Share

Bab 75

Author: Mumu Mooi
last update publish date: 2026-10-29 22:10:06

Raka terkekeh mendengar permintaan menggiurkan wanita cantik itu. Ia mengusap ujung bibir Amara dengan ibu jarinya, lalu tersenyum tipis melihat wajah bos cantiknya yang kini sudah merona merah dengan mata sayu penuh damba. “Yakin nanti aja? Nggak mau sekarang?”

Amara mengerucutkan bibir dengan gestur manja, mengembuskan napas berat. “Maunya sih sekarang, tapi ini aja aku udah telat. Kamu sih pake acara kabur pagi-pagi.”

Pria itu kembali tertawa mendengar gerutuan sang wanita. Tangan kekarnya m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 78

    Makanan yang sudah terlalu dingin itu tetap habis disantap keduanya setelah menghabiskan banyak waktu untuk pertempuran gairah. Usai menghabiskan makan siang, Amara harus kembali berkutat dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya.Raka memilih untuk duduk santai di sofa sudut ruangan, berniat untuk memeriksa ulang sistem keamanan ponsel Amara agar tak ada peretasan ataupun penyadapan. Suasana cukup tenang untuk sesaat sampai akhirnya ponsel Raka yang masih dalam saku celananya bergetar. Saat ponsel itu telah berhasil diraih, nama Vanessa terpampang pada layar.Raka menyipitkan mata, melirik ke arah Amara sejenak untuk memastikan wanita itu sedang fokus menatap layar iPad-nya. Dengan langkah tenang tanpa menimbulkan suara, Raka berjalan ke luar, lalu menggeser tombol hijau saat dirinya sudah berada di ujung lorong."Mau apa lagi kamu?" tanya Raka langsung dengan nada suara yang dingin dan rendah."Raka! Kamu bener-bener keterlaluan ya!" Suara Vanessa langsung melengking histeris dari

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan    77

    "Siapa yang ngomel?"Raka tersentak. Ia langsung menurunkan ponselnya dan mengangkat wajah, menatap langsung ke arah pintu ruang rapat utama yang baru saja terbuka.Sosok Amara melangkah keluar dengan anggun, meski di wajah cantiknya tampak sisa-sisa kelelahan setelah memimpin perdebatan panjang di dalam sana.Raka menelan ludah terengah-engah, mencoba menguasai ekspresi wajahnya secepat kilat. “Sial, kenapa sampai nggak dengar suara langkah kakinya sama sekali? Ini gimana jawabnya kalau dia curiga gini,” gumam pria itu gelisah dalam hati, berusaha bersikap setenang mungkin di hadapan sang bos.Raka memaksakan sebuah senyuman tipis dan melangkah mendekat. "Eh, nggak ada apa-apa, Bu. Ini tadi… saya cuma lagi baca pesan dari grup driver di bawah. Biasa, anak-anak lagi pada ngomel karena jadwal sif siang ini agak berantakan."Amara menyipitkan mata indahnya, menatap Raka dengan pandangan menyelidik yang manja sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. Wanita itu menyandarkan tubuhnya y

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 76

    Raka melangkah keluar dari lift di lantai dua, berjalan ke arah belakang, di mana juga merupakan lantai khusus ruang kendali server cadangan yang biasanya sepi. Langkah kakinya seringan kapas, tanpa suara, menyusuri dinding marmer yang dingin.Sambil berjalan, ia mengetuk earpiece bluetooth-nya. "Tam, posisi dua cecunguk itu di mana sekarang?""Mereka baru aja melewati tangga darurat zona barat, Tuan Muda," sahut suara Tama di seberang sana dengan nada tegang. "Mereka memakai seragam teknisi jaringan kelistrikan gedung. Kamera CCTV lantai dua sengaja mereka matikan dari jarak jauh, tapi pelacak GPS kloningan saya masih mengunci posisi mereka.""Bagus. Tetap matikan kamera di area ini. Aku nggak mau aksi aku ini terekam dan bikin Amara curiga," perintah Raka dingin."Baik, Tuan. Area itu sudah sepenuhnya di bawah kendali blackout siber saya."Raka memutus sambungan. Tepat saat ia berbelok di dekat lorong sempit menuju ruang panel listrik utama, dua pria bertubuh tegap dengan seragam te

