LOGIN
"Kenapa bukan kamu aja yang mati!”
Teriaknya semakin kencang, tidak peduli dengan para pelayat yang menatap iba pada seorang gadis yang sedari tadi terduduk diam dengan tangis tanpa suara. Aira duduk membisu. Ibunya menyalahkannya atas kematian kembarannya, Lyra. Ibunya mendorong bahu Aira yang diam. "Ini semua gara-gara kamu! Seharusnya kamu yang mati, bukan anakku!" teriak Indah kejam. Wanita ini bahkan mendorong Aira hingga terjengkang. "Mah... jangan begini. Apa kata orang yang dengar nantinya?" Ahmad, sang suami, masih berusaha menenangkan istrinya. Aira meringis. Luka di telapak tangannya terasa semakin perih saat tanah basah masuk ke dalam lukanya hingga kembali berdarah. "Maaf, maafkan Aira." "Berhenti meminta maaf! Dasar anak sial!" Aira membeku. Bahkan ibunya sama sekali tidak khawatir dengan luka-luka di tubuhnya. Lagi-lagi, Aira hanya bisa meminta maaf. Ia tahu sang ibu sangat membencinya sedari dulu. Bagai permata dan batu kerikil, Aira bagi ibunya hanyalah batu kerikil yang tidak berguna dan selalu ingin ia singkirkan, berbeda dengan Lyra yang seperti permata. Dia selalu disayangi, dipuja, dan dibanggakan. Yang ia ingat, orang mengatakan kalau dia adalah anak pembawa sial. Keadaan diperparah waktu kecil, Aira sering sakit-sakitan dan sangat rewel. Ditambah mertua yang selalu menyalahkannya atas Aira yang selalu menangis, membuatnya tega menyakiti anaknya itu sampai hampir meregang nyawa. Hal itu membuat ibu mertuanya melaporkannya pada polisi hingga Indah ditangkap. Tapi dia hanya mendapat pengobatan karena mengenai kejiwaan, dan tiga bulan kemudian bisa keluar, dengan syarat dia tidak boleh menemui kedua putrinya hingga berumur lima tahun. "Dasar anak sial! Anak tak berguna! Kamu harus bertanggung jawab atas ini semua!" bentak Indah lagi. Kali ini rambut Aira yang menjadi sasaran. Tarikan kuat dari mamanya seakan mampu mengoyak kulit kepala Aira. Bahkan perban di pelipisnya ikut lepas hingga tetesan darah keluar di balik jahitan lukanya. Aira mencoba melepaskan tangan mamanya yang masih terus menjambaknya. "Ampun, Ma! Sakit... Maafkan Aira." ucap Aira, sudah tak tahan lagi. Seketika air matanya menetes dan berlomba-lomba keluar. Sakit di tubuhnya tak sebanding dengan perlakuan dari mamanya yang terus menyalahkannya. "Maaf? Kamu pikir dengan kamu minta maaf anakku kembali, hah!" Indah masih tidak mau melepaskan tarikannya, walau darah terus menetes hingga membasahi wajah Aira. Membuat Ahmad yang sedari tadi melerai semakin kalang kabut. Beberapa orang mencoba melerai hingga Indah akhirnya melepaskan Aira. “Membunuh anakmu yang satu lagi tidak membangunkan anak kesayanganmu.” Suara itu nyaring, semua orang mendongak mengarah suara yang melerai ibu menghukum anaknya. “Kalian pikir saya tidak tahu bahwa kalian memeras cucu saya untuk membiayai hidup kalian selama ini hanya karena cucu saya mencintai putri kalian?" Suara berat dari lelaki berumur delapan puluh tahun terdengar tegas, membuat suasana terasa mencekam. "Sekarang putri Anda meninggal, terus siapa yang akan mempertanggungjawabkan ini semua?," kata Mandala lagi, yang kali ini membuat Indah mengangkat wajahnya, ingin protes. Bagai jatuh ditimpa tangga, semuanya mencekam. “Bahkan hampir 8 miliar selama 7 bulan bekerja! Dengan rincian biaya yang dibuat tak masuk akal, yang sebenarnya digunakan untuk biaya membeli tas, mobil, sepatu merek terkenal, biaya jalan-jalan ke luar negeri, dan biaya foya-foya. Kalian pikir saya tidak tahu?" kata Mandala lagi sambil menyerahkan kertas catatan berisi hasil transferan dari