MasukPintu lift di lobi utama terbuka.
Alya melangkah keluar lift dan dia melihat pemandangan kacau balau. Seketika, suara keributan yang memekakkan telinga menyerbu masuk.
"Minggir kalian semua, dasar babu tidak berguna! Mana Araska? Suruh cucuku turun atau aku bakar gedung ini!"
Di tengah lobi marmer yang luas, seorang wanita tua dengan rambut putih disanggul rapi dan mengenakan kebaya sutra mahal sedang mengacungkan tongkat kayu eboni.
Tiga orang petugas keamanan bertubuh kekar tampak kewalahan, mereka mencoba menghalangi, namun takut melukai nenek Araska.
Di kaki wanita tua itu, sebuah keranjang kucing berlapis emas tergeletak miring.
Seekor kucing persia putih mengeong-ngeong dari dalam, jelas stress berat akibat guncangan dan teriakan pemiliknya.
"Maaf, Nyonya Besar, tapi peraturan gedung melarang hewan pe..." seorang resepsionis mencoba menjelaskan dengan suara gemetar.
TAK!
Tongkat eboni itu menghantam meja resepsionis, hanya meleset beberapa sentimeter dari jari si resepsionis.
"Peraturan? Gedung ini milik cucuku, itu artinya, gedung ini milikku juga! Kau mau kupecat sekarang, hah?!"
Tanpa ragu, Alya melangkah, tapi tidak menuju ke arah Nyonya Ratih, melainkan langsung berlutut di dekat keranjang kucing yang terguling.
Dengan cekatan, wanita itu menegakkan keranjang, membuka sedikit pintunya, dan mengelus kepala kucing yang ketakutan itu dengan lembut.
"Sshhh, Meng, tenang yaa, tenang sayang, tenang…"
Ajaibnya, kucing yang tadinya mendesis liar itu perlahan diam saat merasakan sentuhan tangan Alya.
"Siapa kau?!" sergah Nyonya Ratih. "Berani-beraninya tangan kotormu menyentuh Mochi!"
Alya berdiri perlahan, lalu berbalik menghadap Nyonya Ratih.
"Mochi stress, Nek," ucap Alya tenang, suaranya yang jernih terdengar di lobi yang sunyi.
"Jantung Mochi ini berdetak terlalu cepat. Kalau Nenek terus berteriak dan memukul meja, Mochi bisa mati jantungan di sini. Nenek mau Mochi mati?"
Semua orang menahan napas.
Belum pernah ada yang berani bicara sefrontal itu pada Nyonya Ratih.
Wajah garang Nyonya Ratih berubah lunak, lalu dia menatap keranjang kucingnya. "Mochi... dia... dia sakit?"
"Dia ketakutan," koreksi Alya.
Wanita itu melangkah mendekat, mengambil botol air mineral dari meja resepsionis yang bengong, menuangkannya sedikit ke tutup botol, lalu menyodorkannya ke arah Nyonya Ratih.
"Nenek juga capek berdiri, kan? Sama, Mochi sebenarnya juga capek. Teruss ini, Nek, Mochi kan haus, Nenek juga haus. Nah, ayo duduk dulu, Nek, kasihan Mochi kalau lihat Nenek emosi terus."
Nyonya Ratih tertegun dan menatap Alya, lalu pindah ke air di tangan wanita itu.
Perlahan, bahu tegang wanita tua itu merosot. Rasa lelah di usianya yang renta memang tak bisa dibohongi.
"Kau... kau staf baru?" tanya Nyonya Ratih.
"Saya Alya, asisten pribadi Pak Araska," jawab Alya sambil memapah lengan Nyonya Ratih ke sofa tunggu yang empuk.
"Pak Araska sedang rapat penting di atas. Beliau minta saya jemput Nenek karena beliau tahu Nenek akan datang ke sini."
Nyonya Ratih mendengus, tapi ia membiarkan dirinya didudukkan. "Bocah nakal itu, dia pasti melihatku dari CCTV!"
Alya tersenyum tipis, lalu berjongkok di depan Nyonya Ratih untuk membenarkan letak selendang sutranya yang berantakan. "Pak Araska cuma khawatir Nenek capek. Ayo Nek, minum dulu, ya."
Nyonya Ratih menerima air itu, lalu minum sedikit, dan ditutup dengan matanya yang menatap Alya dalam-dalam. "Kenapa kau tidak takut padaku? Petugas keamanan saja bahkan tidak mau menyentuhku, tapi kenapa kau seperti ini?"