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 75

    Raka terkekeh mendengar permintaan menggiurkan wanita cantik itu. Ia mengusap ujung bibir Amara dengan ibu jarinya, lalu tersenyum tipis melihat wajah bos cantiknya yang kini sudah merona merah dengan mata sayu penuh damba. “Yakin nanti aja? Nggak mau sekarang?”Amara mengerucutkan bibir dengan gestur manja, mengembuskan napas berat. “Maunya sih sekarang, tapi ini aja aku udah telat. Kamu sih pake acara kabur pagi-pagi.”Pria itu kembali tertawa mendengar gerutuan sang wanita. Tangan kekarnya merapikan kerah kemeja Amara yang sedikit berantakan akibat permainan tadi. “Iya, iya, maaf. Janji nanti makan siang aku naik ke atas.”“Janji, ya?! Jangan telat.”"Iya, Cantik. Nggak bakalan telat. Dah, buruan naik, aku mau beresan ini bentar baru ke ruangan driver," sahut Raka lembut.Amara mengecup singkat pipi Raka sekali lagi sebelum akhirnya keluar dari mobil dan melangkah anggun menuju lift eksekutif basement.Setelah memastikan lift membawa Amara naik, Raka menyandarkan punggungnya di jok

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 74

    "Pak, tolong masukkan motor saya ke dalam ya," ujar Raka tergesa-gesa sembari meninggalkan motor tuanya begitu saja di dekat pos gerbang utama, meminta bantuan salah satu penjaga yang sedang bertugas pagi itu.Raka langsung setengah berlari menuju ke dalam rumah mewah milik Amara. Pikirannya diliputi rasa waswas, takut jika wanita itu sudah terlalu lama menunggunya dan wanita itu akan semakin marah.Begitu melangkah masuk ke ruang tengah yang luas, Raka langsung mendapati Amara sedang duduk menyendiri di atas sofa kulit. Wanita itu tampak menatap tajam ke arah layar iPad di pangkuannya dengan bibir yang ditekuk ke bawah.Dengan napas yang masih sedikit memburu akibat berlari, Raka menghentikan langkah tepat di hadapan wanita cantik itu. "Maaf, Bu… saya sedikit terlambat," ucap Raka dengan nada formal, mencoba mengatur napasnya.Amara mendongak, melipat kedua tangannya di dada sambil mendengus kasar. "Sedikit kamu bilang? Ini sudah lewat tiga puluh menit dari jadwal biasanya, Raka! Pad

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 73

    Pagi harinya setelah selesai mandi, ponsel Raka bergetar hebat di atas meja nakas kamarnya. Begitu melihat nama Bianca berkedip di layar, Raka langsung menggeser tombol hijau dengan firasat yang mulai tidak enak. "Halo, Bi? Ada apa?""Kak Raka… hiks… Kakak di mana?" Suara Bianca terdengar bergetar hebat, disusul suara tangisan yang tertahan. "Mama sama Kak Vanessa udah pulang semalam. Mereka… mereka berdua kayak orang gila, Kak!"Raka langsung bangkit dari posisi duduknya dengan rahangnya yang mengeras. "Mereka ngapain kamu, Bi? Jawab yang jelas.""Mereka marah-marah ke aku, Kak! Kak Vanessa teriak-teriak nanyain aku ngomong apa ke kak Raka, terus Mama ikut-ikutan bentak aku. Mereka bilang kalau Kak Raka itu sopir kurang ajar yang nggak tahu diri. Terus… terus Mama ancam mau ngusir aku dari rumah ini kalau sampai Kak Raka buat Kak Vanes hancur! Kak, ini kan rumah Ayah… hiks… kenapa mereka jahat banget?"Amarah di dada Raka kembali tersulut, namun kali ini ia menanggapi situasi dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status