Share

Bab 3

Author: Echo
Hari ketiga setelah Dante pergi, aku tahu ada sesuatu yang benar-benar tidak beres.

Nyeri ringan di perutku berubah menjadi rasa sakit tajam yang terasa seperti dirobek. Setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang diputar di dalam tubuhku. Lebih parahnya lagi, aku mulai mengalami perdarahan yang datang dan pergi.

Pukul tiga dini hari, aku meringkuk di atas ranjang kamar tamu, keringat dari tubuhku merembes ke seprai yang kududuki. Gelombang demi gelombang rasa sakit menghantamku, membuatku sulit tetap sadar.

Dengan tangan gemetar, aku meraba ponsel dan menekan nomor darurat Dante, nomor yang dia sumpahkan akan selalu dia angkat, apa pun yang terjadi.

Telepon berdering lama sebelum akhirnya diangkat.

"Isabel?" Suaranya terdengar kesal. Di latar belakang, terdengar musik klasik lembut dan tawa ringan seorang perempuan. "Sekarang sudah jam tiga pagi di Widja. Ada apa?"

"Dante ...." Suaraku begitu lemah sampai aku sendiri terkejut. "Ada yang salah. Lukaku .... Darahku keluar banyak dan sakitnya ...."

"Isabel, dengarkan aku," potongnya tajam. "Aku sedang di tengah negosiasi penting. Bisakah kamu ...."

"Dante, sepertinya aku harus ke rumah sakit," kataku sambil menahan sakit, berusaha tidak terdengar putus asa. "Rasanya nggak normal dan ...."

"Isabel!" bentaknya. "Begitu aku nggak ada, kamu langsung kacau. Aku butuh pasangan, Isabel, bukan sesuatu yang rapuh dan gampang hancur."

Di latar belakang, aku mendengar suara manis Sera. "Dante, Dokter Harry sudah menunggu kita ...."

"Aku segera ke sana," sahutnya, lalu suaranya kembali dingin saat berbicara denganku. "Isabel, kalau ini benar-benar masalah serius, panggil ambulans. Aku akan kirim sopir. Tapi aku nggak bisa pergi sekarang. Urusan yang sedang kutangani ini lebih penting."

Sambungan terputus.

Aku menatap layar ponsel saat gelombang sakit berikutnya menghantam. Lebih penting? Lebih penting daripada nyawa istrinya?

Aku berusaha bangkit dari tempat tidur, mencoba mencapai ruang tamu untuk mengambil obat pereda nyeri. Namun, baru saja aku berdiri, rasa sakit yang hebat membuatku terjatuh keras ke lantai.

Lantainya dingin. Penglihatanku mulai kabur.

Dengan sisa tenaga terakhir, aku menekan 911.

Setelah itu, semuanya terasa kabur. Dalam keadaan setengah sadar, aku samar-samar mendengar suara sirene meraung, lalu aku merasa tubuhku diangkat dan diletakkan di atas tandu. Setelah beberapa waktu, cahaya putih menyilaukan yang ada di rumah sakit menyambutku.

"Perawat, siapkan USG."

Aku terbaring di atas brankar di IGD. Seorang dokter perempuan muda menggerakkan alat USG di atas perutku.

"Bu Isabel?" Dia menatap layar, lalu kembali menatapku, ekspresinya berubah serius. "Kita perlu bicara."

"Apa?"

"Kamu hamil. Sekitar enam atau tujuh minggu. Tapi ...." Dia berhenti sejenak. "Karena infeksi dan kehilangan darah, kondisi janinmu nggak stabil. Kami harus segera melakukan operasi untuk menangani infeksinya, tapi operasi ini membawa risiko besar bagi kehamilanmu."

Hamil?

Aku menatap langit-langit dengan kosong. Enam atau tujuh minggu lalu, itu terakhir kalinya Dante dan aku benar-benar bersama. Sebelum Sera datang. Sebelum semuanya hancur.

"Bu Isabel? Kamu dengar aku?" Suara dokter menarikku kembali. "Ini keadaan darurat. Kami butuh tanda tangan persetujuan operasi dari kamu atau suamimu. Kalau nggak dioperasi sekarang, kamu dan bayimu bisa meninggal."

"Aku ... aku harus menelepon suamiku."

Dokter itu mengangguk dan menyerahkan ponselku.

Aku menelepon nomor Dante lagi. Kali ini dia mengangkat dengan cepat.

"Isabel, aku sedang ...."

"Dante." Aku memotong ucapannya. "Aku di rumah sakit. Dokter bilang aku butuh operasi darurat. Mereka perlu tanda tanganmu."

Di seberang sana hening beberapa detik.

"Operasi? Operasi apa? Parah nggak?"

"Infeksinya lebih buruk dari yang kita kira dan ...." Aku menarik napas dalam-dalam. "Aku ham ...."