"Saya punya tiga anak di rumah, Nek. Kalau saya takut sama teriakan, saya sudah gila dari dulu."
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Araska Group, Nyonya Ratih tertawa.
"Pantas Araska memilihmu, kau ternyata penyayang… Dan kau cantik, tidak menor seperti sekretaris lamanya yang mirip ondel-ondel."
Sementara itu, di Lantai 58, Araska berdiri di depan layar monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV lobi.
Araska melihat bagaimana Alya menjinakkan neneknya dalam waktu kurang dari lima menit, tanpa ada kekerasan atau drama berlebih.
Dan baru kali ini juga, pria itu melihat Neneknya tertawa.
"Menarik," gumamnya, sebelum terpotong oleh dering ponsel. "Halo, Nek?"
"Heh, cucu durhaka! Kenapa kau tidak bilang kalau punya asisten secerdas ini?! Namanya Alya, ya? Nenek suka dia. Dia tahu cara memegang Mochi dengan benar. Minggu depan Nenek mau dia ikut ke acara arisan keluarga. Titik!"
Araska mendengus geli. "Nenek, dia itu sekretarisku, jangan seenaknya bawa-bawa dia ke acara Nenek, dong!."
"Bodo amat! Pokoknya Nenek pinjam dia. Oh ya, Nenek pulang dulu. Mood Nenek sudah bagus gara-gara dia. Ingat ya, kau jangan galak-galak sama dia. Awas kalau dia sampai nangis!"
Klik.
Sambungan diputus sepihak.
Araska menatap layar ponselnya dengan tatapan tak percaya.
Seumur hidup, Neneknya selalu mencari kesalahan setiap wanita yang berada di dekatnya.
Tapi Alya?
Hanya dalam lima menit, wanita itu sudah mendapatkan hak veto perlindungan dari Nenek Ratih.
Araska kembali menatap layar CCTV dan melihat Alya mengantar Neneknya ke mobil jemputan, membukakan pintu, bahkan melambaikan tangan dengan sopan.
***
Alya kembali naik ke Lantai 58.
Tubuhnya terasa ringan, karena dia telah berhasi dan tidak jadi dipecat.
Bahkan, Nyonya Ratih tadi sempat menyelipkan selembar uang seratus ribu ke saku blazernya sambil berbisik kalau uang itu untuk jajan ketiga anaknya.
Alya merasa dunianya mulai berputar ke arah yang benar.
Sekarang, dia punya pekerjaan, dia juga punya bos yang meskipun dingin, tetap melindunginya dan anak-anaknya. Terakhir, dia baru saja menaklukkan anggota keluarga terpenting di perusahaan ini, yang ternyata tak kalah baiknya ketimbang bosnya sendiri.
Alya melangkah dengan senyum mengembang ketika dia sampai di lantai 45. Dia bisa membayangkan wajah Tsaqif, Aisya, dan Zayyan nanti malam saat ia membawakan makanan enak dari dapur mansion.
Namun, langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu mahoni ruangan Araska.
Ponsel di saku blazernya bergetar panjang. Dia yakin, itu getaran pesan teks biasa, tapi dengan jumlah yang sangat banyak.
Alya merogoh saku, mengira itu pesan dari pengasuh anak-anak di paviliun yang sedang bersama Bi Inem atau Berlian di sana.
Namun, yang tertera justru nomor tidak dikenal, tanpa foto profil.
["Hebat ya, Janda gatel. Baru minggat tiga hari udah dapet Gadun kaya. Gue liat lo turun dari mobil mewah masuk ke butik tadi pagi. Wah, udah didandanin cantik, tuh? Berapa harga lo semalam?"]
Napas Alya tercekat, pesan itu membuatnya pucat pasi di balik lapisan bedak mahalnya. Ponsel itu kemudian bergetar lagi dan menampilkan satu pesan susulan.
["Gue tau lo kerja di Araska Group. Gue ada di seberang gedung sekarang, lagi ngopi sambil liatin gedung tinggi tempat lo jual diri. Siap-siap aja, Alya. Gue bakal ambil anak-anak dan hancurin hidup lo. Araska, kan, nama bos lo? Gimana kalau gue kasih tau dia siapa lo sebenernya?"]
Alya hampir pingsan mengetahui hal ini, dia hampir saja ambruk jika tidak berpegangan pada gagang pintu.
Aldi tahu.
Aldi melihatnya.
Dan Aldi ada di bawah sana, mengintainya seperti tidak ingin membiarkannya bahagia.
