Home / Horor / JAMU, MAS? / BAB-1 LEMBUR

Share

JAMU, MAS?
JAMU, MAS?
Author: UMMA LAILA

BAB-1 LEMBUR

Author: UMMA LAILA
last update publish date: 2025-01-17 23:35:32

“Yo opo toh… mbengi-mbengi kok aku sing dikon ngurusi pondasi.”

(Gimana sih… malam-malam kok aku yang disuruh ngurus pondasi.)

Fauzan menggerutu sambil mengambil cangkul yang disandarkan di dinding teras rumah C-12. Rumah itu sudah berdiri utuh—pintu terpasang, listrik menyala, air PAM jalan—tapi catnya belum rata dan beberapa lantai masih semen kasar. Rumah contoh yang dijadikan mess para pekerja.

Di rumah-rumah sebelah, lampu sudah mati semua. Sekitar belasan pekerja lain sudah tidur. Ada yang mendengkur, ada yang masih menyala TV-nya pelan.

Cuma Fauzan. Lagi.

Bagas duduk di kursi plastik, rokok menyala di tangan, kaki selonjor ke halaman.

“Wis lah, Zan,” katanya santai.

(Udahlah.)

“Sing penting ora aku.”

(Yang penting bukan aku.)

Fauzan mendecak.

“Lha kuwi kuwi.”

(Nah itu dia.)

“Wong kerjo akeh ngene iki, kok aku maneh, aku maneh.”

(Pekerja segini banyak, kenapa aku lagi, aku lagi.)

Bagas terkekeh.

“Mandor Suryono kuwi yo ngono.”

(Mandor Suryono emang gitu.)

“Sing dirasa iso, yo disuruh terus.”

Fauzan menghela napas kesal.

“Ra masuk akal.”

(Nggak masuk akal.)

Bagas tertawa kecil. Ia berdiri, lalu menepuk-nepuk pinggangnya sendiri.

“Awakku pegel-pegel, Zan.”

(Badanku pegal-pegal, Zan.)

Ia meringis berlebihan, sengaja.

“Enake ngombe jamune Mbak Minah.”

(Enaknya minum jamu Mbak Minah.)

Fauzan melirik sambil pakai sarung tangan.

“Jamune pait.”

(Jamunya pahit.)

“Tapi nggawe badan anget.”

(Tapi bikin badan anget.)

Bagas mengangguk cepat. Lalu berhenti.

Alisnya berkerut.

“Tapi kok… wis meh seminggu Mbak Minah ra ketok yo?”

(Tapi kok… sudah hampir seminggu Mbak Minah nggak kelihatan ya?)

Fauzan berhenti sebentar.

“Iyo yo…”

(Iya juga ya…)

“Biasane sore mesti liwat.”

Bagas terkekeh, mencoba santai.

“Mbok menawa pindah lapak.”

(Mungkin pindah tempat jualan.)

“Yo iso.”

(Bisa aja.)

Bagas duduk lagi.

“Yowis, nek sesuk teko, tak borongi.”

(Ya udah, kalau besok datang, aku borong.)

Fauzan tidak menjawab.

Ia sudah melangkah pergi, menuju Blok C yang gelap.

Lampu jalan di Blok C tinggal satu. Itu pun redup.

Rumah-rumah berjajar rapi, tapi kosong. Ada yang sudah berpintu, ada yang masih rangka. Malam bikin semuanya terasa sama—dingin dan asing.

Fauzan berhenti di tepi pondasi yang dimaksud mandor. Semennya masih basah. Padahal siang tadi sudah dicor.

“Mbengi-mbengi nggarap ngene iki, yo ra waras,” gumamnya.

(Malam-malam ngerjain beginian, nggak waras.)

Ia mengeruk sedikit.

Tak.

Bukan batu.

Ia mengeruk lagi.

Tak.

“Apa maneh iki…”

Tangannya menyibakkan semen basah. Ada kain terjepit di dalamnya. Ia menarik pelan.

Selendang.

Kusam. Berat.

Bau tanah lembab langsung naik—dan bau pahit yang sangat ia kenal.

Jamu.

Fauzan membeku.

“Loh…”

“Ini kan…”

Ia menelan ludah.

“Selendange Mbak Minah?”

Ia yakin. Selendang itu selalu dipakai tiap sore. Diikat longgar di leher, ujungnya menjuntai saat Mbak Minah menuang jamu ke gelas plastik.

“Ngopo selendange ono neng kene…”

(Kenapa selendangnya ada di sini…)

Angin berhenti.

Lampu jalan berkedip.

Dari dalam lubang pondasi, suara perempuan terdengar. Pelan.

“Mas…”

Fauzan berdiri cepat.

“Mas… ojo neng kene…”

(Mas… jangan di sini…)

Cangkul jatuh dari tangannya.

“Eh… sopo?”

(Eh… siapa?)

Ia berbalik.

Seorang perempuan berdiri di bawah lampu jalan.

Mbak Minah.

