مشاركة

Istri dari Sebuah Ambisi
Istri dari Sebuah Ambisi
مؤلف: Phael Savannah.

Chapter 01-Posisi

مؤلف: Phael Savannah.
last update تاريخ النشر: 2026-06-26 18:04:45

—//—

"Saya hampir tidak mengenali Nyonya Vale malam ini."

Sapaan hangat penuh sindiran itu membuat Lorine menghentikan tangannya yang hendak meraih gelas wine. Ia menoleh dan mendapati nyonya Gourdo menghampiri dengan senyum terpatri.

"Terima kasih, Nyonya Gourdo. Anting yang Anda kenakan juga sangat indah," balas Lorine sambil menyambut cipika-cipiki wanita itu.

"Ah, Anda bisa saja." Nyonya Gourdo terkekeh kecil. "Ngomong-ngomong, apakah malam ini Anda tidak bersama Tuan Vale?"

Meski sempat terperanjat oleh pertanyaan tak terduga itu, Lorine mempertahankan senyumnya. "Ada keperluan mendesak yang harus Caldi urus."

"Begitukah?" Sorot mata nyonya Gourdo tampak terlalu penasaran untuk dianggap basa-basi. "Saya kira beliau datang bersama orang lain."

Sebelum Lorine sempat bertanya, tiga wanita lain menghampiri mereka. "Nyonya Gourdo, jangan mulai bergosip di acara amal," tegur salah satu dari mereka.

"Gosip?" Wanita itu mengangkat alis. "Saya hanya menyampaikan fakta yang banyak orang lihat."

"Kalau dipikir-pikir, Tuan Vale memang cukup sering terlihat bersama PR perusahaan," timpal wanita lain.

"Clara Bassano?" Nyonya Gourdo tersenyum tipis. "Ah, benar. Wanita itu."

Nama yang begitu familier itu membuat tubuh Lorine menegang. Namun, ia segera menguasai diri hingga tak ada perubahan berarti pada wajahnya. Senyum formalitas itu kembali terpasang sempurna.

Menyadari arah yang diinginkan oleh temannya, wanita bergaun hijau segera menyela. "Nyonya Gourdo, Anda keterlaluan."

"Saya hanya merasa kasihan pada Nyonya Vale," balas wanita itu ringan. "Tidak terduga bahwa pria seperti Tuan Vale juga bisa tertarik melakukan hal melenceng."

"Nyonya Gourdo benar juga," sahut wanita lain hati-hati. "Belakangan ini banyak yang membicarakan kedekatan mereka."

Keheningan singkat tercipta. Beberapa pasang mata di sekitar ballroom tampak melirik diam-diam ke arah mereka. Tanpa merasa terganggu, Lorine mengangkat gelas wine miliknya.

"Kalau begitu saya harus berterima kasih."

Lorine membiarkan beberapa detik berlalu sebelum mengedarkan pandangan ke wajah ketiga wanita di hadapannya. Senyum tipis masih bertahan di bibirnya, seolah percakapan barusan sama sekali tidak mengganggunya. Ketiga wanita itu tampak sedikit terkejut, mungkin karena tidak menyangka dirinya akan menanggapi situasi tersebut dengan begitu tenang.

"Karena para nyonya ternyata begitu memperhatikan rumah tangga saya." Senyumnya tetap lembut. "Meski saya rasa, akan lebih baik jika malam penggalangan dana sebesar ini tidak dihabiskan untuk membicarakan kehidupan pribadi orang lain."

Senyum nyonya Gourdo langsung menegang. Wajahnya memucat bak lukisan yang habis disiram air. Sementara yang lain sibuk buang muka.

"The Elysian Haven mengadakan acara ini untuk membantu anak-anak yang membutuhkan," lanjut Lorine, "akan sangat disayangkan bila perhatian kita justru tertuju pada rumor."

"Maaf jika perkataan kami kurang enak didengar," ucap salah satu wanita akhirnya.

Lorine menggeleng pelan. "Saya tidak memasukkannya ke hati."

