Mag-log inEmosi kuat yang tak tertahan membuat Raka meremas kuat ponselnya hingga membuat layar kacanya retak.
“Aku harus menanyakannya langsung dengan Vanes maksud dari foto ini apa. Aku susah payah bekerja jadi asisten dan sopir, harus tahan godaan bos seksi, bisa-bisanya dia bermesraan dengan pria kaya.” Raka menekan dalam pedal gas mobil milik bosnya, memecah jalanan padat malam itu agar bisa secepatnya tiba di rumah. Ia harus sesegera mungkin menuntut penjelasan dari istri yang baru dinikahinya setahun belakangan, wanita cantik yang ia selamatkan dari gangguan preman di suatu malam. Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan oleh Raka untuk tiba di sebuah rumah sederhana. Raka dengan cepat memarkirkan mobil putih itu di garasi rumahnya, bersebelahan dengan motor tua miliknya yang sudah membersamainya sejak lama. “Vanessa…” Raka masuk ke dalam rumah, memanggil dan mencari keberadaan istrinya. Raka tidak menjumpai siapa pun di ruang tamu kecil itu. Sosok wanita cantik bertubuh sintal dengan tinggi sekitar 162 sentimeter yang dicarinya, sama sekali tidak terlihat. “Apaan sih teriak-teriak,” sahut Vanessa dari dalam kamar. Raka melihat ke arah asal suara, bergegas masuk ke dalam kamar, dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Vanessa tengah memoles dirinya di depan cermin lemari. “Kamu mau kemana malam-malam begini?” tanya Raka dengan dahi yang berkerut. Niat untuk menanyakan perihal foto yang didapatnya hilang seketika saat melihat istrinya yang tengah berdandan dan menggunakan pakaian yang super ketat. “Aku ada perjalanan dinas keluar kota selama dua hari, Mas,” jawabnya santai tanpa menoleh ke arah Raka. Wanita itu tetap sibuk menatap wajahnya di cermin, memperbaiki riasan yang dirasa masih kurang. Raka langsung menoleh ke arah koper yang terletak di atas ranjang dan masih dalam keadaan terbuka itu. Emosi yang sudah ada dari sebelumnya itu kembali naik ke permukaan saat melihat barang bawaan Vanessa. Dari beberapa dress yang ia lihat, ada beberapa helai pakaian tidur tipis di dalamnya. “Untuk apa baju-baju tipis ini kamu bawa juga?” tanya Raka dengan suara yang ditahan. “Ya untuk aku tidur dong,” jawab Vanessa masih dengan nada bicaranya yang terdengar santai tanpa beban. “Kamu nggak perlu membawa baju-baju ini kalau memang ada pekerjaan di luar. Kamu ini pasti mau pergi sama bos kamu itu, kan?” tuntut Raka. Vanessa menutup kasar penutup lipstiknya. Melalui pantulan cermin ia menatap jengah ke arah Raka yang menatap tajam ke arahnya. “Aku ini sekretarisnya, Mas. Tentu aku ikut kemanapun bos aku pergi. Sama seperti kamu, kan yang sopir, ikut nganterin kemana aja majikan kamu,” jawabnya ringan dan penuh nada cemoohan. “Aku bekerja dengan baik,” bela Raka. “Bukan seperti kamu yang berdandan tidak pantas seperti ini untuk pria lain bahkan bermesraan dengannya!”