Share

Chapter 03- Asing

last update publish date: 2026-06-26 18:04:52

—//—

Rumah kaca selalu menjadi tempat favorit Lorine. Bangunan yang berada di sisi timur kediaman Vale itu dipenuhi bunga dan tanaman herbal yang ia rawat sendiri selama bertahun. Biasanya, beberapa jam di sana cukup untuk menenangkan pikirannya. Akan tetapi, pagi ini berbeda.

Aroma tanah basah dan lavender memenuhi udara di sekitar Lorine yang tengah berdiri di antara deretan mawar putih. Sejak makan malam itu, ketenangan seolah meninggalkannya. Ketika kedua tangannya bergerak memangkas daun-daun yang menguning, pikirannya terus kembali pada satu kalimat. "Clara tidak berniat menjadi Nyonya di rumah ini."

Lorine menggigit bagian dalam pipi. Bukan ucapan Caldwell yang menyakitkan, melainkan fakta bahwa pria itu tidak pernah menyangkal keberadaan Clara. Ia tidak menjelaskan apa pun atau menyebut semua itu sebagai kesalahpahaman. Selama ini Caldwell selalu menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Lalu bagian mana yang terlewat hingga suaminya memiliki ruang untuk perempuan lain?

Baru pada moment itulah Lorine mencoba melihat pernikahannya sebagai seorang istri, bukan Nyonya Vale. Kapan terakhir kali mereka makan malam berdua? Kapan terakhir kali Caldwell menanyakan harinya? Ia tidak lagi mengingat jawabannya. Yang ia tahu, jarak di antara mereka tercipta begitu perlahan hingga ia tidak pernah menyadari kapan semuanya bermula.

Ketukan di pintu memecah lamunannya. Lorine menoleh dan mendapati Fin berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan teh. “Masuklah,” suruhnya. Ia meletakkan gunting taman di atas meja kerja sebelum berjalan menuju wastafel untuk membersihkan tangannya yang kotor oleh tanah. Beberapa saat kemudian, aroma chamomile mulai memenuhi rumah kaca.

"Saya membuatkan teh chamomile, Nyonya," ujar gadis itu hati-hati.

"Terima kasih." Lorine menengok sekilas.

Fin mengangguk, tetapi tidak segera pergi. Lorine melangkahkan kakinya dan duduk di kursi rotan. Jemarinya melingkari cangkir hangat yang baru saja dituangkan perlahan. "Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja."

Bahunya terperanjat kaget. Gadis muda itu menundukkan kepala sejenak sebelum akhirnya berbicara pelan. "Maaf jika saya lancang, Nyonya."

"Saya hanya … khawatir. " Fin menggigit bibir bawahnya.

Keheningan singkat menyelimuti rumah kaca. Lorine tidak menjawab. Untuk beberapa saat, mulutnya terkunci rapat. Ia sendiri tidak memiliki jawaban selain ‘baik-baik saja’.

"Nyonya belum tidur dengan baik selama beberapa hari.” Cetusnya pelan. “Sarapan juga hampir tidak disentuh."

Kening Lorine berkerut ringan, menyadari bahwa pelayannya tidak akan berhenti bicara jika tidak di tegur, Lorine buka suara. "Fin."

"Saya tahu tidak seharusnya pelayan seperti saya ikut campur,” keluh Fin memejamkan mata, “tapi saya harap Anda bahagia, Nyonya.”

Lorine menghembuskan napas panjang. Ia mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan. "Aku hanya sedang berpikir."

“Memikirkan Tuan?" tanya Fin.

Pertanyaan dari pelayannya membuat Lorine tak mampu menyembunyikan senyuman tipisnya. "Ketara sekali, ya?"

Fin tampak menyesal telah mengatakannya. Dan beberapa detik kemudian, gadis itu mengangguk kecil. "Sedikit."

Lorine menundukkan pandangan. Mungkin memang terlihat jelas. Bagaimanapun, seluruh penghuni kediaman Vale pasti menyadari bahwa dirinya tidak lagi menempati kamar utama. Tidak mungkin jika mereka tidak tahu.