Meski begitu, jemarinya yang dingin tidak dapat berkata hal yang sama. Setelah hampir satu dekade menjadi nyonya Vale, ia memahami satu hal dengan sangat baik—ia tidak boleh terlihat hancur di depan siapa pun.

Karena itu, beberapa menit kemudian ia masih mampu tersenyum saat berpamitan kepada para tamu yang dikenalnya. Tidak ada seorang pun yang menyadari seberapa cepat langkahnya ketika meninggalkan ballroom. Untuk sekarang, Lorine sangat memerlukan udara segar. Setelah membuka pintu kaca di sisi gedung yang membawanya ke taman belakang The Elysian Haven, suara musik dari ballroom menjadi samar.

Ia menghembuskan napas panjang. Ketika matanya hampir terpejam untuk menikmati kesunyian itu, suara tawa pelan membekukan sekujur tubuhnya. Pemilik suara itu tidak terdengar asing, Lorine menoleh ke asal suara. Di sisi lain taman, tepat di samping gazebo yang diterangi lampu taman berwarna keemasan, berdiri dua sosok yang sangat ia kenali.

Caldwell... dan Clara Bassano.

Lorine bergeming selama beberapa detik. Di bawah cahaya lampu taman, Clara berdiri dengan gaun hitam sederhana sambil mengatakan sesuatu yang membuat senyumnya tak pernah lepas. Di hadapannya, Caldwell mendengarkan dengan santai dan sesekali tertawa, seolah tidak memiliki beban apa pun malam itu. Pemandangan sederhana tersebut justru terasa asing bagi Lorine.

Sudah berapa lama Lorine tidak melihat suaminya tertawa? Entah ketika mereka makan malam berdua, atau bahkan anniversary pernikahan mereka. Pria itu selalu tampak lelah, sibuk, dan terburu-buru setiap mereka bersama. Namun, malam ini berbeda. Ada kehangatan yang jarang ia lihat saat Caldwell berada bersamanya. Jarak di antara mereka juga terlalu dekat untuk sekadar rekan kerja.

Mereka tidak melakukan sesuatu yang melanggar. Namun, kedekatan itu sudah cukup untuk membuat dada Lorine terasa sesak.

—//—

Perjalanan menuju kediaman Vale terasa lebih panjang dari biasanya. Lorine duduk diam di kursi belakang mobil dengan kepala dipenuhi badai kemungkinan. Mungkin mereka memang sedang membahas pekerjaan. Clara adalah Kepala PR Vale Group, dan berkomunikasi dengan direktur utama merupakan bagian dari tugasnya. Tidak ada yang aneh dari percakapan itu jika dipikirkan dengan tenang.

Atau bahkan hanya kebetulan. Mungkin Clara juga berada di sana karena ingin menyumbang pada The Elysian Haven. Lorine terus mengulang berbagai kemungkinan itu sampai akhirnya mobil yang ia naiki memasuki halaman Kediaman Vale. Namun, seluruh pembenaran yang ia susun di dalam kepalanya runtuh seketika saat matanya melihat mobil BMW Caldwell sudah terparkir di depan pintu utama.

Pria itu ternyata pulang lebih dulu. Setelah sempat menanyakan beberapa pertanyaan pada supir suaminya, Lorine menemukan Caldwell di kamar mereka. Dia baru saja melepas jas dan melonggarkan dasinya ketika Lorine masuk. "Caldi," panggil Lorine pelan.

Suaminya menoleh. "Ada apa?"

Lorine menggenggam erat tas yang berada di tangannya. Ada banyak cara untuk memulai percakapan itu, tetapi tak satu pun terdengar benar di kepalanya. Pada akhirnya, ia memilih langsung menuju pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya. "Kenapa tidak menunjukkan wajah di acaraku? Dan kenapa kau justru bersama Clara?"

Keheningan langsung memenuhi ruangan. Wajah Caldwell yang semula datar perlahan mengeras, seolah pertanyaan itu mengganggunya lebih dari yang seharusnya.

