Share

Bab 2

Author: Echo
Pukul empat pagi, rasa nyeri yang tajam membuatku terbangun dari tidur ringan.

Luka di bahuku terasa seperti terbakar api, setiap tarikan napas terasa merobek otot. Aku meringkuk di ranjang tunggal kamar tamu, bantalku basah oleh keringat dingin. Tubuhku lemas karena kehilangan banyak darah, dan luka-luka lama ikut berdenyut seolah-olah bersimpati.

Dengan tangan gemetar, aku meraba interkom di atas nakas dan menghubungi dokter keluarga.

"Dokter Agung? Ini Isabel ... Iya, aku perlu kamu datang ke sini. Sekarang."

"Astaga, Isabel! Kamu terdengar lemas. Apa yang terjadi?"

"Luka tusuk. Nggak dibersihkan dengan benar. Sepertinya terinfeksi."

"Aku segera ke sana."

Setelah menutup panggilan, aku berjuang bangkit untuk mengambil segelas air. Dari lorong, aku mendengar langkah kaki tergesa dan suara Dante yang terdengar cemas.

"Kapan Dokter Roman bisa sampai? Aku nggak peduli kamu harus menariknya dari mana, pokoknya bawa dia ke sini sekarang juga!"

Aku mendorong pintu kamar tamu hingga terbuka. Dante sedang menelepon, sementara Sera duduk di sofa ruang tamu, pucat, satu tangan menekan dahinya.

"Dante ...," panggilnya lemah. "Aku pusing. Dadaku terasa ... sesak."

"Tenang, Sayang." Dante langsung menutup telepon dan bergegas ke sisinya. "Spesialis jantung dan ahli saraf terbaik di Kota Widja sedang dalam perjalanan. Aku sudah menyuruhnya membatalkan semua jadwalnya hari ini."

Dia mengangkat Sera dengan lembut, membiarkannya bersandar di dadanya. "Syok semalam pasti berdampak padamu. Kamu harus diperiksa. Kita bakal pastikan kalau kamu baik-baik saja."

Aku bersandar pada dinding, menyeret langkah menuju dapur. Tarikan di lukaku membuat erangan pelan lolos dari bibirku.

"Isabel?" Dante menoleh. "Kenapa jalannya aneh begitu?"

"Luka lama kambuh," jawabku singkat. "Dokter Agung sedang ke sini."

"Dokter Agung?" Dante mengerutkan kening. "Kamu manggil dokter keluarga? Isabel, seluruh tim medis sudah siaga untuk Sera. Kamu nggak bisa egois begitu."

Aku berhenti dan menatapnya. "Egois?"

"Iya," kata Dante, nadanya sarat menyalahkan. "Sera hampir mati. Dia butuh perawatan terbaik. Kamu mungkin cuma salah urat. Kamu dirawat nanti saja juga nggak apa."

Dalam pelukannya, Sera batuk pelan, matanya tertuju padaku, penuh iba. "Isabel, aku bisa menunggu kalau kamu perlu. Aku nggak ingin merepotkan ...."

"Nggak." Dante memotong ucapannya dengan tegas. "Kesehatanmu yang utama. Isabel, kamu tunggu saja sampai Dokter Roman selesai dengan Sera."

Aku menatap pria yang dulu bersumpah akan melindungiku seumur hidup, kini menyuruhku mengalah demi perempuan lain.

Bel pintu berbunyi. Dokter Roman dan timnya telah tiba.

Selama dua jam berikutnya, apartemen itu berubah menjadi sayap rumah sakit pribadi milik Sera. EKG, MRI, tes darah, semuanya mereka bawa masuk.

Sementara itu, dokterku, Dokter Agung, ditahan oleh petugas keamanan di depan pintu selama satu jam penuh, dengan alasan "mencegah kontaminasi silang".

Saat akhirnya aku mendapat perawatan di kamar tamu, Sera sudah beristirahat di kamar utama, dengan Dante berjaga di sisinya, menolak pergi sedikit pun.

"Lukamu jelas terinfeksi," kata Dokter Agung sambil membersihkannya. "Isabel, seharusnya kamu memanggilku tadi malam. Menunggu selama ini sangat berbahaya."

"Aku tahu."

"Kamu harus istirahat setidaknya seminggu. Nggak boleh ada aktivitas berat. Kalau lukamu memburuk, kamu mungkin perlu operasi untuk membersihkannya."

Aku mengangguk, pandanganku melayang ke pintu yang terbuka setengah. Dokter Roman sedang menyampaikan hasil pemeriksaan pada Dante.

"Kondisi Bu Sera semuanya normal. Ini reaksi stres ringan. Aku sarankan satu minggu pemulihan di Swasi. Fasilitas mereka kelas dunia."

"Swasi?" Dante berpikir sejenak. "Kalau itu yang terbaik untuknya, kita pergi ke Swasi. Aku akan mengatur tim perawatan terbaik."