"Menurutmu …." Suara Lorine terdengar jauh lebih pelan dari yang ia maksudkan. “Apa aku gagal menjadi seorang istri?"

Fin langsung mengangkat kepalanya "Apa?"

"Aku hanya penasaran," kekeh Lorine kembali menyesap teh chamomile buatan Fin.

"Nyonya." Nada suara Fin kali ini terdengar hampir seperti sebuah bentuk ketidaksetujuan.

"Kalau diizinkan, saya akan jujur." Fin maju satu langkah. "Selama saya bekerja di sini, saya belum pernah melihat Nyonya gagal melakukan apa pun."

Lorine tertawa pelan. "Kau melebih-lebihkan."

Tak setuju dengan jawaban sang majikan, Fin menggeleng. "Saya tidak bohong."

"Semua orang di rumah ini tahu seberapa keras Nyonya berusaha." Fin berkata dengan menggebu.

Kalimat itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Karena masalahnya bukan seberapa keras ia berusaha, melainkan semua usaha itu ternyata tidak cukup. Lorine menghabiskan sisa tehnya. Mungkin ia memang membutuhkan pendapat orang lain. Seseorang yang mengenal Caldwell jauh lebih lama darinya.

"Ibu,” gumam Lorine, "aku harus menemui Ibu."

Mata gadis itu sedikit membesar. "Maksud Nyonya, Madame Vale?" tanya Fin tak percaya.

Jika ada yang memahami Caldwell lebih baik darinya, orang itu adalah ibunya sendiri. Lorine berharap kunjungan ini memberinya jawaban, bukan luka baru.

—//—

Baru dua jam lalu Lorine berpikir bahwa meminta masukan dari mertuanya adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan, tetapi kini ia menyesalinya. Dua jam yang ia habiskan di ruang tamu itu hanya berakhir dengan mendengarkan segala omelan dari mertuanya. Membuat luka yang sebelumnya Caldwell torehkan kembali menganga.

Mobil yang membawanya pergi melaju kencang meninggalkan kediaman utama tetua Vale. Di luar jendela, pepohonan dan pagar besi berornamen perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Lorine menatap lurus ke depan. Selama bertahun-tahun, Madame Vale selalu menjadi tempatnya meminta nasihat. Ia mengira kali ini tidak akan berbeda, nyatanya itu semua tidak benar.

"Jika seorang pria mencari kenyamanan di luar rumah, berarti ada sesuatu yang tidak ia dapatkan di dalam rumah." Suara mertuanya kembali terngiang di telinga. Lorine menghembuskan napas berat.

"Kau terlalu kaku, Lorine."

"Caldwell membutuhkan seseorang yang memahami pekerjaannya."

"Pria seperti dia memikul tanggung jawab besar. Wajar jika sesekali ia mencari tempat untuk beristirahat."

Setiap kalimat terasa seperti jarum yang ditusukkan perlahan ke dalam dadanya. Yang paling menyakitkan bukanlah tuduhan bahwa dirinya gagal sebagai istri. Melainkan cara Madame Vale melontarkannya. Ia berkata dengan tenang dan penuh keyakinan.

Seolah semua itu merupakan fakta yang sudah diketahui semua orang. Lorine membuka mata kembali. Ingatannya melayang pada satu momen yang sempat membuat darahnya terasa dingin.

"Kau tidak perlu terlalu memikirkan Clara." Madame Vale mengucapkannya sambil menyeruput teh santai, seakan sedang membicarakan cuaca.

Tetua Vale ternyata sudah mengetahui keberadaan Clara jauh sebelum rumor itu sampai ke telinganya. Namun, tidak seorang pun merasa perlu memberitahunya. Mereka tidak merasa ada yang salah dari perselingkuhan itu. Tanpa sadar, jemari Lorine perlahan mengepal di atas pangkuan.

