LOGIN
Terakhir kali aku melihat berita tentang Dante, dia kembali bersama Sera.Kabarnya, setelah Sera dibebaskan dari penjara, dia tidak punya tempat tujuan dan akhirnya kembali ke sisi Dante.Namun, Dante hanya menyimpan kebencian padanya. Semua amarah dan dendamnya dilampiaskan pada Sera. Dipukuli, diperlakukan seperti benda.Sera yang awalnya hanya menanggung penderitaan dalam diam akhirnya meledak.Dia menusuk Dante. Namun, saat berusaha kabur, Dante berhasil menangkapnya. Dalam pergulatan itu, sebuah lilin terjatuh, dan seluruh rumah dilalap api.Aku menurunkan koran dan berjalan ke jendela panorama, memandang cakrawala kota kuno yang indah.Aku membayangkan adegannya. Di sebuah vila reyot, dua orang yang pernah memiliki segalanya saling mencabik dalam badai keputusasaan dan kebencian, lalu akhirnya binasa bersama.Sungguh ironis.Dulu, Dante pernah bilang Sera adalah "adik" yang harus dia lindungi.Dulu, Sera berperan sebagai korban polos sambil diam-diam menghancurkan hidupku.Sekara
"Isabel, aku ingin kamu bertemu pengawal pribadimu yang baru."Ibuku membawaku masuk ke kasino barunya yang baru saja dibuka. Megah, mewah, berkilau dari segala sisi.Di hadapan kami berdiri seorang pria berumur tiga puluhan, bertubuh tinggi, bermata tajam, dengan raut khas Timur Tengah."Ini Elias Karim," Ibuku memperkenalkan. "Mantan intelijen, sekarang kepala keamanan keluarga kita. Dia yang akan bertanggung jawab atas keselamatan pribadimu selama kamu di Amca."Elias mengangguk kecil ke arahku. "Nona Isabel. Sebuah kehormatan."Bahasa inggrisnya beraksen asing, suaranya rendah dan mantap."Bu, apa aku benar-benar butuh pengawal?" tanyaku."Tentu saja," jawabnya serius. "Anjing gila bernama Dante itu masih terobsesi padamu. Kita nggak tahu apa yang bisa dia lakukan."Beberapa hari berikutnya, Elias selalu mengikutiku. Dia tidak hanya menjaga jarak dengan sopan, tetapi juga enak diajak bicara. Begitu profesional. Aku mendapati diriku menikmati percakapan kami. Ringan, setara, sesuatu
Dua tahun kemudian.Aku memotong pendek rambutku. Rambut panjang yang dulu disukai Dante kini sudah tidak ada lagi. Aku telah menjadi rekan di salah satu firma hukum terbaik di Ivora.Saat aku meninggalkan kantor, resepsionis menyodorkan sebuah paket."Kiriman nggak dikenal lagi," bisiknya. "Ini yang ketiga bulan ini."Aku melirik alamat pengirimnya. Dari Kota Widja.Aku tidak perlu menebak siapa pengirimnya.Sesampainya di rumah, aku membuka paket itu. Di dalamnya ada setumpuk dokumen tebal dan sepucuk surat tulisan tangan.Aku membolak-balik berkasnya. Isinya merinci tentang bagaimana Keluarga Galang dihancurkan secara sistematis selama 18 bulan terakhir. Aset dibekukan, anggota inti ditangkap, kerajaan bisnis mereka hancur.Ada juga berkas dari penjara federal. Sera Galang, dijatuhi hukuman tiga tahun atas berbagai tindak kejahatan. Di foto tahanannya, tubuhnya kurus kering, kecantikan yang dulu menjadi senjatanya lenyap tanpa jejak.Aku membuka surat itu.[ Isabel, aku menghabiskan
"Isabel, aku salah. Aku mengakui semuanya kutangani dengan buruk. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji, hal seperti ini nggak akan pernah terjadi lagi."Matanya berkaca-kaca. Dia tampak begitu tulus, begitu menyesal.Kalau dia melakukan ini tiga bulan lalu, mungkin aku akan luluh. Namun sekarang, yang kurasakan hanya kelelahan mendalam, kelelahan yang sudah sampai ke hatiku yang terdalam."Dante, tahu nggak bagian mana yang paling buruk?" Aku berjongkok agar sejajar dengannya. "Yang paling buruk adalah saat aku tahu kamu mengganti tatomu untuk perempuan lain, aku nggak marah. Aku nggak cemburu. Aku justru lega."Dia terdiam membeku."Aku bebas, Dante. Bebas dari rasa sakit karena saling mencintai tapi terus saling melukai."Aku berdiri dan berjalan ke arah ibuku."Ayo pergi.""Isabel!" Dante bangkit dengan tergesa, suaranya bercampur bingung dan marah. "Kita bersama selama tiga tahun! Apa kamu nggak merasakan apa pun? Gimana kamu bisa sekejam ini?"Aku berhenti dan menoleh.
