Bab 2. Cantik Setelah Bercerai
"Bu Aisyah," salah seorang pria berjas hitam yang duduk di depannya angkat bicara. "Kami sudah mengatur semuanya sesuai perintah Anda. Rapat dengan dewan direksi akan dimulai besok pagi pukul sembilan. Apakah Anda ingin mengubah jadwal atau menambah permintaan?"
Malam itu, mobil hitam melaju perlahan meninggalkan perkampungan kecil yang selama lima tahun menjadi tempat Aisyah mencoba bertahan. Perjalanan terasa sunyi, hanya suara roda yang berputar di atas aspal yang terdengar. Aisyah duduk diam di kursi belakang, tatapannya kosong, tetapi di dalam dadanya menyala sesuatu—amarah yang ia tahan selama bertahun-tahun kini mencari jalan keluar.
Aisyah memandang pria itu dengan mata yang tajam, seolah menunjukkan sisi dirinya yang selama ini terkubur. "Tidak perlu. Pastikan semua berjalan sesuai rencana. Aku ingin ini selesai secepatnya."
"Baik, Bu."
Mobil berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang megah di pusat kota. Dengan gerakan anggun, Aisyah turun dari mobil, didampingi beberapa pria berjas hitam. Ia tidak lagi terlihat seperti wanita yang baru saja dihina dan diusir dari rumah mertuanya. Aura dingin dan berwibawa terpancar dari wajahnya yang kini penuh dengan determinasi.
Sementara itu, di rumah mertuanya, Bu Ratna masih bahagia atas perceraian yang terjadi antara Aisyah dan Arman. Mereka duduk di kursi teras rumah tertawa riang.
“Farah, kamu tahu, aku selalu berharap punya menantu seperti kamu,” puji Bu Ratna sambil menatap Farah dengan penuh kebanggaan.
Farah tersenyum lebar. “Terima kasih, Tante. Saya akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Mas Arman dan keluarga ini.”
“Terima kasih ya, sudah membawa masuk Arman ke kantor tempat kamu kerja di Amarta Group,” ucap Bu Ratna sambil tersenyum lebar. “Pasti berkat kamu dia bisa diterima di sana.”
Farah tersenyum malu-malu. “Iya, Tante. Kebetulan di Amarta Group ada divisi yang membutuhkan karyawan baru, jadi saya merekomendasikan Mas Arman. Lagipula, saya juga ingin membantunya setelah kami bertemu lagi di acara reuni sekolah bulan lalu.”
“Oh, jadi kalian bertemu lagi setelah sekian lama?” tanya Bu Ratna dengan nada ingin tahu.
“Iya, Tante. Sebenarnya dulu saya dan Mas Arman pernah dekat sewaktu SMA, tapi waktu itu kami tidak sempat melanjutkan hubungan karena keadaan. Tapi sekarang, sepertinya takdir mempertemukan kami kembali,” jawab Farah dengan senyum manis yang penuh arti.
“Oh, kamu memang jodohnya Arman,” puji Bu Ratna sambil menepuk lembut tangan Farah.
“Ibu dengar Pamannya Farah juga salah satu orang penting di Amarta Group."
“Iya, Bu. Beliau juga yang membantu Mas Arman masuk menjadi salah satu karyawan sana.”
“Terima kasih, Nak. Beruntungnya Arman bercerai dan memilih kamu. Akhirnya Arman bisa menjadi pekerja kantoran lagi.”
Rina mantan ipar Aisyah ikut berkomentar. “Yah, menikah dengan Aisyah hanya bawa sial Arman, dia terkena phk dari kerjaan—”
“Bu Ratna … Bu ….” Suara seorang wanita terdengar dari balik pagar kayu teras rumah menghentikan ocehan, Rina.
Mereka pun menoleh ke arah sumber suara, seorang wanita bertubuh gemuk berusaha membuka pintu pagar dan langsung masuk dengan napas putus-putus.
“Duduk dulu, Bu.” Bu Ratna yang dipanggil-panggil mempersilakan wanita yang merupakan tetangganya itu untuk ikut duduk di kursi kayu yang masih kosong. “Ada apa, Bu sampai ngos-ngosan begitu?”