Kebaya lusuhnya kotor di bagian bawah. Rambutnya diikat rapi seperti biasa. Wajahnya pucat, tapi ekspresinya tenang—terlalu tenang.

“Mas Fauzan,” katanya pelan.

“Njenengan kok mlaku-mlaku dhewe mbengi-mbengi?”

(Mas kok jalan sendiri malam-malam?)

Fauzan tercekat.

“Lho, Mbak… njenengan kok—”

Tatapan Mbak Minah turun ke tangannya.

“Ketemu neng endi?”

(Ketemu di mana?)

Fauzan refleks menyembunyikan selendang ke belakang badan.

“Bukan apa-apa, Mbak.”

“Iki kain lawas.”

Mbak Minah tersenyum tipis.

“Mas ngapusi.”

(Mas bohong.)

“Itu selendangku.”

Lampu mati.

“Cok—!”

Fauzan menyalakan senter ponsel.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Lubang pondasi di depannya rapi. Tidak ada bekas digali. Tidak ada kain. Tidak ada apa-apa.

Tapi selendang itu masih di tangannya.

“Ra bener iki…”

(Ini nggak bener…)

Ia langsung lari kembali ke mess.

Rumah C-12 gelap. Fauzan membuka pintu, menyalakan lampu ruang tamu.

Lampu menyala normal.

Air PAM di kamar mandi masih menetes.

Bau jamu langsung menyergap.

Fauzan berhenti.

Di atas meja makan berdiri satu botol jamu.

Tegak. Rapi.

Seolah baru diletakkan.

“Bagas?” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ia mendekat. Jamu di botol itu keruh. Dingin.

Di leher botol, terikat potongan kain kecil.

Selendang.

“Ndak lucu iki sumpah,” Fauzan berbisik.

(Ini nggak lucu sumpah.)

Dari arah dapur, suara pelan terdengar.

“Jamune diminum, Mas.”

Fauzan menoleh cepat.

Kosong.

“Modyar!!” Fauzan lari dan menabrak Bagas yang rupanya juga terlihat ketakutan. Keduanya saling pandang dan tak butuh lama mengucapkan satu nama yang sama  “Mbak Minah!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JAMU, MAS?   BAB 9 — ORANG TERAKHIR MEMBELI JAMU

    Pulang dari rumah Mbak Minah, Fauzan dan Bagas tidak banyak bicara. Motor tua milik Pak Rawi melaju pelan membelah jalan desa. Tidak ada lagi candaan. Tidak ada saling mengejek. Yang terngiang di kepala mereka hanya satu kalimat. "Kalau kalian bertemu Minah... bilang ibunya menunggu di rumah." Bagas menghela napas panjang. "Zan." "Hm?" "Ra penak atiku." (Aku nggak enak hati.) Fauzan mengangguk pelan. "Aku yo." (Aku juga.) Bagas menatap jalan di depan. "Berarti... wong sing tak delok kuwi..." (Berarti... orang yang kulihat itu...) Fauzan memotong pelan. "Ra usah diteruske." (Jangan diteruskan.) Bagas memilih diam. --- Mereka tiba di proyek tepa

  • JAMU, MAS?   BAB 8 — RUMAH MBAK MINAH

    Pagi itu langit masih mendung sisa hujan semalam.Mess C-12 mulai ramai. Suara orang menyapu halaman, bunyi ember diseret, dan aroma kopi hitam memenuhi udara.Namun Fauzan dan Bagas sama-sama tidak banyak bicara.Semalaman mereka nyaris tidak tidur.Terutama setelah kejadian perempuan berkebaya yang melambai di pertigaan menuju Blok C.Bagas mengaduk kopinya pelan."Zan.""Hm?""Aku mikir.""Mikir opo?"(Mikir apa?)Bagas menghela napas."Mbak Minah kuwi tenan isih urip, ta?"(Mbak Minah itu sebenarnya masih hidup, ya?)Fauzan terdiam.Ia juga memikirkan hal yang sama.Kalau benar Mbak Minah masih hidup...Siapa perempuan yang mereka lihat hampir setiap malam?Dan kalau benar sudah meninggal...Kenapa belum ada seorang pun yang mencarinya?Fauzan menaruh gelas kopinya."Ayo.""Neng endi?"(Mau ke mana?)"Nyari omahe Mbak Minah."(Mencari rumah Mbak Minah.)Bagas mengangkat alis."Sakdurunge kerja?"(Sebelum kerja?)Fauzan mengangguk."Jam masuk isih suwe."(Masih lama sebelum mulai k