. Bukan tanpa alasan Raka mengatakan hal tersebut. Sebelumnya, ketika Raka menemukan foto istrinya sedang bermesraan dengan pria lain, foto itu benar-benar mirip istrinya sekarang. Hidungnya, rambutnya, bahkan tanda lahir seperti tahi lalat di leher kiri atas dan jidat kanan atas dekat pelipis, sama persis dengan yang ada di foto itu. Ingin rasanya Raka menahan tuduhan itu agar tidak terjadi keributan di rumah tangganya, tapi apa daya, mulutnya bergerak lebih dulu. Sesuai prediksi Raka, ucapan itu langsung disambar nada tinggi oleh Vanessa. “Apa sih, Mas? Kenapa kamu buruk sangka mulu sama aku? Ini tuh udah malam, kenapa malah ngajakin ribut Mulu?!” Perdebatan antara Raka dan Vanessa ternyata mengundang Bu Marlina—ibu kandung Vanessa— yang tadinya sedang berada di dapur. Saat Bu Marlina datang itulah, Vanessa langsung mengadu. “Ini Ma, Mas Raka nggak jelas tiba-tiba marah sewaktu aku bilang kalau mau dinas sama Pak Deri. Suami macam apa yang nggak ngizinin istrinya kerja?” Raka hanya bisa menghela napas panjang. Urusannya pasti akan sangat panjang jika mertuanya ini ikut campur dalam masalah rumah tangganya. “Kamu kenapa? Cemburu Raka? Kalau kamu cemburu dan nggak mau lihat istri kamu kerja sama pria lain, harusnya kamu cukupi semua kebutuhan istri kamu dan aku,” cecar Bu Marlina sambil melipat kedua tangannya di atas dada. Matanya pun menatap jengah ke arah sang menantu. Raka mengusap kasar keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. “Saya kerja, Ma. Saya cukupi kebutuhan kalian semampu saya.” Tatapan Bu Marlina semakin merendahkan. Dengan nada mendesak, ia kembali mencaci Raka. "Halah, baru jadi sopir saja sudah bangga. Vanessa itu pantasnya dapat pria tampan dan kaya raya seperti bosnya, Pak Deri. Bukan sopir macam kamu! Gaji seuprit mana bisa membiayai kebutuhan dan perawatan mahal putri saya? Dasar miskin, cuma bisa numpang hidup saja. Jangan berani-berani kamu menyentuh putri saya lagi!” Kenyataan pahit ini harus diterima Raka. Nasibnya berubah drastis sejak ia terkena PHK, padahal sebelumnya ia dijanjikan kenaikan pangkat di kantor lama. Statusnya yang kini hanya seorang sopir membuat ibu mertua dan istrinya kompak tidak menginginkannya lagi di rumah tersebut. Raka dianggap tidak lagi sepadan dengan putri kesayangannya. Alih-alih membela sang suami yang dihina habis-habisan oleh ibunya, Vanessa justru menatap jijik ke arah Raka, seakan membenarkan seluruh ucapan Bu Marlina. Wanita itu seolah benar-benar lupa bagaimana ia selalu bertekuk lutut dan mendamba keperkasaan suaminya setiap malam di balik pintu kamar. Raka yang mendengar seluruh hinaan dari mertuanya itu hanya diam saja tanpa berminat melawan. Tin… tin… Suara klakson dari arah luar membubarkan perdebatan panas di kamar itu. Vanessa segera menutup kopernya, lalu mencium kedua pipi ibunya. “Vanes pergi ya, Ma,” pamitnya pada Bu Marlina dengan terburu-buru. “Iya sayang, hati-hati ya.” Vanessa berjalan keluar, melewati tubuh Raka tanpa ucapan sama sekali. Ia berjalan dengan dagu yang diangkat ke atas, berlenggak-lenggok bagaikan model yang sedang berjalan di atas catwalk. Seorang pria berumur sekitar empat puluh tahunan yang memakai pakaian model safari keluar dari mobil mewah, menyambut kedatangan Vanessa. Ia mengambil koper wanita itu, meletakkannya di bagasi mobil, lalu membuka pintu penumpang belakang agar Vanessa bisa segera masuk ke dalam. Semua itu tidak luput dari penglihatan Raka, hingga akhirnya mobil mewah itu mulai menjauh. Raka hanya diam, sama sekali tidak berniat menghentikan Vanessa. Namun, ia tidak diam begitu saja. Ia kembali ke kamarnya, mengambil kunci motor tuanya dan akan mengikuti mobil tadi secara diam-diam. “Mau kemana lagi kamu?” tanya Bu Marlina saat berpapasan