“Saya baru saja melihat Aisyah dibawa pergi naik mobil mewah sama laki-laki, Bu.” Ibu Gendut tadi berbicara dengan suara terputus-putus.
Suara Arman tertawa, “Jangan-jangan dia mau jual diri?”
“Bisa jadi, karena kita sudah tidak lagi menampung wanita yang tidak tahu asal usulnya itu, tidak heran jika dia jual diri!” Suara Rina, ipar Aisyah mencicit.
“Maksudnya apa, Bu? Aisyah tidak lagi di sini?” Si Ibu tetangga gendut itu kebingungan.
Mendengar itu, Bu Ratna mendengus sinis. “Arman sudah menceraikaannya, Bu. Mungkin benar dia mau menjual diri, mau kerja apa memang wanita miskin tidak berpendidikan seperti dia?”
“Jangan seperti itu, Bu. Siapa tahu Mbak Aisyah bertemu temannya saja.” Farah mencoba sok polos dan menjaga image baik meski di hatinya menaruh rasa benci dan menertawakan Aisyah.
“Aku sangat bersyukur menceraikan wanita munafik semacam Aisyah.” Arman masih mengira mantan istrinya itu benar-benar jual diri. “Dan aku beruntung kembali bertemu Farah, wanita yang jauh lebih anggun dan berkelas.”
“Astaga, ternyata sudah bercerai?” Ibu-ibu gendut tadi mengangguk-anggukan kepala.
“Iya dan Farah yang akan menjadi istri baru Arman. Wanita dari keluarga baik-baik, berpendidikan, dan santun.” Bu Ratna mengelus pundak Farah yang duduk di dekat Bu Ratna.
“Ah, ibu bisa saja.” Farah malu-malu menudukkan kepala.
Mereka masih menertawakan kemalangan Aisyah tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Keesokan paginya, suasana kantor ramai seperti biasa. Arman dan Farah bergandengan tangan memasuki gedung Amarta Group dengan percaya diri. Namun, langkah Arman terhenti ketika melihat sosok yang sangat dikenalnya.
“Aisyah?!” Arman hampir berteriak.
Mantan istrinya itu terlihat rapi menggunakan celana putih dan kemeja warna biru muda yang dimasukkan ke dalam celana. Sekilas hampir-hampir dia tidak mengenali mantan istrinya itu karena penampilannya jauh berbeda dari biasanya yang selalu kumal dan tidak terurus. Sekarang, Aisyah terlihat cantik dan modis. Farah yang melihat calon suaminya menatap dalam wanita yang sudah susah payah diusirnya mencubit perut Arman hingga lelaki itu tersadar sempat terpana pada wanita yang dia buang.
“Apa yang kamu lakukan di sini?!” Arman bertanya dengan tatapan memindai dari ujung kaki Aisyah yang mengenakan sepatu heels hingga ke ujung kepala
di mana rambutnya tertutup rapi oleh jilbab satin warna krem yang elegan.
Farah menatap Aisyah dengan tatapan meremehkan. “Ngapain kamu di sini? Mau ngemis maaf dan minta balikan sama Arman?”
Aisyah tidak menanggapi. Ia hanya melirik mereka dengan pandangan dingin.
Arman mengira sang mantan istri mengejarnya sampai ke kantor untuk meminta kembali. “Jangan mimpi Aisyah, meski kamu mengubah penampilan aku tidak akan mau kembali pada wanita yang baru saja cerai tapi sudah jual diri!”
“Jual diri kamu bilang?” Aisyah memicingkan mata.
“Iya, tetangga ada yang melihatmu semalam pergi dengan laki-laki menaiki mobil. Apa lagi kalau kamu yang miskin dan tidak punya uang itu kalau tidak jual diri.” Farah sudah seperti menguasai Arman. Bahkan pertanyaan yang Aisyah lontarkan yang seharusnya dijawab Arman malah dijawab Farah seperti juru bicara.
Mendengar tuduhan tidak jelas itu membuat Aisyah tertawa kecil.
Farah menarik lengan Arman. “Lihat dia menjadi gila karena kamu ceraikan.” Farah merengek. “Mas, usir dia! Jangan sampai dia mempermalukan kita!”