"Dante." Suara Sera yang manis dan lemah mengalun dari kamar utama. "Aku takut kalau pergi sendirian. Kamu mau ikut denganku?"

Aku melihat Dante berjalan ke arah kamar utama, lalu kudengar jawabannya yang lembut, "Tentu, Sayang. Aku nggak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian."

Dokter Agung merapikan tas medisnya, menatap wajahku yang pucat. "Isabel, kamu butuh istirahat total. Akan lebih baik kalau ada seseorang yang menjagamu."

"Aku akan mengaturnya," kataku.

Namun aku tahu, tidak akan ada siapa pun yang menjagaku.

Keesokan paginya, saat aku terbangun di kamar tamu, aku mendengar suara koper sedang dikemas di kamar utama.

Aku melihat Dante melipat pakaian Sera ke dalam koper.

"Kapan kalian berangkat?" tanyaku.

"Sore ini," jawabnya tanpa menoleh. "Jet pribadi sudah siap."

Sera keluar dari kamar utama mengenakan mantel kasmir putih milikku. Dia melihat ekspresiku dan tersenyum kecil, tampak malu-malu.

"Maaf, Isabel. Semua pakaianku sedang di cuci. Dante bilang kamu nggak keberatan."

Aku memang tidak keberatan. Aku tidak akan pernah memakai mantel itu lagi.

"Dante." Sera mendekat ke sisinya, menyelipkan tubuhnya ke lengannya. "Aku benar-benar nggak ingin merepotkan Isabel. Mungkin aku sebaiknya pergi sendiri saja?"

"Jangan konyol." Dante langsung mempererat pelukannya. "Pria-pria itu hampir membunuhmu. Kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi ke mana pun sendirian?"

Sekilas kemenangan melintas di mata Sera sebelum berganti dengan rasa syukur. Dia menatapku, suaranya manis semanis madu.

"Isabel, kamu setuju, 'kan? Dengan Dante di sisiku, aku nggak takut apa pun. Dia akan menangani semua masalah untukku, benar nggak?"

Mata birunya menyimpan kilatan menantang saat dia menunggu jawabanku.

Dante pun menatapku, sorot matanya penuh kelembutan dan pemujaan dan tak satu pun yang tertuju padaku.

Aku menatap pria yang dulu berkata akan mati demi diriku, kini siap meninggalkanku, terluka dan sendirian, demi perempuan lain.

"Benar," jawabku, suaraku tenang dan dingin.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 11

    Terakhir kali aku melihat berita tentang Dante, dia kembali bersama Sera.Kabarnya, setelah Sera dibebaskan dari penjara, dia tidak punya tempat tujuan dan akhirnya kembali ke sisi Dante.Namun, Dante hanya menyimpan kebencian padanya. Semua amarah dan dendamnya dilampiaskan pada Sera. Dipukuli, diperlakukan seperti benda.Sera yang awalnya hanya menanggung penderitaan dalam diam akhirnya meledak.Dia menusuk Dante. Namun, saat berusaha kabur, Dante berhasil menangkapnya. Dalam pergulatan itu, sebuah lilin terjatuh, dan seluruh rumah dilalap api.Aku menurunkan koran dan berjalan ke jendela panorama, memandang cakrawala kota kuno yang indah.Aku membayangkan adegannya. Di sebuah vila reyot, dua orang yang pernah memiliki segalanya saling mencabik dalam badai keputusasaan dan kebencian, lalu akhirnya binasa bersama.Sungguh ironis.Dulu, Dante pernah bilang Sera adalah "adik" yang harus dia lindungi.Dulu, Sera berperan sebagai korban polos sambil diam-diam menghancurkan hidupku.Sekara

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 10

    "Isabel, aku ingin kamu bertemu pengawal pribadimu yang baru."Ibuku membawaku masuk ke kasino barunya yang baru saja dibuka. Megah, mewah, berkilau dari segala sisi.Di hadapan kami berdiri seorang pria berumur tiga puluhan, bertubuh tinggi, bermata tajam, dengan raut khas Timur Tengah."Ini Elias Karim," Ibuku memperkenalkan. "Mantan intelijen, sekarang kepala keamanan keluarga kita. Dia yang akan bertanggung jawab atas keselamatan pribadimu selama kamu di Amca."Elias mengangguk kecil ke arahku. "Nona Isabel. Sebuah kehormatan."Bahasa inggrisnya beraksen asing, suaranya rendah dan mantap."Bu, apa aku benar-benar butuh pengawal?" tanyaku."Tentu saja," jawabnya serius. "Anjing gila bernama Dante itu masih terobsesi padamu. Kita nggak tahu apa yang bisa dia lakukan."Beberapa hari berikutnya, Elias selalu mengikutiku. Dia tidak hanya menjaga jarak dengan sopan, tetapi juga enak diajak bicara. Begitu profesional. Aku mendapati diriku menikmati percakapan kami. Ringan, setara, sesuatu

