Share

Istri yang Dibiarkannya Sekarat
Istri yang Dibiarkannya Sekarat
Author: Echo

Bab 1

Author: Echo
Aku hampir kehabisan darah akibat luka tusukan ketika Dante dan "adik perempuannya", Sera, kebetulan melintas dengan mobil. Aku berteriak minta tolong, tetapi dia hanya menatapku lalu berkata dengan dingin, "Biarkan saja dia. Dia bukan siapa-siapa."

Di detik itu, ada sesuatu di dalam diriku yang mati. Aku tahu aku harus menjauh darinya, menjauh dari Keluarga Tanto.

"Tolong! Dante!"

Darah mengucur deras dari luka sobekan di bahuku, suaraku menggema di gang sempit yang diguyur hujan. Tiga pria bertopeng baru saja menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkanku tergeletak di atas aspal dingin. Rasa sakitnya begitu tajam sampai aku hampir tak bisa bernapas.

Kemudian, aku mendengar deruan mesin yang begitu kukenal.

Maserati hitam milik Dante melambat saat melewati gang itu, jendelanya terbuka setengah. Dengan sisa tenaga terakhir, aku melambaikan tangan.

"Dante! Ini aku! Isabel!"

Mobil itu berhenti beberapa detik.

Aku bisa melihat rambut pirang panjang di kursi penumpang, Sera Galang. Dia mencengkeram lengan Dante, duduk dengan nyaman.

"Sepertinya aku dengar ada yang minta tolong ...." ucap Sera.

"Dante, aku takut," bisiknya, suaranya bergetar. "Gimana kalau mereka masih ada di sekitar sini?"

Dante melirik ke arahku, lalu pandangannya langsung kembali padanya.

"Cuma orang nggak penting. Jangan takut, aku di sini," katanya sambil meremas tangan Sera. "Aku nggak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."

Mesin kembali berderu dan mobil itu pun menghilang di tikungan.

Aku memejamkan mata, membiarkan hujan membasuh luka-lukaku.

Lima belas menit kemudian, Marco menemukanku. Dia teman lama semasa kuliahku, sekarang dokter IGD.

"Ya Tuhan, Isabel! Siapa yang melakukan ini padamu?" Marco memeriksa lukaku dengan cepat. "Kita harus membawamu ke rumah sakit, sekarang."

"Nggak," kataku sambil menahan nyeri. "Antar aku pulang saja. Dokter keluarga yang akan menangani."

Dua jam kemudian, aku mendorong pintu apartemen kami hingga terbuka.

Lampu gantung kristal di ruang tamu memancarkan cahaya hangat. Di sofa, Dante sedang memeluk Sera dengan erat. Dia mengenakan gaun tipis, lekuk tubuhnya yang lembut menempel pada Dante, tetapi seolah-olah tak ada yang merasa itu aneh.

"Isabel?" Dante menoleh, alisnya berkerut. "Kenapa kamu pulang selarut ini? Dan kenapa kamu basah kuyup?"

Aku menunduk melihat diriku sendiri, mantelku ternoda oleh campuran hujan dan darah, wajahku pucat bagai hantu.

"Cuma ketemu sedikit masalah," jawabku datar, lalu langsung berjalan ke ruang keamanan.

"Masalah apa?"

Aku tidak menjawab. Aku justru memutar rekaman CCTV dari jalan. Di layar, terlihat jelas seluruh kejadian, termasuk momen ketika mobil Dante melintas begitu saja di depanku.

"Isabel, apa yang kamu lakukan?" Suara Dante tajam, tak sabar. "Sera hampir terbunuh, dan kamu malah sibuk dengan rekaman keamanan alih-alih memastikan keadaannya?"

Aku berbalik menghadap mereka. Sera menatapku dengan mata biru polos itu, air matanya menggenang.

"Aku minta maaf, Isabel," katanya lirih. "Akulah yang menyebabkan masalah untuk keluarga ini. Pria-pria itu ... dari Keluarga Kastelo. Mereka mengincarku."

"Nggak apa-apa," kataku, suaraku tenang dengan cara yang bahkan membuatku sendiri terkejut. "Yang penting kamu selamat."

Dante mengembuskan napas, menariknya lebih dekat lagi. "Isabel, Sera nggak boleh sendirian malam ini. Mereka bisa saja kembali."

"Kamu mau dia menginap?"

"Iya." Dante menatapku, ada harapan aneh di matanya. "Dia pakai kamar utama. Lebih besar, lebih aman. Kita pakai kamar tamu."

Selama tiga tahun, tak seorang pun pernah menginjakkan kaki di kamar utama kami. Itu kamar kami.