dengannya di ruang tamu. “Keluar sebentar,” jawabnya singkat dan melangkah tergesa-gesa ke arah luar. Dengan hati-hati pria itu mengeluarkan motor tuanya agar tidak bersenggolan dengan mobil mewah milik Amara. Dengan sekali engkolan, motor itu menyala dan Raka langsung melesat menyusul mobil yang membawa istrinya tadi. Raka menjaga jarak aman dengan mobil hitam itu, membuntutinya diam-diam hingga keduanya tiba di sebuah hotel mewah berbintang lima. Raka semakin yakin jika istrinya itu melakukan pengkhianatan, dan Raka sendiri yang akan membuktikannya.Makanan yang sudah terlalu dingin itu tetap habis disantap keduanya setelah menghabiskan banyak waktu untuk pertempuran gairah. Usai menghabiskan makan siang, Amara harus kembali berkutat dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya.Raka memilih untuk duduk santai di sofa sudut ruangan, berniat untuk memeriksa ulang sistem keamanan ponsel Amara agar tak ada peretasan ataupun penyadapan. Suasana cukup tenang untuk sesaat sampai akhirnya ponsel Raka yang masih dalam saku celananya bergetar. Saat ponsel itu telah berhasil diraih, nama Vanessa terpampang pada layar.Raka menyipitkan mata, melirik ke arah Amara sejenak untuk memastikan wanita itu sedang fokus menatap layar iPad-nya. Dengan langkah tenang tanpa menimbulkan suara, Raka berjalan ke luar, lalu menggeser tombol hijau saat dirinya sudah berada di ujung lorong."Mau apa lagi kamu?" tanya Raka langsung dengan nada suara yang dingin dan rendah."Raka! Kamu bener-bener keterlaluan ya!" Suara Vanessa langsung melengking histeris dari
"Siapa yang ngomel?"Raka tersentak. Ia langsung menurunkan ponselnya dan mengangkat wajah, menatap langsung ke arah pintu ruang rapat utama yang baru saja terbuka.Sosok Amara melangkah keluar dengan anggun, meski di wajah cantiknya tampak sisa-sisa kelelahan setelah memimpin perdebatan panjang di dalam sana.Raka menelan ludah terengah-engah, mencoba menguasai ekspresi wajahnya secepat kilat. “Sial, kenapa sampai nggak dengar suara langkah kakinya sama sekali? Ini gimana jawabnya kalau dia curiga gini,” gumam pria itu gelisah dalam hati, berusaha bersikap setenang mungkin di hadapan sang bos.Raka memaksakan sebuah senyuman tipis dan melangkah mendekat. "Eh, nggak ada apa-apa, Bu. Ini tadi… saya cuma lagi baca pesan dari grup driver di bawah. Biasa, anak-anak lagi pada ngomel karena jadwal sif siang ini agak berantakan."Amara menyipitkan mata indahnya, menatap Raka dengan pandangan menyelidik yang manja sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. Wanita itu menyandarkan tubuhnya y
Raka melangkah keluar dari lift di lantai dua, berjalan ke arah belakang, di mana juga merupakan lantai khusus ruang kendali server cadangan yang biasanya sepi. Langkah kakinya seringan kapas, tanpa suara, menyusuri dinding marmer yang dingin.Sambil berjalan, ia mengetuk earpiece bluetooth-nya. "Tam, posisi dua cecunguk itu di mana sekarang?""Mereka baru aja melewati tangga darurat zona barat, Tuan Muda," sahut suara Tama di seberang sana dengan nada tegang. "Mereka memakai seragam teknisi jaringan kelistrikan gedung. Kamera CCTV lantai dua sengaja mereka matikan dari jarak jauh, tapi pelacak GPS kloningan saya masih mengunci posisi mereka.""Bagus. Tetap matikan kamera di area ini. Aku nggak mau aksi aku ini terekam dan bikin Amara curiga," perintah Raka dingin."Baik, Tuan. Area itu sudah sepenuhnya di bawah kendali blackout siber saya."Raka memutus sambungan. Tepat saat ia berbelok di dekat lorong sempit menuju ruang panel listrik utama, dua pria bertubuh tegap dengan seragam te