Alya menatap pintu ruangan Araska dengan pandangan nanar. Dia ingin melangkah masuk, tapi ancaman Aldi membuatnya ketakutan setengah mati.
Dia tidak sanggup memutar gagang pintu ruangan Araska.
Pesan di layar ponselnya seolah membakar telapak tangannya.
Aldi ada di bawah dan Aldi masih mengawasinya. Yang lebih mengerikan, Aldi tahu di mana anak-anaknya berada.
Hari terakhir di Magelang seolah berjalan lebih lambat dari biasanya. Sang surya yang biasanya garang di Jakarta, hari ini terasa malu-malu bersembunyi di balik gumpalan awan, menyisakan bias warna jingga keunguan yang melukis cakrawala di atas punggung Gunung Merbabu. Udara sore itu terasa lebih manis, membawa aroma kayu bakar yang sedang dipersiapkan Bibi Sumi untuk perapian malam nanti.Di halaman belakang, suasana terasa jauh lebih syahdu. Alya duduk di kursi kayu panjang yang menghadap langsung ke arah hamparan sawah yang mulai menguning. Di sampingnya, Zayyan, Aisyah, dan Tsaqif sedang asyik bermain congklak bersama Kania di atas tikar pandan. Tawa renyah si kembar sesekali memecah keheningan sore, sementara Zayyan, dengan sikap kakaknya yang dewasa, tampak mengalah agar salah satu adiknya bisa menang.Tidak jauh dari sana, si kecil Kayla sedang berada dalam dekapan Papa Araska. Pria itu tampak sangat menikmati perannya sebagai seorang ayah. Ia membiarkan jemari kecil Kayla berm
Ciuman hangat itu terlepas perlahan, menyisakan senyum simpul di bibir Alya dan Araska. Di kejauhan, suara tawa riang Tsaqif dan Aisyah yang sedang berlarian mengejar kupu-kupu kembali membuyarkan keheningan kecil mereka.Belum sempat Araska menggoda istrinya lagi, Zayyan sudah berlari kecil menghampiri mereka sambil memegang botol air mineral."Ibu, Papa! Kakek ngajak kita semua naik ke lereng Gunung Merbabu naik mobil bak terbuka! Katanya pemandangan di atas sana bagus banget buat lihat perkebunan sayur," seru Zayyan dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme.Alya menoleh ke arah suaminya dengan sebelah alis terangkat, sementara Araska justru tertawa renyah."Wah, ide bagus dari kakekmu," kata Araska sambil merangkul pundak Zayyan."Siapa yang mau ikut?""Aku! Aku mau ikut!" seru si kecil Kayla yang tiba-tiba muncul sambil menggandeng tangan Kania, disusul oleh Aisyah dan Tsaqif yang ikut melompat kegirangan.Tak butuh waktu lama bagi rombongan keluarga besar itu untuk bersiap. Di
Mentari pagi di Magelang merayap pelan dari balik punggung Gunung Merbabu, membiaskan cahaya keemasan yang menembus dedaunan hijau di kebun belakang rumah orang tua Alya. Udara pegunungan yang tipis dan dingin langsung menyapa kulit siapa saja yang melangkah keluar rumah. Di halaman samping, aroma uap air dari embun pagi berpadu dengan wangi khas tanah basah dan dedaunan pinus yang terbawa angin.Alya terbangun dalam balutan selimut tebal di kamar masa kecilnya. Ruangan itu sederhana, dengan kehangatan yang mengalir di dadanya jauh lebih besar daripada kemewahan kamar utamanya di Menteng. Di sebelah kirinya, si kecil Kayla masih tertidur pulas dengan napas teratur. Tak jauh dari tempat tidur, Aisyah dan Tsaqif tidur berdampingan sambil berpelukan, sementara sang kakak sulung, Zayyan, sudah lebih dulu bangun dan keluar kamar untuk mencari kakeknya.Alya bangkit, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu mengenakan cardigan rajut berwarna krem. Saat ia melangkah keluar kamar men
