LOGINHari itu akhirnya tiba. Ayu berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya sederhana berwarna krem gading. Wajahnya yang biasanya terlihat lelah, kini bersinar dengan ketenangan yang sulit dijelaskan.“Cantik banget,” ucap Laras yang masuk sambil membawa buket bunga.Ayu tersenyum gugup. “Mbak Laras... aku beneran nikah hari ini ya?”“Beneran, Kak Ayuuu. Dan lo pantes buat bahagia.” Sahut Laras yang mulai membiasakan memanggil Ayu dengan sebutan Kakak, karena dia akan segera menjadi Kakak iparnya."Ih, jangan panggil aku Kak gitu ah Mbak Laras. Kayak biasa aja, Ayu. Aku kan aslinya juga lebih muda" Ucap Ayu yang merasa Kikuk dipanggil Kakak oleh Laras."Harusnya Lo yang berhenti manggil gue Mbak! Gue bentar lagi jadi adik lo tau!"Ayu terkekeh, merasa lucu dengan status mereka sebentar lagi."Jadi gimana dong? Panggil apa enaknya?" Tanya Laras lagi."Hmmm.. gimana kalau sama-sama panggil nama aja?" Usul Ayu.Laras manggut-manggut setuju "Oke, dan buat menghormati lo sebagai Kakak Ipar, mu
Setelah acara lamaran, Azam dan Laras mulai disibukkan dengan acara persiapan pernikahan Azam dan Ayu. Meski mereka telah sepakat untuk menggelar pernikahan secara sederhana, tapi tetap saja tidak sedikit hal yang harus dipersiapkan."Mas" Panggil Laras ketika mereka memilah-milah undangan yang akan mereka sebar ke kerabat dekat."Kenapa, Ras?""Mas Azam gak ada niat ngundang Mbak Alya?"Tanya Laras hati-hati, khawatir pertanyaannya menyinggung kakaknya.Azam teridam, berpikir."Memangnya dia mau datang? Ketemu Mas aja mungkin sudah muak" lirihnya."Ya itu kan karena Mas Azam mengganggu dia. Kali ini kan Mas Azam sekedar mohon doa dari dia untuk kehidupan Mas Azam selanjutnya. Siapa tau hubungan kalian bisa membaik. Mantan gak perlu jadi musuh kan?""Memangnya kamu mau, berhubungan baik lagi dengan Ryo?" Azam balik bertanya, yang membuat wajah Laras seketika merengut."Ka
Hari-hari setelah pernyataan cinta Azam, Ayu merasakan seperti roller coaster emosional. Ia merasa senang, namun ketakutan dan keraguan juga tak kalah besar. Azam tak menuntut jawaban, namun setiap tatapannya, setiap kebaikannya, seolah mengingatkan Ayu bahwa ia harus membuat keputusan.Hubungan mereka tidak berubah drastis. Azam tetap datang ke kedai, tetap duduk di kursi favoritnya, tetap membawakan es kopi favorit Ayu, dan tak jarang membantunya merapikan kursi saat pelanggan ramai.Tapi kini, ada sesuatu yang berbeda. Ada kehangatan yang menggantung di udara, ada tatapan penuh makna, ada harapan yang diam-diam hidup di mata Azam setiap kali memandang Ayu.Sore itu, Ayu duduk di salah satu kursi kedai yang berada dipaling depan, menatap langit senja yang mulai menghangus. Laras sedang libur, Bang Erwin sedang ada urusan diluar, pengunjung kedaipun sedang sepi, menyisakan dirinya sendiri dalam ketenangan yang langka.