ATM perusahaan ke rekening bank yang ternyata, setelah diselidiki, atas nama Indah—ibu dari Lyra. Kurang satu tahun bekerja, Lyra bisa membelikan mobil, membuatkan rumah untuk kedua orang tuanya yang cukup mewah. "Terus Anda mau bagaimana? Mempertanggungjawabkan di pengadilan atau mengembalikan uang 3 miliar? Saya sudah memberi keringanan dari kerugian yang diakibatkan mendiang anak anda ." "Tuan, mohon maafkan kami. Jangan penjarakan kami," kata Ahmad memohon dengan air matanya menggenang, sangat terkejut dengan semua masalah yang bertubi-tubi menimpa keluarganya. "Berarti kalian memilih mengembalikan uang 3 miliar," kata Mandala menyimpulkan. Duka yang masih menyelimuti dan masalah yang kembali datang tidak membuat Mandala sedikit saja merasa kasihan. "Tuan, bisakah dengan cara lain? Kami tidak mempunyai uang sebanyak itu," pinta ayah Aira dengan memelas. Tubuhnya bergetar hebat karena takut. Mandala sedikit berpikir. "Cara lain? Contohnya?" Indah berbinar, seakan baru saja mendapat keberuntungan. "Anda bisa mengambil putri kami menggantikan kembarannya yang melakukan kesalahan. Hanya itu yang bisa kami berikan,"Aira duduk diam di ruang makan bersama Mbok Inah, namun pikirannya sama sekali tak berada di sana. Semangkuk sereal dan beberapa potong kue tersaji rapi di hadapannya, nyaris tak tersentuh.Wanita itu menggigit ujung jarinya tanpa sadar, kebiasaan lama yang muncul setiap kali gelisah. Sambil menunduk, ia menelusuri satu per satu media sosial milik Lyra. Jemarinya bergerak cepat, matanya tajam menyisir setiap foto, setiap caption, setiap komentar.Tak ada yang janggal Tentang Lyra.Tentang lelaki misterius bertopeng itu.Semua lini masa Lyra dipenuhi potret kebersamaannya dengan Gavin. Tawa mereka tampak tulus. Sentuhan mereka terlihat hangat. Dalam beberapa foto, Lyra bahkan menatap Gavin dengan sorot mata penuh cinta cinta yang tak dibuat-buat.Lalu kenapa Lyra berselingkuh?Dari segi apa pun, Gavin tak pernah kurang. Kekayaannya mapan, masa depannya terjamin. Bahkan jika mereka menikah hingga tujuh turunan, keluarga itu tetap akan hidup bergelimang harta. Garis keturunan mereka kuat
Cuaca pagi tampak cerah hari ini. Jam dinding menunjukkan pukul delapan, namun Gavin masih terlelap dalam tidurnya. Berbeda dengan Aira yang berada dalam pelukan lelaki itu. Rasa mual perlahan menguar, membuat tubuhnya terasa tidak nyaman. Posisi miring yang terlalu lama, ditambah dekapan Gavin yang erat seolah ia adalah guling, membuat penat di tubuh Aira semakin terasa.Dengan gerakan sangat hati-hati, Aira menyingkirkan tangan Gavin saat rasa mual itu kian menjadi. Ia turun dari ranjang dan melangkah cepat menuju kamar mandi tanpa sempat mengenakan apa pun di tubuhnya.Perutnya terasa seperti diremas dan diaduk bersamaan. Begitu tiba di kamar mandi, Aira langsung memuntahkan isi perutnya.Rasa mual itu begitu menyiksa hingga membuat tenaga Aira nyaris terkuras habis.Morning sickness masih sering ia alami setiap pagi. Meski setelah memuntahkannya ada sedikit rasa lega, tubuh Aira tetap terasa lemas dan tak berdaya.Aira terduduk di atas lantai keramik kamar mandi yang dingin. Napa