Selama sepuluh tahun ia berusaha menjadi menantu yang sempurna. Ia mempelajari kebiasaan keluarga Vale, menghadiri setiap acara, dan menjaga nama baik mereka. Namun hari ini, untuk pertama kalinya, Lorine merasa seperti orang luar yang kebetulan diizinkan tinggal di tengah keluarga itu.

Mobil berguncang pelan saat melewati tikungan. Lorine menoleh ke arah jendela. Pantulan wajahnya terlihat samar di permukaan kaca. Tidak ada jejak bahwa beberapa menit lalu ia nyaris menangis di hadapan mertuanya.

Anehnya, justru itu yang membuatnya merasa semakin asing. Karena wanita yang menatap balik dari kaca itu tampak seperti nyonya Vale yang sempurna. Hanya saja, Lorine tidak lagi yakin apakah ia masih mengenali perempuan tersebut.

“Sialan,” lirih Lorine menundukkan kepalanya dalam.

—//—

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 11—Jangan Cari Tahu

    —//—Kecaman yang Caldwell lontarkan membuat Lorine tertawa sumbang. Ia berbalik, menatap sepasang mata yang sudah lebih dulu tertuju kepadanya. “Oh ya? Kamu malah bikin aku makin penasaran,” tukas Lorine menantang.Mendapat balasan tak terduga, rahang Caldwell mengeras. Tatapannya berubah tajam, membuat Lorine tahu bahwa jawabannya kali ini benar-benar berhasil mengusik pria itu. “Lorine, masuk ke dalam.” Caldwell menekankan setiap kata yang ia ucapkan.Tidak menghiraukan perintah suaminya, Lorine justru berbalik dan melangkahkan kaki menuju pintu utama. Ia meninggalkan Caldwell yang masih berdiri di tempatnya, tetapi bisa merasakan tatapan pria itu mengikuti setiap langkahnya. Meski tidak melihat raut wajah Caldwell, Lorine tersenyum simpul. Untuk pertama kalinya, menolak suaminya tidak membuatnya merasa bersalah, justru ada kepuasan kecil ketika ia berhasil meninggalkan pria itu tanpa menuruti perintahnya.—//—“Kak!” panggil Lorine ketika melihat sosok yang begitu akrab dalam inga

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 10—Sebelum Mengenalmu

    —//— Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, pikiran Lorine terus memutar ulang kenangan yang selama ini ia anggap indah. Semakin ia mengingatnya, semakin banyak bagian yang terasa janggal, terutama ketika pikirannya kembali pada pertemuan pertama mereka. Caldwell saat itu sudah berusia dua puluh empat tahun, tetapi entah mengapa ia berada di sekitar sekolah Lorine. Dulu, Lorine tidak pernah mempertanyakan hal tersebut. Ia menganggap pertemuan mereka sebagai kebetulan kecil yang akhirnya membawa mereka pada kisah cinta panjang. Namun, setelah mengetahui bahwa Caldwell memilihnya karena nama Beaumont, kebetulan itu mendadak terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan. "Apa yang dilakukan Caldi di sana?” gumam Lorine sambil mengerutkan kening. Ia masih mengingat jelas bagaimana pria itu memanggil namanya pada pertemuan pertama mereka. Dulu, Lorine mengira Caldwell sekadar mencari tahu tentang dirinya sebelum mendekat, tetapi kini alasan itu terlalu sederhana untuk menjelaskan semuan

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 09—Semuanya Telah Direncanakan

    —//— Lorine memandangi lembar dokumen di tangannya tanpa berkedip. Tak peduli seberapa lama ia membaca, sulit sekali mempercayai apa yang terpampang di hadapannya. Dadanya terasa sesak, seolah udara di dalam ruangan mendadak menghilang."...Mustahil," bisiknya lirih.Ia menatap nanar ke arah gores tinta yang memampangkan namanya secara jelas pada sebuah persetujuan Akuisisi Aset. Lorine menggeleng pelan. Matanya kembali menyusuri halaman itu dari awal, berharap dirinya hanya salah membaca. Namun, nama yang tertera di sana tetap sama.Tanpa membuang waktu, Lorine segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Jemarinya bergerak cepat memotret setiap halaman yang masih tersisa sebelum mengembalikan semuanya ke posisi semula. Ia berusaha menyusun kembali map dan berkas-berkas yang tadi sempat berantakan, meski hasilnya jelas tidak akan serapi sebelumnya."Kalau ini memang berkas penting..." Lorine bergumam pelan sembari memandangi layar hitam ponselnya. "Kenapa diletakkan di kantor lamanya

