LOGIN—//—
Rumah kaca selalu menjadi tempat favorit Lorine. Bangunan yang berada di sisi timur kediaman Vale itu dipenuhi bunga dan tanaman herbal yang ia rawat sendiri selama bertahun. Biasanya, beberapa jam di sana cukup untuk menenangkan pikirannya. Akan tetapi, pagi ini berbeda. Aroma tanah basah dan lavender memenuhi udara di sekitar Lorine yang tengah berdiri di antara deretan mawar putih. Sejak makan malam itu, ketenangan seolah meninggalkannya. Ketika kedua tangannya bergerak memangkas daun-daun yang menguning, pikirannya terus kembali pada satu kalimat. "Clara tidak berniat menjadi Nyonya di rumah ini." Lorine menggigit bagian dalam pipi. Bukan ucapan Caldwell yang menyakitkan, melainkan fakta bahwa pria itu tidak pernah menyangkal keberadaan Clara. Ia tidak menjelaskan apa pun atau menyebut semua itu sebagai kesalahpahaman. Selama ini Caldwell selalu menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Lalu bagian mana yang terlewat hingga suaminya memiliki ruang untuk perempuan lain? Baru pada moment itulah Lorine mencoba melihat pernikahannya sebagai seorang istri, bukan Nyonya Vale. Kapan terakhir kali mereka makan malam berdua? Kapan terakhir kali Caldwell menanyakan harinya? Ia tidak lagi mengingat jawabannya. Yang ia tahu, jarak di antara mereka tercipta begitu perlahan hingga ia tidak pernah menyadari kapan semuanya bermula. Ketukan di pintu memecah lamunannya. Lorine menoleh dan mendapati Fin berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan teh. “Masuklah,” suruhnya. Ia meletakkan gunting taman di atas meja kerja sebelum berjalan menuju wastafel untuk membersihkan tangannya yang kotor oleh tanah. Beberapa saat kemudian, aroma chamomile mulai memenuhi rumah kaca. "Saya membuatkan teh chamomile, Nyonya," ujar gadis itu hati-hati. "Terima kasih." Lorine menengok sekilas. Fin mengangguk, tetapi tidak segera pergi. Lorine melangkahkan kakinya dan duduk di kursi rotan. Jemarinya melingkari cangkir hangat yang baru saja dituangkan perlahan. "Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja." Bahunya terperanjat kaget. Gadis muda itu menundukkan kepala sejenak sebelum akhirnya berbicara pelan. "Maaf jika saya lancang, Nyonya." "Saya hanya … khawatir. " Fin menggigit bibir bawahnya. Keheningan singkat menyelimuti rumah kaca. Lorine tidak menjawab. Untuk beberapa saat, mulutnya terkunci rapat. Ia sendiri tidak memiliki jawaban selain ‘baik-baik saja’. "Nyonya belum tidur dengan baik selama beberapa hari.” Cetusnya pelan. “Sarapan juga hampir tidak disentuh." Kening Lorine berkerut ringan, menyadari bahwa pelayannya tidak akan berhenti bicara jika tidak di tegur, Lorine buka suara. "Fin." "Saya tahu tidak seharusnya pelayan seperti saya ikut campur,” keluh Fin memejamkan mata, “tapi saya harap Anda bahagia, Nyonya.” Lorine menghembuskan napas panjang. Ia mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan. "Aku hanya sedang berpikir." “Memikirkan Tuan?" tanya Fin. Pertanyaan dari pelayannya membuat Lorine tak mampu menyembunyikan senyuman tipisnya. "Ketara sekali, ya?" Fin tampak menyesal telah mengatakannya. Dan beberapa detik kemudian, gadis itu mengangguk kecil. "Sedikit." Lorine menundukkan pandangan. Mungkin memang terlihat jelas. Bagaimanapun, seluruh penghuni kediaman Vale pasti menyadari bahwa dirinya tidak lagi menempati kamar utama. Tidak mungkin jika mereka tidak tahu. "Menurutmu …." Suara Lorine terdengar jauh lebih pelan dari yang ia maksudkan. “Apa aku gagal menjadi seorang istri?" Fin langsung mengangkat kepalanya "Apa?" "Aku hanya penasaran," kekeh Lorine kembali menyesap teh chamomile buatan Fin. "Nyonya." Nada suara Fin kali ini terdengar hampir seperti sebuah bentuk ketidaksetujuan. "Kalau diizinkan, saya akan jujur." Fin maju satu langkah. "Selama saya bekerja di sini, saya belum pernah melihat Nyonya gagal melakukan apa pun." Lorine tertawa pelan. "Kau melebih-lebihkan." Tak setuju dengan jawaban sang majikan, Fin menggeleng. "Saya tidak bohong." "Semua orang di rumah ini tahu seberapa keras Nyonya berusaha." Fin berkata dengan menggebu. Kalimat itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Karena