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 9

    Dua tahun kemudian.Aku memotong pendek rambutku. Rambut panjang yang dulu disukai Dante kini sudah tidak ada lagi. Aku telah menjadi rekan di salah satu firma hukum terbaik di Ivora.Saat aku meninggalkan kantor, resepsionis menyodorkan sebuah paket."Kiriman nggak dikenal lagi," bisiknya. "Ini yang ketiga bulan ini."Aku melirik alamat pengirimnya. Dari Kota Widja.Aku tidak perlu menebak siapa pengirimnya.Sesampainya di rumah, aku membuka paket itu. Di dalamnya ada setumpuk dokumen tebal dan sepucuk surat tulisan tangan.Aku membolak-balik berkasnya. Isinya merinci tentang bagaimana Keluarga Galang dihancurkan secara sistematis selama 18 bulan terakhir. Aset dibekukan, anggota inti ditangkap, kerajaan bisnis mereka hancur.Ada juga berkas dari penjara federal. Sera Galang, dijatuhi hukuman tiga tahun atas berbagai tindak kejahatan. Di foto tahanannya, tubuhnya kurus kering, kecantikan yang dulu menjadi senjatanya lenyap tanpa jejak.Aku membuka surat itu.[ Isabel, aku menghabiskan

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 8

    "Isabel, aku salah. Aku mengakui semuanya kutangani dengan buruk. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji, hal seperti ini nggak akan pernah terjadi lagi."Matanya berkaca-kaca. Dia tampak begitu tulus, begitu menyesal.Kalau dia melakukan ini tiga bulan lalu, mungkin aku akan luluh. Namun sekarang, yang kurasakan hanya kelelahan mendalam, kelelahan yang sudah sampai ke hatiku yang terdalam."Dante, tahu nggak bagian mana yang paling buruk?" Aku berjongkok agar sejajar dengannya. "Yang paling buruk adalah saat aku tahu kamu mengganti tatomu untuk perempuan lain, aku nggak marah. Aku nggak cemburu. Aku justru lega."Dia terdiam membeku."Aku bebas, Dante. Bebas dari rasa sakit karena saling mencintai tapi terus saling melukai."Aku berdiri dan berjalan ke arah ibuku."Ayo pergi.""Isabel!" Dante bangkit dengan tergesa, suaranya bercampur bingung dan marah. "Kita bersama selama tiga tahun! Apa kamu nggak merasakan apa pun? Gimana kamu bisa sekejam ini?"Aku berhenti dan menoleh.

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 7

    Dante mengurungku di sebuah vila di pulau yang mewah. Ada kolam renang, pantai pribadi, langasan helikopter, semua gambaran nyata tentang kemewahan dan kekuasaan.Namun, bagiku, tempat itu adalah penjara."Makanlah sesuatu." Dante masuk membawa nampan, bertingkah seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.Aku duduk di ranjang dan mengabaikannya."Isabel, kamu sudah nggak makan dua hari. Ini nggak baik untukmu.""Kamu peduli dengan kesehatanku?" Aku mencibir. "Di mana kamu waktu aku harus operasi?"Wajahnya meredup. "Isabel, biar aku jelaskan ....""Aku nggak mau dengar," kataku sambil memalingkan wajah. "Dante, kamu sudah membuat pilihanmu. Sekarang lepaskan aku dan kita bisa berpura-pura nggak pernah saling mengenal.""Jangan harap!" Dia mencengkeram bahuku. "Isabel, aku nggak akan pernah melepaskanmu! Kamu istriku dan kamu akan tetap di sisiku!""Aku bukan barangmu!""Tapi kamu istriku! Yang bersumpah di hadapan Tuhan!"Pertengkaran kami memanas sampai suara helikopter membelah udara.D

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 6

    Keesokan harinya.Dante berdiri di depan kerangka rumah yang hangus terbakar, menatap laporan forensik yang disodorkan seorang polisi kepadanya."Maaf, Pak Dante. Hasil DNA memastikan bahwa jenazah itu adalah istri Anda."Dia melempar laporan itu ke tanah dan berpaling."Omong kosong."Ini pasti salah satu permainan Isabel. Cara untuk menghukumnya, membuatnya merasa bersalah. Dia mengenal perempuan itu. Wanita keras kepala itu tidak mungkin mati semudah ini.Kembali ke kediaman keluarga, hal pertama yang dia lakukan adalah menekan nomor Isabel."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ...."Dia mencoba lagi. Pesan yang sama.Amarah membara di dadanya. Perempuan itu. Dia benar-benar berani menghilang begitu saja. Dia kira dia siapa? Apa dia pikir bisa pergi tanpa izinnya?"Tony!" teriaknya, memanggil anak buahnya."Bos.""Temukan Isabel. Periksa semua rekening bank, semua kartu kredit, semua catatan paspor. Semuanya!""Tapi Bos, laporan polisi ....""Aku bilang itu palsu!" Dante menghan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status