Share

BAB IV

Penulis: Dyara
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-06 10:15:58

Pintu lift di lobi utama terbuka.

Alya melangkah keluar lift dan dia melihat pemandangan kacau balau. Seketika, suara keributan yang memekakkan telinga menyerbu masuk.

"Minggir kalian semua, dasar babu tidak berguna! Mana Araska? Suruh cucuku turun atau aku bakar gedung ini!"

Di tengah lobi marmer yang luas, seorang wanita tua dengan rambut putih disanggul rapi dan mengenakan kebaya sutra mahal sedang mengacungkan tongkat kayu eboni.

Tiga orang petugas keamanan bertubuh kekar tampak kewalahan, mereka mencoba menghalangi, namun takut melukai nenek Araska.

Di kaki wanita tua itu, sebuah keranjang kucing berlapis emas tergeletak miring.

Seekor kucing persia putih mengeong-ngeong dari dalam, jelas stress berat akibat guncangan dan teriakan pemiliknya.

"Maaf, Nyonya Besar, tapi peraturan gedung melarang hewan pe..." seorang resepsionis mencoba menjelaskan dengan suara gemetar.

TAK!

Tongkat eboni itu menghantam meja resepsionis, hanya meleset beberapa sentimeter dari jari si resepsionis.

"Peraturan? Gedung ini milik cucuku, itu artinya, gedung ini milikku juga! Kau mau kupecat sekarang, hah?!"

Tanpa ragu, Alya melangkah, tapi tidak menuju ke arah Nyonya Ratih, melainkan langsung berlutut di dekat keranjang kucing yang terguling.

Dengan cekatan, wanita itu menegakkan keranjang, membuka sedikit pintunya, dan mengelus kepala kucing yang ketakutan itu dengan lembut.

"Sshhh, Meng, tenang yaa, tenang sayang, tenang…"

Ajaibnya, kucing yang tadinya mendesis liar itu perlahan diam saat merasakan sentuhan tangan Alya.

"Siapa kau?!" sergah Nyonya Ratih. "Berani-beraninya tangan kotormu menyentuh Mochi!"

Alya berdiri perlahan, lalu berbalik menghadap Nyonya Ratih.

"Mochi stress, Nek," ucap Alya tenang, suaranya yang jernih terdengar di lobi yang sunyi.

"Jantung Mochi ini berdetak terlalu cepat. Kalau Nenek terus berteriak dan memukul meja, Mochi bisa mati jantungan di sini. Nenek mau Mochi mati?"

Semua orang menahan napas.

Belum pernah ada yang berani bicara sefrontal itu pada Nyonya Ratih.

Wajah garang Nyonya Ratih berubah lunak, lalu dia menatap keranjang kucingnya. "Mochi... dia... dia sakit?"

"Dia ketakutan," koreksi Alya.

Wanita itu melangkah mendekat, mengambil botol air mineral dari meja resepsionis yang bengong, menuangkannya sedikit ke tutup botol, lalu menyodorkannya ke arah Nyonya Ratih.

"Nenek juga capek berdiri, kan? Sama, Mochi sebenarnya juga capek. Teruss ini, Nek, Mochi kan haus, Nenek juga haus. Nah, ayo duduk dulu, Nek, kasihan Mochi kalau lihat Nenek emosi terus."

Nyonya Ratih tertegun dan menatap Alya, lalu pindah ke air di tangan wanita itu.

Perlahan, bahu tegang wanita tua itu merosot. Rasa lelah di usianya yang renta memang tak bisa dibohongi.

"Kau... kau staf baru?" tanya Nyonya Ratih.

"Saya Alya, asisten pribadi Pak Araska," jawab Alya sambil memapah lengan Nyonya Ratih ke sofa tunggu yang empuk.

"Pak Araska sedang rapat penting di atas. Beliau minta saya jemput Nenek karena beliau tahu Nenek akan datang ke sini."

Nyonya Ratih mendengus, tapi ia membiarkan dirinya didudukkan. "Bocah nakal itu, dia pasti melihatku dari CCTV!"

