba mencari jalan tengah agar keinginannya tetap bisa berjalan."Iya, aku tahu. Tapi, aku tetap tidak suka," balas Jimmy pendek. Tatapannya yang tadi gemas kini berubah menjadi serius, menunjukkan bahwa batasannya soal privasi sangatlah tebal.Melisa menghela napas, ia menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap cangkir cokelatnya yang mulai mendingin. "Padahal aku ingin berbagi pengalaman tinggal di sini. Pasti sangat seru.""Apa tujuanmu untuk
Brooklyn sedang memasuki puncak musim gugur. Di sepanjang jalan, pohon-pohon sudah mulai meranggas dan trotoar dipenuhi daun-daun kering. Meski matahari terlihat cerah, namun suhu udara di luar jauh lebih rendah dibanding biasanya.Udara pagi itu terasa sangat dingin. Angin yang berembus pelan tetap saja sanggup menembus pakaian yang cukup tebal, membuat siapa pun yang berlama-lama di luar mulai merasa tidak nyaman.Hal itu pula yang dirasakan Melisa. Begitu ia turun dari mobil, hawa dingin langsung menyergap kulitnya. Ia pun segera merapatkan jaketnya erat-erat, berusaha menahan hangat tubuhnya agar tidak hilang tertiup angin saat ia mulai berjalan."Dingin?" tanya Jimmy. Ia tersenyum kecil sambil mengusap pucuk kepala Melisa yang memang belum terbiasa dengan iklim negara empat musim.Melisa hanya bisa mengangguk pasrah. Giginya mulai bergemeletuk. Sesekali ia meniup-niup telapak tangannya yang polos tanpa sarung tangan, berusaha mencari sedikit kehangatan dari napasnya sendiri.Meli
Embun pagi masih menempel lembut di daun-daun ketika Melisa terbangun. Seulas senyum mengembang di bibirnya, sebuah senyum yang tak pernah lepas sejak beberapa minggu terakhir. Ia merasakan sebuah keajaiban dalam dirinya, yang membungkam bisikan bisikan miring dari sang ibu mertua sejak dua tahun yang lalu. Beberapa bulan lalu, saat masih menikmati bulan madu pernikahannya dengan Jimmy, bayangan mandul menghantui Melisa. Mantan Ibu mertuanya seringkali menyinggung kesuburannya. Perkataan-perkataan itu, walau terselubung, menusuk hati Melisa. Ia merasa tertekan, beban yang tak seharusnya ia pikul. Namun, takdir berkata lain. Kegembiraan melanda Melisa ketika ia melihat dua garis merah di alat tes kehamilannya. Satu garis tegas, dan satu samar. Hal itu membuat air mata bahagia jatuh bercucuran di pipinya. "Aku hamil! Aku hamil! Aku gak mandul!" Jimmy memeluknya erat, mata mereka berkaca-kaca, berbagi kebahagiaan yang tak terkira. "Sayang, ini adalah anugerah terindah," bis
Sang dokter, seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah, menatap Jimmy dengan penuh perhatian. Suasana di ruang tunggu bandara yang sibuk sedikit terasa teredam oleh kehadiran dokter yang tenang dan percaya diri. Melisa duduk di kursi dengan wajah pucat, tangan memegang perutnya yang terasa mual, sementara Jimmy berdiri cemas di sampingnya.“Tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya sang dokter dengan suara lembut, menatap Jimmy dan Melisa dengan penuh perhatian. Matanya yang tajam, namun penuh pengertian, menenangkan Jimmy sejenak.“Dokter, tolong periksa istri saya. Dia mual dan muntah terus. Saya khawatir dengan keadaannya dan sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Kami harus ke Amerika, tapi jika kondisinya tidak memungkinkan, saya terpaksa kembali ke Indonesia,” jawab Jimmy, suaranya terdengar penuh kecemasan.Dokter itu mengangguk perlahan, memahami ketegangan yang dirasakan oleh pasangan itu. “Baik, Tuan Jimmy. Tunggu sebentar, saya akan memeriksanya,” katanya tenang, lalu
Bunyi klik pintu kamar hotel bergema di ruangan luas yang remang-remang diterangi lampu tidur. Melisa masih berdiri di dekat pintu, tas tangannya digenggam erat. Ia menatap punggung Jimmy yang sedang memeriksa kamar. Presiden Suite Room, sungguh megah. Kamar yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan, dengan pemandangan kota malam yang mempesona dari jendela besar di ujung ruangan. Tapi kemegahan itu tak mampu menghilangkan rasa canggung yang menyelimuti hatinya.Baru beberapa jam yang lalu, ia dan Jimmy masih berdiri di pelaminan, diiringi tepuk tangan dan ucapan selamat dari para tamu undangan. Pernikahan mereka di ballroom hotel yang sama, meriah dan penuh suk acita. Namun, kini, di ruangan pribadi ini, hanya ada mereka berdua, dikelilingi keheningan yang terasa berat.Melisa melangkah perlahan ke arah ranjang besar yang empuk, berhenti di ujungnya. Ia duduk di tepi, menatap Jimmy yang masih sibuk memeriksa fasilitas kamar. Kemewahan kamar presiden s