Sebelum sempat kuselesaikan, suara Dante terdengar tegas. "Aku akan pulang. Batalkan semuanya. Siapkan jet ...."

Tepat ketika secercah harapan menyala di dadaku, aku mendengar suaranya.

"Dante?" Nada Sera terdengar khawatir. "Ada apa? Wajahmu kelihatan tegang ...."

Nada suaranya langsung melunak. "Sera, ada sesuatu yang terjadi. Aku mungkin harus ...."

"Ini tentang Isabel ya?" Nada suaranya mengandung kejengkelan. "Ada apa lagi sekarang? Dante, kamu nggak bisa terus membiarkan dia menarikmu ke sana kemari. Dokter bilang pemulihanku butuh lingkungan yang stabil dan penuh dukungan. Kalau kamu pergi sekarang ...."

Suara Sera pecah. "Tadi malam aku mimpi buruk lagi, tentang suara tembakan itu. Kalau kamu nggak di sini bersamaku, aku nggak tahu harus gimana ...."

"Sayang, jangan menangis ...." Suara Dante penuh rasa iba.

Aku mendengar suara gesekan, sepertinya dia sedang menariknya ke dalam pelukan.

Beberapa saat kemudian, dia kembali ke telepon, suaranya dingin.

"Isabel, aku akan menyuruh pengacaraku mengirim surat kuasa ke rumah sakit. Kamu itu kuat, Isabel. Kamu bisa menghadapinya."

"Sekarang, Sera lebih membutuhkan aku," katanya tanpa sedikit pun ragu. Saat itu juga, dia sudah memilih.

Sambungan terputus.

Aku mencengkeram ponsel saat rasa sakit lain mencengkeram tubuhku. Dokter kembali dengan formulir persetujuan.

"Bu Isabel? Kapan suami Ibu akan tiba? Kami nggak bisa menunda operasi lebih lama."

Aku menatap wajahnya yang penuh kekhawatiran dan teringat suara lembut Dante saat menenangkan Sera.

Aku menggigit bibirku kuat-kuat dan menatap dokter itu tepat di mata. "Aku akan menandatanganinya sendiri."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 11

    Terakhir kali aku melihat berita tentang Dante, dia kembali bersama Sera.Kabarnya, setelah Sera dibebaskan dari penjara, dia tidak punya tempat tujuan dan akhirnya kembali ke sisi Dante.Namun, Dante hanya menyimpan kebencian padanya. Semua amarah dan dendamnya dilampiaskan pada Sera. Dipukuli, diperlakukan seperti benda.Sera yang awalnya hanya menanggung penderitaan dalam diam akhirnya meledak.Dia menusuk Dante. Namun, saat berusaha kabur, Dante berhasil menangkapnya. Dalam pergulatan itu, sebuah lilin terjatuh, dan seluruh rumah dilalap api.Aku menurunkan koran dan berjalan ke jendela panorama, memandang cakrawala kota kuno yang indah.Aku membayangkan adegannya. Di sebuah vila reyot, dua orang yang pernah memiliki segalanya saling mencabik dalam badai keputusasaan dan kebencian, lalu akhirnya binasa bersama.Sungguh ironis.Dulu, Dante pernah bilang Sera adalah "adik" yang harus dia lindungi.Dulu, Sera berperan sebagai korban polos sambil diam-diam menghancurkan hidupku.Sekara

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 10

    "Isabel, aku ingin kamu bertemu pengawal pribadimu yang baru."Ibuku membawaku masuk ke kasino barunya yang baru saja dibuka. Megah, mewah, berkilau dari segala sisi.Di hadapan kami berdiri seorang pria berumur tiga puluhan, bertubuh tinggi, bermata tajam, dengan raut khas Timur Tengah."Ini Elias Karim," Ibuku memperkenalkan. "Mantan intelijen, sekarang kepala keamanan keluarga kita. Dia yang akan bertanggung jawab atas keselamatan pribadimu selama kamu di Amca."Elias mengangguk kecil ke arahku. "Nona Isabel. Sebuah kehormatan."Bahasa inggrisnya beraksen asing, suaranya rendah dan mantap."Bu, apa aku benar-benar butuh pengawal?" tanyaku."Tentu saja," jawabnya serius. "Anjing gila bernama Dante itu masih terobsesi padamu. Kita nggak tahu apa yang bisa dia lakukan."Beberapa hari berikutnya, Elias selalu mengikutiku. Dia tidak hanya menjaga jarak dengan sopan, tetapi juga enak diajak bicara. Begitu profesional. Aku mendapati diriku menikmati percakapan kami. Ringan, setara, sesuatu

