Share

Bab 4

Author: Echo
Operasinya berhasil. Infeksiku hilang ... begitu juga dengan bayiku ....

Aku menyimpan surat keterangan keguguran itu jauh di dalam berkas medis. Aku tidak ingin Dante tahu tentang kehidupan kecil yang sempat ada itu. Hal itu hanya akan membuatku terlihat lebih lemah di matanya dan kalaupun dia tahu, itu tidak akan mengubah apa pun.

Awalnya, Dante mengirim beberapa pesan.

[ Gimana keadaanmu? ]

[ Apa kata dokter? ]

[ Perlu aku atur sesuatu? ]

Aku tidak membalas satu pun. Bukan karena ingin bersikap kekanak-kanakan. Aku hanya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan.

Hari keempat, pesannya berubah.

[ Isabel, sikap diam kamu kekanak-kanakan. ]

Hari keenam.

[ Aku tahu kamu marah, tapi Sera benar-benar membutuhkan aku. Dia mimpi buruk lagi tadi malam. ]

Hari kedelapan.

[ Kamu harus belajar lebih memaafkan. Sera kehilangan kakaknya. Rasa sakitnya lebih besar daripada punyamu. ]

Aku menatap pesan itu dan hampir tertawa. Rasa sakitnya lebih besar? Aku kehilangan suamiku, anakku, dan seluruh keyakinanku pada pernikahan ini, tetapi di matanya, semua itu tidak ada artinya dibanding mimpi buruk Sera.

Hari kesepuluh, dokter mengizinkanku pulang. Aku mengirim pesan singkat pada Dante.

[ Jemput aku jam 2 siang hari ini. ]

Dia langsung membalas.

[ Oke. ]

Tepat pukul dua siang, Dante muncul di pintu kamar rumah sakitku. Dia mengenakan setelan biru tua yang rapi, tampak setampan dan seelegan biasanya. Namun, begitu melihatku, dia terkejut.

"Isabel, kamu kurus sekali."

Aku melirik pantulanku. Sepuluh hari, berat badanku turun hampir lima kilo. Tulang pipiku menonjol, pakaianku tampak kebesaran.

"Rumah sakit memang begitu," kataku dengan tenang sambil mengambil tasku. "Ayo pergi."

"Isabel." Dia meraih lenganku, tetapi aku menariknya perlahan. "Soal malam itu, aku minta maaf. Seharusnya aku ada untukmu."

"Nggak apa-apa," kataku sambil melangkah ke pintu. "Kamu benar. Aku kuat."

Dia mengikutiku, tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi akhirnya diam.

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Saat kami melewati jalan tempat aku diserang, aku melihat Dante melirikku dengan gugup. Aku tidak bereaksi apa pun. Isabel yang bisa hancur hanya karena sebuah kenangan telah mati di meja operasi itu.

"Ada rapat keluarga malam ini," katanya saat kami mendekati apartemen. "Ayahku ingin bertemu denganmu. Soal proyek pelabuhan Esara."

"Aku tahu," jawabku, mataku masih menatap ke arah jalanan di luar jendela.

"Isabel." Dia menghentikan mobil dan menoleh padaku. "Sera akan ikut rapat denganku."

Aku akhirnya menatapnya. "Dia bukan anggota keluarga."

"Tapi dia adik Martin. Ayahku ingin bertemu dengannya, mendengar tentang hari-hari terakhir kakaknya," katanya defensif. "Itu juga bagus untuk pemulihannya."

"Terserah kamu," kataku sambil turun dari mobil. "Aku akan menyiapkan laporannya."

Malam itu, pukul delapan, kami tiba di kediaman Keluarga Tanto. Mata tajam ayahnya yang sudah tua menyapu semua orang di meja panjang.

Dante duduk di sisi kanan ayahnya. Aku duduk di sebelah Dante dan Sera di sisi lainnya.

"Isabel." Ayah Dante membuka pembicaraan, "Katanya kamu sempat dirawat di rumah sakit. Nggak ada yang serius, 'kan?"

"Hanya luka lama yang kambuh. Sekarang sudah sembuh," jawabku.

"Bagus. Kalau begitu, kita langsung ke urusan bisnis." Dia melirik berkas di meja. "Gimana perkembangan proyek pelabuhan Esara?"

Aku menangani proyek itu selama enam bulan. Aku tahu setiap detailnya. Aku mulai melapor, menjabarkan perkembangannya, proyeksi keuntungan, dan kesepakatan kami dengan pemerintah kota.

Namun, di tengah laporan, Dante memotong pembicaraanku. "Ayah, terobosan kunci proyek ini datang dari bantuan Sera. Kakaknya, Martin, punya koneksi kuat di otoritas pelabuhan. Lewat Sera, kita bisa mengamankan izin-izin krusial itu."

Aku berhenti bicara, menatapnya tak percaya.

Sera menundukkan kepala dengan sikap rendah hati. "Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk Dante dan keluarga. Kakakku selalu bilang kami berutang budi pada Keluarga Tanto."