“Aku bekerja.”

"Di taman belakang acara amal?" tanya Lorine dengan nada mengejek.

"Pekerjaan tak selamanya berada di kantor, kan?" tanya Caldwell balik.

Lorine menatapnya beberapa detik, "Aku tadi melihat kalian berdua."

Satu alis Caldwell terangkat, "Lalu?"

Jawaban singkat nan acuh itu membuat sesuatu di dalam dada Lorine retak. "Orang-orang membicarakan kalian," cicit Lorine menahan getaran di suaranya.

"Itu urusan mereka."

Tak percaya mendengar jawaban penuh ketidakjelasan dari Caldwell, Lorine menatap mata suaminya. "Lalu bagaimana denganku?"

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, Caldwell tampak hilang kesabaran. Ia mengusap wajahnya kasar. "Lorine." Suara Caldwell yang menajam membuat Lorine sedikit takut.

Tanpa sadar, Lorine meninggikan suaranya. "Aku hanya meminta penjelasan!"

"Kau sudah mendengar penjelasannya," balas Caldwell membuat mulut Lorine sedikit terbuka.

"Tidak." Bersamaan dengan bahunya, suara Lorine mulai bergetar. "Kamu belum menjelaskan apa pun."

Caldwell menghembuskan napas panjang, ia menatap Lorine dengan pandangan terganggu. "Kau harus bisa membedakan urusan pribadi dan pekerjaan."

Lorine membeku di tempat. Beberapa detik terlewat begitu saja sebelum akhirnya ia mengangkat pandangan ke arah suaminya. Jantungnya berdegup semakin keras saat satu pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya akhirnya lolos begitu saja.

“Kalau begitu ....” Suaranya terdengar jauh lebih pelan dari yang ia inginkan. “Aku yang mana?”

—//—

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 05-Batas Kesabaran

    —//— “Kau tidak bertanya.” Kalimat yang Caldwell berikan membuat kepala Lorine menengadah cepat. Wajahnya berkerut samar, “Tidak bertanya katamu?” tanya Lorine dengan bibir bergetar. Pelupuk matanya memanas, tetapi ia hanya mengedip pelan, menahan bening yang mulai mengaburkan pandangannya. “Lalu yang kemarin apa?” lanjut Lorine, “kamu lupa, sama reaksi yang kamu kasih waktu aku nanya?” “Selama sepuluh tahun ini, pertanyaanku cuman satu. Apa hubunganmu dengan perempuan itu!” jemari Lorine menunjuk Clara yang berdiri tak jauh dari suaminya. “Bukannya menjelaskan, kamu malah ngusir aku, kan?!” Kata-kata itu menggema di udara. Untuk sesaat, Lorine hanya terpaku. Pelupuk matanya kembali berkedip pelan, seolah tak percaya kalimat itu benar-benar keluar dari bibirnya. Napas yang tertahan memenuhi dadanya dengan sesak, sementara jemarinya bergetar tipis sebelum akhirnya jatuh ke sisi tubuh. Tanpa berkata lebih jauh, kedua kakinya pergi dari ruangan itu. Langkahnya terdengar mantap, tet

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 04- Orang Asing

    —//— Sepulangnya dari kediaman para tetua Vale beberapa hari lalu, Lorine akhirnya kembali mengisi hari-harinya dengan berbagai kesibukan. Ia kembali menghadiri rapat yayasan amal yang beberapa waktu terakhir terabaikan. Undangan makan siang, acara penggalangan dana, hingga kunjungan ke berbagai program sosial yang berada di bawah naungan keluarga Vale perlahan memenuhi jadwalnya. Apa pun terasa lebih baik daripada duduk diam dan membiarkan pikirannya berputar pada hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan. Bahkan saat tidak memiliki agenda khusus seperti hari ini, Lorine memilih menghabiskan waktunya di yayasan. "Nyonya, boleh bacain dongeng ini buat Naya?" Suara kecil itu membuat Lorine menoleh. Seorang gadis cilik berusia sekitar enam tahun berdiri di samping kursinya sambil memeluk buku cerita bergambar. Rambutnya dikepang dua dengan pita kuning yang mulai longgar, sementara sepasang mata bulatnya menatap penuh harap. Lorine tersenyum tipis, "Tentu saja." Mendapat persetujuan