Alya tersenyum tipis, lalu berjongkok di depan Nyonya Ratih untuk membenarkan letak selendang sutranya yang berantakan. "Pak Araska cuma khawatir Nenek capek. Ayo Nek, minum dulu, ya."

Nyonya Ratih menerima air itu, lalu minum sedikit, dan ditutup dengan matanya yang menatap Alya dalam-dalam. "Kenapa kau tidak takut padaku? Petugas keamanan saja bahkan tidak mau menyentuhku, tapi kenapa kau seperti ini?"

"Saya punya tiga anak di rumah, Nek. Kalau saya takut sama teriakan, saya sudah gila dari dulu."

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Araska Group, Nyonya Ratih tertawa.

"Pantas Araska memilihmu, kau ternyata penyayang… Dan kau cantik, tidak menor seperti sekretaris lamanya yang mirip ondel-ondel."

Sementara itu, di Lantai 58, Araska berdiri di depan layar monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV lobi.

Araska melihat bagaimana Alya menjinakkan neneknya dalam waktu kurang dari lima menit, tanpa ada kekerasan atau drama berlebih.

Dan baru kali ini juga, pria itu melihat Neneknya tertawa.

"Menarik," gumamnya, sebelum terpotong oleh dering ponsel. "Halo, Nek?"

"Heh, cucu durhaka! Kenapa kau tidak bilang kalau punya asisten secerdas ini?! Namanya Alya, ya? Nenek suka dia. Dia tahu cara memegang Mochi dengan benar. Minggu depan Nenek mau dia ikut ke acara arisan keluarga. Titik!"

Araska mendengus geli. "Nenek, dia itu sekretarisku, jangan seenaknya bawa-bawa dia ke acara Nenek, dong!."

"Bodo amat! Pokoknya Nenek pinjam dia. Oh ya, Nenek pulang dulu. Mood Nenek sudah bagus gara-gara dia. Ingat ya, kau jangan galak-galak sama dia. Awas kalau dia sampai nangis!"

Klik.

Sambungan diputus sepihak.

Araska menatap layar ponselnya dengan tatapan tak percaya.

Seumur hidup, Neneknya selalu mencari kesalahan setiap wanita yang berada di dekatnya.

Tapi Alya?

Hanya dalam lima menit, wanita itu sudah mendapatkan hak veto perlindungan dari Nenek Ratih.

Araska kembali menatap layar CCTV dan melihat Alya mengantar Neneknya ke mobil jemputan, membukakan pintu, bahkan melambaikan tangan dengan sopan.

***

Alya kembali naik ke Lantai 58.

Tubuhnya terasa ringan, karena dia telah berhasi dan tidak jadi dipecat.

Bahkan, Nyonya Ratih tadi sempat menyelipkan selembar uang seratus ribu ke saku blazernya sambil berbisik kalau uang itu untuk jajan ketiga anaknya.

Alya merasa dunianya mulai berputar ke arah yang benar.

Sekarang, dia punya pekerjaan, dia juga punya bos yang meskipun dingin, tetap melindunginya dan anak-anaknya. Terakhir, dia baru saja menaklukkan anggota keluarga terpenting di perusahaan ini, yang ternyata tak kalah baiknya ketimbang bosnya sendiri.

Alya melangkah dengan senyum mengembang ketika dia sampai di lantai 45. Dia bisa membayangkan wajah Tsaqif, Aisya, dan Zayyan nanti malam saat ia membawakan makanan enak dari dapur mansion.

Namun, langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu mahoni ruangan Araska.

Ponsel di saku blazernya bergetar panjang. Dia yakin, itu getaran pesan teks biasa, tapi dengan jumlah yang sangat banyak.

Alya merogoh saku, mengira itu pesan dari pengasuh anak-anak di paviliun yang sedang bersama Bi Inem atau Berlian di sana.

Namun, yang tertera justru nomor tidak dikenal, tanpa foto profil.

["Hebat ya, Janda gatel. Baru minggat tiga hari udah dapet Gadun kaya. Gue liat lo turun dari mobil mewah masuk ke butik tadi pagi. Wah, udah didandanin cantik, tuh? Berapa harga lo semalam?"]