masalahnya bukan seberapa keras ia berusaha, melainkan semua usaha itu ternyata tidak cukup. Lorine menghabiskan sisa tehnya. Mungkin ia memang membutuhkan pendapat orang lain. Seseorang yang mengenal Caldwell jauh lebih lama darinya. "Ibu,” gumam Lorine, "aku harus menemui Ibu." Mata gadis itu sedikit membesar. "Maksud Nyonya, Madame Vale?" tanya Fin tak percaya. Jika ada yang memahami Caldwell lebih baik darinya, orang itu adalah ibunya sendiri. Lorine berharap kunjungan ini memberinya jawaban, bukan luka baru. —//— Baru dua jam lalu Lorine berpikir bahwa meminta masukan dari mertuanya adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan, tetapi kini ia menyesalinya. Dua jam yang ia habiskan di ruang tamu itu hanya berakhir dengan mendengarkan segala omelan dari mertuanya. Membuat luka yang sebelumnya Caldwell torehkan kembali menganga. Mobil yang membawanya pergi melaju kencang meninggalkan kediaman utama tetua Vale. Di luar jendela, pepohonan dan pagar besi berornamen perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Lorine menatap lurus ke depan. Selama bertahun-tahun, Madame Vale selalu menjadi tempatnya meminta nasihat. Ia mengira kali ini tidak akan berbeda, nyatanya itu semua tidak benar. "Jika seorang pria mencari kenyamanan di luar rumah, berarti ada sesuatu yang tidak ia dapatkan di dalam rumah." Suara mertuanya kembali terngiang di telinga. Lorine menghembuskan napas berat. "Kau terlalu kaku, Lorine." "Caldwell membutuhkan seseorang yang memahami pekerjaannya." "Pria seperti dia memikul tanggung jawab besar. Wajar jika sesekali ia mencari tempat untuk beristirahat." Setiap kalimat terasa seperti jarum yang ditusukkan perlahan ke dalam dadanya. Yang paling menyakitkan bukanlah tuduhan bahwa dirinya gagal sebagai istri. Melainkan cara Madame Vale melontarkannya. Ia berkata dengan tenang dan penuh keyakinan. Seolah semua itu merupakan fakta yang sudah diketahui semua orang. Lorine membuka mata kembali. Ingatannya melayang pada satu momen yang sempat membuat darahnya terasa dingin. "Kau tidak perlu terlalu memikirkan Clara." Madame Vale mengucapkannya sambil menyeruput teh santai, seakan sedang membicarakan cuaca. Tetua Vale ternyata sudah mengetahui keberadaan Clara jauh sebelum rumor itu sampai ke telinganya. Namun, tidak seorang pun merasa perlu memberitahunya. Mereka tidak merasa ada yang salah dari perselingkuhan itu. Tanpa sadar, jemari Lorine perlahan mengepal di atas pangkuan. Selama sepuluh tahun ia berusaha menjadi menantu yang sempurna. Ia mempelajari kebiasaan keluarga Vale, menghadiri setiap acara, dan menjaga nama baik mereka. Namun hari ini, untuk pertama kalinya, Lorine merasa seperti orang luar yang kebetulan diizinkan tinggal di tengah keluarga itu. Mobil berguncang pelan saat melewati tikungan. Lorine menoleh ke arah jendela. Pantulan wajahnya terlihat samar di permukaan kaca. Tidak ada jejak bahwa beberapa menit lalu ia nyaris menangis di hadapan mertuanya. Anehnya, justru itu yang membuatnya merasa semakin asing. Karena wanita yang menatap balik dari kaca itu tampak seperti nyonya Vale yang sempurna. Hanya saja, Lorine tidak lagi yakin apakah ia masih mengenali perempuan tersebut. “Sialan,” lirih Lorine menundukkan kepalanya dalam. —//——//— “Kau tidak bertanya.” Kalimat yang Caldwell berikan membuat kepala Lorine menengadah cepat. Wajahnya berkerut samar, “Tidak bertanya katamu?” tanya Lorine dengan bibir bergetar. Pelupuk matanya memanas, tetapi ia hanya mengedip pelan, menahan bening yang mulai mengaburkan pandangannya. “Lalu yang kemarin apa?” lanjut Lorine, “kamu lupa, sama reaksi yang kamu kasih waktu aku nanya?” “Selama sepuluh tahun ini, pertanyaanku cuman satu. Apa hubunganmu dengan perempuan itu!” jemari Lorine menunjuk Clara yang berdiri tak jauh dari suaminya. “Bukannya menjelaskan, kamu malah ngusir aku, kan?!” Kata-kata itu menggema di udara. Untuk sesaat, Lorine hanya terpaku. Pelupuk matanya kembali berkedip pelan, seolah tak percaya kalimat itu benar-benar keluar dari bibirnya. Napas yang tertahan memenuhi dadanya dengan sesak, sementara jemarinya bergetar tipis sebelum akhirnya jatuh ke sisi tubuh. Tanpa berkata lebih jauh, kedua kakinya pergi dari ruangan itu. Langkahnya terdengar mantap, tet