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 03- Asing

    —//— Rumah kaca selalu menjadi tempat favorit Lorine. Bangunan yang berada di sisi timur kediaman Vale itu dipenuhi bunga dan tanaman herbal yang ia rawat sendiri selama bertahun. Biasanya, beberapa jam di sana cukup untuk menenangkan pikirannya. Akan tetapi, pagi ini berbeda. Aroma tanah basah dan lavender memenuhi udara di sekitar Lorine yang tengah berdiri di antara deretan mawar putih. Sejak makan malam itu, ketenangan seolah meninggalkannya. Ketika kedua tangannya bergerak memangkas daun-daun yang menguning, pikirannya terus kembali pada satu kalimat. "Clara tidak berniat menjadi Nyonya di rumah ini." Lorine menggigit bagian dalam pipi. Bukan ucapan Caldwell yang menyakitkan, melainkan fakta bahwa pria itu tidak pernah menyangkal keberadaan Clara. Ia tidak menjelaskan apa pun atau menyebut semua itu sebagai kesalahpahaman. Selama ini Caldwell selalu menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Lalu bagian mana yang terlewat hingga suaminya memiliki ruang untuk perempuan lai

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 02-Tempat

    —//— Di tengah kekacauan yang Caldwell ciptakan, mata mereka saling bertaut selama beberapa saat. Kesunyian malam terasa begitu tajam hingga menusuk setiap jengkal kulit Lorine. Bahunya bergetar tanpa mampu ia kendalikan, sementara jantungnya terus berdetak semakin cepat ketika menunggu jawaban yang mungkin tidak ingin ia dengar. “Caldi ….” Bibirnya bergerak pelan. “Apa aku tidak masuk ke dalam porsi ‘pribadi’ milikmu?” Lorine tidak pernah merasa serapuh ini di hadapan suaminya sendiri. Selama sepuluh tahun pernikahan mereka, selalu ada jarak yang berhasil ia jaga antara dirinya dan segala bentuk kelemahan. Bahkan ketika mereka bertengkar, Lorine selalu mampu mempertahankan martabatnya sebagai nyonya Vale. Akan tetapi, malam ini jelas berbeda. Karena dalam sepuluh tahun terakhir, ia mempertanyakan tempatnya sendiri dalam hidup pria yang selama ini ia yakini sebagai rumah. Sayangnya, Caldwell tidak segera menjawab. Pria itu hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan,

  • Istri dari Sebuah Ambisi   Chapter 01-Posisi

    —//— "Saya hampir tidak mengenali Nyonya Vale malam ini." Sapaan hangat penuh sindiran itu membuat Lorine menghentikan tangannya yang hendak meraih gelas wine. Ia menoleh dan mendapati nyonya Gourdo menghampiri dengan senyum terpatri. "Terima kasih, Nyonya Gourdo. Anting yang Anda kenakan juga sangat indah," balas Lorine sambil menyambut cipika-cipiki wanita itu. "Ah, Anda bisa saja." Nyonya Gourdo terkekeh kecil. "Ngomong-ngomong, apakah malam ini Anda tidak bersama Tuan Vale?" Meski sempat terperanjat oleh pertanyaan tak terduga itu, Lorine mempertahankan senyumnya. "Ada keperluan mendesak yang harus Caldi urus." "Begitukah?" Sorot mata nyonya Gourdo tampak terlalu penasaran untuk dianggap basa-basi. "Saya kira beliau datang bersama orang lain." Sebelum Lorine sempat bertanya, tiga wanita lain menghampiri mereka. "Nyonya Gourdo, jangan mulai bergosip di acara amal," tegur salah satu dari mereka. "Gosip?" Wanita itu mengangkat alis. "Saya hanya menyampaikan fakta yang banyak

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status