Sejak mengetahui kekurangan dirinya Ayu menjadi lebih tertutup. Hanya Azam yang setia mendampinginya meski Ayu kadang bersikeras tak ingin ditemani, tapi Azam tetap selalu ada untuknya. Bahkan pada saat Ayu melakukan tindakan histerektomi, Azam ada untuk mendampinginya.Sejak operasi itu, Ayu semakin menutup diri. Ia membatasi pergaulan, jarang keluar rumah kecuali untuk bekerja dan keperluan penting lainnya, selebihnya Ayu lebih banyak menghabiskan waktu dalam kesendiriannya.Ia mulai menjaga jarak dari banyak orang, takut akan pandangan kasihan atau bisikan simpati yang tak ia butuhkan. Namun, ada satu orang yang tetap setia di sisinya—Azam.Tidak peduli seberapa sering Ayu menolaknya, Azam selalu menemukan cara untuk tetap ada. Ia tidak memaksa, tidak bertanya hal-hal yang menyakitkan, hanya diam di dekatnya, menjadi tempat yang aman bagi Ayu untuk beristirahat dari dunia yang terasa semakin berat.Hari i
Setelah mengantarkan Laras kembali ke kosannya, Azam langsung menuju rumah Ayu untuk mengembalikan tasnya. Malam semakin larut, tapi hatinya tak bisa tenang sebelum memastikan Ayu baik-baik saja. Saat tiba di depan rumah, ia mengetuk pintu pelan."Assalamu'alaikum" Ucap Azam.Tak lama kemudian terdengar jawaban dari dalam, sepertinya itu suara Bude Marni."Waalaikumsalam... siapa ya?""Bude, ini saya Azam," ucapnya.Tak lama, pintu terbuka dan Bude Marni menyambutnya dengan senyum hangat. "Oh, Nak Azam. Ayo masuk dulu, Ayu baru saja tertidur."Azam mengangguk dan menyerahkan tas Ayu. "Saya cuma ingin mengembalikan ini, Bude. Ayu bagaimana keadaannya?"Bude Marni menarik napas panjang. "Tadi sudah agak mendingan setelah minum obat. Tapi Bude khawatir, dia sering mengeluh sakit belakangan ini. Besok Bude mau ikut dia periksa ke dokter, biar tau apa sebenarnya yang terjadi"
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka tiba di sebuah rumah sederhana di daerah pingiran kota. Tampak seorang wanita paruh baya membuka pintu saat mendengar mobil Azam berhenti tepat di depan rumah itu."Ayu? tumben kamu sudah pulang Nduk?" Tanya wanita itu."Iya Bude, ayu kurang enak badan" Sahut Ayu pelan. Iapun mengajak Azam dan Laras masuk dan memperkenalkan mereka dengan wanita yang ia panggil Bude tadi."Bude, kenalin ini Mbak Laras, teman kerja Ayu. Dan ini Mas Azam, Kakaknya Mbak Laras"Azam dan Laras bergantian menyalami wanita itu dengan sopan."Saya Marni, Budenya Ayu. Mari silakan masuk nak"Mereka mengekor sang pemilik rumah untuk masuk ke ruang tamu, kemudian duduk di kursi kayu tua namun terlihat sangat terawat, terbukti tak ada satu debupun menempel di benda itu.Laras dan Azam secara bergantian menceritakan kronologi kenapa akhirnya mereka mengantarkan Ayu pulang. Bude marni tampak terkejut dan khawatir mendengar semua penuturan mereka, karena menurutnya Ayu tak pe
Pukul Tujuh lebih empat belas menit, Raja melangkah masuk ke dalam Alamanda Resto tempat dimana ia akan menemui Renata. Ia melangkah dengan santai meski tau kedatangannya telah terlambat selama hampir lima belas menit.Memang bukan disengaja, tadi jalanan begitu macet hingga ia tiba lebih lambat da
"Pak Raja?" gumam Alya, yang masih bisa terdengar oleh semua yang ada disana.Sontak semua mata mengikuti arah pandangan Alya. Tentu saja apa yang mereka lihat membuat semua mengulum senyum."Wah... FIX Ini mah! FIX JODOH!!" Seru Alina tiba-tiba, membuat Alya seketika melotot ke arahnya."Alin! Kon
"Maaas! Mas Azam!! Maaas!!!" Teriak Dina heboh, Ia berkeliling ke seluruh bagian rumah untuk mencari suaminya."Apa sih, Dek? teriak-teriak gitu kayak orang kebakaran jenggot!" Sahut Azam yang muncul tergopoh-gopoh dari garasi rumahnya, rupanya ia sedang berkutat memperbaiki mobilnya yang mogok sej
POV: Author(Kita fokus ke dunianya Alya dan keluarga dulu ya guys...)Alya sibuk memilah-milah pakaian serta perlengkapan yang akan ia bawa untuk Umroh nanti. Sejak ia mengumumkan rencana Umroh pada keluarganya tadi, mereka semua mulai sibuk di kamar masing-masing untuk mempersiapkan segala sesuatu