Kediaman utama Adiguna sibuk dengan persiapan perjalanan luar kota. Magelang, kota berhawa sejuk yang dipeluk megahnya Gunung Merapi dan Merbabu, dipilih sebagai destinasi tujuan. Bukan sekadar memenuhi undangan acara selamatan keluarga, Araska benar-benar mewujudkan niatnya untuk mengubah momen ini menjadi liburan singkat bagi seluruh anggota keluarga dan lingkaran terdekat mereka."Sayang, untuk persiapan acara di rumah ibumu nanti, pastikan kamu mengirimkan dana yang lebih dari cukup kepada mereka," ucap Araska sambil melipat kedua tangannya di atas meja. "Jangan biarkan keluargamu kerepotan menyiapkan semuanya sendirian. Katakan pada ibu, anggap saja ini bentuk bakti kecil dari menantunya."Alya menghentikan kegiatannya, lalu tersenyum lembut menghampiri suaminya. "Sebenarnya aku sudah rutin mengirimkan uang bulanan untuk Ibu dan Bapak, Mas."Araska menggeleng pelan, sorot matanya menyiratkan ketulusan yang dalam. "Uang bulanan itu urusan rutin, Al. Ini adalah acara selamatan khus
Sinar matahari pagi menyapa kota Jakarta dengan hangat, seolah menghapus seluruh jejak amukan badai yang mencekam semalam. Udara terasa begitu segar, menyisakan bau tanah basah yang menenangkan di halaman kediaman utama Adiguna. Aliran listrik rumah telah pulih sepenuhnya sejak subuh berkat gerak cepat tim teknisi darurat yang dikomandoi langsung oleh Beni.Di dalam kamar tidur utama yang luas, Alya membuka matanya perlahan. Suasana begitu tenang. Ia merasakan kehangatan yang melingkupi tubuhnya; sebuah lengan kokoh milik Araska masih melingkar erat di pinggangnya, menjaga dan melindunginya bahkan dalam tidur. Semalam, setelah badai mereda dan isak tangisnya berhenti, Alya tertidur pulas di pelukan suaminya, merasa begitu aman dan utuh.Araska yang menyadari istrinya terbangun perlahan membuka mata. Sorot tajam yang biasanya melekat pada sang triliuner kini melunak, digantikan oleh kelembutan yang luar biasa."Selamat pagi, Nyonya Adiguna," bisik Araska seraya mengecup lembut kening A
Langit Jakarta malam itu benar-benar mengamuk. Hujan lebat disertai angin kencang menghantam kaca-kaca jendela kediaman utama Adiguna tanpa ampun, menyisakan kegelapan pekat yang mencekam di dalam rumah setelah sambaran petir melumpuhkan aliran listrik utama.Di lantai dua, waktu seolah berjalan begitu lambat. Alya masih meringkuk di sudut ruangan, terjebak di antara sisa-sisa kesadaran masa lalunya yang kelam. Napasnya masih memburu, meski pelukan hangat Mutia perlahan mulai mengembalikan dirinya ke kenyataan. Namun, tubuhnya masih lemas, dan isak tangisnya belum juga reda.Di tangan Mutia, layar ponsel masih menampilkan sambungan video call yang aktif. Araska tidak bergeming dari posisinya di dalam kabin jet pribadi. Pria itu terus menatap layar, mendengarkan setiap rintihan kecil istrinya dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa cemas dan amarah terhadap jarak yang memisahkan mereka."Al ... hei, dengar suaraku," suara Araska terdengar serak dari speaker ponsel, penuh dengan kel
Alya tersentak, hampir menjatuhkan ponsel tipis itu ke lantai marmer. Araska berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam seolah mampu menembus layar ponsel Alya dan membaca nama yang tertera di sana. "Angkat, Alya! Aktifkan speaker-nya," perintah Araska lagi. Dingin, denga
Alya tidak boleh membiarkan Araska tahu.Jika Araska tahu dia membawa masalah rumah tangga ke kantor, dia bisa dipecat. Dan jikad dia dipecat, perlindungan untuk Tsaqif, Aisya, dan Zayyan akan hilang.Dengan langkah gemetar, Alya berbalik arah.Dia setengah berlari menuju toilet private yang terlet
"Pastikan bahwa kau tidak berusaha kabur malam ini atau kubatalkan semua pembayaran pengobatan anakmu!"KLIK.Pintu tertutup.Alya merosot kembali ke kursi dan kakinya terasa lemas.Dia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis berwajah malaikat. Tapi saat ia membelai pipi Tsaqif yang mulai han
Alya duduk di kursi belakang, mendekap erat Tsaqif yang masih mengejang pelan.Di sebelahnya, Aisya dan Zayyan duduk kaku, menggigil kedinginan, takut mengotori jok kulit berwarna krem yang pastinya seharga rumah kontrakan mereka.Araska tidak bicara sepatah kata pun. Satu tangannya memegang kemudi