Sebelum aku sempat bicara, Dante melanjutkan, "Selain itu, Sera juga membantu kami terhubung dengan beberapa investor baru dalam beberapa bulan terakhir. Jaringannya di luar negeri sangat berguna."

Itu kebohongan besar.

Semua itu adalah pekerjaanku. Segala jerih payahku kini diklaim sebagai milik Sera.

Tatapan ayah Dante beralih kepadaku, matanya menegang. "Isabel, sebagai penasihat keluarga, sepertinya kamu kurang terlibat dalam urusan penting ini."

"Aku ...."

"Ayah, jangan salahkan Isabel," sela Dante. "Kondisinya lagi nggak baik. Sera yang menutup kekurangannya. Mungkin sudah waktunya kita mempertimbangkan kembali perannya."

Mempertimbangkan kembali perannya? Dia mau menyingkirkanku? Dia ingin menggantikanku dengan Sera?

Aku menyaksikan semuanya dengan ketenangan yang aneh. Saat itu aku akhirnya melihat Dante yang sebenarnya, pria yang mengkhianati istrinya demi cinta baru tanpa ragu, pria yang berbohong di depan keluarganya sendiri.

"Kalau begitu, lakukan saja sesuai keinginanmu," kataku pelan.

Saat kami meninggalkan kediaman, Dante mengatakan dia akan mengantar Sera pulang ke apartemennya.

"Kamu pulang duluan saja, Isabel," katanya tanpa menatapku. "Aku menyusul nanti."

Sera menggenggam lengannya, mereka berdua tampak seperti pasangan sungguhan.

Satu jam kemudian, aku berada di ruang kerja di rumah. Saat aku sedang merapikan berkas, ponselku bergetar.

Itu pesan dari Sera.

Isinya foto desain tato. Aku tahu foto apa itu. Itu adalah tato bergambar bunga mawar artistik yang melingkari sebuah nama.

Nama itu dulunya adalah namaku. Sekarang, dalam desain baru itu, namaku sudah diganti dengan nama Sera.

Di bawah foto ada satu baris teks.

[ Akan selesai besok. Terima kasih sudah mengalah, Isabel. ]

Aku menatap gambar itu, teringat saat Dante membuat tato tersebut. Itu ulang tahun pernikahan pertama kami. Dia bilang ingin mengukir namaku di atas jantungnya, menjadikanku bagian dari dirinya selamanya.

Sekarang, dia menghapus kata "selamanya" itu demi perempuan lain.

Aku mengirim pesan pada Dante.

[ Hubungan kita berakhir. ]
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 11

    Terakhir kali aku melihat berita tentang Dante, dia kembali bersama Sera.Kabarnya, setelah Sera dibebaskan dari penjara, dia tidak punya tempat tujuan dan akhirnya kembali ke sisi Dante.Namun, Dante hanya menyimpan kebencian padanya. Semua amarah dan dendamnya dilampiaskan pada Sera. Dipukuli, diperlakukan seperti benda.Sera yang awalnya hanya menanggung penderitaan dalam diam akhirnya meledak.Dia menusuk Dante. Namun, saat berusaha kabur, Dante berhasil menangkapnya. Dalam pergulatan itu, sebuah lilin terjatuh, dan seluruh rumah dilalap api.Aku menurunkan koran dan berjalan ke jendela panorama, memandang cakrawala kota kuno yang indah.Aku membayangkan adegannya. Di sebuah vila reyot, dua orang yang pernah memiliki segalanya saling mencabik dalam badai keputusasaan dan kebencian, lalu akhirnya binasa bersama.Sungguh ironis.Dulu, Dante pernah bilang Sera adalah "adik" yang harus dia lindungi.Dulu, Sera berperan sebagai korban polos sambil diam-diam menghancurkan hidupku.Sekara

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 10

    "Isabel, aku ingin kamu bertemu pengawal pribadimu yang baru."Ibuku membawaku masuk ke kasino barunya yang baru saja dibuka. Megah, mewah, berkilau dari segala sisi.Di hadapan kami berdiri seorang pria berumur tiga puluhan, bertubuh tinggi, bermata tajam, dengan raut khas Timur Tengah."Ini Elias Karim," Ibuku memperkenalkan. "Mantan intelijen, sekarang kepala keamanan keluarga kita. Dia yang akan bertanggung jawab atas keselamatan pribadimu selama kamu di Amca."Elias mengangguk kecil ke arahku. "Nona Isabel. Sebuah kehormatan."Bahasa inggrisnya beraksen asing, suaranya rendah dan mantap."Bu, apa aku benar-benar butuh pengawal?" tanyaku."Tentu saja," jawabnya serius. "Anjing gila bernama Dante itu masih terobsesi padamu. Kita nggak tahu apa yang bisa dia lakukan."Beberapa hari berikutnya, Elias selalu mengikutiku. Dia tidak hanya menjaga jarak dengan sopan, tetapi juga enak diajak bicara. Begitu profesional. Aku mendapati diriku menikmati percakapan kami. Ringan, setara, sesuatu