Dante mengurungku di sebuah vila di pulau yang mewah. Ada kolam renang, pantai pribadi, langasan helikopter, semua gambaran nyata tentang kemewahan dan kekuasaan.Namun, bagiku, tempat itu adalah penjara."Makanlah sesuatu." Dante masuk membawa nampan, bertingkah seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.Aku duduk di ranjang dan mengabaikannya."Isabel, kamu sudah nggak makan dua hari. Ini nggak baik untukmu.""Kamu peduli dengan kesehatanku?" Aku mencibir. "Di mana kamu waktu aku harus operasi?"Wajahnya meredup. "Isabel, biar aku jelaskan ....""Aku nggak mau dengar," kataku sambil memalingkan wajah. "Dante, kamu sudah membuat pilihanmu. Sekarang lepaskan aku dan kita bisa berpura-pura nggak pernah saling mengenal.""Jangan harap!" Dia mencengkeram bahuku. "Isabel, aku nggak akan pernah melepaskanmu! Kamu istriku dan kamu akan tetap di sisiku!""Aku bukan barangmu!""Tapi kamu istriku! Yang bersumpah di hadapan Tuhan!"Pertengkaran kami memanas sampai suara helikopter membelah udara.D
Keesokan harinya.Dante berdiri di depan kerangka rumah yang hangus terbakar, menatap laporan forensik yang disodorkan seorang polisi kepadanya."Maaf, Pak Dante. Hasil DNA memastikan bahwa jenazah itu adalah istri Anda."Dia melempar laporan itu ke tanah dan berpaling."Omong kosong."Ini pasti salah satu permainan Isabel. Cara untuk menghukumnya, membuatnya merasa bersalah. Dia mengenal perempuan itu. Wanita keras kepala itu tidak mungkin mati semudah ini.Kembali ke kediaman keluarga, hal pertama yang dia lakukan adalah menekan nomor Isabel."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ...."Dia mencoba lagi. Pesan yang sama.Amarah membara di dadanya. Perempuan itu. Dia benar-benar berani menghilang begitu saja. Dia kira dia siapa? Apa dia pikir bisa pergi tanpa izinnya?"Tony!" teriaknya, memanggil anak buahnya."Bos.""Temukan Isabel. Periksa semua rekening bank, semua kartu kredit, semua catatan paspor. Semuanya!""Tapi Bos, laporan polisi ....""Aku bilang itu palsu!" Dante menghan
Operasinya berhasil. Infeksiku hilang ... begitu juga dengan bayiku ....Aku menyimpan surat keterangan keguguran itu jauh di dalam berkas medis. Aku tidak ingin Dante tahu tentang kehidupan kecil yang sempat ada itu. Hal itu hanya akan membuatku terlihat lebih lemah di matanya dan kalaupun dia tahu
Hari ketiga setelah Dante pergi, aku tahu ada sesuatu yang benar-benar tidak beres.Nyeri ringan di perutku berubah menjadi rasa sakit tajam yang terasa seperti dirobek. Setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang diputar di dalam tubuhku. Lebih parahnya lagi, aku mulai mengalami perdarahan yang
Pukul empat pagi, rasa nyeri yang tajam membuatku terbangun dari tidur ringan.Luka di bahuku terasa seperti terbakar api, setiap tarikan napas terasa merobek otot. Aku meringkuk di ranjang tunggal kamar tamu, bantalku basah oleh keringat dingin. Tubuhku lemas karena kehilangan banyak darah, dan luk
Pukul tiga pagi. Aku duduk sendirian di rumah kami. Tidak, itu rumah Dante. Sejak detik aku mengirim pesan itu, tempat ini bukanlah milikku lagi.Dia tidak membalas. Mungkin dia sedang bersama Sera, membahas detail tato barunya, atau merencanakan bagaimana mengumumkan "pengunduran diriku" pada kelua