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 9

    Dua tahun kemudian.Aku memotong pendek rambutku. Rambut panjang yang dulu disukai Dante kini sudah tidak ada lagi. Aku telah menjadi rekan di salah satu firma hukum terbaik di Ivora.Saat aku meninggalkan kantor, resepsionis menyodorkan sebuah paket."Kiriman nggak dikenal lagi," bisiknya. "Ini yang ketiga bulan ini."Aku melirik alamat pengirimnya. Dari Kota Widja.Aku tidak perlu menebak siapa pengirimnya.Sesampainya di rumah, aku membuka paket itu. Di dalamnya ada setumpuk dokumen tebal dan sepucuk surat tulisan tangan.Aku membolak-balik berkasnya. Isinya merinci tentang bagaimana Keluarga Galang dihancurkan secara sistematis selama 18 bulan terakhir. Aset dibekukan, anggota inti ditangkap, kerajaan bisnis mereka hancur.Ada juga berkas dari penjara federal. Sera Galang, dijatuhi hukuman tiga tahun atas berbagai tindak kejahatan. Di foto tahanannya, tubuhnya kurus kering, kecantikan yang dulu menjadi senjatanya lenyap tanpa jejak.Aku membuka surat itu.[ Isabel, aku menghabiskan

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 8

    "Isabel, aku salah. Aku mengakui semuanya kutangani dengan buruk. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji, hal seperti ini nggak akan pernah terjadi lagi."Matanya berkaca-kaca. Dia tampak begitu tulus, begitu menyesal.Kalau dia melakukan ini tiga bulan lalu, mungkin aku akan luluh. Namun sekarang, yang kurasakan hanya kelelahan mendalam, kelelahan yang sudah sampai ke hatiku yang terdalam."Dante, tahu nggak bagian mana yang paling buruk?" Aku berjongkok agar sejajar dengannya. "Yang paling buruk adalah saat aku tahu kamu mengganti tatomu untuk perempuan lain, aku nggak marah. Aku nggak cemburu. Aku justru lega."Dia terdiam membeku."Aku bebas, Dante. Bebas dari rasa sakit karena saling mencintai tapi terus saling melukai."Aku berdiri dan berjalan ke arah ibuku."Ayo pergi.""Isabel!" Dante bangkit dengan tergesa, suaranya bercampur bingung dan marah. "Kita bersama selama tiga tahun! Apa kamu nggak merasakan apa pun? Gimana kamu bisa sekejam ini?"Aku berhenti dan menoleh.

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 7

    Dante mengurungku di sebuah vila di pulau yang mewah. Ada kolam renang, pantai pribadi, langasan helikopter, semua gambaran nyata tentang kemewahan dan kekuasaan.Namun, bagiku, tempat itu adalah penjara."Makanlah sesuatu." Dante masuk membawa nampan, bertingkah seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.Aku duduk di ranjang dan mengabaikannya."Isabel, kamu sudah nggak makan dua hari. Ini nggak baik untukmu.""Kamu peduli dengan kesehatanku?" Aku mencibir. "Di mana kamu waktu aku harus operasi?"Wajahnya meredup. "Isabel, biar aku jelaskan ....""Aku nggak mau dengar," kataku sambil memalingkan wajah. "Dante, kamu sudah membuat pilihanmu. Sekarang lepaskan aku dan kita bisa berpura-pura nggak pernah saling mengenal.""Jangan harap!" Dia mencengkeram bahuku. "Isabel, aku nggak akan pernah melepaskanmu! Kamu istriku dan kamu akan tetap di sisiku!""Aku bukan barangmu!""Tapi kamu istriku! Yang bersumpah di hadapan Tuhan!"Pertengkaran kami memanas sampai suara helikopter membelah udara.D

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 6

    Keesokan harinya.Dante berdiri di depan kerangka rumah yang hangus terbakar, menatap laporan forensik yang disodorkan seorang polisi kepadanya."Maaf, Pak Dante. Hasil DNA memastikan bahwa jenazah itu adalah istri Anda."Dia melempar laporan itu ke tanah dan berpaling."Omong kosong."Ini pasti salah satu permainan Isabel. Cara untuk menghukumnya, membuatnya merasa bersalah. Dia mengenal perempuan itu. Wanita keras kepala itu tidak mungkin mati semudah ini.Kembali ke kediaman keluarga, hal pertama yang dia lakukan adalah menekan nomor Isabel."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ...."Dia mencoba lagi. Pesan yang sama.Amarah membara di dadanya. Perempuan itu. Dia benar-benar berani menghilang begitu saja. Dia kira dia siapa? Apa dia pikir bisa pergi tanpa izinnya?"Tony!" teriaknya, memanggil anak buahnya."Bos.""Temukan Isabel. Periksa semua rekening bank, semua kartu kredit, semua catatan paspor. Semuanya!""Tapi Bos, laporan polisi ....""Aku bilang itu palsu!" Dante menghan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status