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 9

    Dua tahun kemudian.Aku memotong pendek rambutku. Rambut panjang yang dulu disukai Dante kini sudah tidak ada lagi. Aku telah menjadi rekan di salah satu firma hukum terbaik di Ivora.Saat aku meninggalkan kantor, resepsionis menyodorkan sebuah paket."Kiriman nggak dikenal lagi," bisiknya. "Ini yang ketiga bulan ini."Aku melirik alamat pengirimnya. Dari Kota Widja.Aku tidak perlu menebak siapa pengirimnya.Sesampainya di rumah, aku membuka paket itu. Di dalamnya ada setumpuk dokumen tebal dan sepucuk surat tulisan tangan.Aku membolak-balik berkasnya. Isinya merinci tentang bagaimana Keluarga Galang dihancurkan secara sistematis selama 18 bulan terakhir. Aset dibekukan, anggota inti ditangkap, kerajaan bisnis mereka hancur.Ada juga berkas dari penjara federal. Sera Galang, dijatuhi hukuman tiga tahun atas berbagai tindak kejahatan. Di foto tahanannya, tubuhnya kurus kering, kecantikan yang dulu menjadi senjatanya lenyap tanpa jejak.Aku membuka surat itu.[ Isabel, aku menghabiskan

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 8

    "Isabel, aku salah. Aku mengakui semuanya kutangani dengan buruk. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji, hal seperti ini nggak akan pernah terjadi lagi."Matanya berkaca-kaca. Dia tampak begitu tulus, begitu menyesal.Kalau dia melakukan ini tiga bulan lalu, mungkin aku akan luluh. Namun sekarang, yang kurasakan hanya kelelahan mendalam, kelelahan yang sudah sampai ke hatiku yang terdalam."Dante, tahu nggak bagian mana yang paling buruk?" Aku berjongkok agar sejajar dengannya. "Yang paling buruk adalah saat aku tahu kamu mengganti tatomu untuk perempuan lain, aku nggak marah. Aku nggak cemburu. Aku justru lega."Dia terdiam membeku."Aku bebas, Dante. Bebas dari rasa sakit karena saling mencintai tapi terus saling melukai."Aku berdiri dan berjalan ke arah ibuku."Ayo pergi.""Isabel!" Dante bangkit dengan tergesa, suaranya bercampur bingung dan marah. "Kita bersama selama tiga tahun! Apa kamu nggak merasakan apa pun? Gimana kamu bisa sekejam ini?"Aku berhenti dan menoleh.

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 7

    Dante mengurungku di sebuah vila di pulau yang mewah. Ada kolam renang, pantai pribadi, langasan helikopter, semua gambaran nyata tentang kemewahan dan kekuasaan.Namun, bagiku, tempat itu adalah penjara."Makanlah sesuatu." Dante masuk membawa nampan, bertingkah seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.Aku duduk di ranjang dan mengabaikannya."Isabel, kamu sudah nggak makan dua hari. Ini nggak baik untukmu.""Kamu peduli dengan kesehatanku?" Aku mencibir. "Di mana kamu waktu aku harus operasi?"Wajahnya meredup. "Isabel, biar aku jelaskan ....""Aku nggak mau dengar," kataku sambil memalingkan wajah. "Dante, kamu sudah membuat pilihanmu. Sekarang lepaskan aku dan kita bisa berpura-pura nggak pernah saling mengenal.""Jangan harap!" Dia mencengkeram bahuku. "Isabel, aku nggak akan pernah melepaskanmu! Kamu istriku dan kamu akan tetap di sisiku!""Aku bukan barangmu!""Tapi kamu istriku! Yang bersumpah di hadapan Tuhan!"Pertengkaran kami memanas sampai suara helikopter membelah udara.D

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 6

    Keesokan harinya.Dante berdiri di depan kerangka rumah yang hangus terbakar, menatap laporan forensik yang disodorkan seorang polisi kepadanya."Maaf, Pak Dante. Hasil DNA memastikan bahwa jenazah itu adalah istri Anda."Dia melempar laporan itu ke tanah dan berpaling."Omong kosong."Ini pasti salah satu permainan Isabel. Cara untuk menghukumnya, membuatnya merasa bersalah. Dia mengenal perempuan itu. Wanita keras kepala itu tidak mungkin mati semudah ini.Kembali ke kediaman keluarga, hal pertama yang dia lakukan adalah menekan nomor Isabel."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ...."Dia mencoba lagi. Pesan yang sama.Amarah membara di dadanya. Perempuan itu. Dia benar-benar berani menghilang begitu saja. Dia kira dia siapa? Apa dia pikir bisa pergi tanpa izinnya?"Tony!" teriaknya, memanggil anak buahnya."Bos.""Temukan Isabel. Periksa semua rekening bank, semua kartu kredit, semua catatan paspor. Semuanya!""Tapi Bos, laporan polisi ....""Aku bilang itu palsu!" Dante menghan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status