  • JAMU, MAS?   BAB 7 — PERINGATAN BANG BONENG

    Bagas masih terengah-engah saat berhenti di depan Fauzan.Mukanya pucat.Keringat membasahi pelipis.Fauzan langsung memegang bahunya."Gas, ono opo?"(Ada apa?)Bagas menggeleng cepat."Aku... aku barusan..."Ia menoleh ke arah toilet proyek."Ra usah neng kono."(Jangan ke sana.)Fauzan mengernyit."Kenapa?"Bagas menarik napas panjang."Aku krungu suara."(Aku dengar suara.)"Terus ono gelas jamu."Fauzan langsung diam."Kowe ndelok?"Bagas mengangguk."Jelas.""Terus?""Aku noleh...""Ra ono sopo-sopo."(Tidak ada siapa-siapa.)Ia tertawa kecil.Tapi tawanya hambar."Saiki aku ngerti.""Kowe ora edan."(Kamu nggak gila.)Fauzan menghela napas.Belum sempat menjawab, peluit Mandor Suryono berbunyi."Priiit!""Ngaso cukup!""Ayo kerja maneh!"Para pekerja kembali ke posisi masing-masing.---Menjelang sore.Fauzan dan Bagas mengangkut sak semen menuju Blok C."Gas.""Hm?""Nek bengi iki ono sing ngomong 'Jamu, Mas?'"Bagas langsung menjawab."Tak jawab.""Opo?""'Ora duwe duit, Mbak

  • JAMU, MAS?   BAB 6 — BAGAS IKUT MENGALAMI TEROR

    Malam di mess C-12 kembali lengang.Setelah melihat jejak cairan jamu yang mengarah ke Blok C, Fauzan memilih menutup pintu rapat-rapat. Ia tidak sanggup mengikuti jejak itu.Belum.Bagas masih mendengkur."Hrrrr...""Hrrrr..."Fauzan melirik sekilas."Enak tenan turumu."(Enak banget tidurmu.)Ia menarik selimut hingga menutupi dada. Matanya tetap terbuka sampai entah pukul berapa akhirnya rasa kantuk mengalahkan semuanya.---"Kukuruyuuuk!"Suara ayam membangunkan satu mess.Belum pukul enam.Beberapa pekerja mulai antre kamar mandi.Ada yang menggosok gigi di teras, ada yang mencuci muka sambil menguap.Bagas keluar kamar dengan rambut berdiri ke mana-mana.Ia masih setengah sadar."Zan...""Hm?""Kok aku ngimpi aneh, yo?"(Kok aku mimpi aneh ya?)Fauzan yang sedang mengikat tali sepatu menoleh."Ngimpi opo?"(Mimpi apa?)Bagas langsung mengambil gelas aluminium."Nanti wae.""Dahakku akeh."Ia berkumur dulu."Gleeh..."Air dimuntahkan ke selokan."Lega."Fauzan menggeleng."Ngomon

  • JAMU, MAS?   BAB 5 — BAU YANG TIDAK MAU PERGI

    Fauzan masih terduduk di lantai kamar mandi.Punggungnya menempel di dinding yang dingin. Napasnya belum teratur. Matanya tidak lepas dari selendang merah yang kini menggantung di gagang pintu.Basah.Airnya masih menetes.Tik...Tik...Tik...Suara tetesan itu terdengar jauh lebih keras daripada seharusnya.Fauzan mengusap wajahnya kasar."Ngimpi..."gumamnya."Pasti ngimpi."Ia memaksa berdiri. Lututnya masih gemetar. Dengan langkah pelan ia mendekati pintu.Selendang itu masih ada.Tangannya terulur, ragu-ragu.Belum sempat menyentuh—"Zan!"Suara Bagas dari luar membuat Fauzan tersentak."Rampung durung aduse?"(Sudah selesai mandinya?)Fauzan berkedip.Saat ia kembali melihat gagang pintu...Selendang itu hilang.Kosong.Hanya ada gagang pintu besi yang mulai berkarat.Fauzan membuka pintu perlahan.Bagas berdiri sambil membawa kaus bersih."Kok suwe tenan?"(Lama banget?)Fauzan menoleh ke lantai.Genangan air masih ada.Namun tidak ada bekas kain.Tidak ada warna merah.Tidak a

  • JAMU, MAS?   BAB 4 — YANG BUKAN GELAS

    Fauzan berdiri kaku di depan mess.Matanya kosong, tapi tangannya terangkat setengah, seolah sedang menawari sesuatu yang tak terlihat oleh siapapun. Posisi tubuhnya aneh—seperti orang yang lupa cara menurunkan tangan sendiri.“Zan.”Suara itu datang dari belakang.Fauzan tersentak keras, bahunya naik. Tangannya hampir saja menjatuhkan apa yang ia pegang.Bagas berdiri di ambang pintu mess, rambutnya masih basah, handuk kecil melingkar di leher. Kaosnya menempel di badan. Wajahnya mengernyit, bingung bercampur curiga.“Ngapain bengong kaya patung ronda?”(Ngapain bengong kayak patung jaga malam?)Ia menatap Fauzan dari ujung kepala sampai kaki.“Kok mukamu pucet banget?”Fauzan menelan ludah. Tenggorokannya kering. Napasnya terasa pendek-pendek, seolah barusan lari jauh padahal ia cuma berdiri diam.“Gas…” katanya pelan.“Iki… iki loh…”(Ini… ini loh…)Ia mengulurkan tangannya, masih setengah gemetar.Di genggamannya ada gelas plastik jamu.Bening tapi kusam, pinggirannya sedikit peny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status