"Tentu." Aku mengangguk. "Aku ambilkan seprai bersih."

Dante jelas terkejut aku menyetujuinya semudah itu. Keterkejutannya cepat berubah menjadi kepuasan.

"Kamu begitu pengertian, Isabel."

Aku masuk ke kamar dan mulai berkemas. Setiap potong pakaian, setiap foto, kutata dengan hati-hati ke dalam koper.

"Butuh bantuan?" Dante muncul di ambang pintu.

"Nggak," kataku tanpa menoleh, terus mengumpulkan perhiasanku dari meja rias.

"Isabel," katanya, tak menyadari bahwa aku mengemas lebih dari sekadar baju tidur. "Kamu tahu kakaknya menitipkannya padaku. Kakaknya adalah sahabat terbaikku. Aku harus melindunginya."

Tanganku berhenti sesaat.

"Aku percaya padamu, Dante," kataku dengan nada datar, seolah-olah sedang membahas cuaca. "Lagian, kamu sendiri yang bilang Keluarga Galang akan selalu jadi tanggung jawabmu, 'kan?"

Wajah Dante menegang. Dia tampak tidak sepenuhnya senang dengan keikhlasanku.

Setelah hening cukup lama, akhirnya dia mengangguk, menarik Sera lebih dekat seakan-akan ingin menyakitiku. "Benar. Aku sudah janji pada Martin akan menjaga adiknya seperti adikku sendiri."

Aku mengambil baju tidurku dan melangkah menuju kamar tamu.

"Selamat malam."

Malam itu, Dante tidak pernah masuk ke kamarku.

Aku pun mengirim pesan pada ibuku.

[ Ibu, aku mau pulang. ]
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 11

    Terakhir kali aku melihat berita tentang Dante, dia kembali bersama Sera.Kabarnya, setelah Sera dibebaskan dari penjara, dia tidak punya tempat tujuan dan akhirnya kembali ke sisi Dante.Namun, Dante hanya menyimpan kebencian padanya. Semua amarah dan dendamnya dilampiaskan pada Sera. Dipukuli, diperlakukan seperti benda.Sera yang awalnya hanya menanggung penderitaan dalam diam akhirnya meledak.Dia menusuk Dante. Namun, saat berusaha kabur, Dante berhasil menangkapnya. Dalam pergulatan itu, sebuah lilin terjatuh, dan seluruh rumah dilalap api.Aku menurunkan koran dan berjalan ke jendela panorama, memandang cakrawala kota kuno yang indah.Aku membayangkan adegannya. Di sebuah vila reyot, dua orang yang pernah memiliki segalanya saling mencabik dalam badai keputusasaan dan kebencian, lalu akhirnya binasa bersama.Sungguh ironis.Dulu, Dante pernah bilang Sera adalah "adik" yang harus dia lindungi.Dulu, Sera berperan sebagai korban polos sambil diam-diam menghancurkan hidupku.Sekara

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 10

    "Isabel, aku ingin kamu bertemu pengawal pribadimu yang baru."Ibuku membawaku masuk ke kasino barunya yang baru saja dibuka. Megah, mewah, berkilau dari segala sisi.Di hadapan kami berdiri seorang pria berumur tiga puluhan, bertubuh tinggi, bermata tajam, dengan raut khas Timur Tengah."Ini Elias Karim," Ibuku memperkenalkan. "Mantan intelijen, sekarang kepala keamanan keluarga kita. Dia yang akan bertanggung jawab atas keselamatan pribadimu selama kamu di Amca."Elias mengangguk kecil ke arahku. "Nona Isabel. Sebuah kehormatan."Bahasa inggrisnya beraksen asing, suaranya rendah dan mantap."Bu, apa aku benar-benar butuh pengawal?" tanyaku."Tentu saja," jawabnya serius. "Anjing gila bernama Dante itu masih terobsesi padamu. Kita nggak tahu apa yang bisa dia lakukan."Beberapa hari berikutnya, Elias selalu mengikutiku. Dia tidak hanya menjaga jarak dengan sopan, tetapi juga enak diajak bicara. Begitu profesional. Aku mendapati diriku menikmati percakapan kami. Ringan, setara, sesuatu

