LOGIN—//—
Di tengah kekacauan yang Caldwell ciptakan, mata mereka saling bertaut selama beberapa saat. Kesunyian malam terasa begitu tajam hingga menusuk setiap jengkal kulit Lorine. Bahunya bergetar tanpa mampu ia kendalikan, sementara jantungnya terus berdetak semakin cepat ketika menunggu jawaban yang mungkin tidak ingin ia dengar. “Caldi ….” Bibirnya bergerak pelan. “Apa aku tidak masuk ke dalam porsi ‘pribadi’ milikmu?” Lorine tidak pernah merasa serapuh ini di hadapan suaminya sendiri. Selama sepuluh tahun pernikahan mereka, selalu ada jarak yang berhasil ia jaga antara dirinya dan segala bentuk kelemahan. Bahkan ketika mereka bertengkar, Lorine selalu mampu mempertahankan martabatnya sebagai nyonya Vale. Akan tetapi, malam ini jelas berbeda. Karena dalam sepuluh tahun terakhir, ia mempertanyakan tempatnya sendiri dalam hidup pria yang selama ini ia yakini sebagai rumah. Sayangnya, Caldwell tidak segera menjawab. Pria itu hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan, seolah pertanyaan Lorine jauh lebih melelahkan dibanding seluruh pekerjaannya hari itu. Keheningan yang tercipta di antara mereka perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan. "Aku lelah, Lorine." Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sebuah keluhan sederhana yang justru terasa asing ketika diucapkan oleh Caldwell. Lorine menunggu kelanjutan kalimat itu, tetapi reaksi Caldwell hanya mengusap wajahnya kasar dan memalingkan pandangan. "Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini." Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding jenis kemarahan yang ada. Sikap acuh tak acuh Caldwell membuat seluruh perasaannya terasa tidak penting. Sebelum Lorine sempat mengatakan apa pun, Caldwell kembali berbicara. "Kau bisa tidur di kamar tamu malam ini." Untuk sesaat, Lorine mengira dirinya salah dengar. Kamar tamu? Tempat yang biasa disiapkan untuk orang asing itu? Padahal dirinya adalah istri sah yang telah menempati kamar utama selama hampir sepuluh tahun. Lorine menatap pria di depannya tanpa berkedip. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi tidak satu pun berhasil keluar dari tenggorokannya. Pada akhirnya, ia hanya mengangguk pelan sebelum berbalik menuju pintu. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Lorine meninggalkan kamar utama bukan karena keinginan sendiri. "Nyonya." Menyadari ada orang lain di luar kamar, Lorine segera mengubah air wajahnya. Setelah menutup pintu kamar dengan rapat, ia berbalik dan mendapati pria tua itu menatapnya dengan mata penuh kekhawatiran. "Aku baik-baik saja, Tom. Tolong siapkan kamar tamu," pinta Lorine tersenyum hangat. Kepala pelayan itu tampak ragu. Tatapannya beberapa kali beralih ke pintu kamar utama yang baru saja tertutup di belakang Lorine, sebelum akhirnya pria tua itu mengangguk pelan. "Baik, Nyonya." Lorine membalas anggukan tersebut sebelum melanjutkan langkahnya menyusuri lorong. Lampu-lampu dinding yang biasanya terasa hangat kini tampak asing di matanya. Hingga fajar menyingsing, Lorine tidak berhasil memejamkan mata. —//— Hari pertama berlalu tanpa kabar dari Caldwell. Ia masih bisa meyakinkan dirinya bahwa sang suami hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Namun, ketika hari kedua dan ketiga berlalu dengan hasil yang sama, keyakinan itu mulai retak. Kediaman Vale tetap berjalan seperti biasa. Para pelayan menjalankan tugas mereka, dan Caldwell berangkat serta pulang sesuai jadwal hariannya. Selama itu, Lorine memilih diam di dalam kamar tamu. Dalam kesendirian itulah ia mulai menyadari banyak hal yang selama ini selalu berhasil ia abaikan. Makan malam bersama telah lama menghilang dari kehidupan mereka. Percakapan yang dulu terasa hangat perlahan berubah menjadi formal dan singkat. Bahkan kini, ketika dirinya menghilang dari kamar utama selama beberapa hari, Caldwell tampak tidak terusik sedikit pun. Apakah Caldwell benar-benar mencintainya? Atau dirinya hanya dibutuhkan sebagai sosok sempurna bernama nyonya Vale? Pertanyaan itu terus mengikutinya sampai sore hari keempat, ketika ketukan di pintu jati membuat Lorine menegakkan punggung. "Nyonya." Tom membungkuk terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar. Lorine mengabaikannya dan kembali fokus pada buku yang sedari tadi tidak benar-benar ia baca. Melihat reaksi itu, Tom berhenti melangkah. Ia berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Ada apa?" tanya Lorine dingin. "Tuan Vale meminta Anda makan malam bersama malam ini." Mendengar itu, jantung Lorine berdegup sedikit lebih cepat. Setelah berhari-hari, Caldwell akhirnya mengambil langkah lebih dulu. "Dia yang meminta? Bukan usulan darimu?" tanyanya memastikan. "Benar, Nyonya." Tom tersenyum pada Lorine. "Selamat menikmati." Ucapan selamat dari kepala pelayan kediaman Vale membuat kedua pipi Lorine bersemu merah. Setelah Tom pergi, ia tetap duduk di tempatnya selama beberapa saat. Mungkin malam ini Caldwell akhirnya bersedia menjelaskan semuanya. Atau setidaknya, mereka bisa berbicara seperti pasangan yang seharusnya. "Fin! Bantu aku bersiap!" panggil Lorine mengeraskan suara. —//— Ruang makan utama terasa lebih sunyi dibanding biasanya. Lorine tiba beberapa menit lebih awal dan mendapati Caldwell sudah duduk di tempatnya. Pria itu tampak tenang seperti biasa. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa mereka baru saja melewati pertengkaran terburuk dalam pernikahan mereka. "Malam," sapa Lorine pelan. Sembari melirik sekilas, Caldwell mengangguk singkat. "Malam." Setelah itu, tidak ada lagi percakapan. Mereka makan dalam keheningan yang semakin berat. Suara peralatan makan terdengar jauh lebih jelas dari biasanya. Mungkin Caldwell akan membuka pembicaraan terlebih dahulu, tetapi hingga makanan utama hampir habis, pria itu tetap diam. Lorine melirik sekitar dengan kikuk. Keberadaan para pelayan membuatnya ragu tuk bertanya. Namun, terlalu banyak pertanyaan yang ingin keluar dari mulutnya. Dan pada akhirnya, Lorine menyerah. Setelah meletakkan peralatan makan, mulutnya terbuka. "Caldi." Caldwell mengangkat pandangan. Menatap sang istri dengan pandangan bingung. "Ada apa?" tanyanya tak paham. Lorine menggenggam jemarinya di bawah meja. "Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi beberapa hari lalu." Tidak ada perubahan berarti pada wajah Caldwell. Pria itu masih menikmati kopi hitam yang beberapa saat lalu disajikan oleh pelayan. "Tidak ada apa-apa." Jawaban darinya membuat Lorine nyaris tertawa. Setelah semua yang terjadi, Caldwell masih mengatakan tidak ada apa-apa. "Lalu bagaimana dengan Clara?" tanya Lorine langsung. Tanpa perlu diberi perintah, Tom mempersilakan seluruh pelayan meninggalkan ruangan. Tepat setelah pintu ruang makan tertutup, Caldwell meletakkan peralatan makannya dengan kasar. Keheningan kembali memenuhi ruang makan, hingga tanpa sadar Lorine jadi menahan napasnya. "Kau tidak perlu khawatir." Kalimat itu membuat harapan kecil di dada Lorine kembali hidup. Sudut bibirnya hampir naik. Namun, itu hanya kesenangan sesaat. Karena kalimat berikutnya menghancurkannya seketika. “Clara tidak berniat menjadi nyonya di rumah ini.” Lorine memiringkan kepalanya. Ia tidak langsung memahami maksud kalimat itu. Atau mungkin, ia memahaminya terlalu cepat. Karena sejak rumor itu muncul, Caldwell tidak pernah terdengar sejelas ini. Dia tidak menjelaskan bahwa Clara hanya rekan kerja. Tidak pula menyangkal tuduhan Lorine sebelumnya. Yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa Clara memang memiliki tempat dalam hidupnya. Tanpa berniat melanjutkan perbincangan, Caldwell perlahan bangkit dari kursinya. "Aku masih ada pekerjaan." Setelah mendengar pintu tertutup, Lorine memejamkan matanya. Rasanya, Caldwell baru saja melempari dirinya dengan ribuan batu tajam. "Nyonya …." Suara Tom terdengar hati-hati dari sampingnya. Lorine menoleh dan tersenyum, sebuah lengkungan garis yang begitu sempurna hingga nyaris meyakinkan semua orang. Dan di bawah sana, jemarinya gemetar tanpa bisa dihentikan. "Aku baik-baik saja." —//——//— “Kau tidak bertanya.” Kalimat yang Caldwell berikan membuat kepala Lorine menengadah cepat. Wajahnya berkerut samar, “Tidak bertanya katamu?” tanya Lorine dengan bibir bergetar. Pelupuk matanya memanas, tetapi ia hanya mengedip pelan, menahan bening yang mulai mengaburkan pandangannya. “Lalu yang kemarin apa?” lanjut Lorine, “kamu lupa, sama reaksi yang kamu kasih waktu aku nanya?” “Selama sepuluh tahun ini, pertanyaanku cuman satu. Apa hubunganmu dengan perempuan itu!” jemari Lorine menunjuk Clara yang berdiri tak jauh dari suaminya. “Bukannya menjelaskan, kamu malah ngusir aku, kan?!” Kata-kata itu menggema di udara. Untuk sesaat, Lorine hanya terpaku. Pelupuk matanya kembali berkedip pelan, seolah tak percaya kalimat itu benar-benar keluar dari bibirnya. Napas yang tertahan memenuhi dadanya dengan sesak, sementara jemarinya bergetar tipis sebelum akhirnya jatuh ke sisi tubuh. Tanpa berkata lebih jauh, kedua kakinya pergi dari ruangan itu. Langkahnya terdengar mantap, tet