Raka terkekeh mendengar permintaan menggiurkan wanita cantik itu. Ia mengusap ujung bibir Amara dengan ibu jarinya, lalu tersenyum tipis melihat wajah bos cantiknya yang kini sudah merona merah dengan mata sayu penuh damba. “Yakin nanti aja? Nggak mau sekarang?”Amara mengerucutkan bibir dengan gestur manja, mengembuskan napas berat. “Maunya sih sekarang, tapi ini aja aku udah telat. Kamu sih pake acara kabur pagi-pagi.”Pria itu kembali tertawa mendengar gerutuan sang wanita. Tangan kekarnya merapikan kerah kemeja Amara yang sedikit berantakan akibat permainan tadi. “Iya, iya, maaf. Janji nanti makan siang aku naik ke atas.”“Janji, ya?! Jangan telat.”"Iya, Cantik. Nggak bakalan telat. Dah, buruan naik, aku mau beresan ini bentar baru ke ruangan driver," sahut Raka lembut.Amara mengecup singkat pipi Raka sekali lagi sebelum akhirnya keluar dari mobil dan melangkah anggun menuju lift eksekutif basement.Setelah memastikan lift membawa Amara naik, Raka menyandarkan punggungnya di jok
"Pak, tolong masukkan motor saya ke dalam ya," ujar Raka tergesa-gesa sembari meninggalkan motor tuanya begitu saja di dekat pos gerbang utama, meminta bantuan salah satu penjaga yang sedang bertugas pagi itu.Raka langsung setengah berlari menuju ke dalam rumah mewah milik Amara. Pikirannya diliputi rasa waswas, takut jika wanita itu sudah terlalu lama menunggunya dan wanita itu akan semakin marah.Begitu melangkah masuk ke ruang tengah yang luas, Raka langsung mendapati Amara sedang duduk menyendiri di atas sofa kulit. Wanita itu tampak menatap tajam ke arah layar iPad di pangkuannya dengan bibir yang ditekuk ke bawah.Dengan napas yang masih sedikit memburu akibat berlari, Raka menghentikan langkah tepat di hadapan wanita cantik itu. "Maaf, Bu… saya sedikit terlambat," ucap Raka dengan nada formal, mencoba mengatur napasnya.Amara mendongak, melipat kedua tangannya di dada sambil mendengus kasar. "Sedikit kamu bilang? Ini sudah lewat tiga puluh menit dari jadwal biasanya, Raka! Pad
Pagi harinya setelah selesai mandi, ponsel Raka bergetar hebat di atas meja nakas kamarnya. Begitu melihat nama Bianca berkedip di layar, Raka langsung menggeser tombol hijau dengan firasat yang mulai tidak enak. "Halo, Bi? Ada apa?""Kak Raka… hiks… Kakak di mana?" Suara Bianca terdengar bergetar hebat, disusul suara tangisan yang tertahan. "Mama sama Kak Vanessa udah pulang semalam. Mereka… mereka berdua kayak orang gila, Kak!"Raka langsung bangkit dari posisi duduknya dengan rahangnya yang mengeras. "Mereka ngapain kamu, Bi? Jawab yang jelas.""Mereka marah-marah ke aku, Kak! Kak Vanessa teriak-teriak nanyain aku ngomong apa ke kak Raka, terus Mama ikut-ikutan bentak aku. Mereka bilang kalau Kak Raka itu sopir kurang ajar yang nggak tahu diri. Terus… terus Mama ancam mau ngusir aku dari rumah ini kalau sampai Kak Raka buat Kak Vanes hancur! Kak, ini kan rumah Ayah… hiks… kenapa mereka jahat banget?"Amarah di dada Raka kembali tersulut, namun kali ini ia menanggapi situasi dengan