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 9

    Dua tahun kemudian.Aku memotong pendek rambutku. Rambut panjang yang dulu disukai Dante kini sudah tidak ada lagi. Aku telah menjadi rekan di salah satu firma hukum terbaik di Ivora.Saat aku meninggalkan kantor, resepsionis menyodorkan sebuah paket."Kiriman nggak dikenal lagi," bisiknya. "Ini yang ketiga bulan ini."Aku melirik alamat pengirimnya. Dari Kota Widja.Aku tidak perlu menebak siapa pengirimnya.Sesampainya di rumah, aku membuka paket itu. Di dalamnya ada setumpuk dokumen tebal dan sepucuk surat tulisan tangan.Aku membolak-balik berkasnya. Isinya merinci tentang bagaimana Keluarga Galang dihancurkan secara sistematis selama 18 bulan terakhir. Aset dibekukan, anggota inti ditangkap, kerajaan bisnis mereka hancur.Ada juga berkas dari penjara federal. Sera Galang, dijatuhi hukuman tiga tahun atas berbagai tindak kejahatan. Di foto tahanannya, tubuhnya kurus kering, kecantikan yang dulu menjadi senjatanya lenyap tanpa jejak.Aku membuka surat itu.[ Isabel, aku menghabiskan

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 8

    "Isabel, aku salah. Aku mengakui semuanya kutangani dengan buruk. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji, hal seperti ini nggak akan pernah terjadi lagi."Matanya berkaca-kaca. Dia tampak begitu tulus, begitu menyesal.Kalau dia melakukan ini tiga bulan lalu, mungkin aku akan luluh. Namun sekarang, yang kurasakan hanya kelelahan mendalam, kelelahan yang sudah sampai ke hatiku yang terdalam."Dante, tahu nggak bagian mana yang paling buruk?" Aku berjongkok agar sejajar dengannya. "Yang paling buruk adalah saat aku tahu kamu mengganti tatomu untuk perempuan lain, aku nggak marah. Aku nggak cemburu. Aku justru lega."Dia terdiam membeku."Aku bebas, Dante. Bebas dari rasa sakit karena saling mencintai tapi terus saling melukai."Aku berdiri dan berjalan ke arah ibuku."Ayo pergi.""Isabel!" Dante bangkit dengan tergesa, suaranya bercampur bingung dan marah. "Kita bersama selama tiga tahun! Apa kamu nggak merasakan apa pun? Gimana kamu bisa sekejam ini?"Aku berhenti dan menoleh.

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 7

    Dante mengurungku di sebuah vila di pulau yang mewah. Ada kolam renang, pantai pribadi, langasan helikopter, semua gambaran nyata tentang kemewahan dan kekuasaan.Namun, bagiku, tempat itu adalah penjara."Makanlah sesuatu." Dante masuk membawa nampan, bertingkah seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.Aku duduk di ranjang dan mengabaikannya."Isabel, kamu sudah nggak makan dua hari. Ini nggak baik untukmu.""Kamu peduli dengan kesehatanku?" Aku mencibir. "Di mana kamu waktu aku harus operasi?"Wajahnya meredup. "Isabel, biar aku jelaskan ....""Aku nggak mau dengar," kataku sambil memalingkan wajah. "Dante, kamu sudah membuat pilihanmu. Sekarang lepaskan aku dan kita bisa berpura-pura nggak pernah saling mengenal.""Jangan harap!" Dia mencengkeram bahuku. "Isabel, aku nggak akan pernah melepaskanmu! Kamu istriku dan kamu akan tetap di sisiku!""Aku bukan barangmu!""Tapi kamu istriku! Yang bersumpah di hadapan Tuhan!"Pertengkaran kami memanas sampai suara helikopter membelah udara.D

  • Istri yang Dibiarkannya Sekarat   Bab 6

    Keesokan harinya.Dante berdiri di depan kerangka rumah yang hangus terbakar, menatap laporan forensik yang disodorkan seorang polisi kepadanya."Maaf, Pak Dante. Hasil DNA memastikan bahwa jenazah itu adalah istri Anda."Dia melempar laporan itu ke tanah dan berpaling."Omong kosong."Ini pasti salah satu permainan Isabel. Cara untuk menghukumnya, membuatnya merasa bersalah. Dia mengenal perempuan itu. Wanita keras kepala itu tidak mungkin mati semudah ini.Kembali ke kediaman keluarga, hal pertama yang dia lakukan adalah menekan nomor Isabel."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ...."Dia mencoba lagi. Pesan yang sama.Amarah membara di dadanya. Perempuan itu. Dia benar-benar berani menghilang begitu saja. Dia kira dia siapa? Apa dia pikir bisa pergi tanpa izinnya?"Tony!" teriaknya, memanggil anak buahnya."Bos.""Temukan Isabel. Periksa semua rekening bank, semua kartu kredit, semua catatan paspor. Semuanya!""Tapi Bos, laporan polisi ....""Aku bilang itu palsu!" Dante menghan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status