—//— Sepulangnya dari kediaman para tetua Vale beberapa hari lalu, Lorine akhirnya kembali mengisi hari-harinya dengan berbagai kesibukan. Ia kembali menghadiri rapat yayasan amal yang beberapa waktu terakhir terabaikan. Undangan makan siang, acara penggalangan dana, hingga kunjungan ke berbagai program sosial yang berada di bawah naungan keluarga Vale perlahan memenuhi jadwalnya. Apa pun terasa lebih baik daripada duduk diam dan membiarkan pikirannya berputar pada hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan. Bahkan saat tidak memiliki agenda khusus seperti hari ini, Lorine memilih menghabiskan waktunya di yayasan. "Nyonya, boleh bacain dongeng ini buat Naya?" Suara kecil itu membuat Lorine menoleh. Seorang gadis cilik berusia sekitar enam tahun berdiri di samping kursinya sambil memeluk buku cerita bergambar. Rambutnya dikepang dua dengan pita kuning yang mulai longgar, sementara sepasang mata bulatnya menatap penuh harap. Lorine tersenyum tipis, "Tentu saja." Mendapat persetujuan
—//— Rumah kaca selalu menjadi tempat favorit Lorine. Bangunan yang berada di sisi timur kediaman Vale itu dipenuhi bunga dan tanaman herbal yang ia rawat sendiri selama bertahun. Biasanya, beberapa jam di sana cukup untuk menenangkan pikirannya. Akan tetapi, pagi ini berbeda. Aroma tanah basah dan lavender memenuhi udara di sekitar Lorine yang tengah berdiri di antara deretan mawar putih. Sejak makan malam itu, ketenangan seolah meninggalkannya. Ketika kedua tangannya bergerak memangkas daun-daun yang menguning, pikirannya terus kembali pada satu kalimat. "Clara tidak berniat menjadi Nyonya di rumah ini." Lorine menggigit bagian dalam pipi. Bukan ucapan Caldwell yang menyakitkan, melainkan fakta bahwa pria itu tidak pernah menyangkal keberadaan Clara. Ia tidak menjelaskan apa pun atau menyebut semua itu sebagai kesalahpahaman. Selama ini Caldwell selalu menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Lalu bagian mana yang terlewat hingga suaminya memiliki ruang untuk perempuan lai
—//— Di tengah kekacauan yang Caldwell ciptakan, mata mereka saling bertaut selama beberapa saat. Kesunyian malam terasa begitu tajam hingga menusuk setiap jengkal kulit Lorine. Bahunya bergetar tanpa mampu ia kendalikan, sementara jantungnya terus berdetak semakin cepat ketika menunggu jawaban yang mungkin tidak ingin ia dengar. “Caldi ….” Bibirnya bergerak pelan. “Apa aku tidak masuk ke dalam porsi ‘pribadi’ milikmu?” Lorine tidak pernah merasa serapuh ini di hadapan suaminya sendiri. Selama sepuluh tahun pernikahan mereka, selalu ada jarak yang berhasil ia jaga antara dirinya dan segala bentuk kelemahan. Bahkan ketika mereka bertengkar, Lorine selalu mampu mempertahankan martabatnya sebagai nyonya Vale. Akan tetapi, malam ini jelas berbeda. Karena dalam sepuluh tahun terakhir, ia mempertanyakan tempatnya sendiri dalam hidup pria yang selama ini ia yakini sebagai rumah. Sayangnya, Caldwell tidak segera menjawab. Pria itu hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan,
—//— "Saya hampir tidak mengenali Nyonya Vale malam ini." Sapaan hangat penuh sindiran itu membuat Lorine menghentikan tangannya yang hendak meraih gelas wine. Ia menoleh dan mendapati nyonya Gourdo menghampiri dengan senyum terpatri. "Terima kasih, Nyonya Gourdo. Anting yang Anda kenakan juga sangat indah," balas Lorine sambil menyambut cipika-cipiki wanita itu. "Ah, Anda bisa saja." Nyonya Gourdo terkekeh kecil. "Ngomong-ngomong, apakah malam ini Anda tidak bersama Tuan Vale?" Meski sempat terperanjat oleh pertanyaan tak terduga itu, Lorine mempertahankan senyumnya. "Ada keperluan mendesak yang harus Caldi urus." "Begitukah?" Sorot mata nyonya Gourdo tampak terlalu penasaran untuk dianggap basa-basi. "Saya kira beliau datang bersama orang lain." Sebelum Lorine sempat bertanya, tiga wanita lain menghampiri mereka. "Nyonya Gourdo, jangan mulai bergosip di acara amal," tegur salah satu dari mereka. "Gosip?" Wanita itu mengangkat alis. "Saya hanya menyampaikan fakta yang banyak