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 08—Jejak Masa Lalu

    —//—Lorine membuka pintu mobil dengan gerakan tergesa. Begitu tubuhnya masuk ke kursi belakang, ia langsung menyandarkan kepala ke sandaran, berusaha mengatur napas yang sejak tadi terasa memburu. Kelopak matanya masih basah, sementara jemarinya tak henti-henti mengepal di atas pangkuan."Nyonya, kita akan ke mana?" tanya sang sopir sambil menoleh sekilas melalui kaca spion. Ekspresinya dipenuhi kebingungan karena ini pertama kalinya ia melihat Lorine meninggalkan kantor dalam keadaan seperti itu.Lorine memalingkan wajah ke jendela. Pemandangan gedung-gedung yang berlalu cepat sama sekali tidak mampu mengalihkan pikirannya dari ucapan Caldwell dan Roccius yang terus berputar di kepalanya. Setelah menarik napas panjang, ia akhirnya membuka suara. "Ke kediaman Vale."Sopir itu mengangguk pelan, sementara Lorine kembali memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, satu kalimat terus menggema tanpa henti.'Dia memilihmu karena Beaumont.'Jemarinya perlahan mengepal hingga buku-buku jariny

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 07—Harga Sebuah Nama

    —//— Secercah rasa kemenangan memenuhi ego Caldwell saat Lorine menghentikan langkah terakhirnya tepat sebelum melintasi pintu kantin. Ketika wanita itu berbalik dan berjalan kembali ke arahnya, ia mengira usahanya berhasil. Untuk sesaat, ia percaya Lorine akan mengalah dan meminta maaf karena meninggalkannya di depan semua orang. Tanpa sedikit pun menyangka, yang menyambutnya justru sebuah tamparan keras di pipi. Plak! Tamparan itu memaksa wajah Caldwell berpaling. Beberapa helai rambutnya jatuh menutupi dahi, tetapi ia tidak segera bereaksi. Perlahan, ia mengembalikan wajahnya menghadap Lorine. Kerutan tipis muncul di antara kedua alisnya, lebih menyerupai kebingungan daripada kemarahan. "Setelah sepuluh tahun kita nikah ...," suara Lorine bergetar hebat. Dadanya naik turun menahan sesak yang tak lagi sanggup ia bendung. "Di mata kamu aku tetap Beaumont, bukannya Vale?!" Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh tanpa ampun. Tatapan yang biasanya selalu dipenuhi kelembu

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 06—Bukan Waktu yang Tepat

    —//— Sesampainya Caldwell dihadapan Roccius, para karyawan menyadari ada sesuatu yang tidak beres di antara ketiga petinggi itu pun perlahan meninggalkan kantin. Dalam hitungan menit, ruangan yang semula dipenuhi percakapan berubah lengang. Hanya tersisa mereka bertiga bersama aroma kopi yang mulai kehilangan hangatnya. Roccius melepaskan genggamannya tanpa diminta. Senyum tipis tetap bertahan di sudut bibir, seolah pandangan dingin Caldwell sama sekali tidak membuatnya terusik. Ia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi sebelum berkata santai, "Wah, cepat juga datangmu." Caldwell tidak membalas senyum itu. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya tetap terpaku pada Roccius. "Aku sudah bilang," ucapnya datar, "jangan berani mengganggu istriku." Roccius mengangkat kedua tangan, pura-pura tak bersalah. Jemarinya bahkan sempat merapikan letak cangkir di atas meja, seolah mereka hanya sedang berbincang biasa. "Aku hanya menahan seseorang yang hendak kabur dari sebuah fakta," balasnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status