—//— Sepulangnya dari kediaman para tetua Vale beberapa hari lalu, Lorine akhirnya kembali mengisi hari-harinya dengan berbagai kesibukan. Ia kembali menghadiri rapat yayasan amal yang beberapa waktu terakhir terabaikan. Undangan makan siang, acara penggalangan dana, hingga kunjungan ke berbagai program sosial yang berada di bawah naungan keluarga Vale perlahan memenuhi jadwalnya. Apa pun terasa lebih baik daripada duduk diam dan membiarkan pikirannya berputar pada hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan. Bahkan saat tidak memiliki agenda khusus seperti hari ini, Lorine memilih menghabiskan waktunya di yayasan. "Nyonya, boleh bacain dongeng ini buat Naya?" Suara kecil itu membuat Lorine menoleh. Seorang gadis cilik berusia sekitar enam tahun berdiri di samping kursinya sambil memeluk buku cerita bergambar. Rambutnya dikepang dua dengan pita kuning yang mulai longgar, sementara sepasang mata bulatnya menatap penuh harap. Lorine tersenyum tipis, "Tentu saja." Mendapat persetujuan
—//— Rumah kaca selalu menjadi tempat favorit Lorine. Bangunan yang berada di sisi timur kediaman Vale itu dipenuhi bunga dan tanaman herbal yang ia rawat sendiri selama bertahun. Biasanya, beberapa jam di sana cukup untuk menenangkan pikirannya. Akan tetapi, pagi ini berbeda. Aroma tanah basah dan lavender memenuhi udara di sekitar Lorine yang tengah berdiri di antara deretan mawar putih. Sejak makan malam itu, ketenangan seolah meninggalkannya. Ketika kedua tangannya bergerak memangkas daun-daun yang menguning, pikirannya terus kembali pada satu kalimat. "Clara tidak berniat menjadi Nyonya di rumah ini." Lorine menggigit bagian dalam pipi. Bukan ucapan Caldwell yang menyakitkan, melainkan fakta bahwa pria itu tidak pernah menyangkal keberadaan Clara. Ia tidak menjelaskan apa pun atau menyebut semua itu sebagai kesalahpahaman. Selama ini Caldwell selalu menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Lalu bagian mana yang terlewat hingga suaminya memiliki ruang untuk perempuan lai
—//— Di tengah kekacauan yang Caldwell ciptakan, mata mereka saling bertaut selama beberapa saat. Kesunyian malam terasa begitu tajam hingga menusuk setiap jengkal kulit Lorine. Bahunya bergetar tanpa mampu ia kendalikan, sementara jantungnya terus berdetak semakin cepat ketika menunggu jawaban yang mungkin tidak ingin ia dengar. “Caldi ….” Bibirnya bergerak pelan. “Apa aku tidak masuk ke dalam porsi ‘pribadi’ milikmu?” Lorine tidak pernah merasa serapuh ini di hadapan suaminya sendiri. Selama sepuluh tahun pernikahan mereka, selalu ada jarak yang berhasil ia jaga antara dirinya dan segala bentuk kelemahan. Bahkan ketika mereka bertengkar, Lorine selalu mampu mempertahankan martabatnya sebagai nyonya Vale. Akan tetapi, malam ini jelas berbeda. Karena dalam sepuluh tahun terakhir, ia mempertanyakan tempatnya sendiri dalam hidup pria yang selama ini ia yakini sebagai rumah. Sayangnya, Caldwell tidak segera menjawab. Pria itu hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan,
—//— "Saya hampir tidak mengenali Nyonya Vale malam ini." Sapaan hangat penuh sindiran itu membuat Lorine menghentikan tangannya yang hendak meraih gelas wine. Ia menoleh dan mendapati nyonya Gourdo menghampiri dengan senyum terpatri. "Terima kasih, Nyonya Gourdo. Anting yang Anda kenakan juga sangat indah," balas Lorine sambil menyambut cipika-cipiki wanita itu. "Ah, Anda bisa saja." Nyonya Gourdo terkekeh kecil. "Ngomong-ngomong, apakah malam ini Anda tidak bersama Tuan Vale?" Meski sempat terperanjat oleh pertanyaan tak terduga itu, Lorine mempertahankan senyumnya. "Ada keperluan mendesak yang harus Caldi urus." "Begitukah?" Sorot mata nyonya Gourdo tampak terlalu penasaran untuk dianggap basa-basi. "Saya kira beliau datang bersama orang lain." Sebelum Lorine sempat bertanya, tiga wanita lain menghampiri mereka. "Nyonya Gourdo, jangan mulai bergosip di acara amal," tegur salah satu dari mereka. "Gosip?" Wanita itu mengangkat alis. "Saya hanya menyampaikan fakta yang banyak