Napas Alya tercekat, pesan itu membuatnya pucat pasi di balik lapisan bedak mahalnya. Ponsel itu kemudian bergetar lagi dan menampilkan satu pesan susulan.

["Gue tau lo kerja di Araska Group. Gue ada di seberang gedung sekarang, lagi ngopi sambil liatin gedung tinggi tempat lo jual diri. Siap-siap aja, Alya. Gue bakal ambil anak-anak dan hancurin hidup lo. Araska, kan, nama bos lo? Gimana kalau gue kasih tau dia siapa lo sebenernya?"]

Alya hampir pingsan mengetahui hal ini, dia hampir saja ambruk jika tidak berpegangan pada gagang pintu.

Aldi tahu.

Aldi melihatnya.

Dan Aldi ada di bawah sana, mengintainya seperti tidak ingin membiarkannya bahagia.

Alya menatap pintu ruangan Araska dengan pandangan nanar. Dia ingin melangkah masuk, tapi ancaman Aldi membuatnya ketakutan setengah mati.

Dia tidak sanggup memutar gagang pintu ruangan Araska.

Pesan di layar ponselnya seolah membakar telapak tangannya.

Aldi ada di bawah dan Aldi masih mengawasinya. Yang lebih mengerikan, Aldi tahu di mana anak-anaknya berada.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 53

    Mentari musim panas di Jakarta terasa lebih bersahabat sore itu. Di dalam ruang kerja CEO Araska Group yang megah, Araska sedang fokus menatap layar monitornya, bukan untuk memeriksa laporan keuangan, melainkan memandangi rekaman CCTV ruang tengah rumah mereka. Di sana, Alya tampak sedang membacakan buku cerita untuk Tsaqif. Araska tersenyum tipis, rahangnya yang tegas tampak jauh lebih rileks dibandingkan malam penuh drama di rumah Om Wijaya kemarin.Tiba-tiba, ponsel di atas meja jati itu bergetar. Sebuah pesan masuk dari istrinya."Mas ... sibuk tidak? Pulang cepat ya? Aku ingin ngabuburit. Anak-anak juga sudah rindu jalan-jalan."Belum sempat Araska membalas, pesan kedua menyusul dengan emoji wajah memohon yang menggemaskan."Buka puasa di luar ya, Mas? Sekali-sekali saja. Aku ingin makan takjil di pinggir jalan yang ramai itu. Boleh ya? Please ...."Araska tertawa kecil. Jarang sekali Alya merengek seperti ini. Biasanya, istrinya itu adalah sosok yang paling pengertian dan selalu

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 52

    Mobil Araska membelah kesunyian malam Jakarta yang mulai mendingin setelah hiruk-pikuk buka puasa bersama yang menyesakkan dada itu. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Araska masih mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol, sisa amarah terhadap Om Wijaya dan Tante Ratna masih membekas di rahangnya yang terkatup rapat.Alya menyentuh lengan suaminya lembut. "Mas, sudah. Jangan dipikirkan lagi. Aku benar-benar tidak apa-apa."Araska menoleh sekilas, matanya melunak saat menatap wajah tenang istrinya. "Aku hanya tidak habis pikir, Al. Di bulan suci seperti ini, mereka masih sempat-sempatnya menyebarkan racun. Mereka tidak tahu betapa berharganya kamu dan anak-anak bagiku. Darah daging atau bukan, Zayyan dan adik-adiknya adalah buah hatiku."Alya tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Araska. "Justru karena itu aku bicara begitu tadi. Aku ingin mereka tahu bahwa kebahagiaan kita tidak diukur dari standar mereka. Kita punya standar sendiri, Mas. Standar kasih s