“Siapa yang mempermalukan siapa?” Aisyah mulai kembali membuka mulut. “Baiklah. Mari kita bicara fakta. Selama lima tahun aku mencoba menjadi istri yang baik, menantu yang patuh, tapi apa balasan kalian? Penghinaan, cemoohan, dan pengkhianatan.”
Tatapan tajam Aisyah belum pernah Arman lihat sebelumnya. Lelaki itu merasa diremehkan dia pun berteriak lantang. “Pergi dari sini sebelum aku menyuruh orang menyeret dirimu!”
Biasanya Aisyah akan takut menangis dan langsung pergi dengan kepala tertunduk saat melihat Arman marah. Namun, kali ini dugaan lelaki itu salah, Aisyah masih menatap tenang dan tubuhnya tidak gemetar ketakutan seperti yang selama ini terjadi.
“Aku di sini bukan untuk kalian, atas hak apa kalian mau mengusirku?”
Bab 100. Kebahagiaan Sejati“Rendra, kamu yakin dekorasinya nggak terlalu berlebihan?” Aisyah memandang ruang pesta di ballroom hotel mewah di Jakarta, matanya menyipit meneliti setiap detail. Karangan bunga mawar putih dan emas menghiasi meja-meja bundar, lampu kristal berkilau di langit-langit, dan panggung kecil di ujung ruangan dihiasi tulisan emas: “Ulang Tahun Pernikahan Aisyah & Rendra – 5 Tahun Cinta Abadi.”Rendra, berdiri di sampingnya dengan setelan jas abu-abu yang rapi, tersenyum lebar. Wajahnya yang tampan dengan fitur kebarat-baratan memancarkan kebahagiaan. “Aisyah, ini hari spesial kita. Lima tahun pernikahan bukan waktu sebentar. Biar semua orang tahu betapa aku mencintaimu.”Aisyah tersipu, hijab biru lautnya yang elegan serasi dengan gaun panjangnya. “Kamu selalu tahu cara bikin aku merasa istimewa,” katanya lembut, lalu meraih tangan Rendra. “Tapi aku cuma mau kita rayakan ini bersama keluarga dan teman terdekat.”Ruangan mulai dipenuhi tamu. Ibu Mirna dan Pak Her
Bab 99. Warisan Aisyah“Aisyah, kamu yakin mau buka cabang yayasan di London? Itu langkah besar,” kata Rendra, duduk di sudut ruang kerja Aisyah yang luas, dengan pemandangan kota Jakarta dari jendela kaca besar di belakangnya. Meja kayu mahoni di depannya dipenuhi dokumen dan laptop, tanda kesibukan Aisyah mengelola Yayasan Aisyah yang kini jadi sorotan dunia.Aisyah menoleh dari layar laptopnya, hijab kremnya tersampir rapi di pundak. Matanya yang tegas memandang Rendra dengan penuh keyakinan. “Rendra, aku nggak cuma yakin, aku harus. Banyak wanita di luar sana butuh bantuan kita. London adalah langkah awal untuk go global.”Rendra tersenyum tipis, wajahnya yang tampan dengan rahang tegas sedikit memerah. “Kamu selalu punya visi besar. Aku cuma mau pastikan kamu nggak kelelahan. Yayasan ini sudah besar, Aisyah. Kamu sudah ubah hidup ribuan orang.”“Rendra, aku nggak sendiri. Ada kamu, timku, dan donatur yang percaya sama visiku,” jawab Aisyah, suaranya lembut tapi penuh tekad. “Lagi
Bab 98. Refleksi Masa Lalu“Dulu aku pikir hidupku berakhir saat Arman pergi dengan Farah,” kata Aisyah, suaranya lembut namun penuh makna. Ia duduk di sofa empuk di ruang keluarga apartemennya di Jakarta, memandang foto pernikahannya dengan Rendra yang terpajang di dinding. Hijab kremnya yang elegan membingkai wajah manis dengan kulit kuning langsat, matanya yang tegas kini dipenuhi kedamaian.Rendra, yang duduk di sampingnya dengan kemeja biru tua yang digulung hingga siku, tersenyum kecil. Wajahnya yang kebarat-baratan tampak lembut di bawah cahaya lampu ruangan. “Tapi lihat kamu sekarang, Sayang. Dari wanita yang disia-siakan jadi inspirasi jutaan orang. Aku bangga sekali.”Aisyah menoleh, memegang tangan Rendra. “Aku nggak akan sampai di sini tanpa kamu, Ren. Kamu yang selalu ada, bahkan saat aku hampir menyerah.”Rendra mencium punggung tangan Aisyah. “Dan kamu yang membuatku ingin jadi pria yang lebih baik setiap hari. Kita saling menguatkan.”Ponsel Aisyah bergetar di meja kac