Lidah Gavin kembali berkelana di leher Aira, turun perlahan dengan sentuhan yang semakin dalam dan liar dalam cara yang membuat napas Aira tersendat. Erangan demi erangan yang lolos dari bibir Aira justru semakin membakar hasrat gila Gavin. Dengan gerakan mantap, Gavin mengambil posisi di atasnya, tubuhnya menunduk untuk merengkuh Aira sepenuhnya. Jantung Gavin berdebar kacau, tarikan napasnya berat saat ia menatap mata Aira mata yang terlihat mendamba, seakan memanggil dirinya tanpa suara. Detik berikutnya, Gavin menyatukan tubuhnya dengan tubuh Aira dalam satu gerakan penuh, membuat dunia seolah berhenti berputar bagi keduanya. Tubuh Aira menggeliat hebat, napasnya tersendat disertai desahan yang terdengar seperti campuran antara kaget dan kesakitan. Rasa perih yang menghentak membuatnya menggigit bibir kuat-kuat, mencoba menahan diri agar tak kehilangan kendali. Tangannya meremas seprai, jemarinya bergetar saat sensasi itu menyebar dari pusat tubuhnya. Meski ini sudah ketiga
"Gavin…" panggil Gavin lagi, lelaki itu menurunkan lengan baju dress hingga kini menyibak tubuh Aira setengah badan.Jantung Aira menggila, perasaan aneh menyengat saat desiran hangat itu merayap di perutnya. Aira ikut terpancing dengan sentuhan Gavin, apalagi bayang-bayang cara lelaki itu memperlakukannya selalu muncul dan membuat dirinya sulit bernapas normal."A… apa?" jawab Aira sedikit bergetar, berusaha menahan detak jantungnya agar tak terdengar oleh Gavin."Jangan tinggalin aku," ucap Gavin lirih, begitu tulus hingga membuat napas Aira tercekat.Senyum kecil muncul di bibir Aira saat mendengar kata-kata Gavin yang seolah mengungkapkan betapa lelaki itu membutuhkannya."Aku tidak ke mana-mana, Tuan," balas Aira lembut."Jangan pergi…" kata Gavin lagi, kali ini menunduk dan menempelkan kecupan hangat di punggung Aira, naik perlahan hingga mendekati lehernya. Ada senyum tipis di wajah Gavin saat melihat kulit Aira yang memerah tersentuh belaian itu tanda yang hanya dimiliki istri
"Sayang …," racau Gavin yang masih sulit mengendalikan diri karena pengaruh alkohol.Gavin bangkit, melepas jas dan kemeja hitamnya lalu melemparkannya ke sembarang tempat seakan tubuhnya merasa terbakar. Kini ia bertelanjang dada.Ia kembali merebah, meringis kecil. Pusing yang menghantam kepalanya masih sangat kuat.Mendengar ringisan itu, Aira mendekat. Namun begitu ia berada di sisi tempat tidur, Gavin justru meraih tangannya, menariknya untuk ikut rebahan dan masuk ke pelukannya. Lelaki itu memeluk Aira seperti memeluk guling, menenggelamkan wajahnya di dada sang istri tepat di sela dua gundukan yang selalu membuatnya kehilangan kendali bahkan sesekali menciuminya secara acak."Aira Winara, aku mencintaimu," gumam Gavin, suaranya terdengar melantur. Lalu ia kembali terlelap tanpa peduli jantung Aira yang nyaris melompat keluar."Aku juga mencintaimu," bisik Aira lirih membalas pengakuan itu."Tapi apakah kamu masih akan mencintaiku kalau tahu perselingkuhan Lyraku?" tanyanya dala
"Duh. Gusti ... Tuan Gavin kenapa?" tanya Mbok Inah saat Elvand dan Aira masuk ke apartemen mereka. Wanita ini membantu Elvand memapah sang Tuan Muda."Tidak kenapa-napa, Mbok, Tuan hanya terlalu banyak minum," jawab Aira takut Mbok Inah cemas.Mbok Inah yang memang sangat tahu bagaimana Gavin hanya mengangguk paham. Dulu, Gavin memang sering pulang dalam keadaan mabuk, tapi setelah bersama Aira lelaki ini sudah mengurangi kebiasaannya. Bahkan hampir tidak pernah kecuali hari ini makanya Mbok Inah kaget.Elvand terlihat kesusahan memapah Gavin yang tak sadarkan diri. Peluhnya mengucur karena jarak penthouse Gavin berada di lantai dua puluh jadi cukup lama berada di lift dan Elvand harus menahan berat Gavin yang sedikit lebih besar darinya.Lelaki yang umurnya lebih muda lima tahun dari Gavin ini menghempaskan Gavin ke kasurnya.Elvand berdecis, melihat wajah tampan cucu dari Eyang Mandala yang sekarang tengah mabuk parah."Sampai kapan mabuk dia hilang?" tanya Aira berdiri di samping