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 51

    Malam itu berlalu dengan kehangatan yang meluruhkan sisa-sisa lelah. Namun, bagi Araska, kebahagiaan itu membawa konsekuensi baru yang cukup menyiksanya di siang hari.Esoknya, saat mentari belum sepenuhnya tegak, Araska sudah berdiri di ambang pintu kamar dengan setelan kerja yang rapi, menatap Alya yang masih bergelung di balik selimut sutra."Al, aku berangkat sekarang. Dan sepertinya ... aku tidak akan pulang makan siang atau sekadar mampir istirahat seperti biasanya," ujar Araska sambil merapikan jam tangannya.Alya mengerjap, mengucek matanya pelan. "Kenapa, Mas? Ada rapat mendadak?"Araska mendekat, namun ia menjaga jarak sekitar satu meter, seolah ada garis yang tak boleh ia langgar. Ia menatap Alya dengan senyum kecut. "Bukan rapat. Aku hanya takut pertahananku runtuh lagi kalau melihatmu siang-siang di rumah. Kamu itu ... gangguan terindah yang pernah ada, Al. Tapi di bulan puasa ini, kamu benar-benar ujian yang sangat berat untuk iman dan mentalku."Alya tertawa renyah, men

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 50

    Siang itu, matahari Jakarta seolah tak memiliki belas kasihan. Panasnya menyengat, tetapi bagi Araska, panas yang paling sulit ia kendalikan justru berasal dari dalam dadanya sendiri.Ini adalah hari kesepuluh Ramadhan, dan entah mengapa, godaan terberatnya tahun ini bukanlah rasa haus atau lapar karena kesibukan di kantor Araska Group, melainkan sosok wanita yang kini sedang sibuk menata vas bunga di ruang kerja pribadinya di rumah.Alya mengenakan kaus rumah yang sedikit longgar dengan celana kulot, rambutnya digelung asal-asalan meninggalkan beberapa helai jatuh di tengkuknya yang putih bersih. Ia tampak segar, kontras dengan Araska yang mulai merasa "gerah" sejak tadi."Mas, berkas yang ini ditaruh di rak atas atau tetap di meja?" tanya Alya tanpa menoleh.Araska yang sedang duduk di balik meja kerja, mencoba fokus pada laporan audit, mendadak kehilangan fokus. Matanya justru terpaku pada gerakan tangan Alya. Harum parfum vanilla dan musk

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 49

    "Mas, jangan ...." Alya mencoba menenangkan, bukan karena kasihan pada Aldi, tapi karena ia tidak ingin Araska berbuat yang tidak baik."Tidak, Al. Yayasan tidak bekerja sama dengan sampah," jawab Araska tegas.“Aku tidak mau, Mas. Jangan sampai Yayasan ini berdiri dengan penindasan pada orang lain. Aku tidak ingin kamu berbuat yang tidak baik. Terhadap siapapun.” Alya memegang erat jemari Araska, berusaha meyakinkan.“Pergi! Sebelum aku berubah pikiran!” usir Araska, Aldi pun pergi dengan wajah merah padam. Ada rasa marah, tetapi ia juga takut bisnis barunya hancur.Alya menghela napas panjang, menatap suaminya yang masih tampak tegang karena emosi. Ia meraih tangan Araska, mengelusnya lembut."Terima kasih, Mas. Kamu sedikit menakutkan," goda Alya sambil tersenyum tipis.Araska menatap Alya, matanya perlahan melembut. Ia menghela napas, rasa amarahnya luntur seketika melihat senyum istrinya."Aku tidak tahan

  • Istri Yang Kau Buang, Kini Jadi Nyonya Besar   Bab 48

    Malam itu, setelah anak-anak terlelap dalam mimpi mereka, suasana utama kediaman Adiguna terasa begitu tenang. Araska sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, jemarinya menari di atas layar gawai, sementara Alya baru saja selesai membersihkan wajahnya.Alya melirik Araska dari pantulan cermin rias. Kata-kata Om Wijaya tentang "darah murni" memang tidak berhasil meruntuhkan mentalnya, tetapi hal itu memicu sebuah pemikiran yang selama ini terkunci rapat di sudut hatinya.Bukan karena ia merasa terancam oleh posisi anak-anaknya, ia sangat tahu Araska mencintai Zayyan dan adik-adiknya setulus hati, tapi karena ia mencintai pria itu. Dan saat kita mencintai seseorang, wajar jika ada keinginan untuk melihat perpaduan antara dirinya dan orang yang dicintainya dalam wujud seorang manusia kecil.Alya berjalan perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Ia meraih tangan Araska, membuat suaminya menaruh gawai dan memberikan perhatian penuh."Mas," panggil Alya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status