Bab 97. Kemenangan Cinta Aisyah“Kamu tahu nggak, Ren, kalau tiga tahun lalu aku nggak pernah bayangin kita akan berdiri di sini, merayakan ini?” Aisyah berkata, suaranya lembut namun penuh emosi. Ia berdiri di samping Rendra di tepi kolam renang vila mewah di Anyer, mengenakan gaun panjang berwarna emerald dan hijab senada yang membingkai wajah manisnya dengan kulit kuning langsat. Ia menggenggam tangan Aisyah, matanya penuh cinta. “Tiga tahun, Sayang. Dan setiap hari bersamamu rasanya seperti anugerah.”Aisyah tertawa kecil, matanya yang tegas melembut. “Kamu selalu tahu cara bikin aku meleleh. Tapi serius, Ren, setelah semua yang kita lalui—drama dengan Farah, Bella, Hendra—kita masih di sini, lebih kuat.”Rendra mencium kening Aisyah. “Karena kita nggak cuma pasangan, Aisyah. Kita tim. Dan tim kita nggak terkalahkan.”Di belakang mereka, meja makan dihias dengan lilin dan bunga mawar putih. Ibu Mirna dan Pak Hermawan duduk di sana, tersenyum melihat anak dan menantu mereka. Ibu
Bab 96. Aisyah dan Rendra di Uji“Kamu tahu sudah berapa lama kita nggak makan malam berdua, Sayang?” tanya Rendra, suaranya lembut namun ada nada lelah di dalamnya. Ia duduk di sofa ruang tamu apartemen mereka di Jakarta, dasinya sedikit longgar setelah seharian bekerja. Cahaya lampu kota menyelinap melalui jendela besar, menerangi wajah tampannya yang kebarat-baratan.Aisyah, yang baru saja masuk dengan blazer hitam dan hijab abu-abu elegan, menoleh dari meja tempat ia meletakkan tasnya. Matanya yang tegas melembut melihat suaminya. “Maaf, Ren. Pekan ini benar-benar padat. Rapat dengan investor, persiapan cabang baru… aku janji, besok kita luangkan waktu.”Rendra tersenyum tipis, tapi ada keraguan di matanya. “Besok kamu ada undangan dari Kementerian Perdagangan, Aisyah. Kapan kita punya waktu untuk kita?”Aisyah terdiam, merasakan tusukan kecil di dadanya. Ia berjalan mendekati Rendra, duduk di sampingnya, dan meraih tangannya. “Kamu benar. Aku terlalu terbawa pekerjaan. Apa kalau
Bab 95. Ancaman dari Masa Lalu“Kamu pikir bisa lolos begitu saja, Aisyah? Aku tahu rahasia Amarta Grub yang bisa menghancurkanmu!” Suara serak di ujung telepon membuat Aisyah menegang. Ia berdiri di balkon apartemennya di Jakarta, memandang lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di malam hari. Hijab cokelat mudanya sedikit tertiup angin, namun matanya yang tegas tetap fokus.“Siapa ini?” tanya Aisyah, suaranya dingin namun terkendali. “Jangan main-main dengan ancaman kosong.”Penelepon tertawa sinis. “Aku Budi, mantan anak buah Hendra. Aku punya dokumen yang membuktikan Amarta Grub menyembunyikan pajak di Singapura. Bayar aku 5 miliar, atau dokumen ini sampai ke media.”Aisyah menarik napas dalam, mencoba menahan amarah. “Kamu pikir aku takut? Kirim bukti itu sekarang, atau aku yang akan melacakmu.”Telepon terputus. Aisyah menatap ponselnya, jantungan berdetak kencang. Rendra, yang baru saja masuk dari ruang tamu, melihat ekspresi istrinya dan segera mendekat. “Ada apa, Sayang? Wajahm